• Berita
  • Belajar dari Bunga, Komunitas Bandung Mengangkat Nilai Empati dari Film Karya Wim Umboh

Belajar dari Bunga, Komunitas Bandung Mengangkat Nilai Empati dari Film Karya Wim Umboh

Lewat film Senyum di Pagi Bulan Desember garapan sutradara Wim Umboh, komunitas di Bandung menyoroti bagaimana pengalaman dan kasih sayang membentuk karakter anak.

Film Senyum di Pagi Bulan Desember (1974) karya sutradara Wim Umboh. (Sumber: kineforum.org)

Penulis Salma Nur Fauziyah21 Maret 2026


BandungBergerak - Komunitas di Bandung memanfaatkan film klasik sebagai medium refleksi pendidikan anak dan nilai kemanusiaan. Ini terlihat dalam kegiatan nonton bareng dan diskusi film "Senyum di Pagi Bulan Desember" (1974) yang digelar di Perpustakaan Bunga di Tembok, Sabtu, 14 Maret 2026.

Kegiatan yang diinisiasi Sekolah Damai Indonesia (Sekodi) Bandung ini menghadirkan ruang berbagi yang santai namun reflektif. Selain pemutaran film, diskusi juga diisi oleh William Umboh, seorang praktisi pendidikan Maria Montessori yang juga merupakan anak dari sang sutradara Wim Umboh dan aktor Ronny P. Tjandra.

Film karya sutradara Wim Umboh tersebut mengisahkan pertemuan tak terduga antara seorang anak kecil bernama Bunga (diperankan Santi Sardi) dengan tiga narapidana yang melarikan diri. Dalam keterbatasan dan situasi yang penuh risiko, Bunga justru menunjukkan kepedulian dengan membantu mereka bertahan hidup.

Cerita sederhana itu menjadi pintu masuk untuk membicarakan makna kasih, empati, dan kemanusiaan—nilai yang dinilai relevan dengan pendidikan anak hari ini.

Film "Senyum di Pagi Bulan Desember" pernah meraih Piala Citra Festival Film Indonesia 1975 untuk kategori Film Terbaik, Tata Musik Terbaik, dan Pemeran Cilik Terbaik. Salah satu lokasi pengambilan gambarnya berada di Lapas Sukamiskin, Bandung.

“Dalam masa film-film murahan banyak dibikin oleh bangsa kita, film yang dibikin dengan penuh kesungguhan macam Senyum di Pagi Bulan Desember ini, sebaiknya memang tidak dilewatkan. Di samping kisahnya yang indah dan unik, di sana juga ada Santi (Santi Sardi, pemeran Bunga) yang mengasyikkan,” komentar Salim Said, dalam buku Pantulan Layar Putih (1991).

Baca Juga: Kisah Pekerja Informal dalam Bingkai Sinema
ULAS FILM: Menilik Fenomena Akar Rumput di Pantura dalam Film Pangku

Pendidikan Anak Sekarang

Selepas pemutaran film, diskusi beralih pada refleksi pendidikan anak. William Umboh menjelaskan bahwa film tersebut relevan dengan pendekatan pendidikan usia dini, khususnya dalam rentang usia 0 hingga 6 tahun.

“Jadi usia 0 sampai dengan 6 adalah pembentukan dasar bagaimana kita ketika dewasa terbentuk begitu. Maka, usia 0 sampai 6 itu adalah hal yang penting dan film ini aku rasa merefleksikan hal itu,” ujar William.

Ia merujuk pada pemikiran Maria Montessori yang melihat anak sebagai individu yang berkembang melalui energi kasih dan pengalaman emosional. Menurutnya, relasi yang hangat dan penuh perhatian menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter anak.

Film tersebut, lanjutnya, memperlihatkan bagaimana seorang anak mampu menghadirkan empati dan kepedulian, bahkan dalam situasi yang tidak ideal. Hal ini menjadi pengingat bahwa anak tidak hanya membutuhkan pendidikan formal, tetapi juga ruang tumbuh yang penuh kasih.

Diskusi juga menyoroti kondisi pendidikan saat ini yang dinilai belum sepenuhnya memberi ruang bagi kebutuhan emosional anak. Pendekatan yang terlalu berorientasi pada hasil kerap mengabaikan aspek relasi dan perkembangan psikologis.

Selain membahas pendidikan, William juga menyinggung latar belakang sang sutradara, Wim Umboh. Pengalaman hidupnya sejak kecil, termasuk kehilangan orang tua di usia dini, banyak memengaruhi karya-karyanya yang kerap mengangkat tema kemanusiaan dan kebutuhan akan kasih sayang.

Om Wim, sebutan akrab sang sutradara, lahir tanggal 26 Maret 1933 di Sulawesi Utara. Sejak umur 8 tahun ia sudah menjadi seorang yatim piatu.

Wim Umboh memulai karier di dunia perfilman saat membantu di sebuah studio film Golden Arrow. William bercerita, karena kefasihan sang ayah dalam bahasa Cina membuat ia kemudian sering dilibatkan sebagai seorang penerjemah antara orang Indonesia dan orang Cina.

Pengalaman pahit Om Wim sejak masa kecil mencerminkan kegelisahan dan kebutuhan akan cinta dengan bentuk-bentuk simbolik dalam karya filmnya.

Melalui kegiatan ini, Sekodi Bandung menunjukkan bahwa ruang komunitas dapat menjadi tempat alternatif untuk belajar dan berefleksi. Film tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga medium untuk memahami persoalan sosial dan kemanusiaan secara lebih mendalam.

Di tengah tantangan pendidikan yang semakin kompleks, pendekatan seperti ini menjadi penting. Komunitas berperan membuka ruang dialog, mempertemukan pengalaman, dan mengajak masyarakat melihat kembali nilai-nilai dasar dalam mendidik anak.

Refleksi yang lahir dari ruang-ruang kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan semata soal pengetahuan, tetapi juga tentang membangun manusia yang utuh—yang mampu memahami, merasakan, dan peduli terhadap sesama.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//