• Kolom
  • Kisah Pekerja Informal dalam Bingkai Sinema

Kisah Pekerja Informal dalam Bingkai Sinema

Film Angkara Murka produksi Forka Films karya sutradara Eden Junjung mengangkat kisah pilu yang dialami para buruh di pertambangan ilegal.

Yogi Esa Sukma Nugraha

Sehari-hari mengajar di SMA, sesekali menulis kolom

Poster film Angkara Murka karya sutradara Eden Junjung. (Sumber Foto: Instagram forkafilms)

17 Maret 2026


BandungBergerak – (Spoiler alert! Uraian ini mengandung unsur plot film).

Saya mencoba menebak alur filmnya. Namun kesulitan menguak tanda apa pun ketika menyaksikan kisah permulaan film Angkara Murka, dan melihat Ambar (yang diperankan Raihaanun), sedang menilik ketersediaan beras untuk kebutuhan dasar keluarga kecilnya. Hanya sedikit yang tersisa.

Semua baru agak terbuka setelah adegan berpindah ke tambang, di suatu daerah terpencil di Magelang, yang seperti wilayah tambang lainnya, punya kesan suram untuk tumbuh kembang anak-anak manusia. Ketika itu mandor Lukman (diperankan Simhala Avadana) menyuruh para buruh untuk bergegas menyelesaikan pekerjaan. Sebab, iblis yang menghuni tambang biasa keluar kalau malam. Petaka dimulai dari sana.

"Aku ningarep goleki bojoku (Aku hendak mencari suamiku)." Begitu cetus Ambar.

Jarot hilang setelah hari itu. Ambar mencarinya kemana-mana. Bahkan ia meminta mandor untuk bekerja menggantikan suaminya demi memenuhi periuk nasi di rumah. Kita bisa membayangkan kesuraman itu. Wilayahnya berdebu. Udara gersang. Suara mesin nyaris tak pernah berhenti, dan raut muka lelah seolah menyatu dengan tanah. Nyaris seperti sedang di alam mimpi.

Ambar kelimpungan. Sebab, Jarot belum juga pulang ke rumahnya. Adegan sebelumnya memperlihatkan Jarot yang sedang mencari penghasilan lebih bersama Bogel, yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Namun Bogel membisu. Enggan membicarakan apa yang sesungguhnya terjadi saat itu.

"Aku mlaku dewek. Aku meh nyenengke anak karo bojoku (aku pergi sendiri. Aku ingin membahagiakan anak dan istri)," kata Jarot sebelum ia dipastikan hilang.

Kehilangan Jarot agak mengejutkan, dan membuat banyak orang terlihat panik, tak terkecuali para atasan yang menganggap para pekerja tambang lebih rendah dari binatang. Disiksa. Dengan upah tak seberapa, yang hanya cukup untuk sekadar menyambung hidup. Seperti diungkap Komar (diperankan Rukman Rosadi) yang berkata, "Kok cuma segini?", dan akhirnya ia mencanangkan pemberontakan dan mengorganisir diri bersama kawan-kawan lainnya untuk segera membuat perhitungan pada Broto (diperankan Whani Darmawan), seorang raja lokal bermuka sangar, dan cenderung psikopat.

Aku ora urusan. Aku butuh dana sing akeh. Aku arep nyalon (aku gak peduli. Aku butuh dana banyak. Aku mau mencalonkan diri),” kata Broto, dan mendesak pada bawahannya mandor Lukman segera mengumpulkan sejumlah uang untuk mengikuti pemilu.

Baca Juga: Membayangkan Lupus
Memamah Revolusi Kemerdekaan dari Kisah Orang Biasa
Hikmah dari Hasan dalam Film Klasik Atheis

Kritik Sosial

Film Angkara Murka diproduksi oleh Forka Films, dan disutradarai Eden Junjung yang memulai debutnya. Ada catatan yang menunjukkan bahwa film ini kurang mendapat perhatian yang layak. Amat disayangkan.

Padahal berbeda dari kebanyakan film horor. Angkara Murka mengusung tema besar yang krusial. Lahir dari kegelisahan akan pengorbanan yang sering kali dianggap wajar. Mengingat, seperti penjelasan Eden, dalam narasi modernitas, ada jiwa-jiwa yang dikorbankan. Angkara Murka mencoba memberi tempat pada yang terpinggirkan. Ia membeberkan kisah pilu yang dialami para buruh di pertambangan ilegal.

Angkara Murka juga menyoroti sisi gelap raja lokal yang menuntut tumbal secara harfiah. Ia diiringi lagu dari band punk asal Purbalingga, Sukatani, berjudul Tumbal Proyek yang menjadi soundtrack resmi film. Kabar yang beredar mengatakan kalau Angkara Murka tayang perdana secara global dengan judul internasional "Mad of Madness" di Far East Film Festival (FEFF) 2025 di Udine, Italia yang digelar pada 24 April-2 Mei 2025.

"Kami ingin menghadirkan kisah yang tak hanya menghantui secara visual dan emosional, tetapi juga mengguncang kesadaran sosial. Eden Junjung membawa nafas baru pada sinema kita," kata Ifa Isfansyah, Produser Forka Films.

Yang menarik adalah momen para pekerja hendak memberi perhitungan pada Broto, dan seketika itu kesadaran seperti meluap, mampu membuat kacau, sesuatu yang memantik banyak orang bahwa cara satu-satunya adalah melawan. Tak ada jalan lain.

Dari perspektif penguasa, bagaimana menampik keharusan sejarah semacam itu?

Menjadi atau bersekutu dengan ”Iblis” adalah jalan yang ditempuh Broto. Agaknya masyarakat urban sulit untuk menduga dan menalar kenapa memilih jalan mistik. Tapi paling tidak Eden Junjung berhasil menyuntikkan kritik sosial yang cukup dominan ke dalam elemen horor. Mengangkat perbudakan modern.

Ambar juga mampu memberi nuansa emosi yang dalam. Sorot matanya tajam. Penuh kegelisahan. Memancarkan api perlawanan. Jarot, suaminya, yang hilang tiba-tiba, menjadi pintu masuk ke dunia gelap di mana manusia lebih menyeramkan daripada makhluk gaib. Bogel, yang kelak menjadi pengkhianat, menambah dinamika pertemanan yang rapuh di bawah desakan ekonomi. Sementara Komar, dengan gestur yang berani, mewakili penderitaan buruh yang muak dengan upah minim dan diperlakukan seperti sapi.

Rukman Rosadi mampu memainkan peran Komar dengan intensitas yang memantik penonton ingat betapa isu ini kerap terabaikan. Whani Darmawan, yang memerankan Broto, menunjukkan jika seorang pria haus kekuasaan rela bersekutu dengan setan. Karenanya Angkara Murka tak ragu menyoroti bagaimana pemilu sering jadi alat bagi para oligark untuk memperkaya diri, lewat nilai lebih  buruh dan eksploitasi alam. Ini begitu realis.

Sudah jamak diketahui kalau soal tambang dengan omzet miliaran memicu polemik panjang. Ironisnya, buruh tetap miskin. Bahkan permintaan pasokan pasir untuk kepentingan bisnis konstruksi telah mengubah lanskap penghidupan dan basis sosial-ekologis rakyat di sekitar Gunung Merapi, sebagaimana penjelasan Anggalih Bayu Muh Kamim dalam artikel Berebut Nafkah di Daerah Ekstraktif: Cerita dari Magelang. Angkara Murka seolah menyodorkan kaca ke publik luas untuk menyajikan informasi yang terkait dengan realitas itu.

"Film tidak saja berfungsi sebagai komoditas komersial, tapi juga sebagai perangkat strategis dalam interaksi kultural," tulis Adrian Jonathan Pasaribu. "Sineas tidak bisa lepas dari pemanfaatan unsur dan pengelolaan strategi kultural, pemahaman akan subjek, pakem budaya, kebiasaan warga, psikologi penonton, dan sebagainya." Begitu pun Angkara Murka.

Bahasa Jawa yang digunakan sepanjang film menambah keunikan. Membuat kita merasa sedang berada di Jawa Tengah. Agaknya film ini berbeda dengan banyak film horor Indonesia yang menjauhi aspek ketidakadilan sosial, suatu hal yang membuat kian relevan.

Angkara Murka bukan berarti luput dari kritik. Beberapa menyayangkan kalau friksi yang terjadi antara buruh dan pengusaha di akhir film tidak dieksekusi dengan baik. Tapi sedikitnya ada nilai persatuan yang edukatif. Ketika Komar dan kawan-kawannya bersatu dengan Ambar, juga mandor Lukman, untuk menindak kesewenang-wenangan Broto.

Bukankah itu pula yang layak diilhami rakyat pekerja Indonesia?

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//