• Opini
  • PELAJAR BERSUARA: Ziarah Sejarah di Makam Gunung Puyuh Sumedang

PELAJAR BERSUARA: Ziarah Sejarah di Makam Gunung Puyuh Sumedang

Kompleks makam Gunung Puyuh menjadi semacam peta genealogis yang menggambarkan kesinambungan elite lokal dari masa kerajaan hingga masa kolonial.

Fabian Satya Rabani

Pelajar di SMA Talenta Bandung

Keterangan makam di kompleks pemakaman Gunung Puyuh. (Foto: Fabian Satya Rabani)

20 Maret 2026


BandungBergerak – Perjalanan menuju Kompleks Makam Gunung Puyuh di Sumedang bukan sekadar langkah menuju sebuah pemakaman tua. Ia lebih menyerupai perjalanan menembus lapisan sejarah yang saling bertaut. Di tempat ini, jejak genealogis bangsawan Sunda bertemu dengan memori panjang perjuangan nasional. Kompleks makam tersebut berdiri di wilayah Sumedang Selatan, tidak jauh dari pusat kota lama yang dahulu menjadi pusat pemerintahan tradisional dan kolonial. Dari kejauhan, kawasan ini tampak tenang, namun menyimpan kisah panjang tentang kekuasaan, pengasingan, dan ingatan sejarah.

Sejak akhir abad ke-18, kawasan Gunung Puyuh dikenal sebagai pasarean keluarga bangsawan Sumedang Larang. Pada masa itu, fungsi kompleks ini sangat eksklusif karena diperuntukkan bagi kalangan elite pemerintahan lokal. Struktur sosial masyarakat tradisional memisahkan ruang hidup rakyat dengan ruang kematian para bangsawan. Pola pemisahan ini tidak hanya mencerminkan hierarki sosial, tetapi juga menunjukkan cara elite lokal menjaga simbol kehormatan mereka. Tradisi serupa juga ditemukan dalam banyak kompleks makam bangsawan di wilayah Jawa dan Sunda.

Lokasi makam yang berada di kawasan perbukitan bukan kebetulan. Dalam tradisi budaya Jawa dan Sunda, tempat tinggi sering dianggap lebih sakral dan tenang. Posisi geografis tersebut sekaligus memberi kesan terhormat bagi para tokoh yang dimakamkan. Sejarawan menyebut praktik ini sebagai bagian dari simbolisasi kekuasaan yang terus dipertahankan bahkan setelah seseorang meninggal. Pemakaman elite dengan demikian bukan hanya ruang spiritual, tetapi juga ruang representasi status sosial.

Makam Pangeran Rangga Gempol, Matan Bupati Sumedang. (Foto: Fabian Satya Rabani)
Makam Pangeran Rangga Gempol, Matan Bupati Sumedang. (Foto: Fabian Satya Rabani)

Baca Juga: PELAJAR BERSUARA: Memaknai Jingga Karya  Efek Rumah Kaca
PELAJAR BERSUARA: Menelisik Perspektif Pelajar terhadap Batik
PELAJAR BERSUARA: Surat untuk Ibu Dewi Sartika

Genealogi Elite Sumedang dalam Lanskap Pemakaman

Sejarawan Indonesia Sartono Kartodirdjo menjelaskan bahwa struktur kekuasaan kolonial Belanda sering mempertahankan elite lokal sebagai perantara administrasi. Sistem tersebut dikenal sebagai indirect rule, yaitu praktik pemerintahan tidak langsung yang memanfaatkan penguasa tradisional sebagai penghubung antara pemerintah kolonial dan masyarakat lokal. Dalam konteks Sumedang, para bangsawan lokal menjadi bagian dari struktur kekuasaan tersebut. Mereka memegang jabatan bupati atau pejabat administratif di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Kompleks makam Gunung Puyuh kemudian menjadi simbol kesinambungan genealogis keluarga elite yang pernah memegang kekuasaan lokal (Sartono Kartodirdjo, 1992).

Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan kompleks ini adalah Raden Aria Suria Kusumah Adinata, yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sugih. Ia merupakan tokoh penting dalam administrasi Sumedang pada abad ke-19. Dalam struktur pemerintahan kolonial, posisi bangsawan lokal seperti dirinya memainkan peran strategis dalam menjaga stabilitas wilayah. Makamnya berada di dalam kawasan Gunung Puyuh bersama sejumlah anggota keluarga bangsawan lain. Dari sudut pandang sejarah sosial, keberadaan makam tersebut memperlihatkan bagaimana elite lokal membangun memori kekuasaan melalui ruang pemakaman keluarga.

Ruang pemakaman seperti ini pada dasarnya berfungsi sebagai arsip sejarah yang tidak tertulis. Nama-nama pada nisan merekam garis keturunan, jabatan, dan hubungan keluarga yang pernah memegang peranan penting dalam sejarah daerah. Dalam konteks Sumedang, kompleks Gunung Puyuh menjadi semacam peta genealogis yang menggambarkan kesinambungan elite lokal dari masa kerajaan hingga masa kolonial. Melalui makam-makam itu, sejarah kekuasaan lokal tidak hanya diceritakan dalam buku, tetapi juga dihadirkan secara fisik dalam lanskap kota.

Makam RAA Martenegara: Mantan Bupati Bandung 1893-1918. (Foto: Fabian Satya Rabani)
Makam RAA Martenegara: Mantan Bupati Bandung 1893-1918. (Foto: Fabian Satya Rabani)

Jejak Pengasingan dan Memori Perjuangan Nasional

Namun sejarah Gunung Puyuh tidak berhenti pada cerita tentang bangsawan lokal. Kompleks ini memperoleh dimensi nasional setelah dimakamkannya Cut Nyak Dien pada tahun 1908. Tokoh perempuan dari Aceh itu diasingkan pemerintah kolonial Belanda ke Sumedang setelah perjuangan panjang melawan kolonialisme. Ia dipindahkan jauh dari tanah kelahirannya dengan tujuan memutus jaringan perlawanan di Aceh. Dalam pengasingan itulah ia menjalani sisa hidupnya hingga wafat.

Sejarawan Taufik Abdullah menjelaskan bahwa pengasingan tokoh perlawanan merupakan strategi kolonial untuk memutus jaringan sosial dan politik gerakan antikolonial. Dengan memindahkan seorang pemimpin jauh dari basis perjuangannya, pemerintah kolonial berharap gerakan perlawanan akan melemah. Namun strategi ini sering menghasilkan konsekuensi sejarah yang tidak terduga. Tokoh yang diasingkan justru meninggalkan jejak sejarah baru di tempat pengasingannya (Taufik Abdullah, 2012).

Kasus Cut Nyak Dien di Sumedang menjadi contoh nyata fenomena tersebut. Kehadirannya menghadirkan narasi Aceh dalam lanskap sejarah Jawa Barat. Makamnya di Gunung Puyuh menghubungkan dua wilayah yang secara geografis berjauhan tetapi dipertemukan oleh sejarah kolonialisme. Dari sudut pandang sejarah nasional, kompleks ini menjadi titik pertemuan antara memori lokal dan memori perjuangan Indonesia. Ziarah ke makam Cut Nyak Dien sering dimaknai bukan hanya sebagai ritual religius, tetapi juga sebagai penghormatan terhadap sejarah perlawanan bangsa.

Secara spasial, kawasan Gunung Puyuh juga mencerminkan pola kota tradisional Sunda. Pemakaman elite ditempatkan pada kawasan perbukitan yang relatif terpisah dari permukiman padat. Pola ini memiliki makna kosmologis sekaligus sosial. Dalam tradisi Sunda Islam, ketinggian sering dipandang sebagai simbol kedekatan spiritual sekaligus kehormatan sosial. Konsep tersebut dapat ditemukan pada banyak kompleks makam bangsawan di Nusantara.

Arsitektur makam di Gunung Puyuh relatif sederhana tetapi sarat simbolisme. Jirat batu, nisan berukir sederhana, serta orientasi makam mengikuti kaidah pemakaman Islam. Material yang digunakan sebagian besar berupa batu alam lokal dan bata merah tradisional. Teknik konstruksinya tidak menggunakan sistem struktur modern. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tercermin estetika pemakaman elite pribumi pada masa kolonial.

Kondisi fisik kompleks ini juga mengalami perubahan seiring waktu. Beberapa elemen modern ditambahkan untuk melindungi makam sekaligus memfasilitasi peziarah. Lantai semen, pagar logam, dan cungkup permanen mulai muncul pada abad ke-20. Perubahan tersebut memunculkan perdebatan mengenai keaslian situs sejarah. Sebagian kalangan menilai modernisasi dapat mengurangi nilai autentik situs.

Namun sebagian ahli konservasi melihatnya sebagai kompromi yang tidak terhindarkan. Menurut Edi Sedyawati, pelestarian situs sejarah sering berada di antara dua kepentingan: menjaga keaslian material dan mempertahankan fungsi sosialnya. Situs yang sepenuhnya dipertahankan tanpa aktivitas publik berisiko kehilangan relevansi sosial. Sebaliknya, situs yang terlalu dimodifikasi dapat kehilangan nilai historisnya (Edi Sedyawati, 2006). Gunung Puyuh menjadi contoh nyata dilema tersebut.

Saat ini kompleks makam Gunung Puyuh berfungsi sebagai ruang ziarah religius sekaligus destinasi sejarah. Banyak peziarah datang untuk berdoa, terutama di makam Cut Nyak Dien. Di sisi lain, pelajar dan peneliti memanfaatkan kawasan ini sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal. Aktivitas ekonomi kecil juga tumbuh di sekitar kompleks, mulai dari penjual bunga hingga jasa parkir. Kehadiran situs sejarah ternyata mampu menciptakan dinamika sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Namun tantangan juga tidak sedikit. Komersialisasi wisata religi berpotensi mengaburkan makna sejarah situs. Jika narasi sejarah tidak dijelaskan secara memadai, pengunjung hanya melihat makam sebagai tempat ritual semata. Padahal di baliknya terdapat kisah panjang tentang genealogis elite Sumedang dan perjuangan nasional. Tanpa penjelasan yang memadai, dimensi historis tersebut bisa perlahan terlupakan.

Di tengah perubahan zaman, Kompleks Makam Gunung Puyuh tetap menjadi ruang refleksi sejarah. Ia memperlihatkan bagaimana kekuasaan lokal, kolonialisme, dan perjuangan nasional bertemu dalam satu lanskap. Dari makam bangsawan hingga makam pahlawan nasional, semuanya membentuk lapisan memori yang saling terhubung. Berziarah ke Gunung Puyuh pada akhirnya bukan sekadar kunjungan spiritual. Ia juga merupakan perjalanan memahami bagaimana sejarah lokal ikut membentuk identitas nasional Indonesia.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//