Dekolonisasi Sehari-hari
Kolonialisme hari ini tidak lagi keras dan nyaring, melainkan lembut dan hangat. Ia membuat kita merasa nyaman, sebab dari sana datang bayangan tentang kesempurnaan.

Moch Aldy MA
Penulis fiksi dan non fiksi. Karya-karya nonfiksinya terbit di media lokal maupun nasional.
23 Maret 2026
BandungBergerak – Barangkali yang paling berbahaya dari penjajahan adalah ketika ia tak lagi terasa seperti penjajahan. Ia berdenyut dalam cara kita mengagumi sesuatu tanpa bertanya, dalam cara kita menyebut sesuatu sebagai “lebih baik” tanpa pernah tahu siapa yang merancang ukuran itu. Ia tidak lagi memakai seragam atau bendera, tidak datang dengan kapal atau bedil, melainkan dengan ide dan selera yang mewujud pemujaan buta.
Di situlah kolonialisme paling halus bekerja: ketika rasa inferior telah disublimasi menjadi pemujaan buta. Kita menyebutnya kemajuan, globalisasi, modernitas–dan jarang sekali menyadari bahwa dalam kata-kata itu ada sisa-sisa suara yang memerintah kita untuk meniru. Kita meniru tanpa merasa kecil, sebab peniruan itu telah menjadi moral; ia tampak seperti cara satu-satunya untuk menjadi manusia yang dianggap lengkap.
Apa yang terjadi bukan lagi dominasi yang memaksa, tetapi sesuatu yang jauh lebih halus—sebentuk hegemoni kultural, seperti yang pernah ditekskan Antonio Gramsci dalam Prison Notebooks (1930–1935): kekuasaan yang tidak bekerja melalui paksaan, tapi melalui persetujuan yang lahir dari keyakinan bahwa nilai-nilai penguasa adalah kebenaran yang alami. Dalam hegemoni, kekuasaan menjadi lembut sebab ia telah menyusup ke dalam “akal sehat” masyarakat; ia tidak memerintah lewat larangan, melainkan lewat rasa wajar. Maka kolonialisme modern tidak lagi hadir di medan perang, tetapi di medan kesadaran: dalam cara kita berbicara, berpakaian, bermimpi, dan menilai dunia. Kita tidak lagi diperintah untuk tunduk, sebab kita sendiri tak sadar telah menganggap ketundukan itu sebagai bentuk kebebasan.
Maka dekolonisasi hari ini bukan lagi urusan mengganti nama jalan atau menurunkan patung tua di alun-alun, tapi kerja-kerja panjang dan sunyi untuk membongkar lapisan terdalam dari kekaguman yang telah menjelma menjadi sistem berpikir. Kita lahir di dunia yang telah lama didefinisikan oleh orang lain. Dari buku pelajaran sampai tata bahasa, dari cita rasa hingga teori pengetahuan, kita diajarkan untuk menilai sesuatu dari kriteria yang tidak kita susun sendiri. Kita menulis, meneliti, berdiskusi, tetapi struktur di bawah kesadaran kita tetap mengulang satu kalimat lama: bahwa kebenaran memiliki pusat, dan pusat itu bukan di sini. Maka kita berdebat dengan bahasa orang lain, menimbang nilai dengan timbangan orang lain, dan menganggap apa yang disebut “rasional”, “objektif”, atau “ilmiah” sebagai hal yang netral—padahal semua itu lahir dari sejarah tertentu, dari tubuh dan pikiran yang tumbuh di tanah yang bukan milik kita.
Baca Juga: Bandung yang Kebarat-Baratan: dari Kolonialisme Belanda sampai Invasi Inggris
Undang-undang Pokok Agraria dan Sisa-sisa Kolonialisme
Tata Ruang Kolonial, Mewarisi Mental Pluralisme Agama di Bandung
Ironi Kolonialisme
Dalam dunia semacam ini, kolonialisme tak lagi hadir lewat paksaan, tetapi lewat pilihan; kita memilihnya secara sukarela, sebab ia tampak bagai bentuk tertinggi dari kebebasan. Ada ironi di sana: semakin kita merasa bebas, semakin dalam sebenarnya kita dituntun oleh warisan yang tak kasatmata. Kita bisa dengan mudah mengolok-olok bentuk kolonialisme masa lalu–penguasaan tanah, perdagangan manusia, monopoli rempah–tapi kita jarang sadar bahwa penjajahan yang paling kuat adalah penjajahan yang terjadi di dalam cara berpikir. Ia ada dalam apa yang kita anggap wajar. Dalam cara kita memahami apa itu “maju” dan “mundur”, “tinggi” dan “rendah”. Dalam cara kita menyusun hierarki antara yang tradisional dan modern, antara yang spiritual dan rasional, antara yang lokal dan universal. Kita membangun universitas, menulis jurnal, dan menyebutnya “kritis”, tetapi dalam diam kita masih tunduk pada pusat-pusat pengetahuan yang tak pernah berhenti menilai kita dari jauh.
Dalam ruang akademik kita, nama-nama yang dihormati tetap nama-nama asing. Kita membaca mereka, mengutip mereka, dan menulis dalam kerangka yang mereka buat—bukan sebab tidak ada pemikir dari negara ini, melainkan sebab kita telah diajari bahwa untuk bisa diakui, kita harus berbicara dalam bahasa mereka.
Mungkin sebab itu, sejarah tidak bisa hanya berarti kembali ke masa lalu. Ia tidak bisa sekadar nostalgia terhadap “keaslian”, sebab keaslian pun adalah konsep yang telah terkontaminasi oleh cara berpikir kolonial. Begitu kita berbicara tentang “yang asli”, kita sering tanpa sadar mengulang dikotomi yang sama yang dulu digunakan untuk menaklukkan: bahwa yang lokal adalah statis, dan yang modern adalah bergerak. Maka dekolonisasi bukanlah membalikkan hierarki itu, tetapi menolak logika hierarki itu sendiri. Ia bukan tentang memilih antara Timur atau Barat, antara tradisi atau modernitas, tetapi tentang merobohkan dinding yang membentengi pembagian semacam itu sehingga terasa alami.
Di titik kesadaran ini, gema purba dari pemikiran Edward W. Said dalam Orientalism (1978) menemukan pantulannya: bahwa apa yang disebut “Timur” pada dasarnya adalah ciptaan imajinasi Barat–sebuah gambaran yang tampak ingin mengenal, padahal sejatinya ingin menundukkan. Said mempertontonkan bahwa pengetahuan pun bisa menjadi wajah lain dari kekuasaan: pandangan yang tampak ilmiah dan objektif justru menyimpan bias yang menempatkan sebagian dunia sebagai pusat dan sisanya sebagai objek yang dijelaskan.
Kita mewarisi cara pandang itu tanpa sadar, dalam cara kita membaca, menulis, bahkan bermimpi tentang dunia yang “modern”. Dalam banyak hal, kita masih menulis dari posisi yang dijelaskan, bukan yang menjelaskan; kita masih menjadi subjek yang berusaha diakui oleh pusat, bukan oleh pengalaman empiris kita sendiri. Padahal setiap kali kita berusaha menjadi “universal”, kita sebenarnya sedang memasuki lagi ruang yang sudah digambar untuk kita sejak lama. Maka dekolonisasi menuntut keberanian untuk menulis tanpa menunggu izin dari pusat.
Namun kerja-kerja itu tidak mudah, sebab kolonialisme telah lama menjelma menjadi kebiasaan. Ia hidup di dalam diri orang-orang terpelajar yang merasa paling sadar, di dalam mimpi mereka tentang masa depan yang lebih “berkelas”, lebih “terbuka”, lebih “global”. Ia menyelinap dalam bahasa sehari-hari kita–dalam cara kita menyebut “orang luar negeri” dengan nada kagum, dalam cara kita menilai mutu sebuah gagasan berdasarkan aksen yang mengucapkannya. Bahkan dalam cinta kita pada bahasa sendiri, kita masih terjebak dalam kebutuhan untuk menjelaskan, membandingkan, menjustifikasi: seolah-olah untuk bisa sahih, bahasa itu harus berasal dari bahasa dunia yang lain.
Kita sering memuja kebijaksanaan asing seolah ia lebih luhur hanya sebab lebih sulit diucapkannya. Carpe diem, misalnya–raihlah hari ini–menjadi semboyan kehidupan modern yang dianggap bijak, bahkan filosofis. Tapi bukankah makna yang sama telah lama berdenyut dalam ungkapan Sunda: ayena mah ayena, engke mah engke? Hidup untuk saat ini, biarkan nanti menjadi urusan nanti. Bedanya, carpe diem sering dimaknai dengan nada menaklukkan waktu, sementara petuah lokal itu berkata lebih lembut: menjalani kini tanpa tergesa. Keduanya nyaris satu makna, tapi kita lebih mudah terpukau pada versi yang berbahasa Latin.
Begitu pula dengan fatum brutum amor fati–mencintai takdir meskipun takdir datang dengan kejam, yang sering dikutip dari Nietzsche dan diulang-ulang dalam buku-buku motivasi sebagai tanda keberanian. Padahal dalam laku Jawa, ada ungkapan nrimo ing pandum, menerima bagian hidup dengan lapang dada. Ia bukan pasrah, tapi bentuk kebijaksanaan yang sama: menyambut nasib tanpa keluh, mencintai hidup sebagaimana adanya. Namun kita sering menganggap amor fati lebih mulia, seolah bahasa asing membuatnya lebih berwibawa.
Dan ketika Barat mengingatkan manusia dengan memento mori–ingatlah engkau akan mati–kita terkesima oleh keanggunan bahasanya, oleh kesan bahwa itu filsafat tinggi. Padahal leluhur Sunda pun telah lama berkata: mulang ka asal, mulih ka jati. Kalimat yang membawa makna serupa, tapi dengan ketenangan yang lain: bukan mengingat mati sebab takut kehilangan hidup, tapi sebab sadar bahwa hidup selalu menuju pulang. Tetapi, seperti sebelumnya, kita cenderung mengagumi versi yang datang dari luar dan melupakan yang lahir dari tanah sendiri.
Tiga petuah itu sejatinya berbicara tentang hal yang sama: tentang waktu, nasib, dan kematian–tiga hal yang membentuk manusia sejak mula. Tetapi dalam cara kita mengagumi, tampak jelas sisa kolonialisme yang masih bekerja. Kita lebih percaya pada bahasa Latin ketimbang bahasa lokal; lebih bangga mengutip filsuf Eropa ketimbang menukil pepatah leluhur kita sendiri. Padahal kebijaksanaan yang kita cari sering sudah ada di rumah, hanya saja kita tak lagi mengenalinya.
Kerja Panjang Dekolonisasi
Barangkali di situlah letak luka yang lebih dalam: bahwa bahkan dalam perkara berpikir, kita masih mencari pengesahan dari luar. Kita tidak sadar bahwa sistem pengakuan semacam itu adalah bentuk kolonialisme yang paling canggih: ia tak lagi memaksa, melainkan memelihara ilusi bahwa untuk menjadi global, kita mesti melupakan akar. Kita mengubah diri menjadi cermin, bukan sumber cahaya. Kita mencatat, meniru, mengadaptasi–tapi jarang mencipta dari ruang kosong di dalam diri.
Di tingkat sehari-hari, hal ini menjadi lebih halus lagi. Ia hadir dalam cara kita merasa malu terhadap diri sendiri. Dalam cara kita tertawa atas logat kita sendiri, misalnya. Dalam cara kita merasa bangga ketika sesuatu yang berasal dari tanah ini diakui oleh media asing–seolah pengakuan itu adalah tahap akhir dari keberhasilan. Padahal justru di situlah kolonialisme menanamkan akar terkokohnya: dalam keyakinan bahwa nilai sejati sesuatu hanya bisa diukur dari sejauh mana ia diakui oleh dunia yang telah menguasai standar pengakuan. Kita menjadi bangsa yang meminjam cermin untuk melihat wajah sendiri.
Dekolonisasi, dalam pengertian terdalamnya, bukanlah proyek politik semata, tetapi proses spiritual: pembebasan dari rasa kagum yang salah arah. Ia bukan tentang menolak mentah-mentah yang datang dari Barat, tetapi tentang belajar memandangnya tanpa taklid buta. Tentang menyadari bahwa pertemuan antara budaya tidak mesti selalu berbentuk hierarki, bahwa kita bisa belajar tanpa kehilangan pusat gravitasi diri. Sebab kolonialisme paling gawat bukanlah ketika orang lain memerintah tubuh kita, melainkan ketika kita sendiri tak lagi percaya pada pikiran kita.
Barangkali laku semacam ini akan terasa mustahil. Sebab setiap langkah dekolonisasi akan selalu berhadapan dengan suara dalam diri yang bertanya: “Apakah ini cukup modern? Apakah ini diakui?” Suara itu telah kita warisi turun-temurun; ia adalah gema panjang dari masa ketika orang-orang datang membawa peta dan menamai dunia sesuai kehendaknya. Kita masih hidup di peta itu, bahkan ketika kita mengaku telah merdeka.
Maka dekolonisasi sehari-hari bukanlah revolusi yang dramatis, tetapi serangkaian gestur subtil untuk menolak tunduk: dalam cara kita menulis tanpa perlu mencocokkan diri dengan selera global; dalam cara kita berpikir dengan kesabaran yang tidak ingin segera diterjemahkan; dalam cara kita mencintai sesuatu tanpa perlu pembenaran universal. Yang paling sukar dari laku ini adalah bahwa ia menuntut kita untuk menolak kenyamanan. Sebab kolonialisme hari ini tidak lagi keras dan nyaring, melainkan lembut dan hangat. Ia membuat kita merasa nyaman berada di bawahnya, sebab dari sanalah datang bayangan tentang kesempurnaan.
Kita hidup dalam dunia yang telah membikin ketergantungan tampak seperti proyeksi kesempurnaan. Kita ingin hidup “seperti mereka” sebab kita diajari bahwa di sanalah masa depan. Padahal masa depan tidak punya alamat tunggal. Ia tumbuh di mana-mana, dalam bahasa yang tak sama, dalam cara berpikir yang tak seragam.
Kerja-kerja dekolonisasi adalah kerja-kerja panjang dan lengang yang mesti terus dikerjakan di dalam diri. Ia adalah bentuk kesadaran yang menolak untuk tenang. Sebab setiap kali kita merasa telah merdeka, kita mesti curiga: boleh jadi yang berubah hanya bentuk penjajahannya. Maka yang bisa kita lakukan hanyalah terus berjaga–agar belajar dari dunia tidak berarti menyerahkan cara kita memandang dunia itu sendiri.
Sebab pada akhirnya, yang ingin dibebaskan oleh dekolonisasi bukan hanya bangsa, tetapi cara kita mencintai diri sendiri–tanpa merasa perlu menjadi orang lain untuk merasa utuh. Dan barangkali, di hari esok, ketika kita mampu menatap diri tanpa cermin siapa pun, di situlah kemerdekaan itu benar-benar bernapas: pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat kita percaya bahwa kita pernah ada–dengan cara kita sendiri.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

