RESENSI BUKU: Bagaimana Bandung Menjelang Pagi Merepresentasikan Kota Bandung
Novel Bandung Menjelang Pagi karya Brian Khrisna menceritakan sisi gelap Bandung dari sudut pandang tokoh utamanya yang bernama Dipha.
Penulis Raden Muhammad Wisnu Permana22 Maret 2026
BandungBergerak – Ada banyak cerita fiksi Indonesia yang setting cerita tentang Bandung. Sebut saja film seperti Petualangan Sherina (2000), Jomblo (2006) hingga From Bandung with Love (2008). Untuk urusan buku tentu kita semua tahu karya fenomenal Pidi Baiq berjudul Dilan yang sukses diadaptasi berjilid-jilid jadi karya layar lebar. Tapi, apakah mereka semua merepresentasikan Kota Bandung secara nyata?
Tanpa bermaksud mengerdilkan karya-karya yang saya sebutkan di atas, menurut saya, yang benar-benar merepresentasikan Kota Bandung secara nyata adalah Bandung Menjelang Pagi karya Brian Khrisna.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Novel Tengah Tengah, Cinta, dan Pilihan yang Tak Pernah Utuh
RESENSI BUKU: Teologi Negatif dan Mistisisme Kotor dalam Nabi Kesengsaraan
RESENSI BUKU: Perlawanan Sunyi Kaum Hawa Melalui Cerpen
Representasi Braga yang Sesungguhnya
Petualangan Sherina karya Riri Riza bercerita tentang jahatnya mafia tanah yang merusak alam Lembang atas nama kapitalisme. Jomblo karya Hanung Bramantyo bercerita tentang liku-liku kehidupan mahasiswa ITB dan Unpad dengan segala serba-serbinya. Dilan karya Pidi Baiq bercerita tentang cinta-cintaan remaja SMA lengkap dengan darah muda remaja yang hobi berkelahi. Bandung Menjelang Pagi mengusung sesuatu yang beda.
Bandung Menjelang Pagi menceritakan sisi gelap Bandung dari sudut pandang tokoh utamanya yang bernama Dipha. Sisi gelap Bandung yang tidak dilihat pembaca maupun penonton semesta Dilan. Sekali lagi, saya gak bermaksud menjelek-jelekkan karya Pidi Baiq karena saya turut menikmati karya tersebut juga.
Biar bagaimanapun, Dilan dan Milea adalah anak SMA Kota Bandung dengan penuh privilese. Tahun 90-an bisa punya motor dengan jaket denimnya, tahun 90-an bisa punya mobil, dan tahun 90-an punya rumah yang cukup besar di tengah-tengah Kota Bandung. Sedangkan Dipha beserta para tokoh di dalam buku Bandung Menjelang Pagi adalah orang-orang pinggiran yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat Kota Bandung.
Dipha adalah seorang pemuda yang kerja serabutan di sekitar wilayah Braga dan Asia Afrika. Kadang jualan Bacang, kadang gosok toilet Puskesmas, kadang jadi waiter di coffee shop, kadang jaga toko kaset di Cikapundung, kadang jadi makelar kos-kosan. Semua ia lakukan untuk bertahan hidup.
Dipha tidak sendiri. Terdapat Dipha-Dipha lainnya dibalik gemerlap dan estetiknya kawasan dan Asia Afrika. Tepatnya, wilayah kos-kosan di perkampungan belakang Braga di mana Dipha harus berbagi kontrakan dengan kaum proletar lainnya yang berprofesi sebagai pengamen, manusia silver, preman, hingga waria.
Semesta Dilan menceritakan sekelompok anak-anak Kota Bandung tahun 90-an yang sibuk memadu kasih dan tawuran. Tawurannya pun hanya alasan ego semata. Berbeda dengan Dipha yang berkelahi di belakang Pasar Cikapundung untuk bertahan hidup, rebutan rezeki dengan preman setempat.
Di saat Dilan keluyuran malam-malam untuk tawuran, ada Dipha yang kadang jadi kuli angkut beras atau membersihkan torrent kosan di Jl. Tamblong untuk bertahan hidup karena Dipha yang tidak tamat SMA tak punya pilihan lain untuk mencari nafkah di tengah buasnya Kota Bandung.
Mungkin orang luar Bandung bakal bilang, “Itu kan cuma cerita tulisan Brian Khrisna saja!”
Sebagai bagian dari masyarakat Kota Bandung, saya bisa bilang, apa yang ditulis Brian Khrisna benar adanya. Coba saja main ke kawasan Braga dan Asia Afrika di atas dari jam 10 malam. Terdapat lusinan tunawisma yang tidur di trotoar pertokoan sekitar Braga dan Asia Afrika Kota Bandung. Mereka tidur pulas beralaskan kardus dan berselimutkan sarung setelah seharian bekerja mengais rezeki menyusuri Kota Bandung. Entah apa yang mereka lakukan pada siang hari, tapi dari pengamatan saya, mereka ini banyak yang bekerja sebagai pemulung, pengamen, tukang becak, tukang sampah, hingga profesi-profesi lainnya yang biasa kita temui di jalanan.
Kota Bandung tidak seindah kutipan terkenal dari akademisi Belanda bernama Martinus Antonius Weselinus Brouwer atau akrab dipanggil M. A. W. Brouwer yang berbunyi “Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum”, yang dipajang di Braga dengan gagahnya.
Pun, Kota Bandung tidak seindah kutipan Pidi Baiq yang berbunyi “Dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi”, yang dipampang berseberangan dengan kalimat M.A.W. Brouwer di kawasan Asia Afrika.
Kota yang dihuni Dipha adalah kenyataan pahit di balik postingan media sosial: tempat di mana sarjana pun kesulitan mendapat upah menyentuh UMR, dan angka korupsi serta perceraian menjadi latar belakang yang jauh lebih nyata ketimbang kutipan manis di tembok Asia Afrika. Bandung hari ini tak lagi soal sejuk dan estetik, ia terasa semakin panas, kumuh, dan suram, terutama sehabis hujan, saat genangan air menghapus semua kutipan estetik tentang Bandung yang estetik sehabis hujan.
Buku yang Harus Dibaca Semua Orang!
Kembali ke buku Bandung Menjelang Pagi. Tidak semua orang pinggiran dalam buku ini berkonotasi negatif. Buku ini menceritakan bahwa orang-orang pinggiran seperti waria yang sering mangkal di Braga dan sekitarnya atau anak punk yang suka nongkrong di sana punya hati dan kebijaksanaan yang tidak dimiliki masyarakat Kota Bandung pada umumnya, termasuk saya.
Tulisan ini tentu bukan untuk jelek-jelekin Pidi Baiq dan ngebagus-bagusin Brian Khrisna. Kalau bisa saya analogikan, mereka berdua ibarat Ari Lasso dan Once Mekel dalam Dewa 19. Sama bagusnya bukan?
Keduanya sama-sama menceritakan bahwa Kota Bandung bisa membuat siapa saja jatuh cinta. Mulai dari Dilan dan Milea, hingga Dipha dan para tokoh di dalam Semesta Bandung Menjelang Pagi. Namun yang satu cerah seperti Marvel, yang satu gelap seperti DC.
Sepuluh tahun lalu, saya pastinya seperti Dilan, yang optimistis pada hidup. Tapi sekarang, saya lebih relate dengan Dipha, yang lebih realistis memandang hidup. Bukan urusan cinta-cintaannya saja, tapi cara pandang saya pada manusia lainnya, maupun cara pandang saya pada Tuhan.
Ah ya, pada intinya, kalian semua yang sudah membaca atau menonton semesta Dilan, harus membaca Bandung Menjelang Pagi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

