• Opini
  • Bertani di Lahan Surutan Waduk Jatigede dan Risiko Perubahan Iklim

Bertani di Lahan Surutan Waduk Jatigede dan Risiko Perubahan Iklim

Pola tanam di lahan surutan di pinggiran Waduk Jatigede sangat dipengaruhi oleh kondisi curah hujan dan peristiwa pasang surut danau.

Johan Iskandar

Dosen, peneliti lingkungan, serta pegiat Birdwatching di Universitas Padjadjaran (Unpad). Penulis bukuKisah Birdwatching, ITB Press (2025)

Lahan surutan di pinggiran Waduk Jatigede Sumedang ditanami aneka ragam tanaman semusim, seperti padi, jagung, ubi jalar dan lain-lain. (Foto: Johan Iskandar)

27 Maret 2026


BandungBergerak – Waduk Jatigede, Sumedang, mulai digenangi air tahun 2015 dengan membendung Sungai Cimanuk. Dampaknya tidak kurang dari 6.642 keluarga yang tinggal di kawasan genangan harus pindah. Air waduk menggenangi rumah, pekarangan, kebun, kebun campuran (talun), dan lahan sawah milik mereka. Dari ribuan warga tersebut, sekitar 77, 6  persen memilih pindah ke daerah yang tidak jauh dari desa tempat asalnya. Mereka memilih daerah di sekitar Waduk Jatigede.  Sementara sisanya, sekitar 22,4  persen pindah ke tempat lainnya. Data pemerintah daerah mencatat warga yang pindah ke sekitar Waduk Jatigede tersebar di 54 dusun yang berada dalam 20 desa di 4 kecamatan, yakni Kecamatan Darmaraja, Wado, Jatinunggal, dan Jatigede (Suwartapradja, 2016).

Banyak warga atau orang yang terkena dampak (OTD) Waduk Jatigede pindah ke wilayah di sekitar danau asalnya memiliki pekerjaan sebagai petani. Oleh karena itu, di tempa baru mereka bermukim, umumnya melanjutkan usaha dengan bertani di sekitar danau. Walaupun ada pula usaha lainnya, seperti sebagai pemilik dan menyewakan perahu, menjaring ikan, mengelola Karamba Jaring Apung (KJA), dan lainnya.

Para petani yang di desa asalnya sebagai penggarap sawah, kebun, dan kebun campuran (talun), tetapi di tempat baru mereka secara budaya harus beradaptasi dengan menggarap lahan surutan. Lahan surutan di pinggiran danau tersebut biasa pula disebut oleh penduduk sebagai lahan dorodon. Istilah dorodon aslinya dari bahasa Inggris yaitu lahan drawdown, yang artinya berupa lahan di sempadan atau bibir danau yang muncul atau mengering akibat penurunan muka air danau di waktu musim kemarau. Pada umumnya muka air danau atau waduk tersebut setiap tahunnya senantiasa berubah. Pada waktu musim hujan biasanya muka air danau naik sampai agak jauh ke darat, hampir sampai ke kebun-kebun dan pekarangan penduduk di kampung. Sementara pada waktu kemarau muka air danau surut, maka sempadan danau tersebut menjadi kawasan lumpur kering jadi daratan.

Lahan surutan atau dorodon ini secara umum sangat subur karena waktu air surut, lumpur-lumpur dari genangan tersebut kaya mengandung unsur-usur hara. Maka, tak heran bahwa ketika air danau surut, lahan surutan subur tersebut biasa digarap oleh penduduk dengan ditanami macam-macam tanaman semusim. Selain itu, lahan surutan juga  ditumbuhi oleh aneka ragam rumput. Misalnya, eurih/alang-alang (Imperata cylindrica (L) Beauv), jukut kawat (Cynodon dactylon (L) Pers), jukut lameta (Leersia hexandra Sw), jukut odot (Pennisetum purpureum cv Mott), jukut mute (Cyperus rotundus L), jukut riut (Mimosa pudica L), jukut gewor, lempuyang, dan kangkung darat (Ipomea aquatica Forsk).  Aneka ragam rumput tersebut biasa dimanfaatkan penduduk desa sebagai sumber pakan ternak domba. Tidak hanya itu, penduduk desa juga banyak yang memanfaatkan keong atau tutut yang banyak ditemukan di pinggiran danau tersebut. Walaupun lahan dorodon atau surutan secara formal milik Proyek PLN Jatigede, tetapi warga lokal diizinkan untuk menggarap lahan tersebut, asalkan tidak mengganggu lingkungan Waduk Jatigede.

Baca Juga: Ketika Kolam Pekarangan Urang Sunda Kian Menyusut
Perubahan Iklim dan Erosi Varietas Padi Lokal
Hilangnya Burung Jalak Suren di Ekosistem Perdesaan

Bertani di Lahan Surutan  

Pada umumnya lahan-lahan surutan dimanfaatkan oleh penduduk lokal dengan menanam jenis-jenis tanaman semusim seperti padi dan palawija, di antaranya jagung, singkong, dan lainnya. Pola tanam di lahan surutan sangat dipengaruhi oleh kondisi curah hujan dan peristiwa pasang surut danau. Para petani lahan surutan biasanya menanam berbagai jenis tanaman pada bulan Juli, dan panen pada bulan September. Pada bulan Juli, bertepatan dengan datangnya musim kemarau, air Waduk Jatigede biasanya surut dan terbentuk lumpur-lumpur kering di pinggiran danau. Warga menganggap pada saat itu cocok untuk bertanam jenis-jenis tanaman semusim. Namun, waktu panennya harus dipertimbangkan dengan sangat cermat. Sebabnya, pada bulan September saat biasanya musim hujan dimulai, air Waduk Jatigede akan naik. Oleh karena itu, jika petani gagal menentukan waktu yang tepat untuk periode tanam dan periode panen, dapat menyebabkan gagal panen. Padahal, pada umumnya para petani itu belum berpengalaman dalam bercocok tanam di lahan surutan. Mengingat sebelumnya para petani tersebut utamanya memiliki pengetahuan lokal atau pengetahuan ekologi tradisional sangat mendalam dalam mengelola lahan sawah, kebun atau kebun campuran (talun), bukan menggarap lahan surutan.

Pengetahuan lokal penduduk dalam betani sawah (nyawah) dan berkebun (ngebon) biasanya diperoleh dari hasil pewarisan budaya dengan ditransmisikan secara lisan dengan menggunakan bahasa ibu, bahasa Sunda; serta hasil dari proses interaksi berkelanjutan antara petani dan lingkungan setempat sepanjang masa. Oleh karena itu, para petani untuk bertani di lahan surutan, harus belajar lagi dari awal untuk mendapatkan pengetahuan lokal mereka dalam mengelola lahan surutan, yang sangat berbeda dengan pengetahuan lokal yang mereka miliki sebelumnya dalam menggarap lahan non-surutan.

Berdasarkan informasi dari para informan, dalam pengelolaan lahan surutan ada 4 tahapan utama yaitu pembersihan lahan, penanaman, pemeliharaan, serta pemanenan dan pemanfaatan hasil tanaman.

Pembersihan lahan di lahan surutan utamanya memotong berbagai tumbuhan liar, terutama rumput putri malu/tumbuhan cucuk (Mimosa pigra L). Tumbuhan cucuk pada umumnya tumbuh ketika air danau surut, pada musim kemarau dan terbentuk lahan lapangan lumpur yang mengering. Beberapa perkakas yang digunakan untuk pembersihan lahan surutan, antara lain, sarung tangan,  golok, dan cangkul. Sarung tangan penting digunakan untuk melindungi tangan dari tusukan duri-duri tumbuhan cucuk.

Umumnya para petani menggarap lahan surutan dua kali dalam setiap tahun. Penanaman pertama, ketika lahan surutan baru saja surut, sebelum musim hujan tiba. Penanam kedua kali, ketika musim kemarau, lahan surutan sedang kering. Namun, untuk penanaman kedua kalinya, karena kondisi lahan kering, para petani biasanya harus mengeluarkan banyak modal. Pasalnya, pada saat itu lahan kering, sehingga untuk menghindari tanaman kekurangan air, perlu pompa air untuk menyirami air. Biasanya para petani untuk menirami air tersebut biasa menyewa pompa air  pada petani lainnya yang memiliki pompa air.  

Jenis tanaman yang utamanya ditanam di lahan serutan antara lain, jagung hibrida (Zea mays L). Para petani memperoleh benih jagung hibrida utamanya dari bantuan pemerintah yang diberikan kepada kelompok tani. Distribusi benih jagung hibrida kepada para petani biasanya disesuaikan dengan luas lahan masing-masing petani. Misalnya, petani yang memiliki luas lahan pertanian sekitar 100 bata (0,14 ha), bisa diberi 5 kg benih jagung hibrida.

Para petani banyak tertarik memilih tanam jagung hibrida di lahan surutan. Pasalnya, benih jagung hibrida disediakan oleh pemerintah. Selain itu,  modal untuk mengolah lahan untuk tanam jagung  tidak terlalu banyak. Sementara hasil panen jagung hibdida  dapat dengan mudah dijual ke usaha peternakan sapi, sebagai pembeli utamanya. Selain jagung, beberapa jenis tanaman lainnya juga biasa ditanam di lahan surutan, seperti padi (Oryza sativa L), kangkung darat (Ipomoea aquatica Forssk), bayam (Amaranthus hybridus L), dan mentimun (Cucumis sativus L).  Musim tanaman padi utamanya dilakukan pada  bulan Juli, serta musim panennya  pada bulan September, sebelum banyak turun hujan dan lahan surutan digenangi air.

Pemeliharaan tanaman di lahan surutan meliputi pemupukan, penyiangan gulma, pengendalian hama, dan pemberian air. Pemupukan tanaman biasanya dilakukan dengan pemberian pupuk anorganik ataupun pupuk organik, seperti pupuk kandang. Pemeliharaan lainnya dengan menyiangi tumbuhan pengganggu atau gulma berupa rumput-rumput liar. Tujuannya agar gulma tidak mengganggu berbagai tanaman. Penyiangan rumput biasanya menggunakan cangkul kecil (koréd). Berbagai gulma selain merugikan tanaman karena menyaingi penyerapan unsur hara dalam tanah. Tetapi, rumput-rumput tersebut juga dapat memberikan manfaat, sebagai pakan ternak domba. Berbagai tumbuhan gulma, seperti eurih, jukut kawat, jukut lameta, jukut odot, jukut mute, jukut riut, jukut gewor, lempuyang, kangkung darat, dan juga sisa-sisa tumbuhan, seperti daun jagung, daun singkong, daun hui boled, dan daun pisang dapat digunakan sebagai sumber pakan ternak. Bagi penduduk yang memiliki ternak domba, setiap harinya dapat mengumpulkan sekitar 2 karung rumput pakan dari lahan surutan.

Berbagai hama tanaman di lahan surutan, utamanya berupa ulat. Hama tersebut umumnya merusak daun tanaman jagung. Beberapa upaya pemberantasan hama, dilakukan para petani. Misalnya, dilakukan secara manual. Ulat-ulat tersebut dipungut dari tanaman dan dikumpulkan, lalu dibunuh atau diberikan pada ayam kampung.

Di antara berbagai kegiatan pemeliharaan tanaman di lahan surutan, yang paling berat adalah usaha penyediaan air untuk menyirami tanaman di musim kering. Jika tanaman tidak diberi air, maka tanaman tersebut tidak akan tumbuh dengan baik dan bahkan mati. Untuk tanaman bayam misalnya, perlu diberi air setiap hari secara teratur. Air diambil dari danau atau sungai dengan menggunakan ember dan gayung. Demikian pula, mentimun dan padi harus diberi air setiap hari. Sementara jagung hibrida biasanya diberi air secara teratur 1-2 kali dalam seminggu.

Berdasarkan pengalaman para petani dalam menggarap lahan surutan, tidak selamanya mereka berhasil panen. Misalnya, pada kasus tanaman padi. Padi umumnya ditanam penduduk pada bulan Juli. Hasilnya  kadang-kadang gagal dipanen akibat dilanda kekeringan. Mengingat, lahan surutan cepat kering ketika musim kemarau. Beberapa penduduk ada pula yang berhasil taman padi. Hal tersebut di antaranya karena mereka menanam padi di lahan surutan yang lokasinya di lembah yang banyak terdapat air dari Sungai Cimanuk. Imbasnya, kawasan lembah tersebut membentuk suatu kolam kecil. Oleh karena itu, pada lembah seperti itu,  ketika tanaman padi ditanam di bulan Juli. Walaupun musim kemarau, tetapi lahan surutan tetap basah, dan tanaman padi tidak kekurangan air. Maka, pada akhirnya, padi dapat dipanen dengan tanpa gangguan kekeringan.

Lahan pekarangan pinggiran  lahan surutan (kiri). Lahan surutan masa kemarau hanya dijadikan tempat menyabit rumput untuk pakan domba (kanan).
Lahan pekarangan pinggiran lahan surutan (kiri). Lahan surutan masa kemarau hanya dijadikan tempat menyabit rumput untuk pakan domba (kanan).

Rentan Risiko Bencana

Pola tanam di lahan surutan sangat dipengaruhi oleh kondisi curah hujan dan peristiwa pasang surut danau. Para petani yang menggarap lahan surutan, seperti di Dusun Maleber, Desa Wado, umumnya menanam berbagai jenis tanaman pada bulan Juli dan panen pada bulan September. Mengingat bulan Juli bertepatan dengan musim kemarau, air Danau Jatigede surut, serta terbentuk daerah cekungan berupa kolam di lahan surutan. Pengaruhnya, lahan surutan tersebut cocok ditanami padi pada bulan Juli di musim kemarau. Namun, waktu panen berbagai jenis tanaman di lahan surutan harus benar-benar dipertimbangkan dengan sangat cermat. Hal tersebut karena pada bulan September biasanya awal musim hujan tiba, maka air bendungan Jatigede akan naik. Oleh karena itu, jika petani gagal menentukan waktu yang tepat untuk periode tanam dan periode panen, hal tersebut dapat menyebabkan para petani bakal gagal panen. Ditambah lagi, secara umum para petani belum berpengalaman dalam bercocok tanam di lahan surutan.

Pada dasarnya, para petani tersebut secara umum belum memiliki pengetahuan lokal (Local Knowledge/LK) atau pengetahuan ekologi tradisional (Traditional Ecological Knowledge/TEK) dalam mengelola lahan surutan. Walupun sesungguhnya mereka memiliki beragam Pengetahuan Ekologi Tradisional (TEK) yang sangat kaya, tetapi dalam pengelolaan di lahan non-surutan, seperti lahan sawah atau kebun. Pada umumnya mereka sebelum adanya Danau Jatigede, biasanya menanam padi di sawah dan menanam tanaman non-padi di kebun. Berbeda dengan pengetahuan ilmiah Barat (saintifik), pengetahuan lokal para petani tersebut utamanya diperoleh dari hasil pewarisan dengan ditransmisikan secara lisan menggunakan bahasa ibu (Iskandar, 2018). Serta hasil belajar sendiri secara mandiri, dengan interaksi lingkungan dengan lingkungan lokalnya.

Pada umumnya usaha tani di lahan surutan sangat dipengaruhi oleh kondisi air di pinggiran danau. Penanaman tanaman padi atau palawija biasanya dilakukan saat air danau atau waduk surut. Sementara panen tanaman-tanaman tersebut dilakukan sebelum pasang air danau. Oleh karena itu, para petani harus memiliki pengetahuan yang  mendalam kapan masa surut dan kapan waktu pasang atau banjir air danau. Pengaruh dari tidak atau kurang tepatnya petani menentukan waktu tanam dan panen, dapat menyebabkan kegagalan panen tanaman. Misalnya, petani terlalu awal menaman tanaman padi atau palawija, pada musim kemarau, padahal hujan masih kerap terjadi. Konsekuensinya, tanaman baru ditanam dapat kebanjiran dan gagal dipanen. Sebaliknya, terlalu lambat petani menanam tanaman padi atau palawija, maka, sebelum tanaman besar, tetapi tanah sudah kering. Akibatnya, tanaman-tanaman kekeringan dan gagal dipanen.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, kian sering terjadi bencana hidrometeorologi imbas dari pemanasan global. Pada musim kemarau tahun 2016, terjadi bencana kekeringan pengaruh dari El Nino. Dampaknya, kerap terjadi bencana banjir dan kekeringan, sehingga sangat merugikan bagi petani surutan. Tidak hanya itu, kelangkaan benih, pupuk, obat-obatan (pestisida) di pasar, juga sangat merugikan para petani surutan. Oleh karena itu, seyogianya para petani surutan dapat mempraktikkan usaha tani dengan meminimalkan berbagai input dari luar atau menerapkan sistem LEISA (Low-External Input Sustainable Agriculture). Caranya, para petani seyogianya dapat memaksimalkan berbagai asupan (inputs) dari internal/desa sendiri. Misalnya, perlunya lebih digiatkan lagi penggunaan pupuk organik lokal, seperti kotoran ternak, ikan mati, sampah dapur, dll. Para petani seyogianya menggunakan pestisida botani yang merupakan hasil warisan tradisi yang telah teruji keampuhannya dan tidak mencemari lingkungan daripada  menggunakan pestisida sintesis.

Para petani di lahan surutan Waduk au Jatigede perlu memaksimalkan sumber daya lokal seperti  usaha ternak ayam, bebek, domba, dan menggalakkan budidaya sistem pekarangan. Dampak positifnya, berbagai usaha tersebut selain memberi keuntungan sosial ekonomi, juga dapat memanfaatkan daur materi dan energi secara efisien yang pro-lingkungan. Misalnya,  dengan membudidayakan ternak domba dapat memanfaatkan pakan, berupa  rumput-rumput dan sisa-sisa tanaman di surutan. Sementara dengan memelihara bebek atau entog dapat memanfaatkan keong/tutut dari danau sebagai pakan utamanya. Hasil usaha ternak tersebut, kotorannya ditambah sampah-sampah organik lainnya dapat digunakan sebagai pupuk untuk budidaya tanaman di lahan surutan di pekarangan. Selain itu, dari kotoran ternak juga dapat dijadikan media untuk memelihara cacing. Sementara produksi cacingnya dan keong atau tutut dari danau, dapat dijadikan pakan ayam, bebek ataupun ikan di jaring terapung. Maka, dengan meminimalkan berbagai asupan dari luar, dan mengurangi pencemaran lingkungan, dapat menjamin sistem usah tani lahan surutan yang berkelanjutan. Selain itu, usaha tani pro-lingkungan tersebut dapat  mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable goals-SDGs). Misalnya,  dapat membantu menghilangkan kemiskinan (SDGs no1), dan menghilangkan kelaparan (SDGs no.2) di ekosistem perdesaan. Semoga….     

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//