• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Menghidupkan Lagi Nilai dan Etika di Ruang Digital

MAHASISWA BERSUARA: Menghidupkan Lagi Nilai dan Etika di Ruang Digital

Layar gawai seolah-olah menjadi benteng yang memisahkan kita dari etika-etika bertatap muka.

Khulashoturrojibah

Mahasiswa Tadris Biologi Universitas Islam Negri Siber Syekh Nurjati Cirebon

Ilustrasi. Media sosial menjadi ranah bagi tumbuh subur buzzer alias pendengung, hoaks, dan informasi lainnya. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

23 Maret 2026


BandungBergerak – Seperti yang kita ketahui bahwa banyak turis yang ingin tinggal ataupun sekedar staycation di Indonesia ini. Selama ini, dunia mengenal Indonesia bukan hanya sekedar tentang keindahan alamnya saja, melainkan melalui identitas yang telah mendarah daging di antaranya yaitu keramahtamahan masyarakat Indonesia yang ikonik. Senyuman dan sapaan yang senantiasa tak henti-hentinya mereka pancarkan mereka selalu menggunakan kata “monggo”, “punten” disertai gerakan yang sedikit menunduk dan senyuman yang terpancar telah lama menjadi pelekat sosial yang menjaga harmoni di tengah keberagaman. Namun, seiring bermigrasinya interaksi kita yang semula era informasi (The Information Age) hingga sekarang yang era serba digital, perlahan lahan terjadinya pergeseran yang cukup signifikan dan mengkhawatirkan. Layar gawai seolah-olah menjadi benteng yang memisahkan kita dari etika-etika bertatap muka.

Transformasi ini mencapai titik puncaknya pada tahun 2020 seperti yang kita ketahui bahwa pada era itu kita dilanda pandemi global yang memaksa kita untuk menutup pintu rumah sehingga kita malah membuka gerbang digital selebar-lebarnya. Dalam sekejap, ruang-ruang fisik yang dulunya tempat kita belajar tata krama, seperti meja sekolah, koridor sekolah, meja diskusi  hingga pertemuan antara keluarga secara paksa berpindah ke gawai. Pada saat itu merupakan babak baru Indonesia di mana pertemuan tatap muka dihilangkan, dan digantikan oleh internet dan pertemuan tatap muka digantikan melalui koneksi internet dan kehadiran fisik digantikan oleh ketikan di kolom komentar. Sayangnya, perpindahan yang signifikan itu membuat kita abai bahwa etika itu tidak ikut bermigrasi dengan benar. Kita dipaksa masuk ke ruang kelas digital yang luas tanpa adanya bekal tata krama digital yang memadai, sehingga layar yang seharusnya menjadi jendela informasi justru berubah menjadi cermin dari ketidaksabaran dan ego yang kolektif bahkan tidak terkendali.

Budaya santun Indonesia di ruang digital kini menghadapi tantangan berupa disinhibisi daring, di mana anonimitas menyebabkan hilangnya kontrol diri (Pratama & Sari, 2024). Hal ini menuntut adanya revitalisasi kearifan lokal seperti tepo seliro sebagai bentuk filter etis dalam berkomunikasi (Wibowo, 2025). Namun, menanamkan kembali tata krama tidak hanya melalui kata-kata atau aturan formal terbaru. Nilai-nilai ini harus hidup mendarah daging dalam setiap percakapan kita baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Kita perlu dan harus menyadari bahwa setiap akun media sosial yang kita temui, ada sosok manusia yang layak kita hormati, sehingga etika digital bukan hanya sekedar beban, tetapi bentuk sederhana dari cara kita memanusiakan sesama dan menghormati sang pencipta.

Sopan santun bukan aturan yang kaku, tetapi soal perasaan. Kita punya “Tepo Seliro” dan “Tenggang Rasa”, yaitu sebuah cara pandang yang dimana kita belajar menempa diri sebelum berkomentar bahasa lainnya yaitu berfikir sebelum bertindak. Tantangan kita yaitu apakah kita kuat membawa semangat untuk menjaga etika kita? Selain menjaga etika di dunia maya, ada kata tabayyun. tabayyun merupakan sebuah pengingat klasik yang bahkan sampai sekarang masih sangat relevan, jangan asal menerima informasi secara mentah-mentah. Kita harus mencari kebenaran, itu merupakan bentuk hormat kita ke orang lain. Kalau ini kita bawa ke ruang digital, kolaborasi antar-teman atau rekan organisasi tidak akan lagi berakhir di debat yang memuakkan, melainkan jadi ajang buat saling berbagi hal positif (Wibowo, 2025).

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Suara Rakyat di Era Digital, Peran Media Sosial Membentuk Populisme Modern
MAHASISWA BERSUARA: Rezim Prabowo Mengontrol Ruang Digital dan Mencederai Demokrasi Indonesia
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Solidaritas Digital Mengalahkan Birokrasi Negara

Efek Disinhibisi Online

Kendala kita di dunia digital yang sering bikin kita lupa akan diri sendiri. Adanya Efek Disinhibisi Online, kita merasa aman bicara di belakang layar, banyak yang berani ngomong ngegas bahkan ngegad dan sedikit nyelekit, yang pastinya jika kita ketemu langsung nyalinya tidak seberani itu (Pratama & Sari, 2024). Dan parahnya lagi kita malah terkecoh dalam fanatisme kelompok demi membela opini pribadi, tata krama kita pergi entah ke mana. Akhirnya kejujuran dikalahkan oleh ego yang besar dan hoaks menjadi senjata utama hanya karna kita tidak mau kalah debat dengan netizen yang lain.

Sebenarnya, memperbaiki suasana digital itu tidak perlu pakai cara-cara yang ribet. Cukup mulai dari kebiasaan yang kecil di kolom komentar. Kita harus selalu ingat aturan dan batasan tata krama komunikasi di antara kita. Jangan sampai kita lupa akan sapaan dengan sopan, cara meminta tolong yang baik dan benar. Yang paling penting yaitu kita jangan sampai pelit dan malu untuk bilang “maaf atau terima kasih”. Walaupun itu terlihat sepele, tetapi jika kita melakukan secara konsisten, efeknya bakalan terasa ke orang yang merasakannya. Sebagai anak muda atau Gen-Z, kita jangan sampai menjadi penonton. Kita bisa bergerak membuat aktivisme positif. Bentuk self-regulation yang paling nyata kemampuan kita menghadapi ego kita sendiri. Bukan seberapa kita pintar berpendapat, bukan seberapa kita pintar berdebat, tetapi seberapa bijaknya kita menggunakan teknologi untuk memberi dampak positif ke orang lain.

Kesatuan itu bukan berarti kita menjadi lemah bahkan kaku, justru dengan kesatuan kita menjadi tanda jika kita punya kecerdasan emosional yang tinggi. Jika dulu orang tua kita membangun jembatan silaturahmi lewat sapaan dan senyuman di dunia nyata, maka sekarang giliran kita anak muda yang melanjutkan baik di dunia maya maupun di dunia nyata (ruang virtual). Mari kita jadikan jempol orang Indonesia seramah senyumannya, jangan sampai jati diri kita selaku bangsa Indonesia yang terkenal dengan keramahannya ini hilang karna kita terlalu asyik dengan segala kegilaan di dunia maya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//