• Kolom
  • SUDUT LAIN BANDUNG: Reformasi Jilid II #2: Ketika Aktivis Menjadi Penjaga Stabilitas

SUDUT LAIN BANDUNG: Reformasi Jilid II #2: Ketika Aktivis Menjadi Penjaga Stabilitas

Sebagian besar aktivisme yang dahulu berada di garis depan gerakan kini telah masuk ke dalam struktur kekuasaan.

Abah Omtris

Musisi balada Bandung

Politik kita berubah menjadi sirkus isu yang membuat mudah lupa. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

21 Maret 2026


BandungBergerak“Revolusioner yang paling radikal pun akan menjadi konservatif sehari setelah revolusi.”–Hannah Arendt

Kutipan itu sering terasa pahit, tetapi sejarah berulang kali membuktikan kebenarannya. Dalam setiap momentum perubahan besar, selalu lahir generasi yang berani menggugat tatanan lama. Mereka turun ke jalan, menantang kekuasaan, dan membayangkan dunia yang lebih adil. Namun setelah perubahan terjadi, sebagian dari mereka malah berubah menjadi stabilitas baru.

Lebih dari dua dekade setelah Reformasi Indonesia , ironi semacam itu mulai terasa di berbagai tempat, termasuk di Bandung . Kota yang pernah menjadi salah satu simpul penting gerakan pelajar, ruang kebudayaan kritis, dan percakapan intelektual kini menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana: ke mana perginya energi perubahan yang dulu begitu kuat?

Bandung pernah dikenal sebagai kota dengan tradisi diskusi yang hidup. Kampus-kampusnya menjadi ruang memuat ide. Komunitas seni dan literasi sering kali menjadi tempat bertemunya berbagai gagasan tentang masa depan Indonesia. Dari ruang-ruang kecil itulah lahir banyak percakapan tentang demokrasi, keadilan sosial, dan kebebasan.

Tetapi waktu selalu membawa perubahan. Sebagian besar aktivisme yang dahulu berada di garis depan gerakan kini telah masuk ke dalam struktur kekuasaan. Ada yang menjadi politisi, pejabat, konsultan kebijakan, atau bagian dari berbagai lembaga negara. Itu bukan sesuatu yang salah. Dalam banyak kasus, perubahan memang membutuhkan orang-orang yang mau bekerja dari dalam sistem.

Permasalahan muncul ketika masuknya aktivisme ke dalam sistem tidak lagi dilepaskan oleh keberanian untuk tetap kritis. Alih-alih menjadi agen perubahan, sebagian justru menjadi pemeliharaan stabilitas baru. Bahasa kritik perlahan digantikan oleh bahasa kompromi. Idealisme yang dulu menyala berubah menjadi pragmatisme yang terasa terlalu nyaman.

Ironi ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Banyak revolusi di dunia mengalami nasib yang sama. Generasi yang mendasarkan tatanan lama sering kali berakhir sebagai generasi yang menegakkan tatanan baru.

Dalam konteks Indonesia, Reformasi 1998 memang berhasil membuka ruang demokrasi yang lebih luas. Pers menjadi lebih bebas, pemilu berlangsung lebih terbuka, dan masyarakat sipil memiliki ruang yang lebih besar untuk menyuarakan kritik. Namun prosedur demokrasi tidak selalu berarti demokrasi yang sehat.

Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Bandung, Krisis Ekologis, dan Kembalinya Etika Spiritual atas Tanah
SUDUT LAIN BANDUNG: Jejak Juang Perempuan Kota Bandung
SUDUT LAIN BANDUNG: Reformasi Jilid II #1: Pikiran Kritis dan Konsolidasi Generasi Baru

Krisis Imajinasi Politik

Dalam dua dekade terakhir, politik Indonesia justru semakin sering dipersepsikan publik sebagai arena transaksi kepentingan. Parlemen yang seharusnya menjadi ruang pertarungan gagasan sering kali terlihat lebih mirip ruang kompromi elite. Kebijakan publik sering kali lahir dari negosiasi kekuatan politik dan ekonomi, bukan dari mengemukakan gagasan tentang masa depan masyarakat.

Di titik inilah kita mulai melihat apa yang bisa disebut sebagai krisis imajinasi politik. Krisis ini bukan sekedar soal lemahnya oposisi atau menguatnya oligarki. Krisis ini lebih dalam: mencakup kemampuan masyarakat untuk membayangkan alternatif.

Dalam banyak percakapan publik hari ini, kritik terhadap kekuasaan sering berhenti pada keluhan. Kita tahu ada yang salah, tapi jarang ada keberanian untuk membayangkan jalan keluar yang berbeda.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari imajinasi. Tanpa imajinasi politik, demokrasi hanya akan berjalan sebagai prosedur administratif. Pemilu tetap digelar, partai-partai politik tetap bersaing, namun gagasan tentang masa depan masyarakat tidak benar-benar berkembang.

Bandung, dengan seluruh sejarah intelektual dan kebudayaannya, seharusnya memiliki peran penting untuk memulihkan imajinasi itu. Kota ini memiliki tradisi panjang sebagai ruang pertemuan gagasan. Dari kampus hingga komunitas seni, dari diskusi kecil hingga forum publik, Bandung pernah menjadi tempat di mana berbagai ide tentang perubahan sosial lahir dan diperdebatkan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ruang-ruang itu terasa semakin sunyi.

Polarisasi politik setelah pemilu, terutama sejak pertengahan dekade 2010-an, telah meninggalkan jejak yang cukup dalam. Di banyak komunitas, termasuk di kalangan seniman dan budayawan, menyampaikan gagasan sering kali berubah menjadi sentimen pertarungan.

Argumen tidak lagi dilawan dengan argumentasi, tetapi dengan label. Pikiran kritis yang seharusnya menjadi fosil justru semakin jarang dipertahankan. Dalam situasi seperti ini, tantangan terbesar bukan hanya melawan kekuasaan yang terlalu dominan. Tantangan yang lebih mendasar adalah membangun kembali budaya berpikir kritis di masyarakat.

Tanpa berpikir kritis, demokrasi akan kehilangan jiwa. Oleh karena itu, gagasan tentang Reformasi Jilid II seharusnya tidak dipahami hanya sebagai agenda politik formal. Ia juga harus dipahami sebagai agenda Kebudayaan.

Reformasi sejati tidak hanya terjadi di lembaga-lembaga negara. Ia juga terjadi di ruang-ruang percakapan masyarakat.

Ia terjadi ketika generasi baru mulai berani mempertimbangkan hal-hal yang dianggap wajar. Ia terjadi ketika komunitas-komunitas kecil kembali menjadi tempat bertemunya berbagai gagasan tentang masa depan.

Lahirnya generasi muda memiliki peran yang sangat penting. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan sosial sering kali lahir dari generasi yang belum terlalu terikat dengan struktur kekuasaan. Mahasiswa, seniman muda, penulis, dan berbagai komunitas kreatif sering kali menjadi motor bagi lahirnya percakapan baru.

Bandung memiliki potensi besar untuk itu. Kota ini dipenuhi oleh komunitas literasi, ruang diskusi, kolektif seni, dan berbagai inisiatif warga yang terus berusaha menjaga ruang berpikir kritis. Meskipun sering kali bekerja dengan sumber daya terbatas, mereka tetap menjadi salah satu penyangga penting bagi kehidupan intelektual kota.

Jika ruang-ruang ini mampu terhubung satu sama lain, bukan tidak mungkin Bandung kembali menjadi salah satu pusat Percakapan Kebudayaan yang penting di Indonesia. Namun konsolidasi semacam itu hanya mungkin terjadi jika ia melampaui batas-batas ideologi yang sempit.

Reformasi Jilid II

Gerakan Kebudayaan yang sehat tidak dibangun atas keseragaman pandangan, melainkan atas keberanian untuk berdialog. Perbedaan ideologi tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling meniadakan.

Justru dari pertemuan berbagai pandangan itulah pemikiran kritis tumbuh. Karena pada akhirnya, pertarungan yang paling penting dalam demokrasi bukanlah pertarungan antara kelompok politik, melainkan pertarungan antara pikiran yang hidup dan pikiran yang berhenti bertanya.

Reformasi Jilid II, jika ingin dimaknai secara serius, harus dimulai dari keberanian untuk menghidupkan kembali pikiran yang kritis itu. Ia menuntut keberanian untuk mengakui bahwa sebagian dari generasi yang dulu memperjuangkan perubahan mungkin telah kehilangan daya kritisnya. Tetapi sejarah tidak pernah berhenti pada satu generasi.

Selalu ada generasi baru yang siap mengambil peran. Dan mungkin, seperti yang sering terjadi dalam sejarah, perubahan besar justru lahir dari tempat-tempat yang tidak terlalu diperhitungkan: dari ruang diskusi kecil, dari komunitas literasi, dari percakapan panjang di sudut-sudut kota.

Bandung pernah menjadi bagian penting dari sejarah perubahan Indonesia. Pertanyaannya sekarang sederhana namun mendasar: apakah kota ini masih memiliki keberanian untuk kembali menjadi ruang lahirnya imajinasi politik baru?

Karena tanpa imajinasi, demokrasi hanya akan menjadi rutinitas. Dan tanpa pemikiran kritis, reformasi hanya akan menjadi kenangan sejarah.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//