• Kolom
  • SUDUT LAIN BANDUNG: Jejak Juang Perempuan Kota Bandung

SUDUT LAIN BANDUNG: Jejak Juang Perempuan Kota Bandung

Gerakan perempuan ke depan tidak bisa hanya mengandalkan simbol. Ia harus hadir dalam ruang-ruang konkret. Ia harus menjejak tanah, bukan hanya beredar di layar.

Abah Omtris

Musisi balada Bandung

Perempuan pekerja berorasi di aksi May Day 2025 di Taman Cikapayang, Bandung, Kamis, 2 Mei 2025. (Foto: Abdullah Dienullah/BandungBergerak)

7 Maret 2026


BandungBergerak.id – Bandung tidak pernah benar-benar sunyi dalam sejarahnya. Kota ini menyimpan jejak langkah perempuan-perempuan yang memilih berdiri ketika keadaan tidak memberi ruang bagi mereka. Itu bukan sekedar pelengkap cerita besar tentang bangsa, melainkan bagian dari dorongan yang menggerakkan kesadaran.

Kita mengenal Dewi Sartika yang membuka sekolah bagi anak-anak perempuan ketika pendidikan dianggap bukan kebutuhan mereka. Tetapi Bandung tidak hanya melahirkan satu nama. Ada Siti Atikah Bassach yang terlibat dalam pergerakan perempuan dan kebangsaan, menyulam kesadaran politik di tengah zaman yang belum ramah bagi suara perempuan. Ada Emma Poeradiredja yang bergerak dalam arus perjuangan kemerdekaan, menegaskan bahwa nasionalisme tidak pernah eksklusif menjadi milik laki-laki. Dan ada Inggit Garnasih–yang mungkin tidak selalu berdiri tegak, tetapi menopang perjuangan dengan keteguhan yang senyap namun menentukan.

Mereka tidak hidup untuk menjadi nama jalan atau judul seminar. Mereka hidup dalam risiko. Dalam tekanan. Dalam pilihan-pilihan yang tidak mudah. Dan justru karena itu, mereka bukan ikon. Mereka sudah hadir. Mereka membuktikan bahwa perempuan Bandung tidak pernah sekadar menonton sejarah, melainkan pelaku yang sadar akan haknya dan berani menuntut keadilan.

Di bulan Maret, ketika dunia memperingati Hari Perempuan Internasional, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah bagaimana kita merayakannya, tetapi bagaimana kita melanjutkannya.

Lalu kita sampai pada hari ini.

Dan pertanyaannya tidak lagi romantis.

Apakah perempuan Bandung benar-benar telah berdiri setara di ruang publik? Atau kita hanya memindahkan bentuk ketidakadilannya ke wajah yang lebih modern?

Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Keberlanjutan Pembangunan Bandung yang Tersandera Politik Tanpa Imajinasi
SUDUT LAIN BANDUNG: Memetakan Kebudayaan, Menghidupkan Kota
SUDUT LAIN BANDUNG: Bandung, Krisis Ekologis, dan Kembalinya Etika Spiritual atas Tanah

Warisan Perempuan Bandung

Sebab sejarah yang tidak dilanjutkan hanya akan menjadi nostalgia yang nyaman. Sementara kenyataan hari ini jauh dari nyaman. Kekerasan berbasis gender masih terjadi. Ketimpangan upah masih nyata. Beban domestik masih dibungkus dengan kata “kodrat”. Dan ketika perempuan memilih bersuara–membela ruang hidupnya, menuntut perlindungan hukum, atau mengambil kebijakan–ia sering kali harus dihadapkan pada tekanan yang tidak ringan.

Di titik inilah sejarah seharusnya tidak lagi menjadi pajangan, tetapi menjadi pengingat yang mengejutkan. Jika para pendahulu berani berdiri dalam situasi yang jauh lebih represif, mengapa hari ini kita justru cenderung berkompromi dengan ketidakadilan yang dibungkus prosedur?

Bandung sering menyebut dirinya kota kreatif, kota progresif, kota yang terbuka. Tetapi ukuran kemajuan suatu kota tidak pernah terletak pada festival atau infrastruktur semata. Ia terletak pada bagaimana kota itu melindungi yang paling rentan. Bagaimana ia menanggapi suara perempuan yang menuntut haknya. Bagaimana ia menyikapi kritik—dengan dialog atau dengan pembungkaman.

Gerakan perempuan ke depan tidak bisa hanya mengandalkan simbol. Ia harus hadir dalam ruang-ruang konkret: di tempat kerja yang tidak adil, di kampus yang belum aman, di kampung-kampung yang terancam, di ruang-ruang kebijakan yang sering kali terlalu maskulin dalam cara berpikirnya. Ia harus menjejak tanah, bukan hanya beredar di layar.

Dan mungkin, yang paling penting, gerakan itu harus kembali ke kesadaran pada yang paling mendasar: bahwa hak tidak pernah diberikan sebagai hadiah. Ia diperjuangkan. Keadilan tidak pernah jatuh dari langit. Ia dibangun melalui keberanian kolektif. Dan aksi tidak selalu berarti turun ke jalan; ia bisa berarti menolak diam ketika yang lain memilih menunduk.

Warisan para perempuan Bandung bukanlah kemegahan nama. Ia adalah sikap. Ia adalah keberanian untuk tidak tunduk pada ketimpangan yang dianggap biasa.

Jika kita benar-benar ingin menghormati mereka, kita tidak cukup hanya mengenangnya. Kita harus melanjutkan.

Dan melanjutkan berarti memilih.

Memilih untuk tidak membiarkan ketidakadilan menjadi hal yang normal.
Memilih untuk berdiri bersama yang dilemahkan.
Memilih untuk mengubah kegelisahan menjadi gerakan.

Di situlah tiga kata ini menemukan maknanya kembali.

Hak.
Keadilan.
Aksi.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//