• Kolom
  • DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #5: Penulis Perempuan Pertama Pustaka Jaya

DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #5: Penulis Perempuan Pertama Pustaka Jaya

Surtaningsih W.T. penulis perempuan pertama yang karyanya diterbitkan penerbit Pustaka Jaya. Ia dikenal sebagai penulis cerita anak di zamannya.

Hafidz Azhar

Penulis esai, sejak September 2023 pengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas), Bandung

Dua buku cerita anak karya Surtaningsih WT. (Foto: Hafidz Azhar)

22 Maret 2026


BandungBergerak – Keterangan mengenai Surtaningsih W.T. tampaknya sedikit sekali. Jangankan penelitian serius, tulisan populer yang memuat nama Surtaningsih pun sukar untuk ditemukan. Surtaningsih sendiri menulis cerita anak berjudul Si Mulus (1971). Buku tipis ini diterbitkan kemudian setelah karya pertamanya pada Pustaka Jaya ditulis bersama Soekanto SA dengan judul Persahabatan (1971). Selain itu, karya berdua ini sekaligus menandakan Surtaningsih sebagai perempuan pertama yang karyanya diterbitkan oleh penerbit Pustaka Jaya. Bagaimana kita tahu kalau Surtaningsih penulis perempuan pertama? 

Sederhana saja. Kita bisa melacak judul buku dari iklan salah satu buku Pustaka Jaya. Di balik kover belakang, biasanya, tertera mana buku yang akan diterbitkan dengan mencantumkan kode seri secara berurutan. Sayangnya, itu hanya berlaku pada buku-buku terbitan pertama. Paling tidak, kita bisa mengetahui dari buku yang terbit tahun 1971. Pada kisah Mentjari Harta Karun (1971), misalnya, tersaji sejumlah judul beserta nomor urut yang telah dan akan terbit. Dimulai dari Orang-orang jang Tertjinta, karya Soekanto SA dengan nomor seri PJ 002. Lalu, Suka dan Duka karya Soekanto SA dengan nomor 003; Sahabat dan Kembang karya Soekanto SA dengan seri PJ 004; Persahabatan karya Soekanto SA bersama Surtaningsih bernomor PJ 005; Tjoli Ikut Bergerilya karya Soekanto SA dengan nomor PJ 006; dan Si Mulus karya Surtaningsih W.T. dengan nomor PJ 007.

Dari iklan itu, saya bisa memastikan, tidak ada lagi penulis perempuan yang karyanya diterbitkan sebelum Surtaningsih W.T.. Malah, buku-buku terbitan pertama didominasi oleh penulis laki-laki seperti Soekanto SA, sekurang-kurangnya sampai terbitan ke sembilan. 

Baca Juga: DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #2: Buku Terbitan Pertama
DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #3: Jejak Awal Sastra Anak Modern Indonesia
DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #4: Buku Saduran Pertama

Sekilas tentang Surtaningsih 

Dari Maria Hartiningsih, saya mendapat keterangan bahwa Surtaningsih W.T. merupakan istri dari Soekanto SA. Nama belakangnya kepanjangan dari Wiryo Taruno. Melalui tulisan pengantar untuk Orang-orang Tercinta (2006) cetakan Kompas, Maria Hartiningsih menyebut Surtaningsih wafat pada 3 Mei 2005 dengan usia 67 tahun. Selain itu, Surtaningsih telah melahirkan sembilan anak, tetapi dua anak perempuannya wafat saat usianya masih kecil. 

Bagi Soekanto SA, Surtaningsih bukan hanya sekadar ibu dari anak-anaknya. Selain dianugerahi 25 cucu, dari Surtaningsih, Soekanto menemukan kekuatan untuk menulis banyak cerita anak (Hartiningsih, 2006), dan berhasil menulis buku anak bersama-sama. Mungkin, itulah alasan mengapa Persahabatan ditulis bersama. Keduanya, sama-sama menaruh perhatian pada dunia anak, dan sama-sama mencurahkan tulisannya untuk anak-anak. 

Surtaningsih memang dikenal sebagai penulis cerita anak pada zamannya. Selain menulis pada penerbit Pustaka Jaya, ia juga menulis pada penerbit lain. Karya lain yang ditulisnya berjudul Mencari Guru yang Hilang. Buku ini diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia pada tahun 1982. 

Dua karya Surtaningsih yang pertama saya baca, telah menarik perhatian saya. Dua buku itu berjudul Si Mulus dan Empat Kuntum Melati. Meski hanya sepintas, salah satu dari kedua karya ini seakan kentara dengan alter ego si penulis. 

Si Mulus bercerita tentang oplet tua milik Pak Sumo. Dari oplet itu Pak Sumo selalu mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan makan anak dan istrinya. Meski oplet tersebut dibuat tahun 1919, namun Pak Sumo mengurusnya dengan penuh perhatian laiknya mobil yang baru dibeli. Tidak heran jika oplet Pak Sumo masih terlihat bagus, sehingga inilah yang membuat oplet tua itu dijuluki Si Mulus. 

Dari Si Mulus, pembaca disodorkan sikap kesabaran pada diri Pak Sumo. Tidak hanya itu. Pak Sumo juga menampilkan sikap kesederhanaan dan ketaatan terhadap aturan yang membuahkan keberuntungan. Di akhir cerita, mobil Pak Sumo mendapat penghargaan dari polisi, setelah Pak Sumo dengan mobil tuanya itu mengikuti perlombaan rambu-rambu lalu lintas. Sebelumnya banyak orang tidak percaya dengan mobil tua itu, mengingat usianya yang terbilang sepuh untuk ukuran kendaraan bermesin.

 Pada Empat Kuntum Melati, Surtaningsih menulis catatan istimewa yang dipersembahkan untuk anak perempuannya. Catatan itu ditujukan kepada Santi Widayati Ekaningsih, Sitaresmi Sulistyawati, Dumilah Ayuningtyas, Hasti Purwantiningsih dan Dian Utami. Dalam catatannya Surtaningsih berpesan agar kelima anaknya memiliki cita-cita yang bisa bermanfaat dalam nilai-nilai kebangsaan. Hal ini sekaligus menekankan bahwa Empat Kuntum Melati berjalin kuat dengan kehendak Surtaningsih, dalam artian, menonjolkan alter ego si penulis. 

"Untuk itulah kujalinkan cerita ini, dan jika dengan membaca cerita ini terbangkitlah gairah hidupmu, cita-citamu, memang itulah tujuan ibu," tulis Surtaningsih. 

Empat Kuntum Melati merupakan representasi dari empat anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Mereka adalah Kani, Rastini, Syati dan Surti. Latar tempat dimulai di sekolah SMP Negeri di Kabupaten P. Konon, di wilayah ini belum ada satu pun sekolah menengah atas yang dibangun. Masing-masing dari empat tokoh ini mula-mula saling berbagi kisah dan saling mengungkapkan berbagai angan-angan yang ingin dicapainya. 

Tendensi ikhtiar dan harapan sengaja ditunjukkan dalam cerita ini. Dari sebelas bab, beberapa bab di antaranya menunjukkan nuansa kerja keras bahkan bernada kesedihan. Sebut saja Cita-cita, Hari yang Berat, Sumpah Kuntum, Ujian Mendekat, Satu Kuntum Gugur dan Berjalan Terus. Pada bab pertama, persinggungan antara perempuan terhadap laki-laki mulai ditonjolkan. Persinggungan ini, bukan digambarkan dalam bentuk fisik, melainkan berupa aspek keterampilan yang lazim menganggap laki-laki lebih baik dari perempuan. 

Sisi kehidupan Surtaningsih memang tidak banyak terungkap. Kendati begitu, ada sisi lain yang bisa digali dari sudut pandang karya yang ditulisnya. Dari segi isi, karya Surtaningsih kerap menyuguhkan jaringan dunia dewasa dengan dunia anak. Hubungan ini, memang tidak terlihat secara jelas, tetapi gambaran dunia dewasa pada karya Surtaningsih bisa dipahami oleh anak-anak. Pada kisah Si Mulus, misalnya, anak-anak bisa mendapat pelajaran berharga dari oplet tua kepunyaan Pak Sumo, meskipun hanya kendaraan yang sudah usang. 

Di samping isi, aspek lainnya, terletak pada proses kreatif yang mendapat perhatian dari lembaga pegiat buku. Hal ini tampak pada Empat Kuntum Melati. Sebelum diterbitkan naskah buku ini diupayakan oleh Panitia Tahun Buku Internasional 1972 Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dan memperoleh sponsor dari tiga lembaga profit maupun non-profit. Ketiga lembaga itu, yakni PT Tunggal sebagai perusahaan farmasi, PIA ARDHYA GARINI dan Dewan Pimpinan Daerah PERTIWI. Dengan adanya beberapa sponsor ini, bolehlah dikatakan bahwa karya ini bukanlah cerita anak biasa yang dapat ditulis oleh siapa saja, dan mungkin, hanya Surtaningsih yang mampu menulisnya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//