Kemenangan Tertunda di Dago Elos: Berlebaran Sambil Tetap Melawan
“Kemenangan seutuhnya belum kita dapatkan sebelum warga benar-benar menang di Mahkamah Agung.”
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah22 Maret 2026
BandungBergerak – Di Terminal Dago, Sabtu, 21 Maret 2026 pagi, dalam rangkaian salat Idul Fitri kesembilan di tengah konflik lahan, warga khusyuk mendengarkan ceramah tentang keimanan, kemenangan, dan persatuan. Di belakang mimbar, seperti tahun-tahun sebelumnya, terbentang spanduk ukuran besar bertuliskan “Tanah Untuk Rakyat” dengan bendera “Dago Melawan” di sebelahnya.
“Kita ini bukan apa-apa. Bukan korporasi, bukan kekuatan besar. Tapi kita punya Allah,” kata ustaz Asep Dadan.
Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar. La illaha illallahu wallahu akbar! Di Dago, gema takbir berkumandang seperti huruf alif ratusan orang jemaah segala usia berdiri mengangkat tangan menghadap kiblat dengan sajadah dan koran bekas sebagai tikar pengganjal. Perjuangan mempertahankan hak atas ruang hidup, seperti yang disampaikan warga dalam orasi sebelum ceramah, tidak boleh berhenti.
“Saya yakin, jika ini benar perjuangan atas hak ruang hidup dan kemerdekaan, pertolongan Allah itu dekat. Ikhtiar sudah dijalankan, maka maksimalkan terus,” ujar sang ustaz di ujung tausiahnya.
Ia lalu mengajak jemaah bermunajat, mengangkat tangan mereka, dan dengan khidmat penuh tawadhu berdoa: “Allohumma arinal haqqo haqqon warzuqnat tibaa'ahu, wa arinal bathila bathilan warzuqnaj tinaabahu.Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan bantulah kami untuk menjauhinya."
Warga lalu bersalam-salaman. bergiliran satu sama lain hingga menjadi sebuah lingkaran besar. Sebagian dari mereka mengabadikan momen kebersamaan tersebut dengan berfoto. Yang lain mengobrol, saling bertanya kabar dan menguatkan, sekaligus mengundang ke rumah untuk mencicipi ketupat, opor ayam, serta kue-kue khas lebaran.

Mengharapkan Kepastian
Saya berjumpa dengan Ade Suherman, warga Dago Elos. Kami bersalaman dan saling mengucapkan selamat Idul Fitri, sebelum ia bercerita tentang pengalaman warga merayakan sembilan kali Idul Fitri dalam situasi yang masih saja sama: berjuang, bertahan, dan menunggu kepastian yang tak kunjung datang.
Saat ini proses Peninjauan Kembali (PK) kedua sedang bergulir di Mahkamah Agung. Inilah upaya hukum terakhir yang bisa ditempuh, dan belum ketahuan hasilnya. Inilah yang membuat suasana lebaran, yang identik dengan kemenangan setelah 30 hari puasa, belum mengemuka di Dago Elos, sebagaimana dirasakan Ade.
“Bagi saya, ini masih kemenangan yang tertunda,” katanya. “Kemenangan seutuhnya belum kita dapatkan sebelum warga benar-benar menang di Mahkamah Agung.”
Sepuluh tahun berjuang dalam konflik lahan bukan hanya perihal lamanya waktu, tetapi juga tentang perjuangan hidup yang tidak bisa dijalani sendiri. Ada kelelahan, perbedaan, bahkan luka batin, tapi dari sanalah warga belajar bahwa perlawanan membutuhkan kebersamaan. Ade menyinggung ceramah di salat Id yang tidak hanya menyoroti keimanan tetapi juga kebersamaan.
“Tidak ada perjuangan tanpa persatuan dan kesatuan. Kita harus bersatu, hilangkan semua hal-hal buruk dalam hati, dan berjuang demi anak cucu kita,” ucapnya.
Pengalaman hampir sepuluh tahun ini juga melahirkan solidaritas yang lebih luas. Tidak hanya menerima dukungan dari luar kampung, warga Dago Elos juga turut bersolidaritas terhadap warga di tempat lain yang bernasib serupa, mulai dari Sukahaji sampai Tenjolaya.

Baca Juga: Sengketa Tanah Dago Elos Memasuki Babak Peninjauan Kembali Kedua
Warga Dago Elos ke Jakarta Lagi, Mengawal PK Kedua dan Menagih Peran Negara
Merawat Semangat
Seusai berbincang dengan Pak Ade, saya bertemu beberapa warga yang mengundang mampir barang sejenak ke rumah mereka untuk mencicipi sajian lebaran. Icut, salah satu orang muda yang bersolidaritas untuk Dago Elos, menemani. Ia bukan warga Dago Elos, tapi terlihat begitu akrab dengan setiap lapis warga, mulai dari anak-anak kecil yang mengajak bersalaman tangan hingga orang-orang tua yang menyapanya hangat.
“Nggak ada rasa canggung lagi kalau ke sini, sudah nggak ada jarak,” tuturnya. “Jadi dianggap seperti keluarga sendiri.”
Bagi Icut, Dago Elos sudah menjadi rumah kedua. Lebaran tahun ini adalah kali kedua baginya.
Dari tangan Icut, saya memperoleh zine edisi khusus Idul Fitri yang diterbitkan oleh Forum Dago Melawan: “10 Tahun Bertahan, 10 Kali Lebaran, Dago Elos Akan Tetap Melawan”. Zine ini dibagikan secara cuma-cuma saat salat Id. Tertulis di sana: “Warga Dago Elos merayakan Lebaran bukan sebagai akhir dari perjuangan, tetapi sebagai jeda untuk menguatkan diri.”
Icut kemudian mengajak saya ke rumah Tuti. Di sana, kami disambut hangat dengan sajian berbagai kue-kue khas lebaran.
Tuti, ibu empat orang anak, mewakili para perempuan di Dago Elos yang masih harus hidup dalam bayang-bayang penggusuran. Selama bulan Ramadan, doanya mengarah ke satu hal: Dago Elos menang! Harapan dan semangat terus dirawat, meski rasa cemas sulit dihindari. Suasana kemenangan lebaran tak benar utuh.
“Kalau salaman, sebenarnya kita sedih. Cuma ditahan saja,” demikian Tuti menggambarkan suasana lebaran di kampungnya.
Dalam berbagai aksi turun ke jalan, para perempuan Dago Elos seperti Tuti selalu tampil terdepan. Pengalaman mengubah posisi mereka: kalau ibu-ibu yang di depan, biasanya lebih didengar. Aksi kini bak bagian dari keseharian warga. Di tengah rasa lelah dan letih, selalu ada dorongan untuk tetap bergerak.
“Kalau sudah lama tidak demo, malah ibu-ibu pada nanya: ‘Kapan kita demo lagi?’,” kata Tuti sambil tertawa kecil.
Tuti dan setiap warga meyakini, perjuangan mempertahankan Dago Elos bukan semata-mata persoalan rumah, tapi tentang kehidupan yang sudah terbangun dan memori kolektif menahun.
“Di sini sudah nyaman. Tetangga sudah dekat, anak-anak juga sudah terbiasa. Ini bukan cuma tempat tinggal,” tuturnya.
Bertahan merupakan cinta paling liar, dan selalu ada konsekuensi yang harus ditanggung. Beberapa warga kehilangan pekerjaan karena terlalu sering ikut aksi. Ada yang harus berpindah-pindah kerja. Pengeluaran terus berjalan, sementara pemasukan tidak selalu ada.
Lebaran memang identik dengan tradisi saling memaafkan, tetapi untuk saat ini Tuti tidak ingin menyembunyikan kemarahannya. Dia menyebut nama Muller sebagai bagian dari sumber penderitaan yang dialami warga. Sepuluh tahun konflik ini bukan sekadar perkara hukum, tapi pengalaman panjang yang meninggalkan beban emosional dan kerugian yang tak tergantikan: pekerjaan yang hilang, dapur yang tak lagi selalu ngebul, dan tenaga yang terkuras. Memaafkan bukan sesuatu yang dibayangkan Tuti bisa dilakukan dalam waktu dekat.
“Muller sama Israel itu tidak akan saya maafkan,” ucap Tuti. “Mereka yang bikin kita sengsara, bikin kita capek.”
Setelah hampir setengah hari saya turut merayakan Idul Fitri di Dago Elos, cerita-cerita yang dibagikan warga mengendap dalam, dan yel-yel yang diteriakkan usai salat Id mengiang lantang: “Dago Bersatu, Tak Bisa Dikalahkan!”
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

