• Opini
  • Bersepeda di Bawah Gelap Sukarno-Hatta

Bersepeda di Bawah Gelap Sukarno-Hatta

Jalan Sukarno-Hatta, Bandung super sibuk. Minim penerangan dan menyimpan risiko kecelakaan tinggi bagi pengendara dan pejalan kaki.

Yopi Muharam

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, bergiat di LPM Suaka

Bersepeda di Jalan Sukarno Hatta, Bandung, Kamis sore, 26 Maret 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

28 Maret 2026


BandungBergerak - Tulisan ini berangkat dari opini kawan baik saya, Reza Khoerul Iman  yang mencurahkan keresahan dan kegelisahannya saat mudik ke Cianjur, 17 Maret lalu. Dalam tulisannya Reza meluapkan kejengahannya karena separuh jalan di sepanjang Rajamandala hingga ke kediamannya minim penerangan.

Hal itu serupa dengan kersahan saya sebagai orang Bandung Timur yang setiap hari melawati Jalan Sukarno Hatta—by pass. Jika malam sudah jatuh, jalan terbesar di Kota Bandung ini gelap karena minim penerangan.

Sama halnya dengan apa yang Reza rasakan, tiap melewati jalan gelap seperti berjudi antara selamat atau celaka. Ditambah jalan by pass ini memiliki banyak tambalan yang menyebabkan kontur bergelombang. Jika melaju kencang di jalan bergelombang, motor bisa terangkat, kehilangan keseimbangan, lalu oleng dan jatuh. Amit-amit.

Setiap hari saat berangkat kerja, saya harus melewati jalan ini. Rasa cemas selalu muncul, terutama saat pulang larut malam. Jalan memang tampak sepi dan tidak padat.

Namun, justru di situlah bahayanya. Kondisi gelap membuat trotoar, jalan berlubang, dan pejalan kaki sulit terlihat. Risiko kecelakaan pada malam hari pun cukup tinggi.

Sebagus apa pun kemampuan berkendara, saat melintasi Jalan Sukarno-Hatta tetap harus berhati-hati dan selalu waspada.

Baca Juga: Pengguna Sepeda dalam Kontestasi Ruang Perkotaan
Sepeda di Bandung, Anak Tiri Jalan Raya

Bersepeda di Jalan Sukarno Hatta

Kamis sore, 26 Maret 2026, sekitar pukul 16.00, saya mengeluarkan sepeda di pojokan rumah. Saya berniat bertemu seorang kawan di deretan kios yang ada kedai kopinya di daerah Cibeunying, Kota Bandung. Sengaja saya bersepeda di sore hari karena ingin merasakan suasana malam melewati jalan yang minim penerangan ini.

Saya mulai mengayuh sepeda di kawasan Riung Bandung, tak jauh dari Kecamatan Gedebage. Arus lalu lintas cukup lancar. Barangkali faktor mudik dan liburan lebaran sudah usai.

Seperti biasa, jalan untuk menempuh ke area tengah kota, saya harus melewati Jalan Sukarno Hatta. Jalan ini membentang dari bunderan Cibiru hingga Cibereum sejauh 18 kilometeran.

Di perjalanan menuju Cibeunying, tidak ada rasa was-was yang tinggi selain menyebrangkan sepeda ke arah Kawaluyaan untuk memotong jalan. Jika siang saya mampu melihat kendaraan dan memperkirakan lajunya dari kejauhan. Sehingga saya bisa mengambil ancang-ancang untuk menyebrang. Lain halnya jika malam sudah tiba.

Sekitar pukul 21.00 malam, saya berpamitan pulang setelah berbincang dan halal bil halal. Sebelum mengayuh sepeda, saya sudah menyiapkan dua buah lampu depan dan belakang yang ditempelkan pada stang serta batang jok sepeda.

Sedari awal membeli sepeda saya sudah menyiapkan dua buah lampu itu. Karena saya percaya kedua benda itu dapat meminimalkan saya tertabrak dari belakang atau menabrak sesuatu di arah depan ketika melewati jalan gelap.

Tiga puluh menitan saya mengayuh sepedah di Cibeunying. Saya akhirnya tiba di kawasan Sukarno-Hatta. Perasaan saya makin tak karuan ketika laju kendaraan saling mengebut satu sama lainnya.

Di pertigaan jalan keluar Kawaluyaan, suasana gelap sudah terlihat dari kejauhan. Jalan untuk menyeberang ke arah Margahayu—jalan yang sama saat saya menyeberang ke Kawaluyaan, sangat minim penerangan. Artinya untuk menyeberang dengan aman, saya harus mencari penerangan yang mumpuni.

Sebetulnya ada dua pilihan yang bisa saya lewati untuk menyebrang jalan. Pertama, menaikan sepeda ke jembatan penyebrangan orang (JPO) di area Sanggar Hurip dengan konsekuensi tangga curam dan gelap.

Kedua, menyeberang di area putar balik di depan kompleks Aria Graha. Dan saya memilih pilihan kedua karena bisa menyeberang berbarengan dengan pengguna jalan yang bandel lawan arah. Ditambah di sana ada tukang parkir yang mengatur arus lalu lintas.

Bila dibandingkan dengan kawasan perkotaan, yang bahkan tiang lampunya bisa bercorak, saya merasa jalanan Sukarno-Hatta ini seperti dianaktirikan.

Padahal nama jalan diambil dari tokoh proklamator, dua orang yang membacakan teks Proklamasi kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Tetapi perlakuan terhadap jalan ini sungguh mengenaskan.

Ditambah jalanan tersebut menjadi penopang kehidupan masyarakat yang berlalu-lalang dari arah pinggiran menuju pertengahan kota. Terlebih jalur tersebut juga sering dilewati truk-truk pengangkut logistik.

Jalan paling mengenaskan justru berasal dari arah barat (perempatan Samsat Kiaracondong) hingga ke arah timur (Cibiru). Sialnya titik paling gelap tepat berada di gang masuk menuju ke rumah saya (sungai Cipamokolan atau pertigaan Riung Bandung).

Hal yang paling mengerikan justru dihadapi oleh masyarakat yang bekerja di rumah sakit Al-Islam. Tiap kali saya pulang bekerja di malam hari dan melewati jembatan Parakansaat, saya sering menjumpai pegawai Al-Islam menyebrang jalan. Di antara mereka kadang ada yang menyalakan flash lampu di gawai mereka agar terlihat. Namun ada juga yang tak acuh dan langsung menyebrang jalan.

Saya yakin keluhan jalan gelap di Jalan Sukarno-Hatta tak hanya saya sendiri. Di tahun 2009, Doel Sumbang, musisi asal Kota Bandung merilis lagu bertajuk Bandung Kusta. Lagu tersebut berisi tentang kritikan sosial terkhusus untuk Bandung yang banyak sekali perubahan yang mengacu pada hilangnya kenyamanan kota.

Di sana Doel Sumbang menyinggung nama Jalan Sukarno-Hatta yang poek mongkleng sejak dulu dan tak ada perubahan. Berbeda dengan jalan di Asia-Afrika yang terang benderang.

Kendati lagu tersebut dirilis 17 tahun yang lalu, nampaknya masih relevan hingga kini. Artinya perubahan ke arah kebaikan itu tak terasa. Dan lagu Doel Sumbang ditujukkan untuk para pemimpin dari tahun 2009 hingga 2026 kini.

Angka Kecelakaan

Jalan Sukarno-Hatta termasuk jalan nasional di Kota Bandung dengan tingkat kecelakaan cukup tinggi. Sukarno-Hatta memiliki dua jalur dengan masing-masing empat lajur serta dilengkapi jalur cepat dan lambat yang dipisahkan oleh trotoar.

Jalan ini menjadi jalur lintas masuk dari arah Kabupaten Bandung menuju Kota Cimahi. Setiap harinya ratusan ribu kendaraan dari berbagai daerah melintasi jalanan sepanjang waktu.

Dalam jurnal yang ditulis oleh Risma, Kukuh, dan Satria berjudul ‘Karakteristik Kecelakaan Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung dengan Pendekatan 5W + 1H’ mengungkapkan tingginya kecelakan di jalan Sukarno-Hatta.

Jumlah kecelakaan dari tahun 2015-2017 sebanyak 225 kasus. Rinciannya adalah 2015 sebanyak 61 kasus, 2016 96 kasus, dan 2017 68 kasus. Presentase tertinggi yang terlibat dalam kecelakaan ialah kendaraan roda dua sebesar 58 persen, roda empat 15 persen, roda enam 8 persen, dan sepedah 1 persen.

Terkait waktu angka kecelakaan sebanyak 75 kasus terjadi pada pukul 09.00-16.00, diikuti 61 kasus terjadi pada jam 19.00-03.00 pagi sebanyak 61 kasus, dan pukul 03.00-06.00 sebesar 25 kasus. Sementara penyebab kecelakaan ini didominasi karena kurang antisipasi dan konsentrasi sebanyak 75 kasus dan 53 kasus lainnya melibatkan pejalan kaki yang menyebrang.

Adanya angka yang cukup tinggi terkait kecelakan di Jalan Sukarno-Hatta seharusnya menjadi perhatian khusus, baik oleh pemerintah kota ataupun pemerintah pusat. Pemerintah seharusnya memprioritaskan kebutuhan masyarakat dengan menerangi lampu di sepanjang jalan Sukarno-Hatta.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//