• Opini
  • Burger dan Dunia Rasa Kita

Burger dan Dunia Rasa Kita

Budaya modern di berbagai benua saat ini, membuat burger semakin menjadi populer sebagai makanan sejuta umat.

Stephanus Djunatan

Ketua Center for Philosophy, Culture and Religious Studies (CPCReS) Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung

Suasana forum publik FOOD for Fud bertajuk Burger di Abraham & Smith HQ, Bandung, pada 20 Desember 2025. (Foto: Dokumentasi Stephanus Djunatan)

30 Maret 2026


BandungBergerak – Manusia sebagai spesies mamalia memerlukan makanan sebagai kebutuhan dasar. Namun, makanan bukanlah sekedar benda alamiah yang disantap begitu saja. Spesies makhluk hidup lainnya melakukan makan dan memperlakukan makanan sebatas hal alamiah belaka. Lain halnya dengan manusia.

Entah karena anugerah, entah disebut juga “kutukan alamiah”, pikiran manusia menjadikan makan dan makanan bukan sebagai materi alamiah. Manusia membangun dunia dari bumi, atau alam, atau lingkungan hidup. Di dalam dunia itu, manusia membangun makna dan berupaya mengalami makna tersebut dalam perkataan dan tindakannya, dalam pemikiran dan perbuatannya.

Itulah sebabnya, makan dan makanan bukan lagi berwujud material. Keduanya diangkat menjadi bagian dari dunia ideal, dunia yang sengaja dibangun untuk menjadi arah bagi jalan hidup manusia sebagai spesies dan pribadi. Dunia juga yang sengaja dilahirkan/diciptakan agar spesies ini merasa jalan hidupnya itu tidak sia-sia.

Dengan kata lain, makan dan makanan bukan lagi kegiatan alamiah belaka, demi menutup rasa lapar. Makan dan makanan bagi dunia spesies manusia tidak sama lagi nilai pentingnya dibandingkan dunia spesies hewan. Makan dan makanan menjadi dunia yang bermakna. Salah satu dunia yang ingin dibahas dalam hal ini adalah dunia rasa.

Dalam dunia rasa ini, kita mempunyai bahan yang disebut burger, atau hamburger. Dunia rasa ini bersifat kompleks karena dialami bukan saja oleh penikmat, tetapi juga oleh pembuat. Burger merupakan eksplorasi pembuat dan penikmat. Di tangan pembuatnya, burger adalah penciptaan rasa. Di tangan penikmatnya, burger adalah dunia selera.

Rasa merupakan kepekaan dan eksplorasi indrawi kita terhadap realitas. Indra kita memiliki logikanya sendiri (demikian Gilles Deleuze, Filsuf Perancis abad 20) sedemikian rupa sehingga pancaindra kita serentak bekerja menangkap, merespons dan menginteraksikan subjek pengamat dengan hal-hal yang ada di sekitar kita. Hal-hal tersebut sudah berada dalam pikiran atau akan kita simpan dalam memori. Keserentakan inilah yang membuat melalui rasa kita mengalami ruang dan waktu secara serentak atau simultanitas. Dalam hal ini, pengalaman keserentakan atau simultanitas membuat kita “meruang” dan “mewaktu”. Kita tidak lagi mengalami kedua aspek ini sebagai dua hal terpisah dan sebagai materi (kata benda). Kita menjalani keduanya sebagai kata kerja, sebagai proses yang berlangsung sesuai dengan intensitas pengalaman. Ketika kita berproses itu serta-merta juga kita mengalami interaksi dengan "yang lain". Interaksi bersama "bersama yang lain" ini terjadi tanpa acak, baik kita sadari maupun tidak, baik kita rancang, maupun yang menghanyutkan kita. Dalam hal ini interaksi itu mengintensifkan intuisi sedemikian rupa sehingga kita hadir secara aktif sekaligus pasif; kita mengendalikan sekaligus dikendalikan.

Lebih lanjut, Deleuze, dalam Logics of Sense (1990) menyatakan bahwa interaksi ini menempatkan kita pada medan virtual yang mengorelasikan apa dan siapa saja yang hadir di dalamnya. Itulah esensi pengalaman berinteraksi. Dalam ruang virtual itu kita tidak kehilangan jati diri, kita mengalami bahwa eksistensi dalam medan virtual ini "terasa" oleh konstelasi Indrawi kita. Selama 24 jam kita tidak pernah berada tanpa ruang apa pun. Intuisi kita inilah yang senantiasa ‘menyadari’ kehadiran dan kebersamaan dengan yang lain dalam medan virtual ini. Kesadaran intuitif semacam inilah yang menjadi esensi dari "Dunia Rasa".

Baca Juga: Imlek dan Evolusi Identitas Sosial Setempat
Sambal, Rasa dan Memori

Burger dan Dunia Rasa

Burger tadinya menjadi makanan dan makan yang bersifat praktis demi bertahan hidup dalam kondisi yang serba terbatas dan berbahaya. Dalam perkembangannya, makanan para pengembara dan tentara Mongolia, atau Tartar abad ke-11, kemudian masuk ke Jerman, dan sampai ke kota Hamburg. Makanan daging cincang ini kemudian berubah nama menjadi Hamburger Steak. Masih berbentuk olahan daging cincang, makanan ini menyebar ke seluruh dunia sebagai makanan yang mudah dibuat, sederhana dan praktis. Hamburger dapat dimakan kapan saja, tanpa mengandaikan “event” tertentu. Budaya modern di berbagai benua saat ini, membuat burger semakin menjadi populer sebagai makanan “sejuta umat”.

Perkembangan peradaban semacam ini mengandaikan keunikan sentuhan indra, atau “rasa” para pencipta untuk makanan yang sederhana dan praktis ini. Sentuhan rasa para pencipta “burger” menghasilkan kreativitas dan cita-rasa tertentu yang membuat penikmatnya mampu menemukan makna dalam rupa tekstur, ragam rasa, harmoninya “plating”, yang memicu imaji tertentu dan menjalinkan masa lalu dan kini dalam paduan setiap kunyahan dan kecapan.

Pada gilirannya Burger menciptakan dunia rasa yang membawa para penikmatnya masuk dalam keserentakan ruang dan waktu. Keserentakan ruang dan waktu inilah yang membawa penikmat larut dalam keragaman cita rasa, dan keintiman relasi baik dengan diri sendiri maupun dengan “yang lain”. Dengan kata lain, Burger menjadi media yang menghubungkan penikmatnya baik dengan dunianya sendiri, maupun dengan dunia ‘yang lain’. Dunia rasa yang intim inilah yang membuat sajian yang simpel dan praktis ini menjadi dunia rasa yang kompleks dan kaya bagi pencipta menu Burger dan penikmatnya.

Dalam dunia rasa tersebut, intuisi pembuat burger secara aktif dan pasif menciptakan sebuah medan virtual yang memadukan kreativitas rasa melalui mata, hidung, lidah, telinga dan tangan. Melihat, membaui, mengecap, mendengar dan menyentuh serentak menjadi sebuah medan yang membuat indra ini bukan lagi “sebuah anggota tubuh”. Proses kreatif dalam penciptaan burger ini kemudian akan memadukan pengalaman meracik dan memasak dengan memakan. Proses kreatif inilah yang akan mengorelasikan pembuat dengan penikmat, walaupun kedua pihak ini sama sekali tidak saling kenal.

Masih dalam konteks dunia rasa, penikmat burger juga berada dalam medan virtual yang memadukan seluruh indranya untuk menyantap burger. Sekaligus juga medan virtual ini menyatukan dirinya dengan yang lain. Suasana tempat makan, orang lain yang sedang makan, teman/kolega atau pasangan intim yang sedang makan bersamanya, suasana hari yang mengalir dari menit ke menit pada saat ia menyantapnya, ornamen dan dekorasi yang menghias ruang dan waktu makannya. Si penikmat pun tanpa ia sadari penuh, mengalami interaksi dengan sang pembuat.

 

***

*Essai ini pernah disampaikan di forum publik FOOD for Fud bertajuk “Burger”, tertanggal 20 Desember 2025 di Abraham & Smith HQ, Jalan Tamblong Dalam no. 2 Bandung.

**Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//