Sambal, Rasa dan Memori
Sambal menjadi metafor kebutuhan kita untuk membangkitkan pengalaman akan rasa yang kaya pada sajian.

Stephanus Djunatan
Ketua Center for Philosophy, Culture and Religious Studies (CPCReS) Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
26 Maret 2026
BandungBergerak – Sambal adalah bagian dari sebuah sajian. Sajian dihidangkan dengan maksud tertentu. Orang mempunyai tujuan yang melibatkan orang lain: saudara, sahabat, teman, rekan kerja, bahkan orang lain yang baru dikenal. Dalam hal tersebut sambal pun mempunyai maksud tertentu dalam sajian. Walaupun bukan sajian utama, sambal merupakan hal sederhana yang mau-tak-mau mempunyai peran yang mengikat.
Rasa yang ada di indra
Ketika sajian dihidangkan, sambal menjadi unsur yang memperkuat rasa. Tidak hanya rasa makanan yang disajikan, sambal membantu perjumpaan dalam meja sajian dapat menjadi semakin intens. Sambal bisa membuka percakapan, bisa memicu semangat dan menghangatkan suasana. Dalam hal ini, sambal bukanlah sekedar rasa menggigit, atau membakar di lidah, bukanlah sensasi panas di tenggorokan atau di perut, bukan juga keringat yang mengucur, yang menambah semangat bersantap. Sambal mengaktifkan rasa untuk berinteraksi, saling menyapa, dan kemudian berbincang. Sambal adalah bagian yang menumbuhkan rasa untuk keluar dari batas-batas diri yang kerap dibangun sebagai tameng pertahanan. Rasa ini menggamit “rasa” yang lain untuk turut bersama berpadu dalam nuansa santap bersama.
Dengan kata lain, sambal adalah media rasa untuk menguatkan rasa hidangan yang sederhana sekalipun. Ia juga menjadi media yang mengintensifkan interaksi antara orang-orang yang hadir dalam sebuah sajian. Sebagai media rasa, sambal membuat para penikmat sajian, mulai dari yang sederhana sampai mewah, berjejalin satu sama lain, entah disadari, entah secara spontan muncul dari kebutuhan alamiah/hormonal untuk berinteraksi, yang bisa jadi sering ditekan atas nama “pertahanan diri” atau “harga diri”. Dalam hal ini, sambal menghasilkan kompleksitas dan komplikasi rasa. Kompleks dan komplikasi rasa ini tidak saja dialami oleh lidah, sebagai indra pengecap; juga oleh mata, telinga, hidung dan kulit. Singkatnya, pengalaman rasa yang intens bisa muncul dan menjalar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah peristiwa sajian melalui hidangan yang disediakan.
Baca Juga: Tentang Lingkungan dan Setiap Suap Makanan di Sendok Makan
Eksistensi Kuliner Lokal dalam Menghadapi Menjamurnya Makanan Cepat Saji
Film Murdijati Gardjito di Kedai Jante, Membedah Kesaktian Makanan Tradisional dalam Menumbuhkan Karakter Bangsa
Rasa yang ada di hati
Pada saat itu pula, terjadi bahwa sambal bukan hanya bicara tentang rasa fisikal, pengalaman intens menyantap dan berinteraksi melalui tubuh. Sambal mengandaikan berperannya unsur psikis: emosi yang menggerakkan, dan juga pikiran yang merekam. Ekspresi emosi dan rekaman pikiran ini membentuk memori. Inilah unsur psikis yang turut memberi yang menjadi ruang-antara bagi orang-orang yang turut menikmati sajian. Memori membuka ruang antara dalam peristiwa bersantap. Ruang itu membuka kenangan indah sampai trauma; juga mengandaikan penerimaan atau penolakan.
Kenangan itu bisa menolak “kepedasan” sebuah peristiwa, namun serentak kenangan itu menghadirkan peristiwa interaksi di meja sajian itu. Sambal menjadi media, ruang antara, yang membuka peluang bagi hati untuk merajut interaksi baru menjadi sebuah kenangan di kemudian hari. Dengan kata lain, sambal dan kepedasannya menjadi paradoks memori, rasa di hati: sebuah ruang antara yang dapat menyayat sekaligus menghibur. Kehendak menutup ruang tersebut berpadu dengan keinginan untuk tetap membuka peluang baru untuk sebuah interaksi. Pada saat ini, memori dapat memilukan sekaligus mengharukan.
Pada akhirnya, sambal bukanlah sekedar resep yang membuat peristiwa makan dan hidangan menjadi lebih sedap dan nikmat. Sambal menjadi metafor kebutuhan kita untuk membangkitkan pengalaman akan rasa yang kaya pada sajian. Pengalaman rasa yang kaya itu juga muncul dalam interaksi di ruang antara. Pada gilirannya, intensitas rasa indrawi dan rasa interaksi membangun kenangan. Sambal sebagai pengalaman rasa indrawi dan rasa dalam memori mematik ungkapan ‘tiada kesan tanpa kehadiranmu’.
***
*Makalah ini pernah dipresentasikan di kegiatan seminar Food for Fud II, 31 Januari 2026, di Toko Marantika
**Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

