BANDUNG HARI INI: Pandemi Covid-19 Mengguncang Keras di Bulan April
Lonjakan kasus Covid-19 global pada April 2020 mengungkap rapuhnya sistem kesehatan dunia, meninggalkan jejak mendalam pada pengalaman hidup warga Bandung.
Penulis Ryan D.Afriliyana 1 April 2026
BandungBergerak - April 2020 adalah bulan ketika pandemi Covid-19 berubah dari ancaman menjadi kenyataan global. Kasus melonjak cepat, kematian meningkat, dan dunia dihadapkan pada rapuhnya sistem kesehatan. Dampak gelombang besar itu terasa hingga ke Bandung, masuk ke ruang-ruang paling personal kehidupan warganya.
Hidup yang Tertahan
Muhammad Rizki Apriatna, seorang buruh pabrik, masih mengingat bagaimana pandemi membatasi masa remajanya. Saat duduk di bangku sekolah menengah atas, ruang geraknya menyempit. Aktivitas sehari-hari dipantau, interaksi dibatasi, dan kehidupan terasa terisolasi.
Ia terpapar Covid-19 pada 2021, tak lama setelah lulus SMA. Peristiwa itu memaksanya menunda rencana hidup yang telah disusun.
"Saya mengalami Covid-19 setelah berkunjung ke rumah sakit swasta di daerah Kabupaten Bandung untuk mengantar saudara saya mengambil obat," ungkap Rizki kepada BandungBergerak via daring pada Selasa, 17 Maret 2026.
Awalnya tanpa gejala, namun tiga hari kemudian ia mengalami demam serta kehilangan penciuman dan perasa. Ia menjalani isolasi mandiri selama dua minggu. Beberapa anggota keluarga juga mengalami gejala serupa, meski memilih diam dan mengisolasi diri.
Di tengah derasnya kabar kematian akibat Covid-19 saat itu, situasi tersebut memunculkan kecemasan. Namun, Rizki bersyukur keluarganya bisa melewati masa itu.
Pengalaman tersebut meninggalkan bekas. Ia kini lebih peduli terhadap kesehatan, baik fisik maupun mental.
Bertahan Sendirian
Cerita serupa datang dari Rani Khaerany Rizkiyah, perantau asal Cianjur yang harus menghadapi pandemi sendirian di Bandung.
Ia datang ke Bandung pada 2019 untuk kuliah. Namun pandemi memaksanya kembali ke kampung halaman, sebelum akhirnya kembali lagi pada 2021 dalam situasi yang sudah berubah.
"Ketika 2019 (sebelum Covid) ya ramai aja gitu interaksi sana-sini. Enggak harus ada social distancing dan lain-lain. Tapi ketika setelah Covid yang aku lihat di Bandung emang agak sepi," kata Rani kepada BandungBergerak via daring pada Selasa, 17 Maret 2026.
Sebagai perantau, ia menghadapi keterbatasan dukungan keluarga. Saat terpapar Covid-19, ia memilih tidak memberi tahu orang tuanya untuk menghindari kekhawatiran.
Gejala yang dialaminya cukup berat, mulai dari demam hingga kesulitan menelan. Dalam kondisi itu, ia harus bertahan sendiri.
"Demam. Kalau nelan sakit sampai nangis waktu itu, aku belum pernah merasakan sesakit itu," jelas Rani.
Rani juga mengeluhkan keterlambatan bantuan obat dari aplikasi resmi tentang penanganan Covid-19 di Jawa Barat. Obat yang diajukan baru diterima beberapa hari setelah ia terinfeksi.
Kondisi itu memaksanya membeli obat sendiri dan berbagi dengan teman yang juga terpapar. Di tengah keterbatasan, dukungan teman menjadi penopang utama.
Baca Juga: BANDUNG HARI INI: Berdirinya Observatorium Bosscha, Peneropongan Bintang di Bandung Utara yang Menjadi Rujukan Internasional
BANDUNG HARI INI: 138 Tahun Stasiun Bandung
Pelajaran dari Krisis Global
Tanggal 16 Maret 2020 Pemkot mengumumkan kasus pertama Covid -19. Pandemi yang bermula sebagai krisis kesehatan itu berkembang menjadi guncangan global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, awal April 2020 menjadi titik penting. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, kasus Covid-19 secara global mendekati satu juta dengan puluhan ribu kematian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pandemi ini telah mengungkap kelemahan dan ketimpangan dalam sistem kesehatan serta masyarakat di berbagai negara.
WHO juga memperingatkan, lonjakan kasus berisiko membuat sistem kesehatan kewalahan. Dampaknya bukan hanya pada pasien Covid-19, tetapi juga meningkatnya kematian dari penyakit lain akibat terganggunya layanan kesehatan esensial.
Dalam konteks global itulah, pengalaman warga Bandung menjadi bagian dari cerita yang lebih besar.
Apa yang dialami Rizki dan Rani mencerminkan gambaran yang lebih luas. Seperti yang disampaikan WHO, pandemi tidak hanya soal virus, tetapi juga tentang kesiapan sistem, ketimpangan akses, dan kerentanan kelompok tertentu—termasuk mereka yang jauh dari keluarga dan memiliki sumber daya terbatas.
Dampak pandemi terasa hingga ke level paling personal: pendidikan yang tertunda, pekerjaan yang terhambat, hingga pengalaman sakit yang harus dihadapi sendirian.
Rani berharap, jika krisis serupa kembali terjadi, pemerintah dapat lebih cepat dan hadir, terutama bagi kelompok rentan seperti perantau.
"Aku sangat berharap pemerintah tuh bisa lebih gercep dan hadir ketika ya warganya lagi kesulitan. Karena jujur kalau misalkan akan ada krisis lagi, amit-amit, orang-orang rantau seperti aku tuh yang uangnya terbatas terus jauh dari keluarga itu tuh pasti membutuhkan bantuan yang lebih sigap gitu loh," tegasnya.
Enam tahun berselang, pandemi mungkin telah mereda. Namun jejaknya masih terasa—baik dalam ingatan, maupun dalam pelajaran tentang pentingnya sistem yang tangguh dan respons yang cepat di tengah krisis global.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

