MAHASISWA BERSUARA: Melihat Peran Driver Ojol yang menjadi Tulang Punggung Peradaban Jatinangor
Driver ojek online (ojol) memprotes pembatasan akses masuk kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) di Jatinangor, Sumedang. Membuat mahasiswa parno.

Ruth Maria Artauli Purba
Mahasiswa Sastra Jerman Universitas Padjadajaran (Unpad)
5 April 2026
BandungBergerak – Dengan jarak tempuh dari kos ke kampus yang lumayan jauh, ojek online (ojol) adalah penyelamat, karenanya saya bisa tepat waktu ke kampus tanpa perlu berlelah-lelah jalan kaki. Atau, kalau tiba-tiba sakit di kampus, driver ojol akan mengantar saya ke kos dengan kondisi selamat. Bagi mahasiswa, terutama yang tidak punya kendaraan pribadi, ojol bukan hanya profesi antar jemput tapi juga pahlawan yang kehadirannya akan selalu relevan. Jasa mereka akan selalu kami perlukan, dengan adanya mereka, kami tidak perlu mati kelaparan di kos karena tidak cukup sehat untuk pergi belanja ke warung makan. Bisa dikatakan ojol membantu berbagai lini kehidupan mahasiswa, mulai dari pangan, kesehatan, dan pendidikan. Mirisnya yang selalu dilihat dari pahlawan hanya sisi heroiknya saja, selebihnya dengan kelemahannya kita abai.
Baru-baru ini, tepatnya Selasa, 31 Maret, massa ojol demo di Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran (Unpad), di Jatinangor, Sumedang. Mereka memprotes kebijakan pembatasan akses pintu masuk dan rekayasa lalu lintas di lingkungan kampus Unpad. Pengunjung yang tidak memiliki akses seperti ojol, hanya bisa masuk lewat Gerbang C, artinya tidak bisa lewat gerbang utama baik Gerbang A atau B yang mewajibkan pengunjung memiliki akses yang menerapkan sistem gerbang berbasis QR Code. Sementara akses Gerbang D hanya dibuka untuk pejalan kaki. Dengan tertutupnya akses pintu utama, ojol harus memutar jauh untuk mengantarkan mahasiswa ke fakultas masing-masing.
Bisa dibilang, pembatasan akses ini membuat dompet driver ojek online boncos karena boros bensin. Jarak tempuh yang lebih jauh tidak sebanding dengan tarif yang ditetapkan (8.000-10.000 rupiah). Bensin dan driver ojek online adalah dua hal yang tak terpisahkan, ibarat prajurit dan amunisi perang. Prajurit tidak bakal bisa perang tanpa amunisi, begitu pula dengan ojol yang tidak akan bisa menarik mesin tanpa bensin, belum lagi kalau harga BBM naik.
Ojol sendiri bukan profesi prestisius dengan gaji wah, bahkan beberapa di antaranya hidup di bawah garis kemiskinan. Apalagi kalo mereka punya tanggungan hidup, seperti keluarga misalnya.Tentu saja bagi mereka, bensin itu urusan yang krusial.
Kalau dikritisi lebih jauh, memang kita tidak cukup peduli bahkan mengabaikan masalah pekerja, terutama pekerja berkerah biru yang profesinya tidak dianggap cukup mengesankan. Padahal buruh, pekerja kasar, dan driver ojol sendiri adalah pembangun kehidupan masyarakat, mereka adalah tulang punggung fisik peradaban. Namun nasibnya sering diabaikan, karena didominasi oleh orang-orang terpinggir.
Sama seperti yang dialami oleh ojol di Jatinangor, kampus tidak menyadari betapa pentingnya peran ojol bagi mahasiswa Unpad. Sehingga membuat kebijakan yang rasanya tidak dipikirkan terlalu matang. Memang sih awalnya keputusan ini dibuat untuk meminilisir tingkat kriminalitas yakni pencurian sepeda motor dan helm, kebijakan yang awalnya dibuat untuk memihak kepada mahasiswa tapi dalam fakta lapangan tidak.
Terbukti banyak mahasiswa yang mengeluhkan ketetapan kampus yang satu ini. Bagi para mahasiswa, sistem QR Code membuat lalu lintas kampus menjadi macet serta jalan keluar masuk kampus juga jadi lebih jauh. Lagi pula, mahasiswa memarkirkan kendaraan di fakultas masing-masing, jadi lebih baik kalau penggunaan QR Code diadakan saja di fakultas masing-masing
Keluhan-keluhan yang diutarakan beberapa ojol di media sosial, membuat saya sebagai mahasiswa Unpad, terkhususnya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) lumayan parno. Apalagi karena aturan ini, jalur menuju gedung FIB semakin jauh, bagaimana kalau mereka tidak mau menerima pesanan dari saya?
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Menghidupkan Lagi Nilai dan Etika di Ruang Digital
MAHASISWA BERSUARA: Ujian Keberpihakan Negara pada Masyarakat Adat dalam Prolegnas 2026
MAHASISWA BERSUARA: Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis Andrie Yunus dan Senjakala Suara Publik
Membuat Mahasiswa Parno
Jarak tempuh yang lebih jauh karena rekayasa lalu lintas, membuat para driver ojol protes soal tarif, hal yang juga membuat saya lebih parno. Sebagai mahasiswa kos dengan uang bulanan yang gak gede-gede amat, naiknya tarif ojol bikin frustrasi. Kebijakan yang memang betul-betul bikin susah!
Hidup saya sebagai mahasiswa tanpa kendaraan pribadi membuat saya bergantung pada driver ojol dan saya juga yakin kalau teman-teman mahasiswa di Jatinangor juga demikian. Bahkan teman-teman saya yang setiap hari jalan kaki, pasti memesan ojol, setidaknya sekali sebulan untuk ke kampus. Jangankan di dalam kampus, di luar kampus saja kami masih bergantung pada ojol.
Seperti yang saya bilang, ojol hadir dan membantu berbagai lini kehidupan mahasiswa mulai dari pangan, kesehatan, dan pendidikan. Tanpa melebih-lebihkan, banyak nyawa mahasiswa yang diselamatkan oleh para driver ojol, kalau tidak ada layanan antar makanan di aplikasi, mungkin kami akan mati kelaparan karena tidak bisa berjalan ke warung makan lantaran sakit. Apalagi kalau kami ada asam lambung, wah bisa bahaya!
Motor yang dipacu oleh driver ojol mengantar jiwa-jiwa memasuki gerbang masa depan, karena kami yang bangun kesiangan bisa datang tepat waktu untuk ikut ujian penting. Tarikan gasnya mengantarkan kami melewati kelas-kelas selanjutnya, semester-semester berikutnya, hingga kelulusan-kelulusan berikutnya.
Meskipun saya parno para driver ojol tidak mengambil pesanan saya, saya juga mengerti betul kalau pada akhirnya mereka tidak punya pilihan. Unpad sendiri memegang rekor sebagai kampus dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Jatinangor. Bukan rahasia umum kalau perekonomian di Jatinangor tetap hidup karena mahasiswa. Begitu pun dengan ojol, pekerjaan ini tetap lestari karena konsumennya banyak (mayoritas dari kalangan mahasiswa).
Tapi penting untuk diketahui kalau kehidupan mahasiswa bisa berjalan dengan semestinya juga karena para pekerja ekonomi juga, penjual makan, penatu, dan driver ojol itu sendiri. Tidak bisa dibayangkan kalau ojol cuti sehari, wah sekocar-kacir apa kehidupan mahasiswa nanti? Makanya saya harap kampus bisa membuat regulasi yang juga berpihak pada ojol.
Kabarnya, kampus akan membuka kembali akses masuk khusus Gerbang D untuk drvier ojol dan akan melakukan uji coba selama 5 hari. Kalau ada pelanggaran, maka akses akan ditutup kembali. Saya harap semuanya akan berujung dengan baik, dan menguntungkan berbagai pihak.Pada akhirnya universitas bisa berdiri kokoh karena mahasiswanya, dan mahasiswanya bisa datang tepat waktu karena driver ojol.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

