• Opini
  • Gentengisasi dan Punahnya Kearifan Lokal

Gentengisasi dan Punahnya Kearifan Lokal

Secara tradisional orang Indonesia lebih mengenal ijuk atau sirep dan atap-atap yang tidak bersinggungan dengan elemen tanah.

Sandewa Jopanda

Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran (Unpad).

Bencana mengemuka sebagai politik. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

5 April 2026


BandungBergerak – Sewaktu presiden Prabowo mengumumkan rencana pengubahan atap rumah dari seng, asbes, dan sebagainya menjadi genteng, publik hanya menerima alasan estetika sebagai dasar rencana tersebut. Bagi presiden penggunaan asbes atau bahan-bahan besi merusak pemandangan mata sehingga mereduksi persepsi positif wisatawan baik lokal maupun mancanegara terhadap pemandangan Indonesia. Pendapat tersebut masih sarat akan lemahnya argumentasi yang dibangun pemerintah untuk melakukan suatu rencana pembangunan.

Secara sosiologis pembangunan baik fisik maupun sosial tidak dapat dikategorisasi hanya pada konteks atau fungsi estetika semata. Lebih dari itu ada banyak fungsi yang harusnya diperhitungkan dalam suatu pembangunan. Sebagai contoh pembangunan jalan tidak boleh hanya mengedepankan kualitas aspal dari segi tampilan tetapi juga dari segi ketahanan karena jalanan Indonesia tidak hanya dilewati oleh mobil pribadi tapi juga truk yang bermuatan di atas 30 ton. Fungsi ketahanan itu jauh lebih penting ketimbang tampilannya. Begitu pun ketika pemerintah ingin mengubah atap rumah penduduk dari asbes/seng menjadi genteng, yang kemudian disebut program gentengisasi bahkan telah menyiapkan anggaran sekitar 80 triliun rupiah, fungsi estetika itu tidak boleh lebih tinggi ketimbang ketahanannya.

Sejak zaman Sekolah Dasar kita selalu diajarkan mengenai posisi geografis Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua samudera serta berada dalam Ring of Fire (cincin api). Ada begitu banyak gunung berapi aktif di berbagai daerah di Indonesia. Kita juga merupakan negara maritim karena sekeliling kita merupakan lautan yang begitu luas. Secara statistik hampir setiap hari Indonesia diguncang gempa baik yang bermagnitudo kurang dari 5,0 skala Richter maupun yang lebih dari skala tersebut. Rata-rata setiap tahun 6.000 sampai 10.000 di Indonesia. Sepanjang 2025 saja, BMKG mencatat sebanyak 43.439 gempa bumi terjadi di Indonesia. Data tersebut disampaikan Kepala Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono. Kondisi semacam ini bukan kotak kosong semata, justru menjadi alasan mengapa sejak lama Indonesia kurang suka atau banyak suku yang membangun rumah tradisionalnya tidak beratapkan genteng yang terbuat dari tanah.

Baca Juga: Menyesalkan Kerusakan Ekologis Gunung Manglayang, Padahal Kearifan Lokal Mengingatkan Kita agar Hidup Harmonis dengan Alam
Menurunnya Keanekaragaman Pangan Tradisional
Tokécang dan Dunia yang Rakus, Membaca Ketidakadilan Global dari Kearifan Tradisi Sunda

Kearifan Lokal

Kearifan lokal Indonesia sangat erat kaitannya dengan kondisi alam di sekitarnya. Bila ditelisik secara ilmiah pandangan ini erat kaitannya dengan environmental deterministic. Paradigma environmental deterministic atau determinasi lingkungan menitikberatkan pada kondisi fisik lingkungan yang mempengaruhi budaya manusia. Budaya yang dimaksud bisa berupa bahasa, aksen, perilaku, teknologi yang digunakan, sistem kehidupan bermasyarakat, bahkan pada budaya dalam arti sempit seperti tarian, karya seni, dan sebagainya. Misalnya mengapa banyak makanan di Indonesia yang bersumber dari rempah-rempah hutan karena memang dahulu hutan kita masih sangat luas, atau Mengapa tarian-tarian lebih banyak gerakan tangan yang membentuk pola-pola ombak karena terinspirasi dari sungai dan laut yang mengelilingi Indonesia. Begitu juga dengan proses pendirian sebuah rumah sebagai tempat tinggal, berlindung, dan berinteraksi unit kecil seperti keluarga.

Proses pembangunan rumah biasanya disesuaikan dengan kepentingan yang diperlukan. Di beberapa adat di Indonesia rumah menjadi kepemilikan kolektif sehingga yang tinggal tidak hanya satu keluarga inti melainkan keluarga besar. Ruang-ruang di dalamnya justru berkaitan dengan stratifikasi dan status sosial dalam keluarga tersebut. Di beberapa tempat di Indonesia rumah juga menunjukkan status sosial secara komunal pada satu area seperti kampung atau desa tertentu. Secara kasat mata tampilannya ada yang lebih besar ketimbang yang lain ada pula yang lebih kecil. Terlepas dari beragamnya adat istiadat suku bangsa di Indonesia, perihal rumah kita dapat menemukan satu karakteristik yang sama yakni selain menyesuaikan fungsi sosial ia juga memperhatikan keselarasan dengan lingkungannya. Dalam konteks atap banyak rumah-rumah tradisional atau rumah-rumah penduduk pada umumnya beratapkan ijuk, sirep, atau bahan lain yang bukan berasal dari elemen tanah seperti genteng asbes dan sebagainya.

Pasar tentu saja mengutamakan keuntungan ekonomi ketimbang faktor lainnya. Genteng, asbes, dan seng, dimaksudkan untuk memperkecil biaya produksi dan mendapatkan keuntungan yang besar. Pengamat material kemungkinan mendukung penggunaan elemen-elemen ini agar lebih efisien. Genteng sendiri, secara material cocok dengan iklim di Indonesia yang tropis. Beberapa bahan lainnya pun sebetulnya masih sesuai.

Sayangnya, argumentasi yang disebutkan oleh presiden Prabowo Subianto, lebih kepada fungsi estetika. Padahal dalam buku The Ancient Disaster, yang menceritakan beragam bencana yang terjadi di Indonesia sejak zaman dahulu erat kaitannya dengan penggunaan elemen-elemen rumah sebagai tempat tinggal. Jika terjadi gempa orang-orang dalam rumah tidak akan terluka atau paling tidak dapat terhindar dari bahaya tertimpa bahan-bahan yang dapat secara otomatis menguburkan mereka. 

Secara tradisional orang Indonesia lebih mengenal ijuk atau sirep dan atap-atap yang tidak bersinggungan dengan elemen tanah. Alasannya sama seperti yang terjadi di Desa Ciptagelar, benda yang terbuat dari tanah tidak boleh ditempatkan di atas. Di Desa Ciptagelar seluruh rumah adat beratapkan daun-daun yang disusun dan dirangkai sehingga dapat menutup dan terhindar dari panas dan hujan. Konsep ini merujuk pada posisi daun di atas pohon yang berfungsi sebagai penutup atau kanopi. Hal seperti ini juga kita temukan di Bengkulu di mana orang-orang tua dahulu menyebutkan pantang rumah beratapkan bahan dari tanah. Satu-satunya penggunaan atap dari tanah hanya pada saat meninggal dunia.

Mitigasi Bencana

Pemilihan atap dari unsur-unsur merupakan bagian dari kearifan lokal dalam mitigasi bencana terutama gempa. Ada banyak sekali mitigasi bencana berupa kearifan lokal di Indonesia dan menyebabkan beberapa penyesuaian dalam kehidupan bermasyarakat. Orang-orang di daerah pesisir tahu benar ketika air pasang rumah bisa saja terendam banjir rob, oleh karenanya pembangunan rumah di wilayah pesisir dirancang untuk bergaya panggung. Rumah-rumah di lereng gunung atau di lembah biasanya dibangun di dekat area dengan vegetasi yang kuat menahan tanah dan beratap lebar, agar ketika hujan deras datang ada jeda dari atap rumah ke tanah dan vegetasi di sekitarnya mampu menyerap air sehingga terhindar dari longsor. Maka program gentengisasi seharusnya tetap mengutamakan ketahanan dan keselamatan penghuni rumah ketimbang estetika semata. Program ini tidak hanya menarik begitu banyak anggaran tetapi juga memikirkan kearifan lokal yang ada dan beragam di Indonesia.

Sebagai penutup, satu hal lagi yang perlu disorot dari program gentengisasi adalah proses produksinya yang akan terus menggerus tanah sebagai bahan utama pembuatan genteng yang justru berefek kepada daya dukung lingkungan yang semakin lemah. Tanah adalah unsur penting bagi alam, pengerukan tanah untuk penggunaan komersial seperti ini jika tidak dibatasi justru akan melahirkan degradasi lingkungan yang berefek meluas. Misalnya dalam satu areal yang dipakai untuk memproduksi genteng areal tersebut jelas akan kehilangan ketahanannya. Tanah menjadi tidak kokoh dan ia kehilangan kemampuannya untuk memproduksi nutrisi yang baik bagi makhluk hidup lain di sekitarnya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//