• Berita
  • Menggali Sejarah Bandoengsch Villapark: dari Pemukiman Elite Kolonial hingga Kawasan yang Terancam Punah

Menggali Sejarah Bandoengsch Villapark: dari Pemukiman Elite Kolonial hingga Kawasan yang Terancam Punah

Mengeksplorasi kawasan bersejarah yang terabaikan di tengah modernisasi Bandung. Mendorong pelestarian cagar budaya di tengah perubahan regulasi.

Salah satu rumah cagar budaya di kawasan Bandoengsch Villapark yang kini menjadi apotek Aranza, Tamansari, 2 April 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang6 April 2026


BandungBergerak - “Apoteknya masih buka?” tanya seorang peserta sambil menunjuk sebuah rumah cagar budaya yang kini berfungsi sebagai apotek sekaligus hunian di Kelurahan Tamansari, Bandung. Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi membuka fakta yang lebih dalam tentang pelestarian bangunan cagar budaya.

Bangunan apotek sekaligus tempat tinggal tersebut tampak masih utuh dan terawat. Namun, banyak bangunan bersejarah lainnya di Bandung yang telah berubah fungsi tanpa meninggalkan narasi sejarah. Sejumlah bangunan cagar budaya itu di antaranya berada di kawasan Bandoengsch Villapark, permukiman elite kolonial yang lama terlupakan, dan kini berada di ambang ancaman.

Di tengah popularitas Bandung sebagai destinasi kuliner dan wisata instan, sejarah kawasan ini nyaris tenggelam. Padahal, Bandoengsch Villapark pernah menjadi kompleks vila eksklusif bagi orang Eropa pada awal abad ke-20. Kini, jejaknya tersebar samar di antara bangunan modern, tanpa perlindungan yang memadai.

Pada Kamis, 2 April 2026, saya mengikuti tur jalan kaki yang diselenggarakan Geowana Ecotourism bertajuk “Bandoengsch Villapark, Pemukiman Elite Kolonial di Dago”. Tur ini dipandu Gan Gan Jatnika, dengan narasumber arkeolog publik sekaligus penulis buku “Menemukan Bandoengsch Villapark” Karguna Purnama Harya.

Gan Gan Jatnika sedang menjelaskan  kawasan Bandoengsch Villapark melalui visual gambar yang telah diwarnai di Taman Radio, 2 April 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)
Gan Gan Jatnika sedang menjelaskan kawasan Bandoengsch Villapark melalui visual gambar yang telah diwarnai di Taman Radio, 2 April 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Kegiatan dimulai dari Taman Radio, Jalan Djuanda. Dari sana, peserta diajak menelusuri sisa-sisa kawasan Villapark yang dahulu membentang seluas 13 hektare dengan 84 bangunan. Kompleks sejuta gulden ini dibangun pada 1918 oleh biro arsitek C.P. Schoemaker en Associatie, dan dirancang sebagai hunian privat bagi kalangan elite Belanda.

Seiring waktu, identitas kawasan ini memudar. Banyak bangunan beralih fungsi, rusak, atau bahkan hilang tanpa dokumentasi.

Di salah satu titik Bandoengsch Villapark terdapat di Jalan Dago, peserta melihat sebuah rumah cagar budaya yang kondisinya memprihatinkan. Dindingnya retak, bagian bangunan tampak tak terawat, dan kini difungsikan sebagai kantor. Tidak ada penanda yang menjelaskan nilai historisnya.

Perjalanan berlanjut ke kawasan Tamansari. Di sana, berdiri rumah yang sempat menjadi kafe dan kini kosong. Karguna menjelaskan, bangunan ini diduga kuat merupakan karya Schoemaker, ditandai dengan ornamen khas berupa logo Makarakala.

"Kalau kalian melihat logo ini di bangunan-bangunan di Bandung, pasti buatan Schoemaker," jelasnya sembari menunjukkan logo Makarakala di sisi kanan dan kiri bangunan.

Salah satu rumah cagar budaya buatan Schoemaker di Tamansari, 2 April 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)
Salah satu rumah cagar budaya buatan Schoemaker di Tamansari, 2 April 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Namun, ciri khas tersebut pun terancam hilang. Di beberapa bangunan lain, logo Makarakala tertutup kanopi atau perubahan fasad. Identitas arsitektural perlahan terkikis oleh kebutuhan fungsi modern.

Selain perubahan fisik, kawasan ini juga kehilangan konteks lanskapnya. Karguna menjelaskan bahwa pada abad ke-15, wilayah Tamansari merupakan area persawahan dengan panorama pegunungan. Kini, lanskap itu telah berubah menjadi jaringan jalan dan bangunan padat dalam waktu singkat.

Tur kemudian menyusuri Jalan Merdeka, Purnawarman, hingga Ranggamalela, sebelum kembali ke titik awal. Sepanjang perjalanan, peserta diperlihatkan bagaimana sejarah kota tersimpan dalam detail-detail kecil yang kerap terabaikan—plakat marmer yang tertutup vandalisme, hingga nama-nama lama yang nyaris hilang.

Di sinilah kegiatan seperti tur Geowana menjadi penting. Tidak sekadar berjalan kaki, peserta diajak membaca ulang kota melalui arsip visual, peta lama, dan cerita lapangan. Metode ini menjadi jembatan antara masa lalu dan kondisi kota hari ini. 

"Trip Geowana itu seperti mengajak melihat kaca spion, ada apa dulu di belakang kita, dengan tujuan perjalanan ke depan itu (jadi) lebih tahu ya," ujar Gan Gan.

Baca Juga: Perda Cagar Budaya Bandung Dikhawatirkan Menghapus Heritage secara Terselubung
Menggugat Penghapusan Daftar Cagar Budaya Kota Bandung di Perda Baru

Gan Gan Jatnika dan Karguna Purnama Harya sedang menunjukkan rumah arsitek A.F. Aalberst di Jalan Dago 34, 2 April 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)
Gan Gan Jatnika dan Karguna Purnama Harya sedang menunjukkan rumah arsitek A.F. Aalberst di Jalan Dago 34, 2 April 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Tantangan Regulasi

Namun, upaya komunitas ini berjalan di tengah situasi yang tidak baik-baik saja. Regulasi terbaru, yakni Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2025 tentang Pengelolaan dan Pelestarian Cagar Budaya, justru memunculkan kekhawatiran. Salah satu implikasinya adalah penurunan status sejumlah bangunan menjadi Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB), yang berarti perlindungannya tidak sekuat sebelumnya.

Dalam konteks ini, Bandoengsch Villapark berada dalam posisi rentan. Meski memiliki nilai historis dan potensi wisata budaya yang tinggi, kawasan ini belum tentu mendapatkan penetapan resmi sebagai kawasan cagar budaya.

Padahal, tanpa status tersebut, perlindungan hukum menjadi lemah. Bangunan dapat terus berubah, rusak, atau bahkan hilang tanpa mekanisme pelestarian yang jelas.

Trip Geowana mencoba mendorong pengakuan itu melalui jalur pengetahuan. Mereka menyerahkan buku dan panduan wisata kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Arsip Kota Bandung, dengan harapan dapat menjadi rujukan dalam penetapan kawasan cagar budaya baru.

"Tugas kita mah hanya sampai situ, tugas selanjutnya, ya, pihak pemerintah. Pihak pemerintah mau enggak memasukkan ini menjadikan potensi wisata Kota Bandung?" tutup Gan Gan.

Salah satu peserta sekaligus ibu rumah tangga asal Lembang, Wida, 50 tahun, yang rutin mengikuti ekowisata Geowana. Berbekal buku pengetahuan dari Bandoengsch Villapark, ia berusaha langsung mengenali kawasan cagar budaya yang terlupakan.

Di tengah laju pembangunan kota, Bandoengsch Villapark menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hilang karena waktu, tetapi juga karena abai. Tanpa upaya pelestarian yang serius, kawasan ini berisiko benar-benar lenyap, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dari ingatan kolektif kota.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//