DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #6: Kumpulan Puisi Pertama
Buku Puspa Mega berisi 35 puisi karya Sanusi Pane menjadi buku puisi pertama yang diterbitkan Pustaka Jaya.

Hafidz Azhar
Penulis esai, sejak September 2023 pengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas), Bandung
6 April 2026
BandungBergerak – Ada yang menarik dari Puspa Mega karya Sanusi Pane. Buku klasik ini merupakan kumpulan sajak yang terbit kali pertama tahun 1927, lalu diterbitkan ulang oleh Pustaka Jaya tahun 1971. Dalam generasi awal penerbit Pustaka Jaya, buku ini bisa dibilang kumpulan puisi munggaran yang telah terbit. Di balik kover tertulis nomor seri dengan keterangan PJ 023. Kalau tidak keliru, tidak ada buku puisi sebelum buku ini.
Puspa Mega menghimpun 35 puisi. Masing-masing menyajikan tema yang beragam, tetapi kebanyakan bernuansa alam. Dari sejumlah puisi itu, tidak ada satu pun judul yang mewakili judul utama buku ini. Salah satu yang termuat berjudul Sadjak.
Dalam pengamatan saya, Sadjak menggambarkan bangunan puisi yang didominasi oleh alam ideal. Ia mewakili pikiran penulisnya secara terpusat, terutama soal karya puisi yang bisa ditangkap oleh pembaca. Sadjak menyampaikan pesan bahwa puisi bukan sekadar kata. Kata-kata ini melekat erat dengan penulis dan disusun dengan teliti. Di situ ada pikiran, ada bahasa yang mengisyaratkan permenungan untuk dimaknai selanjutnya oleh pembaca. Meski demikian, puisi ini bukan satu-satunya pikiran yang terejawantahkan. Sebagai penulis Sanusi Pane membayangkan harapannya ihwal puisi yang ideal.
Puspa sendiri berarti bunga. Sedangkan mega berarti awan. Gambaran mengenai bunga maupun awan tampak secara tersurat dalam beberapa puisi. Sebut saja, puisi dengan judul Ke Pantai. Dalam Puspa Mega, puisi ini terdapat dalam urutan pertama. Di situ Sanusi Pane menyebut dua istilah, baik bunga ataupun mega. Pada bait ketiga, misalnya, dituliskan: Permainan mata/Ratna permata/Bunga melati/Si djantung hati. Di situ gambaran puspa ditunjukkan melalui bunga melati.
Dalam konteks ini bunga melati merujuk pada salah satu keindahan yang saling terhubung dengan ungkapan "permainan mata". Barangkali, permainan mata yang dimaksud adalah pemandangan pantai dengan berbagai bentuk keindahan alamiah. Seperti ratna atau batu mulia, termasuk melati yang tumbuh di sekitar pantai. Atau bias juga melati sekadar simbol keindahan.
Pada bait kelima, mega tampil sebagai suatu bentuk alami yang bernuansa riang. Di sini, penulis seolah ingin bilang bahwa mega menjadi objek yang bisa mengubah suasana hati. Coba perhatikan bait berikut: Adindaku mari/Meriangkan hati/Melihat mega/Berwarna neka. Dalam bait ini, mega dianggap mampu membuat hati menjadi senang.
Jika mega merepresentasikan awan, tentu ada warna utuh yang bisa dilihat. Misalnya, biru atau putih. Tetapi dalam baris selanjutnya, mega identik dengan jenis warna bernama "neka". Saya sendiri belum menemukan kata khusus dari istilah ini. Boleh jadi, neka berarti beragam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, saya tidak berhasil mengorek akar istilah ini. Yang ada hanyalah kata ulang berupa "neka-neka", yang artinya berbagai macam. Jika dugaan ini tidak meleset, maka, neka yang dimaksud berarti warna yang beragam, sehingga kata mega dalam bait tersebut, boleh jadi, merepresentasikan keragaman warna dari pantulan cahaya matahari. Di sini mega dapat menjadi kuning, bahkan berwarna merah gelap kala terjadinya peralihan sore menjelang petang.
Baca Juga: DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #3: Jejak Awal Sastra Anak Modern Indonesia
DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #4: Buku Saduran Pertama
DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #5: Penulis Perempuan Pertama Pustaka Jaya
Puisi Berima
Selain puisi Ke Pantai, terdapat beberapa puisi lain yang menggambarkan bunga dan awan. Sebut saja, Perisai, Melati, Di Tepi Danau, Sendja, Terang di Langit, Kenangan, Tedja, Bunga, Tjinta Muda, Magrib, dan Waju. Kesebelas puisi ini umumnya menyuguhkan aroma alam dan kerinduan. Namun, yang menarik, semua puisi dalam buku ini dikemas dengan gaya berima, meskipun hal ini bukan perkara baru karena pada tahun 1920-an karya puisi masih kuat dengan akar Melayu bergaya pantun.
Coba tengok bait puisi berikut: Terang benderang sinar sekarang/Di dalam taman djantung hatiku/Tersenyum simpul bunga dikarang/Gobahan bagi ratu djiwaku. Penggalan bait ini saya ambil dari puisi Melati. Di sini terdapat gaya pantun yang sangat menonjol, karena disajikan secara saling silang dengan rima yang selaras. Pada baris pertama, misalnya, penulis menekankan suatu rima dengan bunyi vokal "u" melalui suku kata "ku" di ujung baris. Sementara pada baris kedua, rima disajikan dengan bunyi vokal lewat suku kata "rang". Hal ini berlaku pada baris ketiga dan keempat dengan mengikuti pola rima yang sama.
Pada puisi lain, nuansa pantun dengan gaya berima juga tampak sangat kentara. Meski ada perbedaan dari segi pola, beberapa puisi tetap menekankan rima pada setiap baris dalam baitnya. Seperti puisi Di Tepi Danau. Di sini bait pertama menyuguhkan lima baris dengan pola rima yang selaras. Misalnya, Aku berdiri hampir malam/Di tepi danau permata nilam/Menunggu timbul pantun nalam/Terkenang aku waktu silam.
Dalam bait ini setiap suku kata di ujung baris menyajikan pola rima yang sama. Baris pertama menyajikan suku kata "lam". Begitupun pada baris kedua, ketiga dan keempat, masing-masing diakhiri dengan pola rima bersuku kata sama. Artinya, setiap puisi tidak saja menampakkan saling-silang rima dalam setiap baitnya. Boleh jadi satu bait dengan beberapa baris diakhiri oleh pola rima yang serupa.
Ada juga pola yang menampilkan rima awal dan akhir. Seperti pada puisi Sendja. Bait pertama yang terdiri dari empat baris ini dikemas dengan model penulisan rima baris pertama dan terakhir. Lalu baris kedua dan ketiga ditulis juga pola serupa dengan rima yang sama.
Coba perhatikan penggalan bait ini: Malam turun perlahan-lahan/Damai sentosa hening tenang/Sunji senjap alam sekarang/Suara angin tertahan-tahan. Di sini tampak di akhir baris pertama dan keempat dengan menekankan bunyi dan suku kata yang sama. Sementara pada baris kedua dan ketiga, bunyi "ang" sama-sama ditunjukkan di akhir baris, meskipun ditulis lewat kata yang berbeda.
Terlepas dari gaya bahasa yang disajikan, bagi saya, kumpulan puisi ini umumnya mengandung pesan permenungan mendalam mengenai alam. Kesadaran tentang alam disalurkan melalui kenangan, kerinduan dan ajakan bersama seseorang. Meski demikian, ada juga suasana duka yang tergambar lewat satu puisi getir tentang kematian seorang anak. Sebut saja puisi berjudul Kematian Anak. Tentu saja puisi ini tidak mengurangi gambaran umum tentang bunga dan awan sebagai simbol judul utama. Dalam Puspa Mega, bunga dan awan bisa saja melambangkan keindahan alam. Tidak hanya itu, dalam kumpulan puisi ini, bunga dan awan bisa juga melambangkan kebahagiaan dan duka cita, tergantung puisi mana yang akan kita maknai.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

