MAHASISWA BERSUARA: Kebohongan atas Anarkisme Perlu ditinjau Kembali
Mengapa diksi “Anarkis” dapat dengan normal masuk ke dalam telinga sebagai pengganti diksi “kekacauan”?

Fadlan Naufal R.
Mahasiswa Salatiga. Pemuda banal yang terseok mencari arti.
7 April 2026
BandungBergerak – Sebetulnya kita telah sampai pada era yang menggelikan. Barang tentu, bagi mereka yang sadar, kemajuan zaman ini adalah malapetaka, atau malah buah simalakama. Abad 21, era hiperrealitas, katanya. Aku sepakat. Di masa ini, katanya kita sulit menentukan yang benar dan yang bohong. Siapa yang dapat menyangkal?
Kalau dulu Orde Baru (Orba) atau kekuasaan mana pun yang hegemonik dapat menentukan kebenaran sehingga menggeser atau mereduksi pengertian gagasan tertentu yang real, maka saat ini beratus kali lipat dapat terjadi, di tengah era post digital dan hipermodernitas, di tengah khalayak awam yang amat mudah dibuat percaya. Pada babak ini aku ingin bertaruh potensinya lebih buruk.
Konteks yang akan kita uraikan kali ini pun bersentuhan secara langsung, di mana pengetahuan, bersamaan dengan kekeliruan informasi dapat dengan mudahnya merambah: sebagaimana lakon aksi gerakan sosial yang banyak dipersepsikan salah sejak awal oleh delivery konteks yang dangkal. Sebagai contoh, ada banyak macam bentuk direct action oleh kaum anarkis yang sering disalahartikan, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja, dalam ketidaktahuan. Beberapa di antaranya ialah Pemberontakan, Sabotase, Pemogokan, pun kata Anarkisme itu sendiri.
Aksi langsung, atau gerakan anarkis sering dipandang dan diasosiasikan sebagai destruksi, penuh tendensi negatif, bahkan sebelum menggali diskursusnya lebih jauh. Coba saja, apa yang kamu pikirkan ketika membaca frasa “Gerakan anarkis”? Tidakkah keluar ingatan-ingatan pagar roboh, kebakaran gedung dan halte, pembunuhan, atau kekerasan lainnya?
Selain itu, pemberontakan dilihat sebagai keburukan, kebiadaban, dan ketidakbermoralan. Padahal bisa jadi, kepatuhan dan kesopanan yang dipahami saat inilah kebiadaban itu sendiri.
Kekeliruan ini jelas perlu perhatian khusus, mendekonstruksinya bisa menjadi proyek bedah yang paling harus dilakukan saat ini, lalu mencoba meletakkannya ke tempat yang terang benderang. Agar, jika pembaca dipertontonkan dengan kejadian atau orang-orang yang melakukannya, maka pembaca dapat mengerti apa yang orang-orang tersebut sedang lakukan atau mengapa mereka lakukan. Atau mungkin jadi, pembaca sendiri yang akan melakukannya? Bisa jadi, sebab, kenapa tidak?
Meski siapa pun tidak bertanggungjawab untuk mengklarifikasi, kesalahpahaman ini tetap patut untuk dibicarakan dan pantas diluruskan. Sebab, masalah ini tidak dapat dilihat sesederhana seekor lalat singgah di atas feses seekor musang. Penyalahartian ini perlu dilihat lebih dari sekadar pengurangan nilai melalui proses penyelewengan makna yang reduktif. Ia perlu dilihat dengan keyakinan bahwa apabila ini didiamkan, kita telah membiarkan negara dan kaum kapitalis menang dalam upayanya menyebar kekeliruan. Tentu dalam bentuk penyalahartian gagasan, dalam upayanya membangun rasa takut dan kebencian melalui definisi dan asosisasi yang tidak fair sedari awal.
Pasar gratis dan dapur umum dilakukan oleh kaum anarkis sebagai bentuk protes. Perpustakaan jalanan mereka lakoni untuk mengisi kepala orang-orang di emperan jalan, khususnya mereka yang tidak mendapat kesempatan untuk mengakses sekolahan atau perpustakaan daerah, dan itu semua dilakukan tanpa kekerasan–secara literal maupun metafor.
Di sisi lain, pemberontakan terhadap sistem ataupun rezim yang fasis, baik dengan cara kekerasan ataupun non-kekerasan, memang benar termasuk gerakan anarkis. Namun, meletakkan pembakaran gedung ke dalam diksi “Anarkis” adalah cara curang. Jelas ini–diakui atau tidak–adalah sebuah kecacatan berpikir. Sebab, siapa pun dia–individu atau kelompok, apakah berasal dari blok hitam, merah, hijau, atau lainnya, semuanya dapat melakukannya (baca: kekerasan). Dan hal tersebut–terlepas dari baik atau buruk–namanya tak lain adalah kekerasan, kekacauan, destruksi, destruktif; bukan sinonim dari anarki, anarkis, anarko, ataupun anarkisme. Cobalah untuk membaca lebih jauh.
Ini menjadi penting, agar gagasan pokok dalam kerangka berpikir ideologi kritis seperti ini, dapat terurai dengan jelas. Tidak belot karena terdistorsi oleh bias-bias yang tumbuh dari kekeliruan paham.
Diksi ini (baca: Anarkis) seharusnya tidak mewakili maksud seseorang yang sedang membicarakan kekacauan. Sebagai contoh, ketika menyaksikan perobohan pagar atau pelemparan molotov, kan tentu tidak tepat mengomentarinya dengan, “Aih, demonya anu, marxis,” atau, “aih, demonya sangat sosialis.” Dapat dilihat penggambaran itu akan sangat aneh, asing, dan tidak nyambung.
Pada dasarnya, anarkisme ada dalam koridor yang sama, ia juga ialah bentuk keberpihakan politis, yang seseorang pilih, ambil, bangun, dan lakukan. Namun, mengapa diksi “Anarkis” dapat dengan normal masuk ke dalam telinga sebagai pengganti diksi “kekacauan”? Tentu karena hal tersebut bukan lagi hal baru. Ia terus menerus diungkapkan, hingga KBBI pun ikut mengamininya.
Arthuro M. Giovanitti, mantan pemimpin serikat buruh IWW cabang Italia-Amerika dan seorang penulis puisi, pun mengatakan dalam pengantar esai milik Emile Pouget soal Sabotase, “Sebenarnya kelas kapitalis sudah tahu betul makna sesungguhnya dari kata-kata ini, sekaligus tahu betul doktrin serta maksud di balik semua kata-kata ini. Namun tentu saja, minat mereka yang paling utama adalah menimbulkan kecurigaan serta membangkitkan cemooh dan kebencian meluas terhadap kata-kata ini, sontak ketika kata-kata ini mulai muncul dan belum banyak dipahami. Tujuannya adalah untuk menciptakan rasa permusuhan terhadap kata-kata ini, untuk kemudian mengawasi perkembangan propaganda dari kata-kata ini.” Jelas sekali bahwa kekuasaan maupun elite-elite yang pada dasarnya monopolis sedang melindungi kepentingannya, mengambil peruntungan dari kegagalan orang-orang memahami gagasan kritis yang berpotensi menggoyahkan legacy-nya.
Menurut Giovanitti dalam esai yang sama, kaum-kaum kapitalis tertentu, khususnya di Amerika pada masa lampau, telah berhasil membuat kata anarkisme bersinonim dengan ketidakteraturan, kekacauan, kekerasan, dan pembunuhan.
“Kini giliran kata Sindikalisme, Aksi Langsung, dan Sabotase yang sengaja dipelintir agar maknanya disalahpahami, dihujat, dan dicemarkan dengan cara yang sama,” tulisnya.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Refleksi Represifitas Aparat dalam Aksi Tolak RUU TNI
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Aksi Demonstrasi Tak Lagi Cukup: Membaca Negara, Merumuskan Perlawanan Hari Ini
MAHASISWA BERSUARA: Matinya Partai Politik dan Bayang-bayang Populisme
Membaca Metode Gerakan Anarkis
Mari kita mulai dari gagasan pemberontakan berupa sabotase, aksi langsung, dan pemogokan. Berapa banyak dari kita yang masih melihatnya sebagai ketidakbermoralan? Ketidaksopanan atau semata-mata pembangkangan yang dilakukan oleh para kriminal?
Sekarang, mari kita bertanya, siapa yang menciptakan ukuran baik dan buruk ini? Siapa yang menaruh batasan-batasan moral tertentu yang sebenarnya hanya melindungi kelas kapitalis atau para tuan-tuan kaya raya? Ya, semuanya berakar dari standar kekuasaan, mulai dari negara; pemilik kepentingan seperti raja-raja, presiden, pemerintah, para menteri, bupati. Atau yang lebih berkuasa di belakangnya, para pemilik modal yang kemudian mereka salurkan entah melalui undang-undang, pejabat, tokoh masyarakat, para penyair atau pemuka agama yang melindungi kepentingannya, dan seterusnya, dan seterusnya. Knowledge yang kemudian tumbuh menjadi konstruksi sosial, dipercaya dan membuat semua orang yang menolak anarkisme seolah-olah tengah melindungi kepentingan moral, adab, dan kesopanan, yang sebenar-benarnya tidak lain dari melindungi kepentingan kekuasaan dan sistem yang menindas, namun tidak menyadarinya.
Aksi langsung, adalah aksi yang didasari oleh kepentingan kelas atas upah, jaminan kerja dan kehidupan yang lebih layak. Ia mendobrak kepentingan moral yang semu, yang dapat disepakati setelah uraian paragraf sebelumnya, moral yang saat ini tidak lebih dari perlindungan terhadap keuntungan segelintir pihak.
Sabotase sendiri sebenarnya ialah metode yang sama sekali tidak merusak. Ia hanya menyabotase agar organisme produksi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya selama aksi buruh berlangsung–berlaku sebagai obat tidur untuk mesin atau organisme produksi dalam bentuk apa pun dengan konteks pekerja di industrinya masing-masing. Sebagai contoh, ketika upah dipotong secara sepihak, sabotase atas mesin atau kuantitas produksi adalah salah satu jalan, dengan pemogokan sebagai langkah kombinasinya.
Gagasan ini mekar bahkan sebelum peradaban maju seperti sekarang. Tepatnya sejak ketertindasan tumbuh mengiringi jari para kelas pekerja.
Bisa dibilang, sabotase adalah gagasan yang benar-benar menjadi pasangan sejati untuk pemogokan, ialah agar buruh yang tergabung dalam barisan pemogok tidak begitu gampang digantikan oleh buruh-buruh oportunis nan pragmatis, yang biasa disebut sebagai Scab.
Pemogokan, harus disepakati sebagai aksi yang amat efektif dalam sejarah perjuangan buruh dunia–dengan kombinasi sabotase. Gerakan ini sontak ingin dilabeli sebagai ketidaksopanan atau pemberontakan yang merusak moral para buruh (label yang sama coba ditancapkan ke metode sabotase), namun, bagi orang-orang yang tetap objektif dan berpihak pada kehidupan yang lebih layak, gerakan ini sangat perlu dilakukan sebagai upaya yang penuh, menuntut ketimpangan sistim dan kesewenang-wenangan kekuasaan.
Apabila sabotase, aksi langsung dan pemogokan dilihat hanya sebatas keburukan dan kehancuran moral, dampak-dampak positif yang mengikutinya, seperti tercapainya tujuan dan kehidupan yang lebih layak; kesejahteraan lebih bagi para kelas pekerja dan orang mana pun yang ada di emperan jalan subordinat yang termarjinalkan, akan terkubur dalam-dalam. Mulai sirna dilahap keberangusan nilai moral yang dibuat-buat. Sebagai contoh, menerima apa adanya, mensyukuri yang telah diberikan, dan seterusnya, dan seterusnya. Padahal, ada ikhtiar, sebelum tawakal.
Di sisi lain, meski akhirnya tetap disalahpahami atau kemudian dimengerti, gerakan dan gagasan ini akan tetap bermekaran di dalam dada mereka yang memiliki cinta, sebab paham bahwa dunia ini milik bersama, maka menjaganya juga perlu upaya bersama. Mereka yang paham benar bahwa menyingkirkan ketertindasan dan ketimpangan adalah perjalanan panjang, namun tetap layak diupayakan.
Gagasan ini akan tetap tumbuh sebab tak perlu terlalu repot menggali angka kemiskinan di Badan Pusat Statistik–yang boleh dipercaya manipulatif dengan indikator-indikatornya yang telah bias sejak awal–ketika menyaksikan orang-orang tunawisma saja sudah cukup, ketika ketimpangan terlihat dengan jelas di Jl. Asia-Afrika, di Jl. Braga di Bandung, di Jl. Malioboro, dan jalan-jalan lainnya yang menyimpan luka dan dampak dari ketimpangan sistim yang menindas. Kemiskinan struktural yang mulai dipandang sebagai takdir belaka, juga masih menjadi alasan penting bagi penyadaran kolektif yang perlu dilakukan lebih masif.
Studi kasus yang tersebar di sekitar kita adalah cermin, menjadi perangkat untuk melihat mengapa gagasan pemberontakan perlu terus dibubuhkan. Perlawanan perlu tetap bermekaran sebagai bentuk penyadaran kolektif menuju transformasi sosial. Dan untuk dunia yang lebih layak huni.
Kita telah dipertontonkan kenyataan yang korup dan penuh tipu daya, maka sebenar-benarnya pemberontakan memang sudah sebaiknya terjadi, dengan terus memetakan ragam macam metode. Bisa jadi pada suatu ketika, non-violence menjadi cara yang efektif, bisa jadi pula pada taraf tertentu, violence bukan ide yang buruk. Metode perlu dibaca dengan jeli, agar tidak menjadi bumerang pada gerakan itu sendiri.
Kembali pada konteks awal, gagasan-gagasan yang disalahartikan ini tidak dibangun dalam ruang kosong, apalagi bebas nilai. Ia lahir dari kepentingan legitimasi perawatan kebohongan kekuasaan yang menindas. Dan semua itu, menjadi alasan kuat mengapa dekonstruksi definisi seperti ini menjadi penting.
Banyak sekali contoh, untuk kemudian mempercayai betapa banyak kemelaratan yang timbul sebagai buah dari kepatuhan buta terhadap kekuasaan, kepada pemerintah. Bacalah, sebab bisa jadi, kepatuhan ataupun kesopanan ialah ketidakbermoralan dan kebiadaban itu sendiri.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

