• Opini
  • Citra Rakyat Dedi Mulyadi

Citra Rakyat Dedi Mulyadi

Citra yang dibangun Dedi Mulyadi tidak cukup hanya berada di permukaan untuk menyenangkan rakyat di media sosial.

M Fauzi Ridwan

Peminat Kajian Budaya dan Media. Alumni Kajian Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad).

Media sosial, yang sekarang banyak digunakan oleh para pejabat, bukan teknologi netral. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

7 April 2026


BandungBergerak – Dedi Mulyadi mampu menampilkan citra positif sebagai pemimpin yang hadir, mendengar dan memberi solusi konkret di tengah-tengah rakyat selama satu tahun menjabat Gubernur Jawa Barat. Citra tersebut diperkuat oleh data lembaga Indikator Politik Indonesia yang merilis survei tentang tingkat kepuasan warga terhadap kinerja Dedi Mulyadi mencapai 95,5 persen.

Berbagai kegiatan yang diunggah di sejumlah platform media sosial, Dedi Mulyadi terlihat terjun langsung dan berinteraksi dengan rakyat. Ia mendengarkan dan menyimak berbagai keluhan mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga masalah infrastruktur pembangunan.  

Tiap bertemu dengan rakyat, Dedi Mulyadi menempatkan diri tidak lebih tinggi dari mereka. Ia tidak canggung berbicara bahasa Sunda untuk menunjukkan pesan dan makna bahwa dirinya setara dengan rakyat. Ia pun terbuka untuk dikerumuni rakyat yang mendukungnya tanpa penjagaan ketat. Itu menunjukkan kedekatannya dengan rakyat.

Ia pun tidak sungkan untuk mencium tangan ibu-ibu bahkan memeluk mereka untuk menunjukkan kepedulian kepada sosok yang dianggap mulia. Belum lama ini, ia tengah makan di resepsi pernikahan warga bersama kepala daerah lain di Jawa Barat saat mengecek kondisi infrastruktur jalan di jalur Selatan Jawa Barat. Ia tidak segan duduk berbaur, berdialog dengan rakyat sambil makan dan siap mendengarkan dalam berbagai situasi.   

Sambutan yang hangat dan meriah dari masyarakat di tiap kedatangannya ke daerah mengindikasikan sebagian rakyat mendukung dan mencintai Dedi Mulyadi. Ia pun selalu memperbaharui informasi tentang permasalahan yang dihadapi rakyat. Hal itu menunjukkan respon cepat pemimpin dalam mengatasi masalah.

Selain memberikan saran dan solusi, Dedi Mulyadi kerap memberikan sejumlah uang kepada rakyat yang membutuhkan dengan nominal ratusan ribu hingga belasan juta. Ia ingin menunjukkan dirinya memahami permasalahan rakyat dan memberikan solusi konkret.

Aktivitas Dedi Mulyadi mampu meraih simpati dan dukungan dari masyarakat Jawa Barat bahkan dari provinsi lainnya di seluruh Indonesia. Terbukti banyak komentar positif rakyat pada sejumlah platform media sosial miliknya dan media sosial rakyat lainnya yang mendukung Dedi Mulyadi.  

Channel Dedi Mulyadi di sejumlah platform media sosial saat ini memiliki pengikut yang besar seperti di YouTube Kangdedimulyadichannel memiliki 8,81 juta pengikut, channel dedimulyadiofficial di TikTok sebanyak 11,2 juta pengikut dan di Instagram dengan akun dedimulyadi71 sebanyak 6,4 juta pengikut.  

Aktivitas Dedi Mulyadi dengan rakyat yang diunggah di media sosial bukan hanya sebagai sebuah proses administratif. Akan tetapi, itu merupakan representasi politik yang dilakukan dengan sadar dan diatur untuk mendapatkan simpati dan dukungan.

Namun begitu, pengaruh Dedi Mulyadi belum mampu mendongkrak program-program Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi rakyat. Data Indikator politik Indonesia melaporkan pengentasan kemiskinan, akses bantuan permodalan dan masalah lingkungan masih berada di angka rata-rata 50 persen dibandingkan sektor lainnya yang mencapai di atas 80 persen.

Baca Juga: Wayang Golek, Ki Dalang, Cepot, Kabayan, tapi Nyi Iteung-nya Mana Kang Dedi?
Permasalahan Mengelola Emosi dalam Kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi
Estetika Bapak Aing

Representasi

Dalam perspektif kajian budaya populer Stuart Hall, konten Dedi Mulyadi merupakan praktik representasi di media sosial. Praktik itu dilakukan Dedi Mulyadi melalui sejumlah tahapan.

Pertama yaitu encoding (produksi) konten, Dedi Mulyadi dan tim tentu akan membahas konten-konten yang akan diproduksi dan diunggah di media sosial miliknya. Ia akan menyiapkan sejumlah atribut dan infrastruktur pendukung untuk mencapai tujuannya. Hall menegaskan proses encoding tidak netral karena dibentuk untuk kepentingan tertentu dan menghasilkan makna dominan.

Di lapangan, kameramen selalu berada di sampingnya untuk merekam aktivitas sebagai Gubernur Jawa Barat. Pilihan konten yang selalu muncul di media sosial Dedi Mulyadi mayoritas terkait isu warga pinggiran atau rakyat kecil yang tidak memiliki akses terhadap kekuasaan dan modal.

Tentu saja, pilihan untuk membuat konten bersama rakyat bukan tanpa alasan tapi ingin menunjukkan bahwa Dedi Mulyadi memiliki kedekatan dan keberpihakan. Kehadirannya di tengah-tengah rakyat adalah bukti ia selalu bersama rakyat.

Media sosial menjadi sarana pilihan utama untuk menyebarluaskan aktivitasnya mengingat data agensi berbasis sosial We Are Social tahun 2025 menunjukan sebanyak 180 juta penduduk Indonesia memiliki akun di media sosial. Selain itu, YouTube, Instagram, Facebook dan TikTok merupakan media sosial yang sering digunakan masyarakat di angka 80 persen ke atas. Tiap hari rata-rata 3 jam lebih masyarakat Indonesia menghabiskan waktu untuk bermain media sosial.

Tahap kedua, Dedi Mulyadi dan tim mengunggah video-videonya di media sosial dan berharap konten yang dibuat dengan tujuan mendapatkan simpati rakyat dapat diterima. Hasilnya, konten Dedi Mulyadi di berbagai platform media sosial banyak disukai rakyat.

Tahap ketiga, Stuart Hall mengatakan para penonton media sosial Dedi Mulyadi terkategori dalam tiga posisi. Mereka yang menerima dan setuju dengan seluruh konten dan gagasan yang diproduksi Dedi Mulyadi dalam posisi kode dominan hegemonik. Posisi kedua yaitu kode dinegosiasikan seperti penonton mengapresiasi dan mendukung langkah Dedi Mulyadi tentang pembangunan infrastruktur di sejumlah wilayah di Jawa Barat. Namun, mereka tetap mengeluhkan kondisi jalan di kotanya masing-masing yang masih jelek dan meminta perhatian untuk segera diperbaiki.  

Posisi terakhir, penonton dengan kode oposisional yaitu masyarakat mengetahui aktivitas Dedi Mulyadi dan yang dilakukannya. Akan tetapi, tidak serta merta setuju dengan apa yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat itu.

Catatan Kritis

Aktivitas Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat yang diunggah ke media sosial bukan hanya untuk memberikan pesan bahwa ia sedang bekerja. Akan tetapi lebih jauh, ia tengah membangun makna citra tentang seorang penguasa yang hadir, mendengar dan memberikan solusi bagi rakyat.

Salah satu jargon yang menonjol saat ini adalah frasa Bapak Aing wujud kehadiran Dedi Mulyadi di tengah-tengah masyarakat. Jargon politik tersebut menunjukkan gaya kepemimpinan paternalistik yang memiliki relasi kuasa cenderung dominan dan minim partisipasi. 

Kehadiran Dedi Mulyadi di tengah-tengah rakyat tentu patut kita apresiasi. Namun begitu, yang perlu dikritisi bahwa Dedi Mulyadi adalah seorang penguasa. Ia memiliki kekuasaan untuk menentukan sebuah kebijakan untuk rakyat.

Selain itu, ia memiliki harta kekayaan hampir mencapai Rp 23 miliar pada bulan Desember tahun 2024 berdasarkan data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sering kali, ia pun mengkritik rakyat yang tengah bermasalah. Hal-hal itu menunjukkan Dedi Mulyadi dengan rakyat masih memiliki jarak struktural.

Dengan fakta itu, citra yang dibangun Dedi Mulyadi tidak cukup hanya berada di permukaan untuk menyenangkan rakyat di media sosial. Ia harus lebih dalam mampu mengatasi permasalahan dasar yang tengah dihadapi rakyat Jawa Barat mulai dari pengangguran, PHK, kemiskinan dan membuat rakyat hidup sejahtera melalui kebijakan struktural.

Survei Lembaga Indikator Politik Indonesia menyebutkan satu tahun kepemimpinan Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa program Pemprov Jabar yang masih bergerak pelan dan belum mendapatkan angka baik yaitu pengentasan kemiskinan, bantuan permodalan kepada masyarakat hingga pengelolaan sampah. Citra Dedi Mulyadi di media sosial yang terus menerus dilakukan berpotensi menjadi pengkultusan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//