• Berita
  • Dari Panggung ke Kampus, Cara Skena Hardcore Bandung Bertahan di Tengah Krisis Venue

Dari Panggung ke Kampus, Cara Skena Hardcore Bandung Bertahan di Tengah Krisis Venue

Krisis venue sejak lama memaksa skena musik bawah tanah Bandung beradaptasi. Dari akustik yang buruk hingga solidaritas komunitas, jadi bagian dari cara bertahan.

Konser musik hardcore di gelanggang olahraga Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, 14 April 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam16 April 2026


BandungBergerak - Krisis venue di Bandung mendorong skena musik hardcore mencari ruang alternatif. Kampus menjadi salah satu pilihan paling memungkinkan, meski bukan tanpa kekurangan.

Selasa sore, 14 April 2026, gelanggang olahraga Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), di kawasan Buah Batu berubah fungsi. Ruang yang biasanya digunakan untuk aktivitas kampus itu dipadati ratusan anak muda yang datang untuk menyaksikan konser musik keras bertajuk Now a Youth Fest.

Delapan band tampil dalam acara tersebut, termasuk Contention, band straight edge hardcore asal Florida, Amerika Serikat. Acara sempat mundur satu jam dari jadwal karena kendala teknis.

Band pembuka Feit asal Pandaan, Jawa Timur, langsung memanaskan suasana dengan musik tempo cepat. Energi semakin meningkat saat band Kenya dari Bali naik panggung. Band lokal yang pernah tampil di Outbreak Fest Inggris 2025 itu membuat penonton saling bertabrakan dalam ritme yang intens, menciptakan kekacauan terkendali violance dance.

Memasuki penampilan Contention sebagai penutup, suasana tidak mereda. Diiringi album Artillery Form Heaven, penonton terus bergerak, melompat dan menghantam udara mengikuti musik. GOR yang biasanya sunyi berubah menjadi arena penuh adrenalin.

Di tengah kerasnya musik dan riuhnya mosh pit, sebagian penonton menunjukkan tanda X di kedua tangan, sebagai penanda bahwa mereka menjalani gaya hidup straight edge. Prinsip hidup ini berkembang dari subkultur hardcore yang menolak konsumsi alkohol, rokok, narkotika. Contention merupakan salah satu band yang mengusung konsep ini.

Namun, ruang yang bukan dirancang untuk konser menghadirkan persoalan. Suara terdengar memantul, akustik kurang jelas, dan tempo kerap terasa tidak stabil. Kondisi ini memperlihatkan keterbatasan ruang-ruang konser musik di Bandung secara umum.

Krisis Venue dan Pilihan Terbatas

Pendiri kolektif For Fortuna, Arga Infantaria Putra, menyebut mahalnya biaya sewa venue sebagai masalah utama konser musik.

“Ada juga (vanue) yang baru tapi harganya mahal,” terang Arga kepada BandungBergerak di sela-sela acara.

Kondisi ini berdampak pada harga tiket yang ikut meningkat. Dalam acara ini, tiket dijual mulai 150 ribu rupiah hingga 300 ribu rupiah. Di sisi lain, pilihan tempat semakin menyempit. Beberapa venue tidak lagi terjangkau atau lokasinya jauh dari pusat kota.

Situasi tersebut memaksa penyelenggara mencari alternatif. Melalui jejaring komunitas, For Fortuna akhirnya mendapatkan akses menggunakan fasilitas kampus ISBI.

“Jadi peran komunitasnya sangat berperan gitu,” ujar punggawa band Prejudize itu.

Ini menjadi kali pertama mereka menggelar acara di lingkungan kampus sejak berdiri pada 2020.
Musisi juga merasakan dampaknya. Kevin Raf Sanjani, gitaris band Bleach, menilai kualitas ruang sangat memengaruhi penampilan. Kalau tempatnya terlalu besar tanpa peredam, suara jadi memantul. Tempo bisa terasa kacau.

Meski demikian, ia menilai skena musik bawah tanah lebih mengandalkan solidaritas komunitas dibanding dukungan pemerintah.

“Ujung-ujungnya movement itu digerakan oleh scene yang saling bisa menguatkan,” ucapnya.

Baca Juga: Balcony dan Homicide Membumikan Musik ke Akar Rumput
Tribute untuk Paes dari Gigs Bawah Tanah Unisba

Krisis Panggung Sejak 2008

Krisis ruang pertunjukan di Bandung tidak muncul tiba-tiba. Tragedi konser band Beside di Gedung Asia Africa Cultural Center (AACC), kini De Majestic, pada 2008 menjadi titik balik. Dalam peristiwa itu, sepuluh orang meninggal akibat berdesakan di ruang tertutup.

Sejak saat itu, musik keras kerap distigmatisasi sebagai berbahaya. Sejumlah pengelola tempat enggan menyewakan ruang untuk konser, dan kegiatan gigs sempat vakum selama beberapa tahun.

Baru di tahun 2011, era gigs bermunculan kembali. Orang muda saat itu memilih alternatif lain selain gedung AACC, misalnya ke kampus-kampus atau studio. Ada juga tempat khusus seperti Spasial di Gudang Selatan, tetapi hanya bertahan empat tahun saja dari 2015-2019.

Saat ini banyak gigs dihelat di auditorium milik Institute Francis Indonesia (IFI), Jalan Purnawarman. Tetapi tak semua kolektif gigs mampu menghelat acara di sana karena keterbatasan biaya.

Bagi skena hardcore Bandung, menggunakan fasilitas kampus bukanlah pilihan terbaik, melainkan pilihan yang tersedia. Di tengah krisis venue yang belum teratasi, ruang-ruang seperti ini tetap membuka kemungkinan. Selama musik terus dimainkan dan komunitas tetap terhubung, skena akan mencari cara untuk bertahan, meski tanpa panggung yang benar-benar dirancang untuk mereka.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//