• Narasi
  • Dulu Luwak Dibenci, Kini Banyak Dicari

Dulu Luwak Dibenci, Kini Banyak Dicari

Hewan luwak membantu menyebarkan dan menyemaikan benih-benih biji aren dan kopi di alam. Luwak juga berperan penting dalam produksi kopi dengan cita rasa tinggi.

Johan Iskandar

Dosen, peneliti lingkungan, serta pegiat Birdwatching di Universitas Padjadjaran (Unpad). Penulis bukuKisah Birdwatching, ITB Press (2025)

Hewan luwak atau Paradoxurus hermaproditus Pallas, Famili Viverridae. (Foto: Deden Nurjaman)

18 April 2026


BandungBergerak – Penduduk di berbagai etnis di dunia secara lintas budaya memiliki pandangan negatif terhadap beberapa jenis hewan di alam atau di ekosistem. Di Spanyol misalnya, banyak orang yang memandang negatif dan mengutuk serigala. Sementara di beberapa negara Afrika, banyak penduduk menganggap bahwa macan tutul hewan jahat. Bagaimana dengan di Indonesia? Kasusnya hampir serupa dengan di negara-negara lain. Misalnya banyak orang di Indonesia memandang negatif terhadap luwak atau musang. Ada peribahasa populer di Indonesia yang berkaitan dengan musang. Contohnya, “musang berbulu ayam”. Peribahasa tersebut dapat dimaknai sebagai “orang jahat, tetapi berperilaku seolah-olah orang baik”. Peribahasa tersebut merepresentasikan pandangan umum dan kesan kuat di masyarakat bahwa luwak dikenal sebagai hewan jahat karena sering memangsa ayam piaraan penduduk.

Hewan luwak punya nama ilmiahnya Paradoxurus hermaproditus Pallas, Famili Viverridae, atau dalam bahasa asing disebut common civet (Inggris) atau koffie rat/gewone palm marter (Belanda). Luwak juga memiliki banyak sebutan di berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya careuh (Sunda), luwak awu (Jawa), masseng (Madura), munin (Punan Benaluy, Kalimantan Utara), bunin (Kenyah Badeng, Kalimantan Timur) caro bulan (Maluku), detitiran (Aru), dan Ale (Kei),

Pandangan negatif terhadap hewan luwak tidak sepenuhnya benar. Sejatinya luwak juga dapat menguntungkan manusia di ekosistem. Misalnya, luwak dapat membantu menyebarkan dan menyemaikan benih-benih biji aren (Arenga pinnata L.) di alam. Luwak sebagai hewan aktif di malam hari (nocturnal), gemar memanjat pohon (arboreal) , doyan memakan buah-buah aren (caruluk), dan minum tuak dari pohon aren yang biasa disadap penduduk desa. Lantas, ketika luwak membuang kotoran di berbagai habitat, seperti hutan sekunder, ladang dan kebun-kebun campuran (talun), biji-biji aren dari kotorannya dapat bersemai dan tumbuh dengan baik.  

Dari pengalaman penduduk desa bahwa biji-biji aren dari kotoran luwak biasanya lebih mudah tumbuh. Dan tumbuhnya pun lebih baik dibandingkan biji-biji yang sengaja ditanam penduduk. Penyebabnya, biji-biji aren di dalam perut luwak mengalami  fermentasi dengan bantuan enzim pencernaannya. Akibatnya, biji-biji aren di dalam kotoran luwak tersebut hilang sifat dormansinya sehingga menjadi mudah tumbuh. Oleh karena itu, tidaklah heran bahwa hampir sebagian besar pohon-pohon aren yang tumbuh liar atau setengah liar di berbagai habitat, seperti huma, kebun, kebun campuran (talun), dan hutan sekunder di Tatar Sunda, utamanya hasil jasa hewan luwak. Selain membantu penyebaran biji-biji aren, luwak juga dianggap penting dalam proses menghasilkan produksi “kopi luwak”–kopi dengan beraroma khas dan lezat rasanya dan banyak dicari orang di dalam negeri ataupun di mancanegara dengan harga sangat tinggi.

Tanaman kopi pada sistem agroforestri Hutan Kampung (Dukuh Lembur) yang rimbun di Baduy Luar. (Foto: Johan Iskandar)
Tanaman kopi pada sistem agroforestri Hutan Kampung (Dukuh Lembur) yang rimbun di Baduy Luar. (Foto: Johan Iskandar)

Tanaman Kopi

Ditilik dari sejarah etnobotani–kajian ilmiah tentang pengetahuan penduduk mengenai botani, telah diketahui bahwa sejatinya kopi arabika (Coffea arabica L.), Famili Rubiaceae berasal dari Ethiopia. Tanaman kopi ditemukan oleh orang Eropa pada masa penjelajahan Columbus. Perjalanan Columbus dari Eropa ke negara-negara Dunia Baru, Asia, Amerika Latin, dan Afrika pada abad ke-15 hingga abad ke-19, telah menemukan berbagai tumbuhan nilai ekonomi bahan perdagangan dan bahan obat-obatan yang telah banyak dimanfaatkan oleh penduduk pribumi (Iskandar, 2018).  Maka, dari sejarah penjelajahan orang-orang barat ke Dunia Baru, di antaranya   telah menjadi cikal bakal berkembangnya bidang ilmu baru yang disebut Etnobotani (Cotton 1996). Tanaman kopi dari Ethiopia selanjutnya diintroduksikan ke Eropa. Pada akhirnya, kopi telah  menjadi salah satu komoditas penting di dunia dengan nilai ekonomi tinggi pada abad ke-16.

Sejak masa itu, tanaman kopi mulai dikembangkan secara besar-besaran di berbagai negara karena menguntungkan. Misalnya, tanaman kopi dibudidayakan besar-besaran di Pulau Jawa di antaranya lewat program tanam paksa (cultuurselsel) pada tahun 1830-1870. Lewat program tanam paksa, misalnya, pada tahun 1834 di Pulau Jawa, kopi telah berhasil ditanam sekurangnya 506.754 pohon kopi muda, dan 59.911.029 pohon kopi yang telah berproduksi. Pada umumnya, tanaman kopi di Pulau Jawa biasa dibudidayakan di lahan-lahan hutan yang subur, dengan menggunakan buruh tenaga kerja paksa penduduk lokal. Mereka harus kerja selama 66 hari dalam setiap tahunnya.

Pada perkembangan selanjutnya, kopi juga ditanam di luar Pulau Jawa, seperti di Sumatra Barat dan Sulawesi Tengah Utara (Geertz 1963). Dewasa ini, paling tidak ada dua jenis kopi yang biasa  dibudidayakan, yakni kopi Arabika (Coffea arabica L.) dan kopi robusta (Coffea robusta Linden atau sinonimnya Coffea canephora Pierre ex Froehner). Kedua jenis kopi tersebut memiliki kekhususan sifat hidupnya terhadap iklim, ketahanan terhadap penyakit, dan produksinya. Pada umumnya kopi arabika dianggap memiliki mutu paling baik. Tetapi, keuntungan kopi robusta dapat memberikan hasil lebih banyak, dan tahan terhadap penyakit, serta tumbuh pada ketinggian tempat yang lebih rendah.

Pada masa lalu, sejatinya pemilihan jenis kopi yang ditanam pemerintah dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas kopi, sehingga tanaman kopi dibudidayakan secara monokultur. Namun, sejatinya kopi biasa dibudidayakan di lahan ladang (huma) di ekosistem hutan dengan banyak naungan pepohonan. Budidaya kopi lebih sesuai diadaptasikan dengan ditanam di bawah naungan pepohonan. Sistem budidaya kopi di bawah naungan biasanya berhasil dengan baik. Berbagai pohon penaung mempunyai fungsi penting, yaitu melindungi kopi dari pengaruh sinar matahari langsung. Pada kondisi cahaya matahari penuh tanpa naungan pepohonan dapat memacu tanaman kopi untuk berproduksi lebih cepat. Namun, sebaliknya pohon-pohon kopi yang ditanam di bawah naungan pepohonan, produksi kopi akan berjalan secara bertahap dalam rentang waktu cukup panjang. Keuntungannya, secara keseluruhan kopi yang ditanam ternaungi biasanya menghasilkan produksi lebih banyak.

Selain itu, pohon-pohon kopi yang ditanam di bawah naungan, berpengaruh positif terhadap aroma kopi. Pasalnya, pematangan biji kopi terjadi lebih lambat dan lebih banyak menghasilkan senyawa aromatik dalam biji-biji kopi. Tanaman kopi yang dibudidayakan dalam pola agroforestri tradisional–ditanam dipadukan dengan pepohonan kayu–selain menghasillkan produksi kopi juga pro-lingkungan. Hal tersebut karena adanya campuran tanaman kopi dengan pohon-pohon kayu lainnya dapat membentuk tajuk vegetasi berlapis-lapis (multistrata) menyerupai strata vegetasi hutan alami. Imbas positifnya, pola tersebut dapat menjaga kesuburan tanah karena adanya tajuk vegetasi rimbun yang berlapis-lapis. Permukaan tanah kemudian terlindungi dari bahaya erosi tanah akibat tumbukan tenaga kinetik air hujan yang jatuh. Selain itu, adanya kerimbunan vegetasi, dapat menghasilkan seresah, berupa ranting-ranting dan daun-daun kering yang jatuh ke tanah dan membusuk menjadi humus. Apalagi kalau pepohonan naungan kopi tersebut, dipilih jenis-jenis tanaman Famili Leguminosae (kacang-kacangan). Misalnya, petai cina (Leucaena leucocephala), petai (Parkia speciosa), jengkol (Archidendron pauciflorum), albasiah (Falcataria moluccana), jeungjing (Albizia chinensis), kihiang (Albizia procera) dan kihujan (Samanea saman) sangat menguntungkan secara ekonomi dan lingkungan. Secara ekonomi, misalnya, dari pohon jengkol, petai, dan petai cina dapat dipungut buahnya untuk sumber lalapan/sayur. Sementara bagi lingkungan, jenis pepohonan tersebut  dapat membantu  menyuburkan tanah. Pasalnya, pada akar-akar pepohonan Famili Leguminsosae memiliki bintil-bintil bakteri Rhizobium yang dapat mengikat nitrogen (N) bebas dari udara.

Bukan hanya itu, dari bukti empiris di lapangan, seperti kasus di Lampung, menunjukkan bahwa sistem agroforestri kopi multistrata dapat berfungsi penting sebagai habitat satwa liar di alam, khususnya bagi aneka ragam jenis burung. Dengan adanya multistrata kanopi tajuk vegetasi berkorelasi positif dengan keanekaragaman jenis burung  (O’Connor et. al,. 2005). Kasus serupa juga dibuktikan pada sistem agroforestri kopi di Desa Cijambu, Tanjungsari, Sumedang,  bahwa indeks keanekaragaman jenis burung di agroforestri kopi sangat tinggi (H’=2.97), hampir sama dengan indeks keanekaragaman jenis burung di kawasan hutan alami  (H’=2.96). Padahal, di kawasan kebun sayur yang tidak memiliki stratifikasi tajuk pohon rimbun berlapis-lapis, indeks keanekaragaman jenis burungnya rendah (H’=2.56) (Suroso et al. 2023). Pengaruh adanya dari kerimbunan tajuk vegetasi yang menyerupai hutan alami  pada sistem agroforestri kopi sangat baik untuk habitat aneka ragam jenis-jenis burung.

Baca Juga: Keberadaan Ayam Kampung yang Kian Terdesak
Hilangnya Burung Jalak Suren di Ekosistem Perdesaan
Bertani di Lahan Surutan Waduk Jatigede dan Risiko Perubahan Iklim

Kopi Luwak

Sementara itu, kini hewan luwak banyak dicari penduduk. Hewan itu tidak sepenuhnya dibenci lagi, kehadirannya malah sangat diharapkan. Luwak dianggap menguntungkan karena dapat menyebarkan biji-biji aren dan biji-biji kopi. Bahkan dari biji-biji kopi yang dipungut dari kotoran luwak dapat menghasilkan kopi luwak yang beraroma dan cita rasa tinggi.

Ditilik dari sejarah ekologi, kalau pada masa dulu, kopi luwak diproduksi penduduk desa dengan sekedar dari hasil memungut biji-biji kopi dari kotoran luwak dan utamanya  untuk konsumsi sendiri dalam keluarga. Namun, kini banyak petani kopi seperti di Jawa Barat dan Lampung dengan sengaja memelihara luwak di kandang-kandang khusus untuk memproduksi kopi luwak. Caranya hewan luwak tersebut dipiara di kandang-kandang dan diberi pakan biji-biji kopi hasil panen dari kebun-kebun kopi.  Pada umumnya, biji-biji kopi yang dimakan luwak adalah biji kopi matang dan baik. Biji-biji kopi matang tersebut daging buahnya dicerna, tetapi kulit ari dan bijinya masih tetap utuh dan tidak tercerna. Biji-biji kopi tersebut biasanya mengalami fermentasi dalam perut luwak secara optimal pada temperatur sekitar 240-360 dengan dibantu enzim dan bakteri pada pencernaan luwak. Pengaruhnya, kandungan protein kopi luwak lebih rendah ketimbang kopi biasa karena telah mengalami perombakan protein dan protein lebih optimal. Biasanya protein berperan sebagai pembentuk rasa pahit saat biji kopi disangrai. Oleh karena itu, kopi luwak memiliki cita rasa tidak pahit seperti kopi biasa karena kandungan proteinnya rendah.

Pada umumnya meskipun sejatinya kopi luwak telah dikenal lama di masyarakat pedesan di Pulau Jawa. Tetapi, kopi luwak populer dan berkembang menjadi bisnis menguntungkan dikenal sejak 1980-an. Kepopuleran kopi tersebut tidak saja di dalam negeri, tetapi juga di mancanegara. Bahkan, kini kopi luwak menjadi kopi termahal di dunia. Pada tahun 2025, biji-biji kopi luwak robusta termurah laku di jual Rp100 ribu hingga Rp350 ribu  per kilogram dan termahal mencapai Rp1 juta hingga Rp1,6 juta per kilogram, bahkan sampai Rp60 juta. Sementara, kopi di ekspor ke luar negeri,  memiliki harga mahal, laku dijual sekitar 320–500 dolar AS per kilogram, bahkan lebih.     

Imbas dari populernya kopi luwak, mengubah pandangan  pada hewan tersebut. Dulu luwak dipandang negatif dan dibenci oleh penduduk perdesaan, tetapi kini hewan tersebut bukan lagi dimusuhi, malah banyak dicari, guna dijadikan komponen penting dalam memproduksi kopi luwak yang terkenal untuk bisnis di nasional, maupun  bisnis global.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//