Jejak KAA di Tengah Deru Perang, Dasasila Bandung Digaungkan Kembali
Peringatan KAA ke-71 di Bandung diwarnai aksi jalan kaki dan suara solidaritas untuk Palestina, Iran, dan Lebanon. Mendesak Indonesia keluar dari Board of Peace.
Penulis Prima Mulia20 April 2026
BandungBergerak - Penari sufi meliuk berputar selama perjalanan dari monumen Dasasila Bandung ke monumen Asia Afrika dalam aksi Asia Afrika Berkabung Pestipal untuk mengecam keterlibatan Amerika-Israel dalam konflik di Palestina, Iran, dan Libanon, di Bandung, 18 April 2026.
Sekitar 100-an orang peserta aksi berjalan kaki dari monumen Dasila Bandung ke monumen Asia Afrika atau Palestine Walk. Aksi yang diikuti berbagai elemen masyarakat ini juga sebagai bagian dari peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-71 yang jatuh pada 18 April 2026.
Sambil mengusung bendera Palestina raksasa, spanduk, dan poster-poster protes, iring-iringan massa melewati Gedung Merdeka yang kusam. Tak seperti biasanya, tiang-tiang bendera yang mengelilingi Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia Afrika hari itu terlihat polos, tanpa bendera-bendera besar negara peserta KAA 18 April 1955.
Di antara kepadatan lalu lintas malam Minggu di sekitar alun-alun, riuh suara orasi dari pelantang dan suara-suara kritis bisu dalam poster dan spanduk, berbaur dengan hilir mudik pelancong, anak-anak muda, dan wisatawan, aksi ini seperti mengingatkan masih banyak negara-negara di Asia Afrika yang tetap diam, saat negara kuat seperti AS dan Israel yang begitu bebas mencaplok kedulatan negara lain.
Beberapa poster dan narasi yang digaungkan saat orasi adalah desakan agar Indonesia keluar dari Board of Peace (BOP) bentukan AS. Di satu sisi Indonesia mendukung pembebasan Palestina, di sisi lain malah ikut mendukung AS dengan BOP-nya yang jelas berpihak ke Israel.
Dimulai dari monumen Dasasila dan berakhir di Palestine Walk dan monumen bola dunia Asia Afrika, titik paling strategis di sekitar kawasan Alun-Alun Kota Bandung dan Jalan Asia Afrika, titik di mana semua kendaraan dan pelancong datang dari berbagai arah.
"Poin-poin Dasasila Bandung adalah jawaban dan solusi bagi situasi geopolitik saat ini di tengah serangan AS dan Israel ke Iran dan Lebanon, dan penyelesaian konflik di Palestina di mana genosida terus terjadi sampai saat ini. Ini juga seharusnya jadi sikap politik yang jelas dari negara kita, tidak ambigu, dan juga untuk negara-negara di Asia Afrika lainnya," kata Wanggi Hoed, salah seorang penggagas aksi dari Solidaritas Seni Untuk Palestina.
Baca Juga:Diskusi Buku Antony Loewenstein di Bandung: Membedah Bisnis Senjata Israel, Palestina Sebagai Laboratorium Uji Coba
Mengingat Palestina Lewat Layar, Menuntut Kemerdekaan dengan Turun ke Jalan
Dikutip dari sari siaran resminya, hingga saat ini lebih dari 10.000 tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel termasuk 400 anak-anak. Semua ditahan di bawah sistem pengadilan militer.
Menurut beberapa organisasi hak asasi manusia, penyiksaan, pemerkosaan, kelaparan, dan dehumanisasi bersifat sistemik terjadi di seluruh Palestina. Perang AS-Israel dengan Iran dan Lebanon yang berkepanjangan memperparah situasi geopolitik yang berdampak pada sektor ekonomi dan energi dunia.
Serangan Israel ke Lebanon menyasar target militer, warga sipil, paramedis, termasuk beberapa insiden yang menyasar wartawan dan tentara perdamaian PBB. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan setidaknya 1.953 orang tewas dan 6.303 lainnya terluka.
Di Iran, serangan koalisi AS-Israel menewaskan lebih dari 3.000 orang. Angka-angka ini bukan sekedar statistik, tapi jadi cermin bagaimana hegemoni AS-Israel mampu membungkam negara-negara lain bahkan PBB sekalipun.
Sore itu aksi diramaikan oleh para seniman dan musisi, Adew Habsta, Gegedejeha, Rozenski, Bob Anwar, Loenar van Hail, serta penari Gatot dan pelukis Asep Berlian. Spanduk dan poster tetap tegak berdiri, Stop Us-Israel Terror. All Out for Lebanon, Gaza, Iran.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


