• Opini
  • Uang, Negara, Aturan, dan HAl-hal Lain yang Kita Percaya tanpa Pernah Disepakati

Uang, Negara, Aturan, dan HAl-hal Lain yang Kita Percaya tanpa Pernah Disepakati

Manusia hidup dari cerita. Cerita membuat orang percaya pada uang, pada negara, pada aturan, bahkan pada masa depan yang belum pernah mereka lihat

Dea Rahmat S

Penulis esai reflektif dan opini sosial.

Ilustrasi. Kata bisa mengeskpresikan beragam makna. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

20 April 2026


BandungBergerak – Tidak ada yang pernah meminta saya menandatangani persetujuan untuk mempercayai uang. Tapi setiap hari, saya menukarnya dengan waktu, tenaga, dan rasa lelah. Saya menukarnya bukan karena percaya sepenuhnya, melainkan karena hidup (pelan-pelan) menuntut saya melakukannya. Kadang terasa seperti kontrak yang sudah berjalan lama, hanya saja tidak ada yang ingat kapan tepatnya kita menandatanganinya.

Saya tidak tahu kapan tepatnya saya belajar bahwa selembar kertas bisa menentukan nilai sebuah benda. Tidak ada momen khusus yang bisa ditunjuk. Ia datang bersama kebiasaan. Orang tua memberi contoh, sekolah menegaskan, dan dunia di luar sana berjalan seolah semuanya memang begitu. Alasannya bisa dijelaskan secara ekonomi, sejarah, bahkan ilmiah. Tapi dalam keseharian, penjelasan itu jarang dipertanyakan. Kita lebih sibuk memastikan uang itu cukup daripada bertanya kenapa ia begitu dipercaya.

Begitu juga dengan banyak hal lain. Kita percaya jam kerja delapan jam adalah batas yang masuk akal. Kita percaya bahwa garis di peta adalah tanda wilayah yang bisa kita kunjungi dan tidak bisa kita kunjungi. Kita percaya suara harus diturunkan di ruangan tertentu. Kita percaya ada naskah-naskah yang harus ditaati. Kita percaya keberhasilan bisa diringkas menjadi angka-angka.

Tidak ada satu pun dari itu yang berdiri sendiri. Semuanya hidup karena dipercayai bersama.

Baca Juga: Musuh Imajinatif Negara
Disarankan Di Bandung: Negara Kecil di Bibir Jurang
Saat Negara Tidak Dipercaya, Rumor Jadi Panutan

Cerita yang Disepakati Bersama

Dalam bukunya Homo Sapiens, Yuval Noah Harari menulis bahwa manusia mampu bekerja sama dalam jumlah besar bukan karena kita paling kuat atau paling cerdas, melainkan karena kita mampu mempercayai hal-hal yang sebenarnya tidak benar-benar ada secara fisik. Uang, negara, perusahaan, bahkan hukum adalah semacam cerita yang disepakati bersama. Cerita itu menjadi nyata bukan karena bendanya kuat, tetapi karena cukup banyak orang memutuskan untuk memperlakukannya sebagai sesuatu yang nyata.

Jika suatu hari semua orang sepakat bahwa uang hanyalah kertas, maka ia benar-benar hanya akan menjadi kertas. Tapi sampai hari itu tiba (yang tampaknya tidak akan datang dalam waktu dekat) kita akan tetap bangun pagi, bekerja, lalu menukarkan hidup kita dengannya.

Banyak hal berjalan bukan karena bendanya, melainkan karena kepercayaan yang menyertainya. Kita percaya ijazah mewakili kemampuan. Kita percaya garis antrean menentukan siapa yang lebih dulu dilayani, meski sesekali ada seseorang yang datang belakangan, berbincang sebentar dengan petugas, lalu tetap dilayani juga. Antrean tidak runtuh karenanya. Ia hanya sedikit menyesuaikan diri, seolah berkata bahwa aturan memang penting, tetapi tidak selalu sama untuk semua orang. Kita melihat kejadian seperti itu cukup sering, tetapi tetap berdiri rapi di belakang garis yang sama. Mungkin karena kita percaya pada aturan itu. Mungkin juga karena kita tidak ingin repot berdebat dengan petugas yang sudah terlihat lelah sejak pagi.

Yang menarik, kepercayaan semacam ini jarang terasa seperti paksaan. Ia tidak datang sebagai larangan keras. Ia diwariskan pelan-pelan, lewat kebiasaan. Lewat kalimat sederhana seperti “memang begitu aturannya”. Lewat rasa malu kalau tidak ikut. Lewat ketakutan kecil ketika keluar barisan. Ancaman biasanya tidak perlu terlalu keras. Cukup dengan kemungkinan dipersulit, disingkirkan, atau sekadar dianggap aneh oleh orang lain.

Seorang sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, menyebut pola semacam ini sebagai habitus. Ia adalah kumpulan kebiasaan yang begitu lama kita hidupi sampai terasa alami. Kita tidak merasa sedang mengikuti aturan. Kita hanya merasa sedang menjalani hidup seperti biasa. Cara berpakaian di kantor, cara duduk di ruang kelas, cara berbicara kepada atasan, semuanya terasa wajar karena kita telah lama dilatih untuk melakukannya. Habitus bekerja dengan cara yang halus. Ia tidak memerintah secara terang-terangan. Ia hanya membuat beberapa pilihan terasa lebih masuk akal daripada pilihan lainnya. Dalam banyak kasus, kita tidak merasa dipaksa. Kita hanya merasa bahwa itulah cara yang “paling normal”.

Kita tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk percaya. Kita tumbuh di dalam kepercayaan itu.

Manusia Hidup dari Cerita

Saya pernah mencoba menelusuri keputusan-keputusan yang saya anggap penting dalam hidup. Memutuskan untuk tidak bersantai di hari selain Sabtu dan Minggu. Pendidikan yang dipilih karena dianggap aman. Keinginan yang ditunda karena “belum waktunya”. Cara menilai diri sendiri dengan ukuran yang bahkan tidak pernah saya rumuskan sendiri. Di banyak titik, yang saya temukan bukan pertimbangan matang, melainkan kepatuhan yang berjalan rapi.

Tidak ada yang sepenuhnya salah dengan keadaan ini. Tanpa kesepakatan bersama, hidup akan kacau. Tanpa cerita yang dipercayai bersama, orang mungkin tidak akan mau berdiri dalam antrean, tidak akan percaya pada uang, tidak akan patuh pada hukum, dan tidak akan bekerja dalam sistem yang sama. Dunia akan jauh lebih berisik daripada sekarang.

Tetapi kepercayaan yang tidak pernah disentuh ulang juga menyimpan risikonya sendiri. Kita bergerak tertib, tetapi jarang bertanya ke mana. Kita merasa wajar, padahal hanya terbiasa. Kita menjalani banyak aturan seolah semuanya lahir dari pilihan pribadi, meskipun sebagian besar sebenarnya hanya warisan sosial yang sudah terlalu lama berjalan.

Barangkali memang bukan soal membongkar semuanya. Bukan soal menolak uang, jam kerja, atau cara berpenampilan. Dunia tidak selalu perlu direvolusi setiap pagi. Cukup menyadari bahwa sebagian hal yang kita patuhi tidak lahir dari keyakinan pribadi, melainkan dari cerita yang diwariskan tanpa pernah meminta persetujuan kita.

Manusia hidup dari cerita. Cerita membuat orang percaya pada uang, pada negara, pada aturan, bahkan pada masa depan yang belum pernah mereka lihat. Dan seperti cerita lain, sebagian bekerja dengan baik. Sebagian lagi mungkin hanya terus bertahan karena kita terlalu sibuk menjalani hidup untuk berhenti sejenak dan menanyakannya. Kadang yang dibutuhkan bukan perubahan besar. Kadang cukup satu jeda kecil ketika kita berhenti sejenak, lalu bertanya dalam hati: apakah ini masih sesuatu yang benar-benar kita percaya, atau hanya sesuatu yang terus kita jalani karena semua orang melakukannya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//