CERITA GURU: Darurat Perundungan Dunia Pendidikan
Ketika nilai-nilai kemanusiaan mulai diabaikan, maka perilaku menyimpang seperti perundungan (bullying) akan semakin mudah tumbuh.

Insan Faisal Ibrahim
Guru di salah satu Madrasah Swasta di Kabupaten Garut Jawa Barat
22 April 2026
BandungBergerak – Praktik bullying (perundungan) di lingkungan pendidikan hingga hari ini masih menjadi persoalan serius yang sulit dihilangkan. Fenomena ini seakan terus berulang, bahkan dalam bentuk yang semakin kompleks seiring perkembangan zaman. Dari ejekan verbal yang dianggap “candaan”, tindakan pengucilan, hingga kekerasan fisik yang nyata, bullying telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi tumbuh kembang peserta didik.
Ironisnya, dalam beberapa kasus, bullying tidak hanya meninggalkan luka psikologis mendalam, tetapi juga berujung pada hilangnya nyawa korban. Kondisi ini jelas menjadi lampu merah bagi dunia pendidikan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman untuk belajar dan bertumbuh justru terkadang menjadi ruang yang menakutkan bagi sebagian siswa. Hal ini menandakan adanya krisis karakter yang semakin nyata, di mana nilai-nilai adab, empati, dan rasa saling menghargai mulai terkikis. Generasi muda yang seharusnya dibekali dengan akhlak mulia, justru terjebak dalam perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Salah satu faktor utama yang membuat bullying sulit diberantas adalah lingkungan. Anak-anak tidak tumbuh dalam ruang kosong. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan alami setiap hari. Ketika lingkungan keluarga kurang memberikan teladan yang baik, seperti komunikasi yang kasar, kekerasan verbal, atau bahkan fisik, maka anak cenderung meniru perilaku tersebut. Apa yang dianggap “biasa” di rumah, akan terbawa ke sekolah dan lingkungan sosial lainnya. Selain itu, lingkungan masyarakat juga memiliki peran besar.
Budaya yang permisif terhadap perilaku merendahkan orang lain, candaan yang mengandung unsur penghinaan, serta kurangnya kepedulian terhadap sesama, turut memperkuat akar masalah bullying. Tidak jarang, tindakan bullying dianggap sebagai hal sepele atau bagian dari proses “pendewasaan”, padahal dampaknya sangat serius bagi korban.
Baca Juga: CERITA GURU: Melawan Lupa Lewat Sastra
CERITA GURU: Ketika Sekolah Dituntut Mempertahankan Praktik Membaca di Bawah Rezim Citra
CERITA GURU: Invisible Labor MBG
Persoalan Bullying
Perkembangan zaman, khususnya di era digital, semakin memperumit persoalan ini. Bullying tidak lagi terbatas pada interaksi langsung, tetapi juga merambah ke dunia maya dalam bentuk cyberbullying. Melalui media sosial, pesan singkat, atau platform digital lainnya, pelaku dapat dengan mudah menyebarkan hinaan, ancaman, atau mempermalukan korban di ruang publik yang lebih luas. Dampaknya pun bisa lebih besar, karena jejak digital sulit dihapus dan dapat diakses oleh banyak orang dalam waktu singkat.
Tekanan psikologis yang dialami korban bullying sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Mereka mungkin tampak baik-baik saja, tetapi di dalam dirinya menyimpan rasa takut, rendah diri, bahkan depresi. Dalam kasus yang lebih parah, korban bisa kehilangan semangat hidup, menarik diri dari lingkungan, hingga melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri. Ini menjadi bukti bahwa bullying bukan sekadar masalah “anak-anak”, melainkan persoalan serius yang menyangkut kesehatan mental dan masa depan generasi.
Selama ini, ketika terjadi kasus bullying, dunia pendidikan sering menjadi pihak pertama yang disorot. Sekolah dianggap lalai dalam mengawasi dan membina siswa. Padahal, tanggung jawab dalam membentuk karakter anak tidak hanya berada di pundak sekolah. Orang tua memiliki peran yang sangat besar sebagai pendidik pertama dan utama. Nilai-nilai dasar seperti empati, rasa hormat, dan kepedulian sosial seharusnya ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga. Sayangnya, tidak semua orang tua menyadari hal ini.
Kesibukan, kurangnya pemahaman, atau bahkan pola asuh yang keliru, membuat pendidikan karakter anak menjadi kurang optimal. Ada orang tua yang terlalu memanjakan anak tanpa memberikan batasan yang jelas, sehingga anak tumbuh tanpa memahami konsekuensi dari tindakannya. Sebaliknya, ada pula yang terlalu keras, sehingga anak mengekspresikan tekanan yang dialaminya melalui perilaku agresif terhadap orang lain.
Pembentukan Karakter
Sekolah tetap memiliki peran penting sebagai lingkungan kedua bagi anak. Pendidikan tidak hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk menciptakan budaya yang positif, aman, dan inklusif. Program pendidikan karakter, penguatan nilai-nilai moral, serta pendekatan yang humanis dalam mendidik siswa perlu terus dikembangkan. Namun, upaya ini tidak akan berhasil tanpa adanya sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ketiganya harus berjalan seiring dalam membentuk lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara sehat.
Komunikasi yang baik antara orang tua dan guru menjadi kunci penting dalam mendeteksi dan mencegah terjadinya bullying sejak dini. Selain itu, perlu adanya kesadaran bersama bahwa setiap individu memiliki peran dalam menghentikan bullying. Siswa harus diajarkan untuk berani berkata tidak terhadap tindakan bullying, baik sebagai korban maupun sebagai saksi. Budaya saling melindungi dan peduli perlu ditanamkan agar tidak ada lagi sikap diam yang justru memperkuat pelaku.
Penegakan aturan juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Sekolah harus memiliki kebijakan yang jelas dan tegas terkait bullying, serta memberikan sanksi yang mendidik bagi pelaku. Namun, pendekatan yang digunakan tidak semata-mata hukuman, melainkan juga pembinaan agar pelaku dapat memahami kesalahannya dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Pada akhirnya, bullying adalah cerminan dari kondisi sosial yang lebih luas. Ketika nilai-nilai kemanusiaan mulai diabaikan, maka perilaku menyimpang seperti bullying akan semakin mudah tumbuh. Oleh karena itu, upaya mengatasinya tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menyentuh akar permasalahan secara menyeluruh.
Dunia pendidikan memang menjadi garda terdepan dalam menghadapi persoalan ini, tetapi bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Orang tua, masyarakat, bahkan media memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir dan perilaku generasi muda. Jika semua pihak mampu bekerja sama dan memiliki komitmen yang sama, maka bukan tidak mungkin praktik bullying dapat ditekan, bahkan dihilangkan.
Membangun generasi yang berkarakter bukanlah pekerjaan instan. Dibutuhkan kesabaran, keteladanan, dan konsistensi. Namun, jika kita ingin melihat masa depan yang lebih baik, maka upaya ini harus dimulai dari sekarang. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang menciptakan siswa yang cerdas, tetapi juga manusia yang beradab.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


