MAHASISWA BERSUARA: Skandal Grup Chat FHUI dan Kerusakan Sistemik Maskulinitas
Mengapa fenomena “isi grup obrolan yang membahas tubuh wanita” seolah menjadi normalitas yang tidak tersentuh dalam pergaulan laki-laki?

Callista Salwa Ratudena
Mahasiswa yang sedang belajar untuk menulis dan tertarik dengan perilaku manusia.
22 April 2026
BandungBergerak – Viralnya group chat yang mengeksploitasi tubuh perempuan baru-baru ini menjadi titik pecah amarah masyarakat. Selama ini, keresahan serupa sering kali diredam dengan dalih “hanya bercanda”. Namun, kali ini berbeda; ada kombinasi antara narasi yang merendahkan, status mereka sebagai calon penegak hukum, dan institusi ternama yang dipertaruhkan.
Namun, tulisan ini tidak hadir untuk sekadar ikut marah. Amarah tanpa pemahaman hanya akan menjadi kebisingan sesaat. Kita perlu melangkah lebih dalam: Apa yang sebenarnya menjadi akar dari perilaku ini? Mengapa fenomena “isi grup obrolan yang membahas tubuh wanita” seolah menjadi normalitas yang tidak tersentuh dalam pergaulan laki-laki?
Mari kita bedah, apakah ini murni kegagalan moral individu atau sebenarnya ada kerusakan sistemik dalam cara laki-laki membangun relasi dan membuktikan kejantanannya di hadapan sesama?
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Salah Menafsir Kodrat Perempuan
MAHASISWA BERSUARA: Perempuan Indonesia di Persimpangan: Ketika Hukum Progresif Gagal Menaklukkan Patriarki Ekonomi
MAHASISWA BERSUARA: Hari Kartini dan Kekerasan Terhadap Perempuan yang Masih Saja Terjadi
Grup Whatsapp, Laki-laki Insecure, dan Panggung Pelecehan
Di dalam ruang privat seperti grup WhatsApp, mengirim komentar pelecehan atau mengeksploitasi tubuh perempuan sering kali menjadi nilai yang harus dikorbankan demi memperoleh pengakuan agar tetap dianggap sebagai bagian dari lingkaran “laki-laki sejati”.
Fenomena ini dijelaskan oleh Bosson & Vandello (2011) melalui teori Precarious Manhood. Mereka menyatakan bahwa status “laki-laki” di masyarakat kita sering kali bukan sesuatu yang given (alami), melainkan sesuatu yang precarious–rapuh, sulit didapatkan, dan sangat mudah hilang. Oleh karena itu, kejantanan harus terus-menerus didapatkan (earned) dan dibuktikan (demonstrated) melalui tindakan nyata di depan kelompoknya.
Hal ini menjelaskan mengapa banyak laki-laki merasa harus melakukan perbuatan yang membuat mereka terlihat dominan, berani, atau “liar”. Di lingkungan yang tidak sehat, menjadi pelaku ataupun ikut menertawakan pelecehan dianggap sebagai bukti bahwa mereka memiliki “nyali” dan tidak lembek. Tindakan ini sebenarnya hanyalah mekanisme pertahanan untuk menutupi rasa insecure; sebuah ketakutan akut akan dianggap tidak cukup maskulin di mata teman-temannya.
Padahal, bagi laki-laki dengan maskulinitas yang secure, mereka tidak lagi merasa perlu melakukan pembuktian yang destruktif. Mereka memperoleh validasi melalui internalitas yang kokoh–seperti prestasi, integritas, dan tanggung jawab untuk menjaga ruang aman. Mereka tidak mencari validasi dengan menjatuhkan martabat orang lain karena harga diri mereka dibangun di atas prinsip, bukan sekadar lelucon dari sebuah grup WhatsApp.
Melihat kolom komentar pada kasus ini, ada dua tipe opini yang dominan.
“Dari 16 orang itu, mustahil semuanya jahat. Pasti ada yang sebenarnya jijik, tapi mereka diam karena tidak enak dengan teman.”
“Kenapa dari belasan orang pintar itu, tidak ada satu pun yang berani bilang bahwa ini salah?”
Di sinilah kita harus memahami adanya “The Guy Code”. Sosiolog Michael Kimmel menjelaskan bahwa dalam dunia laki-laki, terdapat aturan tak tertulis yang sangat kaku: jangan pernah mengkhianati sesama. Dalam kode etik tongkrongan yang tidak sehat, menegur teman yang melakukan pelecehan sering kali dianggap sebagai bentuk “pengkhianatan” terhadap loyalitas kelompok.
Ketakutan untuk dicap sebagai “pick-me” atau “si paling suci” ini diperparah oleh fenomena Pluralistic Ignorance. Latané & Darley menjelaskan kondisi di mana secara pribadi seseorang merasa mual dengan konten pelecehan tersebut, namun ia memilih diam karena melihat orang lain juga diam. Ia berasumsi, “Hanya saya yang tidak setuju, yang lain sepertinya baik-baik saja.” Padahal, kenyataannya bisa jadi sebagian besar anggota grup merasakan kemuakan yang sama. Namun, karena tidak ada yang berani mengambil langkah pertama, mereka semua terjebak dalam kebisuan yang seragam.
Kebisuan inilah yang kemudian memicu Bystander Effect. Dalam kelompok besar, tanggung jawab moral cenderung menguap karena setiap orang merasa, “Bukan hanya saya yang ada di grup ini, kenapa harus saya yang bicara?” Semakin banyak orang dalam grup tersebut, semakin kecil rasa tanggung jawab individu untuk bertindak.
Akhirnya, diamnya mereka bukan lagi sekadar bentuk “tidak enak hati”, melainkan sebuah komplisitas (keterlibatan). Dengan tetap berada di sana dan tidak bersuara, mereka sebenarnya sedang memberi “izin” dan panggung bagi pelaku utama untuk terus beraksi. Gelar “Si Paling Solid” yang sering dibanggakan laki-laki ini nyatanya hanyalah ilusi yang menyandera nurani dan empati demi kenyamanan yang dangkal.
Ada satu pertanyaan tersisa: “Bagaimana mungkin mahasiswa hukum, yang seharusnya paling paham tentang delik UU ITE dan jejak digital, bisa begitu ceroboh di dalam grup WhatsApp?”
Fenomena Deindividuasi menjawab pertanyaan ini. Ketika seseorang masuk ke dalam sebuah kelompok yang homogen (seperti grup WA berisi teman akrab), identitas pribadinya cenderung melebur menjadi identitas kelompok. Mereka tidak lagi merasa sebagai “individu” yang memiliki tanggung jawab moral, melainkan hanya bagian dari sebuah “organisme” bernama tongkrongan.
Di ruang digital, fenomena ini diperparah oleh apa yang disebut sebagai Online Disinhibition Effect. Layar ponsel menciptakan jarak psikologis yang membuat empati tumpul. Mereka tidak melihat wajah korban, tidak mendengar tangisannya, dan tidak merasakan dampak nyata dari ketikannya. Akibatnya, ruang privat grup WhatsApp sering kali disalahpahami sebagai sebuah safe place yang kebal hukum. Mereka merasa bebas menjadi versi terburuk dari diri mereka karena merasa tidak ada pengawasan dari luar.
Menjadi Laki-laki Secure yang Tak Merendahkan Siapa pun
Tulisan ini bukan hadir untuk membenarkan perbuatan mereka, melainkan sebuah upaya untuk membedah akar masalah agar kita sadar bahwa ada yang harus segera dibenahi dalam budaya pergaulan kita. Kejadian ini membuktikan bahwa kerusakan sistemik itu nyata; ketika status sebagai mahasiswa hukum dari institusi ternama sekalipun tidak cukup kuat untuk membendung dorongan primitif demi sebuah pengakuan kelompok.
Hal ini menjawab pertanyaan kita di awal: masalahnya bukan hanya tentang individu yang “jahat”, tapi tentang bagaimana lingkungan laki-laki sering kali menormalisasi pelecehan sebagai standar pembuktian diri. Kita harus mulai berani memutus rantai ini. Solidaritas sejati seharusnya tidak dibangun di atas rasa takut untuk menegur, melainkan di atas keberanian untuk menarik teman keluar dari kerumunan yang beracun.
Menjadi laki-laki pada akhirnya adalah tentang pilihan untuk memiliki prinsip yang kokoh. Laki-laki yang benar-benar kuat tidak akan butuh merendahkan siapa pun hanya untuk merasa berdaya di depan teman-temannya. Ia adalah sosok yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, sehingga ia tidak lagi membutuhkan validasi murah dari sebuah grup WhatsApp untuk membuktikan martabatnya sebagai seorang laki-laki.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


