Ketika Film Palestina Menjadi Rumah Ingatan
Tiga film dokumenter menelusuri jejak kehilangan, perlawanan, dan peran perempuan dalam merawat ingatan Palestina. Peristiwa Nakba sebagai pintu masuk zionisme.
Penulis Salma Nur Fauziyah22 April 2026
BandungBergerak - Kota Haifa dahulu salah satu permata di dataran Palestina. Kota Pelabuhan paling berjaya dari sisi perekonomian dan kaya akan kehidupan berbudaya. Namun, semuanya hilang semenjak serangan Zionis Israel dalam peristiwa Nakba pada tahun 1948.
Bangunan-bangunan dihancurkan. Orang-orang diusir paksa dari rumah-rumah mereka. Warga Haifa tercerai berai mengarungi samudera dan menjadi orang buangan. Kebudayaan yang menjadi identitas mereka perlahan terkubur di bawah reruntuhan perkantoran. Potret tersebut ditampilkan film dokumenter karya Monica Maurer berjudul Yom Al Ard (1981).
Peristiwa Intifada pertama di akhir tahun 1987 bukanlah sesuatu kejadian spontan, melainkan akumulasi jangka panjang perjuangan rakyat Palestina dalam merebut kembali tanah mereka dari cengkraman kolonialisme Zionis.
Fenomena itu tidak terlepas dari semangat menentukan nasib sendiri (self-determination) yang mereka sebut Samud, bentuk resiliensi untuk tidak lupa pada akar identitas mereka, yaitu tanah Palestina.
Monica Maurer, sang sutradara, melalui filmnya menampilkan perayaan Hari Bumi Palestina ke-5 di Deir Hanna, Sakhnin, dan Nazareth tahun 1981. Dari sana tampak rasa kesatuan dan mobilisasi perjuangan rakyat, khususnya orang muda, berusaha merebut tanah mereka.
Perayaan Hari Bumi Palestina sendiri dilatarbelakangi oleh aksi petani yang menolak penyitaan lahan dan penghancuran pohon-pohon zaitun oleh Israel pada 30 Maret 1976. Aksi protes para petani berakhir dengan penembakan oleh tentara Israel. Korban jiwa pun berjatuhan.
“Itulah tujuan yang telah saya dedikasikan sebagian besar karya saya, sebagai upaya memulihkan. Paling tidak fragmen-fragmen memori kolektif sebagai bagian dari perlawanan budaya menentang okupansi,” ujar Monica Maurer, dalam film documenter Jadi film berdurasi 15 menit.
Film ini menjadi pembuka acara Temu KawanKata edisi Cinebook #6 berkolaborasi dengan kolektif Kumpul Sore, di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Jumat, 17 April 2026. Dua film lainnya fokus menampilkan kehidupan perempuan dan anak-anak.
Women under Siege dan Children Nevertheless
Women under Siege (1982) karya Marilyn Gaunt menampilkan kehidupan perempuan di kemah pengungsian di Rashidiya, Lebanon Selatan. Dokumenter berdurasi hampir 28 menit ini mengurai bagaimana revolusi atau perjuangan merebut tanah air bukan hanya dilakoni oleh para lelaki saja. Perempuan di kemah pengungsian ini ditampilkan mempunyai beban yang berlipat: menjadi seorang Ibu Rumah Tangga dan Pejuang.
Penonton diajak berkenalan dengan perempuan-perempuan yang tergabung dalam serikat perkemahan. Ada Ummu Zhivago, seorang IRT dan ketua perkumpulan serikat perempuan, yang mempunyai peran vital untuk memberdayakan perempuan dan anak-anak dalam komunitasnya.
Bagi Ummu, revolusi seperti memasak; kamu harus mengecek bahan masakan yang tersedia di dalam lemari sebelum menyatukannya menjadi satu hidangan sehingga keluargamu bisa bertahan.
“Perencanaan menjadi komponen utama dalam kehidupan revolusioner kami,” kata Ummu.
Terakhir, film garapan Khadijeh Habashneh Abu Ali (sineas dan juga arsiparis dari Palestine Film Institute) berjudul Children Nevertheless (1979). Film ini menyoroti kehidupan anak-anak yatim piatu, korban dari pembunuhan massal Tel al-Zaatar di Beirut bagian Timur Laut.
Mereka tinggal di satu atap yang sama bernama Bait El-Somoud. Lewat rekaman visual berdurasi 21 menit itu tampak beragam refleksi tentang penjajahan yang menjadikan anak-anak sebagai korban paling rentan.
Baca Juga: Tak Berhenti di Tulisan, dari Halaman Mahasiswa Bersuara ke Ruang Publik
Jejak KAA di Tengah Deru Perang, Dasasila Bandung Digaungkan Kembali
Perempuan dan Arsip
Setelah penayangan film, Tya, mahasiswa Film dan Televisi UPI yang aktif dalam kerja-kerja arsiparis, menekankan bahwa manusia sebagai arsip berjalan. Arsip individu seperti yang ditampilkan di tiga film dokumenter tentang Palestina perlu terus digaungkan dan pada akhirnya bersatu untuk membentuk memori kolektif.
Ia menekankan bahwa arsip selalu lekat dengan memori manusia. Contohnya di film Yom Al Ard, arsip tidak hanya memperlihatkan Palestina sebagai negara, tetapi juga menunjukkan kehidupan masyarakat kota-kota di dalamnya sebagai Rafah, Haifa, dan lainnya.
Menurutnya, arsip menjadi penting karena akan menambahkan detail kecil yang mungkin terlewat dari narasi besar yang berkembang. Di samping itu, setiap arsip memiliki sisi politik.
“Nah, sebetulnya itu pada akhirnya yang bisa dijadikan contoh kenapa arsip bisa dijadikan (bentuk)perlawanan. Karena dia selalu bersifat political, dia selalu dia selalu bersifat dipilih, enggak semua hal yang diarsipin,” jelas Tya.
Dalam konteks negara, keberadaan arsip akan mengikuti hegemoni yang berkuasa. Usaha Israel melenyapkan Palestina tidak hanya sebatas pendudukan secara fisik tetapi juga pelenyapan arsip yang erat kaitannya dengan identitas Palestina.
Menurut Tya, Palestina memiliki tempat penyimpanan arsip film di Beirut. Namun, pada penyerangan Beirut oleh Israel tahun 1982, semua arsip itu hancur. Kini, arsip-arsip itu tersebar secara sporadis dan beberapa di antaranya bisa didapatkan di internet.
Cacuy, dalam kesempatan yang sama, menyoroti peran perempuan dalam kerja-kerja perawatan pengarsipan. Hal ini ia lihat dalam film-film dokumenter yang seluruhnya disutradarai perempuan. Menurutnya, baik di depan maupun di balik layar, terdapat pola kerja yang lekat dengan pengasuhan, pemeliharaan kultur, sekaligus bentuk resistensi.
Ia menilai kerja-kerja tersebut bukan sekadar teknis, melainkan juga mengandung dimensi afektif yang menjaga keberlanjutan ingatan dan praktik budaya.
“Kerja-kerja perawatan tuh menurut aku malah kayak kerja-kerja yang sangat feminin gitu. Kayak ada sifat keibuan di sana, karena dia berusaha untuk menjaga sesuatu agar bisa tetap utuh atau agar bisa tetap diputar dan di sebar luaskan gitu (didistribusikan),” ujar Cacuy.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


