Melupakan Bandung Spirit, Merawat Kolonialisme Baru
Vijay Prashad mengingatkan pentingnya kembali ke semangat antiimperialisme di tengah dominasi ekonomi dan budaya global. Kolonialisme tak lagi kasat mata.
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah23 April 2026
BandungBergerak — Kolonialisme belum benar-benar berakhir. Politik penjajahan ini tidak lagi hadir dalam bentuk pendudukan teritorial, tetapi menjelma menjadi ketergantungan ekonomi, dominasi budaya, dan cara pandang yang membentuk kehidupan sehari-hari.
Sejarawan sekaligus jurnalis asal India Vijay Prashad menyebut warisan kolonial masih bekerja hingga hari ini termasuk di Indonesia. BandungBergerak berkesempatan mewawancarai penulis buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga ini di Toko Buku Pelagia, Kota Bandung, Sabtu, 19 April 2026.
Vijay menilai pola kolonial lama masih bertahan dalam struktur ekonomi modern. Ia mencontohkan industri nikel di Indonesia.
“Kita ekspor nikel, lalu impor produk industri. Kenapa tidak diproduksi sendiri?” ujarnya.
Indonesia merupakan salah satu produsen nikel terbesar di dunia. Namun dalam pengolahan dan industri turunannya, Indonesia masih bergantung pada teknologi dan investasi asing. Dalam rantai nilai global (global value chain), posisi Indonesia tetap berada di bagian bawah—sebagai pemasok bahan mentah, bukan produsen bernilai tambah tinggi.
Menurut Vijay, kondisi ini mencerminkan logika kolonial klasik: negara berkembang memasok bahan baku murah, sementara negara industri menguasai teknologi dan produksi.
“Dulu kita percaya bisa mengubah hubungan tidak lagi mengekspor bahan mentah dan mengimpor barang jadi. Tapi keyakinan itu sekarang hilang,” katanya.
Ketergantungan tersebut, lanjut Vijay, tidak hanya terjadi di sektor ekonomi, tetapi juga merembes ke kehidupan sehari-hari—terutama dalam konsumsi budaya. Sebagai contoh, ia menyoroti dominasi film Hollywood di bioskop Indonesia.
“Kenapa tidak menerjemahkan atau mendubbing film dari tempat lain? Kenapa hanya Hollywood?” tanya Vijay.
Hal serupa juga terjadi dalam konsumsi informasi. Banyak media di Indonesia masih bergantung pada kantor berita Barat seperti BBC, Reuters, dan Associated Press.
Menurut Vijay, kondisi ini membentuk cara pandang yang menempatkan Barat sebagai rujukan utama, sementara negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin cenderung diabaikan.
Ia menyesalkan bahwa negara-negara berkembang masih menganggap apa yang datang dari Barat lebih baik. Anggapan ini menandakan masih kuatnya pengeruh kolonialisme tanpa disadari.
Untuk melawan kolonialisme modern, menurut Vijay, tidak bisa dilakukan secara individual. Ia menekankan pentingnya upaya kolektif dalam membangun cara pandang alternatif.
Salah satunya melalui penerjemahan dan pertukaran pengetahuan antarnegara di Global South. Ia mencontohkan bagaimana pengalaman di Kerala, India, dalam mengurangi kemiskinan bisa menjadi pelajaran jika lebih banyak diakses dan disebarluaskan.
Peran jurnalis, menurutnya, juga krusial. Mereka bukan sekadar memilih produk informasi yang lebih baik. Mereka harus kembali percaya bahwa dunia bisa berubah.
“Jurnalis hari ini terlalu sinis. Jurnalis tidak boleh sinis,” bebernya.
Baca Juga: Jejak KAA di Tengah Deru Perang, Dasasila Bandung Digaungkan Kembali
Konferensi Asia Afrika: Antara Warisan Dunia, Perebutan Ruang Kota, dan Inkompetensi Pemerintah
Dunia Ketiga atawa Global South
Vijay juga menyinggung dinamika Global South. Ia menilai istilah “dunia ketiga” kini kehilangan makna politiknya sejak krisis utang 1980-an.
Meski demikian, ia melihat munculnya kesadaran baru di negara-negara berkembang, meski belum terwujud dalam kekuatan politik yang solid.
Inisiatif seperti BRICS, menurutnya, masih terbatas pada kerja sama ekonomi dan belum menjadi fondasi solidaritas global yang kuat. Mereka dinilai mampu menghadirkan suasana baru, tapi belum memiliki bentuk politik yang jelas.
Dalam konteks Indonesia, gerakan antikolonial yang pernah menguat dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 atau Bandung Spirit, menurut Vijay Prashad, kian menjauh dari ingatan publik Indonesia.
Ia mengingatkan, konferensi tersebut bukan sekadar peristiwa diplomatik, melainkan hasil dari gelombang perjuangan rakyat di Asia dan Afrika untuk keluar dari penjajahan. Pertemuan di Bandung juga merupakan kelanjutan dari Konferensi Hubungan Asia di New Delhi pada 1947 yang digelar untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.
“Pada saat itu, Indonesia sangat diperhatikan dunia,” ujarnya.
Namun posisi tersebut, menurut Vijay, merosot tajam, terutama pada periode 1965–1998, ketika Indonesia nyaris hilang dari panggung global. Setelah reformasi, Indonesia dinilai belum sepenuhnya kembali memainkan peran strategisnya.
“Tapi hari ini, banyak orang di dunia bahkan tidak tahu ibu kota Indonesia, padahal ini negara terbesar keempat di dunia,” katanya.
Ia menilai, warisan Bandung Spirit KAA sejatinya adalah dorongan untuk keluar dari keterisolasian dan membangun solidaritas global. Namun di tengah ketimpangan dunia saat ini, semangat itu justru melemah.
Padahal, lanjutnya, situasi dunia pada 1955 tidak lebih sederhana. Banyak negara masih berada di bawah kolonialisme dan konflik global sedang berlangsung. Meski demikian, negara-negara Asia-Afrika saat itu memiliki keberanian untuk membayangkan dunia yang lebih adil.
“Hari ini kita kehilangan kepercayaan diri itu. Kita masih menunggu negara lain bertindak,” ujarnya.
Sebagai negara terbesar keempat di dunia, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun kembali solidaritas Global South bersama negara-negara seperti India, China, Bangladesh, dan Pakistan. Namun, hubungan antarnegara berkembang tersebut masih lemah, termasuk relasi Indonesia dengan India.
“Tidak bisa terus bergantung pada negara tertentu,” ujar Vijay.
Ia juga mengajak untuk kembali pada gagasan Sukarno tentang penghapusan penderitaan sosial sebagai tujuan utama pembangunan. Generasi muda, menurutnya, perlu menggali kembali akar pemikiran bangsa sendiri, sembari tetap terbuka belajar dari pemikir global.
Bagi Vijay, Semangat Bandung bukan sekadar warisan sejarah, tetapi juga cermin atas memudarnya kepercayaan diri Indonesia dalam menghadapi ketidakadilan global hari ini.
Ia menegaskan bahwa kolonialisme hari ini tidak lagi kasat mata. Karena itu, dekolonisasi tidak cukup dilakukan di tingkat negara, tetapi juga dalam praktik sehari-hari dari apa yang dikonsumsi, dibaca, hingga dipercaya.
Selama ketergantungan itu masih berlangsung, kolonialisme dalam bentuknya yang baru, belum benar-benar berakhir.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


