• Opini
  • Menelusuri Toponimi Koridor 250 Meter Sesar Lembang

Menelusuri Toponimi Koridor 250 Meter Sesar Lembang

Toponimi mestinya menjadi pengetahuan dasar bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.

Anna Joestiana

Ketua Relawan Penanggulangan Bencana Lembang

Lembah Kota Bandung sekitar Dago terlihat dari gawir Sesar Lembang di kawasan wisata Tebing Keraton, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, 11 September 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

24 April 2026


BandungBergerak – Salah satu faktor masih rendahnya kapasitas masyarakat dalam mengantisipasi bencana alam adalah minimnya literasi bencana berbasis pengetahuan lokal, salah satunya yaitu toponimi. Toponimi berasal dari bahasa Yunani tópos (τόπος) yang berarti tempat dan diikuti oleh ónoma (ὄνομα) yang berarti “nama”. Dalam bahasa Inggris, toponimi terkadang disebut “geographical names” (nama geografis) atau “place names” (nama tempat). Sementara itu, dalam bahasa Indonesia digunakan istilah “nama unsur geografi” atau “nama rupabumi”. Sedangkan dalam bahasa Sunda, meminjam istilah Edi S. Ekadjati, toponimi disebut juga “ngaran tempat”.

Sering kali toponimi diekspresikan melalui bahasa daerah (Sastri Sunarti, 2024), sehingga toponimi bukan hanya sebagai memory collective warisan leluhur, namun juga merupakan bagian dari identitas, budaya, instrumen perencanaan, hingga alat mitigasi bencana. Dalam konteks kebencanaan, toponimi memegang berbagai peranan penting. Pada gempa Cianjur 2022, misalnya daerah Cieundeur, dalam bahasa Sunda memiliki arti  tanah bergetar, tercatat sebagai daerah terdampak paling parah. Nama tersebut menjadi penanda karakteristik wilayah yang kemudian digunakan dalam mitigasi bencana (Harry Ferdiansyah, 2025). Kemudian kejadian pergerakan tanah di Desa Pasir Munjul, Purwakarta, terjadi sejak April hingga Juni 2025, merusak puluhan rumah dan infrastruktur, tanah amblas hingga 20 meter, merobohkan bangunan dan memaksa pengungsian, dengan total 72 rumah terdampak. Dalam bahasa Sunda, arti munjul adalah tanah terangkat.

Pengetahuan toponimi mestinya menjadi pengetahuan dasar bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana, sehingga pengetahuan ini menjadi bahan untuk mitigasi bencana seperti banjir, pergerakan tanah/longsor, gempa bumi, tsunami, angin kencang dan likuefaksi. Sayangnya, saat ini pengetahuan toponimi tidak dimiliki lagi oleh masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

Masyarakat Sunda tidak hanya secara spesifik merupakan nama etnis yang tinggal di Jawa Barat, namun lebih dari itu, istilah “Sunda” juga harum dalam dunia ilmiah, khususnya pada bidang geologi-geografi (Kusumadinata, 2021). Tempat-tempat yang memiliki sejarah terjadinya bencana alam masa lalu dapat terlacak lewat penamaan-penamaan tempat oleh para leluhur (Iksam, 2019). Kemudian hubungan masyarakat Sunda dengan alam semesta, flora, fauna, dan lingkungan terutama air terjalin sangat erat. Di mana air bukan hanya sekadar sumber daya alam, melainkan sebagai pusat budaya, kepercayaan, dan penamaan tempat. Sehingga Karl A. Witfogel (2003), dalam majalah Cupumanik mengategorikan masyarakat Sunda sebagai hydrolic society.

Di tingkat global, sudah ada ketentuan tentang toponimi, seperti yang tertera dalam Resolusi UN Conference on Standardization of Geographical Names (UN-CSGN) tentang Kegiatan Penamaan dan Standardisasi Unsur-unsur Geografi. Selanjutnya membentuk badan khusus bernama United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) yang bertugas memberikan rekomendasi mengenai standar penamaan suatu wilayah. Di Indonesia terdapat PP No. 2 Tahun 2021 yang pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Badan Informasi Geospasial Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Nama Rupabumi.

Di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad), toponimi menjadi kajian yang mulai diteliti banyak mahasiswa, mulai dari sarjana hingga doktor. Edi S. Ekadjati meneliti pengetahuan geografi masyarakat Sunda melalui manuskrip Sunda kuno dan catatan perjalanan Portugis. Penelitiannya menyoroti bagaimana masyarakat Sunda kuno memahami dan menamai wilayah mereka sebelum masa kolonial, yang mencakup konsep ruang, kekuasaan, dan lanskap alam. Ia mengatakan, “Baheula mah méré ngaran tempat téh puguh cirina, aya ciri cai, ciri taneuh, ciri tutuwuhan, ciri wangunan, ciri maranti dan ciri umpi.

Menurut Sudaryat (2009), penamaan tempat atau toponimi didasarkan pada tiga aspek utama, yaitu: (1) Aspek Fisikal/Perwujudan yaitu penamaan tempat berdasarkan latar perairan (hidrologis); latar rupabumi (geomorfologis); dan latar lingkungan alam (biologis-ekologis). (2) Aspek Sosial yaitu penamaan tempat didasarkan pada aktivitas manusia, keadaan sosial, perilaku masyarakat, kelompok tertentu, atau sejarah yang pernah terjadi di daerah tersebut termasuk kejadian bencana. (3) Aspek Kultural yaitu penamaan tempat berdasarkan hasil kebudayaan, perilaku, adat istiadat, mitos, folklor, atau kepercayaan.

Baca Juga: Lagu Goong Renteng Embah Bandong dan Sejarah Sesar Lembang
Menakar Bahaya Potensi Pergerakan Tanah dan Penurunan Muka Tanah di Kawasan Lembang
Menggali dan Menghadirkan Kembali Toponimi Gunung Burangrang untuk Kebutuhan Mitigasi Bencana

Topoinimi 250 Meter Koridor Sesar Lembang

Sesar Lembang memiliki panjang mencapai 29 kilometer, membentang mulai dari Bojong Mekar, Padalarang hingga Palintang, Cilengkrang. Pada koridor 250 meter Sesar Lembang, berdasarkan kajian Arif Nurrohman (2021), terdapat 2 desa di Kabupaten Bandung, 28 desa di Kabupaten Bandung Barat, dan 1 kelurahan di Kota Cimahi. Semua nama-nama desa di koridor 250 meter Sesar Lembang ditambah dengan beberapa nama yang ditemukan selama kegiatan “Susur Sesar Mikawanoh Lembang” dapat dikelompokkan berdasarkan aspek-aspek toponiminya. Hasilnya sebagai berikut.

Pertama, Aspek Fisikal: (1) Latar Hidrologis (perairan), misalnya: Lembang, Situ Umar, Situ PPI, Situ Lingkeuy, Sukamandi, Andir, Rancabentang (rawa luas), Pacuran 12, Darmaga, Irung-irung, Panyairan, Dano, Muara. (2) Latar Biologis-Ekologis (perairan dan lingkungan alam), misalnya: Cilengkrang, Cimenyan, Ciburial, Cisaranten, Pasir Babagongan, Cibodas, Cibeunying, Cikidang, Cikawari, Cigulung, Cikapundung, Curug Omas, Pagerwangi, Pageurmaneuh, Kayu Ambon, Areng, Cijengkol, Legok Picung, Cihideung, Cikahuripan, Pasir Sereh, Cihanjuang, Cibeureum, Ciwaruga, Cipeusing, Paratag (rak bambu), Barukai, Cisarua, Cimahi, Citiis, Pakuhaji, Ciloa, Cimanggu, Cilame, Ciburuy. 3) Latar Geomorfologis (kontur tanah), misalnya: Gunung Kasur, Gunung Palasari, Cicalung (daerah yang diapit dua sungai), Leuweung Datar, Pasir Malang, Langensari (pusat keindahan), Buniwangi, Dago Giri, Gunung Batu, Pencut, Pasir Handap (tanah paling rendah), Batureok (bunyi batuan), Cadas Gantung, Batu Aseupan, Lebak Cihideung, Pasirwangi, Pasirjati, Legok Candung (daerah yang diapit dua bukit), Legok Seeng, Parongpong (kosong), Pasir Panjang (bukit panjang), Cigugur Girang, Paneungteung (penyangga), Pasir Halang (bukit menghalangi pandangan), Gunung Leutik, Pasir Pogor (gundul), Leuwi Dulang (bagian sungai dalam), Bojong Koneng.

Kedua, Aspek Sosial, penamaan wilayah yang berhubungan dengan kondisi atau keadaan sosial masyarakat yang pernah ada atau pernah terjadi di tempat tersebut. Misalnya: (1) Latar Peristiwa: Palintang (perlintasan), Cipanjalu (jagoan), Cisalatri, Tanjakan Spongebob (tanjakan terjal), Sinapel (mengikat batu), Muril (berputar). (2) Pemukiman: Babakan Buah Batu, Dago Pakar, Babakan Laksana, Babakan Selamet, Babakan Mekar. (3) Bangunan: Propelat, Teropong Bintang, Advent, Beatrix, Tebing Keraton, Cipageran, Tugumukti. (4) Harapan: Wangunhardja, Wagunsari, Mekarwangi, Gudang Kahuripan, Jayagiri (gunung agung), Sukajaya, Cihanjuang Rahayu, Kertawangi, Karyawangi, Sukatani, Mekarsari, Ngamprah, Kertajaya. (5) Peruntukan: Pasir Pangukusan, Cigugur (air penyembuh), Nyalindung, Sterrenwaght (melihat bintang), Pangjebolan, Panyandaan, Nyampay, Pasirlangu, Padaasih, Cimeta. (6) Nama Tokoh : Situ Umar (nama tokoh), Sunten Jaya (nama pangeran), Maribaya (nama putri cantik), Kol. Masturi, Jambu Dipa, Patilasan Sunan Margataka (Ciung Wanara), Patilasan Dipatiukur.

Ketiga, Aspek Kultural, penamaan tempat berdasarkan setting budaya (Kosasih, 2004) yang berhubungan dengan gagasan atau ide unsur budaya, seperti aspek mitologi, folklore, dan sistem kepercayaan. Misalnya: Batu Lonceng, Arcamanik (patung permata hitam), Bongkor (kosong), Batu Panganten (perjodohan), Makam Panjang, Makam Eyang Sarebu, Batu Goong (alat musik), Padalarang (jajaran suci).

Berdasarkan hasil identifikasi 131 toponimi di koridor 250 meter Sesar Lembang, dapat dipersentasekan sebagai berikut: Aspek Fisikal sebanyak 75 (57 persen), yang terdiri dengan latar hidrologis sebanyak 13 (10 persen), latar biologis-ekologis sebanyak 34 (26 persen), latar geomorfologis sebanyak 28 (21 persen). Kemudian Aspek Sosial sebanyak 48 (37 persen) dan Aspek Kultural dengan latar mitologi-folklore sebanyak 8 (6 persen).

Sedangkan temuan toponimi yang terkait dengan mitigasi bencana banjir dan pergerakan tanah sebanyak 6 (5 persen), seperti: Lembang (air tergenang), Situ PPI (danau), Sinapel (mengikat batu), Muril (berputar), Legok (cekungan tempat berkumpulnya air), Rancabentang (rawa luas), Panyairan (tempat menangkap ikan), dan Dano (danau).

Berdasarkan temuan tersebut maka toponimi sangat penting untuk dihadirkan kembali ke tengah-tengah masyarakat, karena, pertama, merupakan pengetahuan dasar masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana dalam upaya mitigasi bencana. Kedua, toponomi merupakan memory collective dari leluhur yang harus diwariskan kepada generasi selanjutnya karena mengandung nilai histori, tradisi, geografi, geologi dan spiritual. Dan, ketiga, toponimi merupakan pendekatan alternatif untuk perencanaan tata ruang bagi pemangku kebijakan, dalam hal ini pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Tentunya tujuan akhir dari kegiatan identifikasi dan survei toponimi ini dapat menerbitkan buku kumpulan toponimi atau Gazeter  di koridor 250 meter Sesar Lembang.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//