• Opini
  • Misogini Terselubung: Mengapa Semua hal yang Feminin Disebut Boti?

Misogini Terselubung: Mengapa Semua hal yang Feminin Disebut Boti?

Kata boti dijadikan sebagai alat bahasa untuk merendahkan dan mendisiplinkan ekspresi gender yang dianggap menyimpang dari sistem yang dipercayai.

Febrian

Alumni S-2 Ilmu Linguistik Universitas Sebelas Maret, aktif secara mandiri menulis tentang gender dan bias-bias gender

Menghargai pilihan menjadi berbeda. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

27 April 2026


BandungBergerak – Setiap kali membuka sosial media, kita dengan mudah menemukan konten yang menampilkan sisi kegemulaian dan gestur feminin. Tidak hanya diperagakan perempuan, laki-laki yang menari dan melambai, selalu dilabeli satu kata singkat di kolom komentar. Ya, boti, ringkas, padat dan cukup kontroversial.

Faktanya, istilah ini tidak muncul sekali dua kali, namun label ini menjadi respons otomatis terhadap segala bentuk ekspresi feminitas pada laki-laki. Bahkan, jika laki-laki melakukan pekerjaan domestik yang selama ini dilekatkan pada perempuan pun tak luput dari olok-olokan tersebut.

Pertanyaannya, apakah masyarakat benar-benar memahami apa itu boti? Mengapa segala hal yang berbau feminitas begitu mudah diproduksi menjadi bahan ejekan? Bagaimana sebenarnya kata ini dipahami dalam konteks sosial dalam Masyarakat hari ini?

Dalam KBBI, istilah boti tidak tercantum secara formal. Namun, dalam praktiknya, kata ini hidup sebagai label yang dilekatkan pada laki-laki yang dianggap memiliki sikap, perilaku, atau karakter feminin yang dominan. Sayangnya, alih-alih menjadi deskripsi, ia lebih sering berfungsi sebagai bahan olok-olokan.

Jika menelusuri istilahnya, kata ini cukup sensitif untuk dipahami bagi masyarakat awam. Sebenarnya, istilah ini merujuk pada peran laki-laki dalam lingkup orientasi seksual. Boti sendiri merupakan plesetan dari kata Bottom dalam dunia LGBT khususnya pria yang memosisikan dirinya sebagai perempuan dalam hubungan gay. Agak sedikit sensitif untuk dijelaskan dengan panjang lebar. Kenyataannya, kata ini bukan diartikan sebagai orientasi seksual tetapi justru menjadi istilah Bahasa yang dikaitkan pada bias sosial untuk mengolok komunitas tertentu.

Secara linguistik sendiri, kata boti merupakan sebuah kata yang berkonotasi negatif. Mengapa demikian? Pada praktiknya, kata ini justru menjadi alat untuk mengolok laki-laki dengan perilaku feminin yang dominan. Bahkan, istilah ini menjadi alat untuk mengolok laki-laki yang bekerja sebagai penari, makeup artist, atau mereka yang melakukan pekerjaan domestik yang menuntut perasaan.

Ini bukan sebuah kesalahan pemahaman yang kontradiktif namun sebuah bentuk misoginis terselubung yang mereka (laki-laki maskulin) abaikan. Hal ini dikarenakan istilah boti bukan lagi menjadi label deskripsi namun sebuah istilah untuk mengejek bentuk feminitas pada laki-laki yang dianggap tidak dominan.

Bukan lagi sebagai slang atau ragam bahasa, namun kata boti sendiri mengandung tujuan terselubung perilaku misogini modern yang direproduksi oleh pandangan maskulin untuk mengolok perempuan. Kenapa demikian? 

Baca Juga: Masih Adakah Kesetaraan bagi Lelaki Feminin?
Tari Bajidor, Male Gaze, dan Dinamika Maskulin ke Feminin
Potret Opresi Perempuan di Tengah Penghidupan Perkebunan Salak Banjarnegara

Misogini sebagai Prasangka

Sebelum berlanjut, izinkan saya menjelaskan dengan singkat apa itu misogini. Menurut hemat saya, misogini sendiri merupakan prasangka negatif laki-laki terhadap perempuan dalam menegakkan peran gender konvensional untuk menghukum perempuan karena menentang tradisi. Lebih dari sekedar seksisme dan diskriminasi gender, misogini mencerminkan permusuhan, kontrol, dan juga kebencian yang mengakar kuat dalam diri laki-laki pada perempuan. Perilaku ini sering digambarkan dengan tindakan kekerasan dan ejekan yang didasarkan pada keyakinan atas dominasi peran gender.

Praktik misogini sendiri sudah mengakar sejak dahulu, di mana dominasi laki-laki terhadap perempuan terjadi secara terang-terangan. Tidak lagi dalam sebuah pandangan namun misogini ditransmisikan ke berbagai bentuk baik secara visual, lisan maupun juga narasi. Sebagai contoh, teks-teks sakral yang mengandung pandangan misogini yang menganggap perempuan sebagai hukuman dan pembawa sial. Seperti cerita Adam dan Hawa di mana Hawa digambarkan sebagai sosok yang menghasut Adam dan menyebabkan manusia jatuh ke dalam sebuah dosa.

Di lain sisi, stigma penyihir dan pemilihan kata nenek sihir dalam budaya Eropa menjadi bentuk nyata representasi misogini terhadap perempuan dalam cerita rakyat klasik. Terminologi nenek sihir digambarkan sebagai perempuan jahat dengan ilmu hitam dan berperilaku terkutuk. Bahkan, banyak cerita mengatakan bahwa perempuan akan dibakar jika dicurigai sebagai penyihir. Pemilihan terminologi ini menjadi bukti kuat bahwa representasi misogini sejak dahulu ditransmisikan secara terang-terangan dengan dibuktikannya posisi perempuan sebagai objek dengan nilai-nilai yang selalu dianggap rendah.

Rendahnya sifat feminitas dari sifat maskulin juga bisa kita temukan dengan mudah dalam penggambaran karakter tokoh dalam film. Seperti contoh penggambaran penyihir laki-laki Dumbledore, Snape, Mandrake, dan karakter laki-laki lain yang selalu digambarkan positif dalam banyak cerita. Hal ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai feminitas tidak pernah digambarkan positif bahkan dalam karakter fiksi sekalipun.

Mengambil kutipan pidato pengukuhan guru besar Sastra dan Gender UGM yaitu Prof. Wening Udasmoro berjudul Maskulinitas Transformatif: Kekerasan dan Subyek yang Bergerak dalam Dinamika Sastra dan Budaya. Saya menyoroti ucapan beliau yang cukup relate dengan topik ini bahwa narasi budaya, politik dan media kita saat ini mencerminkan banyak sekali kekerasan. Memang tidak secara spesifik menyebutkan misogini sebagai kekerasan terstruktur, namun hal ini menjadi cikal-bakal timbulnya misogini sebagai akar masalah dari perilaku toksik pada laki-laki yang menganggap dirinya dominan. Bukti ini diperkuat dari komentar media sosial yang selalu menyudutkan karakter feminin sebagai objek ujaran kebencian bagi mereka yang merasa dominan.

Perilaku ini menjadi bukti bahwa misogini modern ditampilkan secara halus dan terselubung kepada perempuan dengan menyerang sifat-sifat feminitas itu sendiri. Mengapa hal ini terjadi? Dalam masyarakat, feminitas diasosiasikan sebagai nilai yang rendah dari sikap maskulin, hal ini dibuktikan bahwa tradisi dan bahkan dalam narasi cerita sekalipun selalu menggambarkan Perempuan sebagai objek yang negatif dan rendah.

Kate Manne (2017) mendukung pernyataan tersebut bahwa misogini merupakan sistem sosial yang bukan lagi sekedar perilaku membenci perempuan, namun bagaimana seseorang yang melanggar sistem berhak dihukum karena melanggar norma yang berlaku. Contohnya, karena lelaki feminin menampilkan sikap feminin yang cukup dominan, hal ini memancing mereka (laki-laki maskulin) berhak mengolok fisik dan sikap feminin yang mereka rasa itu melanggar sistem. Itulah sebabnya mengapa istilah boti bukan lagi sekedar bentuk olok-olokan namun ejekan terhadap perempuan yang sedang dialihkan.

Hal ini sejalan dengan Connel (1995) dalam pandangannya tentang hegemoni maskulinitas bahwa laki-laki ideal harus tampak maskulin dan laki-laki feminin yang tidak memiliki kriteria tersebut dianggap gagal dalam sistem sosial. Pada akhirnya mereka dianggap melanggar sistem dan konsekuensinya wajib dipermalukan.

Alat untuk Mengolok-olok

Kebencian terhadap sifat feminin tidak lagi ditampakkan secara nyata, bentuknya lebih halus dan masih tetap menjadi pandangan yang mengakar. Transformasi ini terlihat jelas bagaimana bentuk misogini saat ini tidak lagi langsung diarahkan pada perempuan, namun kebencian ini justru dialihkan kepada laki-laki yang dilabeli tidak cukup maskulin dengan sikap feminin yang mendominasi.  

Dalam konteks ini, istilah boti itu lahir dan bekerja sebagai alat untuk mengolok-olok mereka yang dirasa tidak memiliki sifat maskulin yang tampak. Bukan lagi hanya sekedar label namun kata boti dijadikan sebagai alat bahasa untuk merendahkan dan mendisiplinkan ekspresi gender yang dianggap menyimpang dari sistem yang dipercayai.

Dari sini muncul pertanyaan mendasar: Apakah semua orang benar-benar memahami apa itu boti? Atau jangan-jangan, istilah ini bertransformasi menjadi bentuk misogini yang lebih modern?

Saya rasa, penolakan terhadap feminitas tidak hilang. Pandangan misogini justru bertransformasi dan disamarkan. Kata boti ditujukan kepada laki-laki feminin, seolah-olah menghindari kritik, padahal sebenarnya pada saat yang sama perilaku ini tetap mereproduksi kebencian terhadap nilai-nilai feminitas yang sejatinya dilekatkan pada perempuan namun ditujukan kepada laki-laki yang dianggap kurang dominan dan maskulin. 

Pada akhirnya, penggunaan istilah boti tidak bisa lagi dianggap sebagai sekadar candaan atau slang Bahasa belaka. Ia merupakan cerminan dari cara masyarakat dalam sistem sosial yang masih memandang sifat-sifat feminitas sebagai sesuatu yang rendah, hina dan layak untuk diejek. Ketika laki-laki dihina karena dianggap “terlalu feminin”, yang sebenarnya sedang diserang bukan lagi individu tersebut, melainkan ujaran kebencian terhadap nilai-nilai feminitas itu sendiri. Maka dari itu, ejekan ini menjadi bukti bahwa sebenarnya misogini tidak pernah benar-benar hilang–justru ia hanya berubah bentuk, menjadi lebih halus, lebih terselubung, mengalihkan objek namun tetap bekerja dalam mempertahankan hierarki gender yang timpang.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//