Microlibrary di Bandung Kembali Ramai, tapi Belum Benar-Benar Hidup
Pameran Bandung Milestone menghidupkan Microlibrary Asia Afrika. Keberlanjutan perpustakaan masih menggantung di tengah sejumlah microlibrary lain yang sempat layu.
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah27 April 2026
BandungBergerak - Microlibrary Asia Afrika di kawasan Alun-Alun Bandung sempat kehilangan fungsinya sebagai ruang publik yang hidup. Dalam beberapa waktu terakhir, ruang baca itu cenderung sepi dari aktivitas pengunjung. Kini, melalui pameran “Bandung Milestone” yang digelar Pemerintah Kota Bandung, microlibrary tersebut kembali dipadati warga, meski belum jelas apakah kondisi ini akan bertahan setelah pameran berakhir.
Di dalam ruang yang relatif kecil itu, pengunjung tidak hanya membaca buku, tetapi juga menyusuri arsip sejarah yang dipajang di antara rak. Foto-foto lama, narasi peristiwa, hingga dokumen sejarah disusun berdampingan, mengubah microlibrary menjadi ruang pamer sekaligus ruang baca. Suasana yang sebelumnya lengang berubah menjadi titik interaksi warga di pusat kota.
Ernawatie, warga Bandung, mengaku kembali datang setelah ruang tersebut ramai oleh pameran.
“Sebagai warga Bandung, saya menyambut baik. Pameran ini membuka wawasan, terutama bagi yang awam sejarah. Informasinya banyak, padat, dan menarik. Tapi memang harus dinikmati santai, tidak bisa terburu-buru,” katanya kepada BandungBergerak, Jumat, 24 April 2026.
Bagi sebagian pengunjung, perubahan paling terasa bukan hanya pada isi pameran, tetapi pada fungsi ruang itu sendiri. Microlibrary yang sebelumnya jarang dikunjungi kini kembali menjadi tempat singgah di tengah kawasan Alun-Alun Bandung.
“Akses gratis memungkinkan pelajar datang. Lokasinya juga strategis, jadi orang yang ke alun-alun bisa sekalian mampir,” kata Ernawatie.
Namun, ia menilai efek dari pameran semacam ini belum bisa dianggap sebagai perubahan permanen. Menurutnya, fungsi utama ruang seperti ini adalah menjaga ingatan kolektif, bukan sekadar menghadirkan keramaian sesaat.
“Kalau dibilang sudah efektif, rasanya terlalu cepat. Jangan sampai berhenti di sini,” ujarnya.
Pameran Bandung Milestone sendiri digelar untuk memperingati 71 tahun Konferensi Asia-Afrika. Arsip sejarah yang ditampilkan diolah dengan kecerdasan buatan (AI) sebelum diverifikasi kembali oleh para ahli, untuk menghadirkan narasi visual tentang perjalanan sejarah Bandung dalam konteks nasional dan global.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut pameran ini sebagai upaya mendekatkan sejarah kepada masyarakat sekaligus menghidupkan kembali ruang publik seperti microlibrary.
“Dari sinilah kita melihat pameran Milestone untuk melihat bagaimana jejak-jejak perjuangan pergerakan kebangsaan yang berawal dari Kota Bandung,” kata Farhan dalam pembukaan pameran yang berlangsung 24 April hingga 16 Mei 2026.
Baca Juga: Bandung Smart City dan Realitas Jalur Sepeda
Menelusuri Bandung Bersama Hasan dalam Novel Atheis
Microlibrary yang Sempat Layu
Microlibrary Asia Afrika bukan satu-satunya ruang literasi yang pernah mengalami penurunan aktivitas. Di Kota Bandung, sejumlah microlibrary yang dibangun sebagai bagian dari program peningkatan minat baca menunjukkan nasib yang berbeda-beda.
Di Babakansari, Kecamatan Kiaracondong, microlibrary sempat dilaporkan dalam kondisi sepi dan jarang digunakan. Bangunan yang dirancang sebagai ruang baca komunitas itu bahkan tampak tidak aktif dalam beberapa periode kunjungan pada 2024.
Microlibrary tersebut dibangun dalam program penguatan literasi perkotaan saat Ridwan Kamil menjabat Wali Kota Bandung dan diresmikan pada 2019. Dengan luas sekitar 120 meter persegi, bangunan ini dilengkapi ruang baca, area terbuka, serta rooftop hijau yang dirancang sebagai ruang interaksi warga.
Kondisi serupa juga terjadi pada Microlibrary Bima di Kecamatan Cicendo. Bangunan dengan fasad unik dari ribuan ember bekas es krim itu pernah mendapat penghargaan arsitektur internasional, namun aktivitasnya menurun sejak pandemi. Warga setempat menyebut ruang tersebut sempat digunakan secara terbatas untuk kegiatan non-perpustakaan.
Berbeda dengan dua microlibrary tersebut, Microlibrary Asia Afrika di Alun-Alun Bandung kini menjadi titik yang kembali aktif. Dengan luas sekitar 1.200 meter persegi dan lebih dari 7.000 koleksi buku, ruang ini kembali digunakan sebagai ruang baca publik di pusat kota.
Microlibrary ini sempat mengalami penyesuaian operasional akibat penataan kawasan Alun-Alun Bandung, sebelum kembali dibuka untuk umum. Kini, ruang tersebut dapat diakses gratis pada hari kerja, meski buku hanya dapat dibaca di tempat.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Dewi Kaniasari, mengatakan pemerintah kota tengah berupaya menghidupkan kembali seluruh microlibrary melalui pelibatan komunitas dan program publik.
“Ke depan, tantangannya adalah bagaimana gedung-gedung ini kembali aktif. Salah satunya dengan melibatkan komunitas agar ruang ini dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, microlibrary memang dirancang sebagai ruang baca terbuka, bukan layanan peminjaman buku seperti perpustakaan konvensional.
“Gratis, tapi dibaca di tempat, tidak bisa dipinjam ke rumah,” katanya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


