Ketika Mitos Oray Tapa Menjadi Peringatan Gempa Sesar Lembang
Video mapping Dongeng Oray Tapa di Balai Kota Bandung menghidupkan narasi Sesar Lembang sebagai pengingat mitigasi bencana bagi warga.
Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 29 April 2026
BandungBergerak - Dinding Balai Kota Bandung berubah menjadi kanvas raksasa bagi pertunjukan video mapping “Dongeng Oray Tapa” karya Sembilan Matahari. Visual yang diproyeksikan tidak sekadar menghadirkan estetika, tetapi menyusun narasi tentang ancaman yang hidup diam di bawah kota, Sesar Lembang.
“Oray tapa”, yang dalam bahasa Indonesia berarti ular yang tengah bertapa, dimunculkan sebagai metafora dari sesar aktif yang tampak tenang namun menyimpan potensi besar. Melalui alur visual yang bergerak di permukaan bangunan, cerita ini membawa penonton pada satu kesadaran: bahwa ancaman bencana tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata, melainkan bisa tersembunyi dan menunggu waktu.
Pendekatan dongeng yang digunakan menjadi cara untuk menjembatani pengetahuan ilmiah dengan pemahaman publik. Cerita rakyat yang hidup di masyarakat diolah ulang sebagai medium mitigasi, mengingatkan pada kisah Smong yang diwariskan secara turun-temurun dan terbukti membantu warga mengenali tanda-tanda bencana saat Tsunami Aceh 2004. Melalui “Dongeng Oray Tapa”, narasi serupa coba dihadirkan dalam konteks Bandung—bahwa kewaspadaan bisa dibangun, bahkan dari cerita yang berakar pada mitos.
“Oray tapa yang sebenarnya di dalamnya berkaitan dengan sesar lembang. Jadi ini boleh dibilang sebagai cerita rakyat yang ingin kita angkat untuk menjadi bagian dari mitigasi bencana,” terang Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung Didi Ruswandi di festival kesiapsiagaan bencana “Ngabandungan Bandung”, bertepatan dengan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana pada tanggal Senin, 26 April 2026.
Didi menjelaskan, festival “Ngabandungan Bandung” digelar untuk menarik perhatian masyarakat agar mau terlibat aktif dalam upaya peningkatan kesadaran literasi mitigasi bencana.
“Dengan kegiatan ini kami ingin pemahaman mitigasi naik kelas, di mana pengetahuan kesadaran bencana ingin dijadikan sebuah culture atau sebuah lifestyle gitu gaya hidup, sehingga harus dikemas menarik agar orang-orang mau datang bahkan walaupun jauh meraka mau tetap ngejar,” ujar Didi.
Kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam memahami pengetahuan terkait bekal mitigasi bencana menjadi hal penting untuk menyelamatkan nyawa dari risiko bencana di masa yang akan datang. Sebab, disebutkan oleh Didi, sebagian besar orang selamat dari bencana justru disebabkan oleh kapasitas dari individu dan masyarakat itu sendiri.
“Pemahaman mitigasi itu penting banget, karena hanya kurang dari 5 persen orang selamat itu dibantu oleh tim penyelamat, sisanya itu oleh kapasitas masyarakat. Jadi ada yang 35 persen selamat karena dirinya, 29 persen karena ditolong oleh anggota keluarga, sekian persen lainnya ditolong oleh masyarakat,” terang Didi.
Oleh karena itu, pada festival “Ngabandungan Bandung” ini simulasi kesiapsiagaan bencana yang dilakukan lebih mengarah pada simulasi yang berfokus pada peningkatan kapasitas pemahaman masyarakat terkait bencana, tidak lagi hanya bertumpu pada kapasitas aparatur atau tim penyelamat.

Mempersiapkan Diri
Sesar Lembang membentang sekitar 29 kilometer dari Padalarang, Kabupaten Bandung Barat hingga Gunung Manglayang, kawasan timur Kota Bandung. Sesar ini diprediksi menghasilkan gempa 6,5 hingga 6,8 magnitudo yang akan berdampak terhadap tujuh kabupaten/kota, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupatan Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Subang.
Selain Sesar Lembang, di Jawa Barat, terdapat sejumlah sumber gempa dari patahan aktif, di antaranya adalah Sesar Cimandiri, Sesar Cugenang, Sesar Cipamingkis, Sesar Garsela, Sesar Baribis, Sesar Cicalengka, Sesar Cileunyi-Tanjungsari, dan Sesar Tomo. Secara keseluruhan, Provinsi Jawa Barat dikategorikan kelas tinggi berisiko bencana gempabumi.
Berdasarkan data hasil kajian yang dilakukan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, patahan yang memiliki bentuk gawir sesar ini berpotensi menimbulkan gempa bumi dengan magnitudo yang signifikan berkisar 6 hingga 7.
Melihat besarnya potensi dampak dari pergerakan Sesar Lembang—yang tidak pernah dapat diprediksi kapan akan terjadi—upaya membangun kesadaran mitigasi dan kewaspadaan dinilai perlu menjadi bagian dari budaya masyarakat.
“Kita menyikapinya tidak dengan budaya ketakutan atau kepanikan, yang kita bangun di sini adalah budaya kewaspadaannya. Sehingga setelah waspada ini bisa terbangun, ketika gempa ini terjadi kita telah siap dengan berbagai mitigasinya,” ungkap Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Teguh Rahayu, di acara yang sama.
Pernyataan senada juga diungkapkan oleh Irwan Meilano, pakar geodesi gempa bumi dan risiko bencana dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Meski ia telah kerap melakukan riset terkait periodisasi gempa hingga mendapatkan temuan kapan gempa Sesar Lembang terakhir terjadi, belum ditemukan metode pasti yang dapat mengetahui kapan akan terjadinya gempa serupa berikutnya hingga hari ini.
“Kita tidak pernah tahu kapan gempa skala kecil terjadi, apalagi gempa yang skala besar, tetapi kalau seandainya terjadi pertanyaannya bukan kapan itu terjadi, pertanyaannya adalah apakah kita siap jika terjadi. Untuk bisa siap, kita harus selalu diingatkan,” ujar Irwan.
Ia berharap, festival “Ngabandungan Bandung” menjadi media pengingat bagi masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaannya. Festival ini diinisiasi BPBD Kota Bandung bersama Sembilan Matahari dan Sesar Lembang Kalcer (SLK).
Sesuai namanya, ngabandungan yang dalam bahasa Sunda berarti mendengarkan, festival “Ngabandungan Bandung” sendiri memiliki makna sebagai kegiatan yang berupaya untuk kembali mendengarkan dan memahami detak Kota Bandung, terlebih mengenai gejala-gejala alam yang ada di Kota Bandung. Acara ini digelar siang hari hingga menjelang tengah malam dengan berbagai aktivasi kegiatan mulai dari simulasi kesiapsiagaan bencana, games edukasi, hingga diskusi terkait kebencanaan.
Baca Juga: Menyoal Informasi di Media Sosial tentang Ancaman Gempa Bumi Sesar Lembang yang Meresahkan
Menguji Mitigasi Sesar Lembang di Bandung Raya
Riwayat Gempa Jawa Barat
Gempa bumi bukan peristiwa asing bagi masyarakat Jawa Barat. Dalam lebih dari satu dekade terakhir, sejumlah wilayah di provinsi ini diguncang lindu yang menimbulkan trauma dan kerusakan.
Pada 28 Agustus 2011, sebuah gempa bermagnitudo 3,3 mengguncang Kampung Muril Rahayu, RW 15, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Meski tergolong kecil dalam skala magnitudo, dampaknya begitu besar karena pusat gempa sangat dekat dengan permukiman warga dan berada pada kedalaman yang dangkal. Akibatnya, hampir 400 rumah rusak, dan ratusan orang terpaksa mengungsi. Gempa ini berasal dari aktivitas sesar Lembang, yang melintas hanya ratusan meter dari kampung tersebut.
Sebelas tahun kemudian, gempa kembali mengoyak Jawa Barat. Pada 22 November 2022, lindu mengguncang Cianjur. Guncangan ini menyebabkan puluhan ribu rumah rusak berat dan ratusan ribu kepala keluarga terdampak. Bantuan darurat, termasuk tenda dan shelter, menjadi kebutuhan mendesak saat itu. Tragedi Cianjur menjadi titik awal rentetan gempa yang terjadi di wilayah lain sesudahnya.
Menjelang akhir tahun 2023, tepatnya pada Minggu malam, 31 Desember, gempa bermagnitudo 4,8 mengguncang Sumedang. Sumbernya berasal dari sesar Cileunyi-Tanjungsari, yang berada hanya 1,5 kilometer dari pusat kota. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, puluhan rumah rusak, dan sejumlah warga mengalami luka karena tertimpa reruntuhan bangunan.
BPBD Jawa Barat mencatat, 14 desa terdampak tersebar di Sumedang Utara dan Selatan, termasuk Tegalsari, Cipamengpeuk, dan Babakan Bukit sebagai wilayah dengan kerusakan parah. Dua rumah sakit, RSUD Sumedang dan RS Pakuwon, juga terdampak—ratusan pasien harus dievakuasi ke tenda darurat.
Belum genap setahun berlalu, gempa kembali terjadi. Kali ini pada Rabu pagi, 18 September 2024, gempa bermagnitudo 4,9 yang bersumber dari sesar Garut Selatan (Garsela) mengguncang wilayah selatan Kabupaten Bandung dan Garut. Puskesmas Kertasari rusak, sekolah-sekolah ikut terdampak, dan sejumlah rumah warga terguling.
Kabupaten Bandung menjadi wilayah terparah dalam bencana ini. Sedikitnya 656 rumah rusak, 56 orang luka ringan, dan 19 luka berat. Selain itu, lima fasilitas kesehatan, 17 sarana pendidikan, dan 35 tempat ibadah juga terdampak. Di Kabupaten Garut, gempa merusak lebih dari 200 rumah serta sarana umum lainnya.
Hanya tiga hari sebelum kejadian itu, Minggu, 15 September 2024, gempa bermagnitudo 5,1 juga terjadi di wilayah selatan Sukabumi. Episenter gempa berada di laut, sekitar 94 kilometer dari pantai. Meski berada cukup jauh, guncangannya terasa hingga ke Cimahi, Lembang, Banjaran, dan wilayah Kabupaten Bandung. Skala intensitas mencapai III MMI di Sukabumi dan II MMI di Bandung Raya. Getaran dirasakan, benda ringan bergoyang, dan sebagian masyarakat mengungsi karena khawatir gempa susulan.
Sesar Garsela sendiri merupakan patahan aktif sepanjang 42 kilometer dari Garut Selatan hingga selatan Bandung. Aktivitasnya tercatat pernah memicu gempa di tahun 2015 dan 2017. Struktur geologinya yang melintasi kawasan pegunungan membuat potensi bencana ikutan seperti longsor semakin tinggi.
Rangkaian gempa ini menunjukkan satu hal: patahan-patahan aktif di Jawa Barat masih menyimpan potensi bencana yang tidak boleh diremehkan. Kesiapsiagaan, bangunan tahan gempa, dan pemetaan risiko mutlak harus dilakukan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


