• Berita
  • Orang Muda Menyerukan Pembentukan TGPF untuk Andrie Yunus

Orang Muda Menyerukan Pembentukan TGPF untuk Andrie Yunus

Dari panggung musik hingga desakan TGPF untuk mengusut kasus serangan air keras terhadap Andrie Yunus, musisi dan publik bersatu melawan impunitas.

Musisi dan warga di Jakarta, Senin, 27 April 2026 bersolidaritas untuk Andrie Yunus, aktivis KontraS yang menjadi korban penyerangan teror air keras. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah30 April 2026


BandungBergerak - Mural Andrie Yunus terpampang di dinding M Bloc, Jakarta Selatan. Spanduk hitam terbentang jelas bertuliskan “Bentuk TGPF (Tim Gabungan Independen Pencari Fakta) sekarang” dan “Keadilan untuk Andrie, Keadilan untuk Semua”.

“Suatu saat kami kan tumbuh bersama dengan keyakinan kau harus hancur,” lantang ratusan orang muda bersenandung bersama Fajar Merah dan Cholil Mahmud di bawah gelap langit Jakarta. Mereka menyanyikan lagu berjudul Bunga di Tembok karya Wiji Thukul dalam acara “Dari Warga untuk Andrie”, Senin, 27 April 2026.

Pengunjung yang didominasi anak muda membludak hingga tak semuanya bisa masuk ke venue utama acara solidaritas ini. Sejumlah musisi turut menyuarakan keadilan untuk aktivis prodemokrasi Andrie Yunus, seperti Dongker, Banda Neira, Down For Life, Yacko, The Brandals, Usman and The Blackstone, Fajar Merah, Konsultasi Massal, dan Efek Rumah Kaca.

“Bagi kami, serangan air keras terhadap Andrie Yunus pada Maret lalu adalah bukti nyata krisis demokrasi dan krisis ekologi yang saling berkelindan, dua konsekuensi dari satu kegagalan sistem yang sama,” kata para musisi di atas panggung, saat menyampaikan pernyataan sikap bersama.

Mereka mendesak negara untuk mengusut kasus-kasus serangan terhadap warga yang bersuara kritis seperti Andrie Yunus (KontraS) dan Iqbal Damanik (Greenpeace Indonesia), dengan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta Independen serta mengadili pelaku di pengadilan umum.

Seusai menyatakan sikap, tiba-tiba listrik padam. Suasana menjadi gelap, pengap, dan menegangkan, memicu kekhawatiran akan keselamatan penonton karena panitia dan musisi merasa bertanggung jawab atas kondisi tersebut. Namun tak lama kemudian listrik kembali menyala.

Penonton masih antusias. Panitia kemudian secara spontan membuat panggung tambahan di luar. Konsep dua panggung itu sama sekali tidak direncanakan sebelumnya; mereka pun langsung memasang alat musik dan tampil secara dadakan di luar, yang ternyata tetap disambut baik oleh penonton.

“Itu benar-benar dadakan, tapi ternyata yang di luar tetap bisa menikmati,” kata Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca, saat saya temui selesai acara.

Saya lanjut berbincang dengan pelantun lagu “Di Udara” itu yang memiliki perhatian serius pada kasus Andrie Yunus. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap impunitas dan menguatnya rasa takut di kalangan anak muda apabila pengungkapan kasus serangan terhadap Andrie Yunus tidak dilakukan secara transparan dan menyeluruh.

Penanganan kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus dinilai memerlukan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Ia juga berharap perkara ini dibawa ke peradilan umum yang lebih terbuka dibandingkan peradilan militer. Peradilan militer dinilai memiliki keterbatasan dalam transparansi. Prosesnya yang tertutup berpotensi menghambat pengungkapan pelaku secara menyeluruh.

“Kalau kita ingin kasus ini terang-benderang, semua pihak yang terlibat harus diungkap, bukan hanya berhenti pada pelaku lapangan,” ujar Cholil.

Ia mengingatkan bahwa impunitas membuka ruang bagi terulangnya kekerasan serupa, terutama dalam kasus yang melibatkan aktor negara. Dampaknya tidak hanya dirasakan korban, tetapi juga masyarakat luas.

Ia juga menyinggung penangkapan pascademonstrasi Agustus–September 2025 yang diduga diiringi kekerasan terhadap demonstran maupun warga yang kebetulan berada di lokasi. Peristiwa ini menimbulkan rasa takut di kalangan masyarakat sipil untuk bersuara kritis.

Ketakutan itu juga berdampak pada respons publik terhadap peristiwa lain yang membutuhkan kritik, seperti bencana di Sumatera dan Aceh yang diduga terkait pembalakan hutan, namun tidak memicu reaksi luas. Bukan karena masyarakat tidak peduli, melainkan karena adanya rasa takut terhadap risiko persekusi.

“Menurut saya, mereka (publik) marah, tapi takut. Takut akan persekusi jika bersuara terlalu vokal, sehingga akhirnya tidak terjadi apa-apa,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengajak warga untuk terus merawat solidaritas dan menjaga ruang kritik. Masyarakat sipil diharapkan saling menguatkan sekaligus mendorong penanganan kasus Andrie Yunus secara transparan dan menyeluruh demi mencegah terulangnya peristiwa serupa.

Baca Juga: Solidaritas dari Bandung untuk Andrie Yunus
Luka Teror Andrie Yunus di Jalan Demokrasi

Desakan Membentuk TGPF

Gema Gita Persada dari Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menjelaskan, perkembangan penanganan kasus Andrie Yunus hingga kini belum menunjukkan kemajuan signifikan.

Atas dasar itu, TAUD mendesak pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Mekanisme ini dinilai krusial untuk menelusuri kemungkinan adanya rantai komando serta keterlibatan pihak lain, termasuk unsur sipil.

Lebih lanjut, Gema mengungkapkan bahwa berdasarkan temuan tim investigasi mandiri, jumlah pelaku di lapangan diperkirakan mencapai sedikitnya 16 orang. Namun, hingga kini baru sebagian yang diproses, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa pengusutan tidak dilakukan secara menyeluruh.

TAUD juga mengklarifikasi pernyataan aparat yang menyebut kasus tersebut telah dilimpahkan ke Puspom TNI. Berdasarkan dokumen yang mereka terima, tidak terdapat keterangan resmi bahwa penanganan perkara telah dialihkan sepenuhnya atau dihentikan oleh kepolisian.

“Ini menunjukkan proses pemeriksaan masih berjalan, termasuk untuk mengusut dugaan keterlibatan pihak lain,” kata Gita.

Diketahui, teror penyiraman air keras terhadap aktivis hak asasi manusia Andrie Yunus terjadi pada malam 12 Maret 2026 setelah pegiat KontraS tersebut menjadi narasumber podcast yang membahas remiliterisasi. Sebelumnya, rekam jejak Andrie Yunus antara lain dikenal melalui keberaniannya dalam mengkritik kebijakan pemerintah, seperti rapat RUU TNI di hotel mewah tahun lalu. 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//