Diskusi Sayembara Esai Mahasiswa Bersuara 2025 di Yogyakarta: Ruang Kritik Menyempit, Solidaritas Menguat
Dari ruang sidang hingga lingkar diskusi, anak muda merawat perlawanan lewat collective care di tengah gelombang pembungkaman pascademonstrasi Agustus.
Penulis Nabilah Ayu Lestari30 April 2026
BandungBergerak - Usai demonstrasi besar pada akhir Agustus hingga awal September, ruang-ruang kritik cenderung menyempit, sementara upaya pembungkaman justru menguat. Banyak anak muda kritis ditangkap dan diproses secara hukum. Fenomena ini terjadi di berbagai kota di Indonesia, termasuk Bandung dan Yogyakarta.
Hingga kini, proses persidangan para tahanan politik masih berlangsung, meski sebagian telah bebas setelah menjalani masa tahanan yang bervariasi. Di tengah situasi tersebut, para tahanan politik mendapat solidaritas dari warga prodemokrasi.
Firda Ainun dari Rifka Annisa Women’s Crisis Center melihat solidaritas itu berlangsung lintas wilayah. Ia menilai solidaritas penting karena memberi dampak psikologis signifikan bagi para tahanan politik. Rasa “tidak sendirian” mampu memulihkan mental mereka yang tertekan selama proses hukum.
Namun, ia menjelaskan bahwa solidaritas merupakan bagian dari gerakan collective care yang kerap tidak terlihat. Meski demikian, kerja kolektif ini tetap perlu dirawat.
Firda menuturkan, situasi di Yogyakarta pascademonstrasi Agustus tidak jauh berbeda dengan Bandung. Di kalangan mahasiswa terjadi penangkapan dan intervensi. Namun, kehadiran massa solidaritas di ruang persidangan terbukti menjadi instrumen perlawanan yang efektif.
Dukungan sederhana seperti menyediakan makanan, memberi bunga, hingga menemani korban menjadi bentuk perawatan nyata yang menjaga nyala gerakan agar tidak padam oleh represi.
“Hadir itu sangat berpengaruh. Aku melihat solidaritas membuat mereka merasa tidak sendirian, lebih berani untuk hadir dan melawan,” ujar Firda Ainun dalam diskusi Sayembara Esai Mahasiswa Bersuara 2025 bertajuk “Ketika Demonstrasi Tak Lagi Cukup: Dari Jalanan Menuju Keseharian, Dari Reaksi Menuju Pengorganisiran” di Yogyakarta, Minggu, 26 April 2026.
Dalam kesempatan yang sama, Amalinda Savirani, akademisi dari Universitas Gadjah Mada, menekankan pentingnya memperkuat jaringan solidaritas di tengah situasi saat ini. Ia menyebut, ruang-ruang diskusi kecil dapat menjadi sarana untuk saling terhubung dan memperkuat gerakan.
“Manfaatkan lingkaran kecil untuk saling memberdayakan, mengubah setiap ruang diskusi menjadi barisan perlawanan yang saling menguatkan nyali,” ujarnya.
Amalinda juga mengingatkan gerakan mahasiswa agar tidak hanya menghimpun dukungan kolektif, tetapi turut memperhatikan kesehatan fisik dan mental. Ia menekankan pentingnya mengenali diri serta mengambil jeda sebagai bagian krusial dalam gerakan. Menurutnya, praktik grounding bukan sekadar relaksasi, melainkan juga sikap politik.
“Grounding itu juga sikap politik karena kita ngerti kapan harus jeda dan kapan juga harus berlanjut gitu,” ucap Amalinda Savirani.
Baca Juga: SAYEMBARA ESAI MAHASISWA BERSUARA: Mahasiswa dari Keluarga Kelas Menengah ke Bawah di Persimpangan Mimpi dan Derita
SAYEMBARA ESAI MAHASISWA BERSUARA: Mahasiswa di Persimpangan Neoliberalisme Pendidikan, antara Performativitas Gerakan dan Tantangan Perjuangan Substantif
Mahasiswa Bersuara
Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Sayembara Esai Mahasiswa Bersuara 2025 yang diselenggarakan BandungBergerak. Nida Nurhamidah dari BandungBergerak menyatakan bahwa suara kritis mahasiswa kini menghadapi tantangan pembungkaman. Bahkan kampus yang semestinya menjadi ruang aman demokrasi justru ikut membatasi kebebasan akademik.
“Banyak mahasiswa mendapatkan intervensi dan pembungkaman ketika mengkritik isu yang terjadi. Sebelum kritik mati, kita semua perlu memperjuangkan ruang untuk tetap bersuara bersama,” ujar Nida.
Kritik dapat disampaikan melalui berbagai cara, salah satunya lewat tulisan. Dalam hal ini, BandungBergerak membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyalurkan gagasannya melalui Sayembara Esai Mahasiswa Bersuara 2025, yang diharapkan menjadi wadah bebas untuk menyampaikan kritik.
Program ini juga dijalankan melalui roadshow di tiga kota, salah satunya di Yogyakarta bekerja sama dengan LPM Philosofis Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan tersebut dihadiri mahasiswa, komunitas, dan organisasi kampus.
Sementara itu, Mohammad Farhan Kholil, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus pemenang sayembara, dalam esainya menyoroti kondisi perempuan di Indonesia yang masih kerap dipandang sebelah mata. Ia mengajak publik untuk lebih menghargai kerja-kerja perempuan.
“Kita sering menyepelekan hal-hal kecil yang dilakukan perempuan. Padahal itu bisa membuka mata kita bahwa setiap hal yang dilakukan layak diapresiasi,” ucap Farhan.
*Kawan-kawan yang baik, silakan mengunjungi esai-esai Mahasiswa Bersuara Mahasiswa Bersuara atau Sayembara Esai Mahasiswa Bersiara


