• Berita
  • Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Kealfaan Lama yang Terulang

Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Kealfaan Lama yang Terulang

Doa, air mata, dan nama-nama korban jadi pengingat: tragedi kereta ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan publik pengguna transportasi massal.

Aksi tabur bunga untuk korban tabrakan kereta api oleh Aksi Kamisan Bekasi, Kamis sore, 30 April 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah2 Mei 2026


BandungBergerak - Empat hari setelah kecelakaan, bunga-bunga, untaian belasungkawa, dan doa menyelimuti Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Warga dan pengguna KRL datang silih berganti. Mereka menundukkan kepala, mengangkat tangan, dan melirihkan doa.

Insiden terjadi pada Senin malam, 27 April 2026. Tabrakan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur mengakibatkan 106 penumpang menjadi korban. Sebanyak 15 orang meninggal dunia, sementara 91 lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini juga sempat mengganggu operasional perjalanan kereta di jalur tersebut.

Kamis sore, 30 April 2026, suasana stasiun dipenuhi puluhan karangan bunga dengan berbagai pesan perpisahan. Karangan-karangan itu berderet di meja dekat pintu masuk.

Salah satu pesan berbunyi, “All my prayers for the daughters, moms, wives, and girls. Love together,” ditulis seseorang berinisial SM dengan simbol hati. Pesan lain menyentuh peran para korban dalam kehidupan sehari-hari:

"Teruntuk wanita muda yang sedang menempuh pendidikan yang mereka cita-citakan… mendoakan dengan ikhlas kepada kalian untuk ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah.”

Beberapa karangan bunga juga mencantumkan nama-nama korban, sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Rofi, 20 tahun, warga Bekasi, datang khusus untuk berdoa. Ia berharap para almarhumah mendapatkan tempat yang terbaitk. Hal serupa dilakukan Nona, 40 tahun, yang datang bersama anaknya sepulang sekolah.

"(Saya) tergerak karena Setiap lihat di media sosial, di berita, ya Allah, nggak kuat banget,” ucap Nona, yang membeli bunga sebelum tiba di lokasi.

Di tengah deru kereta dan pengumuman stasiun, Nona hanya menyampaikan doa sederhana: “Kak, selamat tinggal ya. Baik-baik di sana.”

Selain warga, sejumlah kelompok masyarakat turut menggelar aksi tabur bunga dan doa bersama. Aksi tersebut diinisiasi oleh Aksi Kamisan Bekasi.

Akbar, salah satu peserta aksi, menilai kecelakaan ini sebagai kejanggalan serius, terlebih terjadi di tengah klaim kemajuan transportasi.

“Jangan sampai kita tidak belajar dari tragedi sebelumnya,” ujarnya, merujuk pada tragedi Bintaro.

Ia menekankan bahwa dengan teknologi saat ini, kecelakaan semacam ini seharusnya bisa dicegah.

“Kami menuntut seluruh dinas terkait, pemerintah, pejabat berwenang, termasuk KAI, untuk bertanggung jawab atas kejadian ini,” jelas Akbar.

Peserta lain, Maizatul Hasanah, menyoroti banyaknya korban perempuan dalam insiden ini.

“Sebagai perempuan, saya sangat merasakan duka ini. Lagi-lagi perempuan yang menjadi korban, bahkan yang meninggal dunia pun sebagian besar perempuan,” jelasnya.

Menurutnya, aksi ini bukan hanya ruang berkabung, tetapi juga refleksi atas sistem transportasi yang belum sepenuhnya aman.

Aksi tabur bunga untuk korban tabrakan kereta api oleh Aksi Kamisan Bekasi, Kamis sore, 30 April 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)
Aksi tabur bunga untuk korban tabrakan kereta api oleh Aksi Kamisan Bekasi, Kamis sore, 30 April 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)

Adul, 22 tahun, saksi mata, menceritakan kronologi kejadian. Ia menyebut insiden bermula dari gangguan di perlintasan sebidang Ampera. Saat KRL hendak diberangkatkan, tiba-tiba kereta jarak jauh melaju dari arah berlawanan. Ia mengatakan, sinyal waktu itu harusnya berwarna merah. 

“Pas sudah dekat baru merah, masinis sudah ngerem, tapi enggak cukup,” ujarnya.

Kereta jarak jauh tersebut akhirnya menghantam rangkaian KRL, tepat di gerbong perempuan. Benturan keras memicu kepanikan.

Warga kemudian bahu-membahu melakukan evakuasi. Menurutnya, ambulans tiba sekitar 30 menit setelah kejadian, dan proses evakuasi berlangsung hingga pagi hari.

Baca Juga: Tabrakan Kereta Api di Cicalengka, Empat Orang Petugas Meninggal Dunia
Menengok Tragedi Bintaro, Kisah Terkelam Kereta Api Indonesia

Respons Pemerintah dan Evaluasi Sistem

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat total 106 korban. Sebagian masih menjalani perawatan, sementara lainnya telah dipulangkan. Insiden ini juga berdampak pada operasional kereta, dengan dua jalur sempat tidak dapat dilalui.

Pemerintah merespons dengan rencana percepatan penertiban perlintasan sebidang di seluruh Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, terdapat lebih dari 4.000 perlintasan sebidang, dengan hampir setengahnya tidak dijaga. Di Bekasi, pemerintah daerah berencana membangun flyover di kawasan Bulak Kapal untuk mengurangi risiko kecelakaan.

Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Haris Muhammadun, menilai kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur sebagai peringatan serius bagi pemerintah untuk segera menghapus perlintasan sebidang antara rel kereta dan jalan.

Ia menyebut insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan serupa yang sebelumnya juga terjadi di sejumlah titik, seperti Poris Plawad dan Ampera. Menurutnya, perlintasan sebidang berulang kali menjadi penyebab kecelakaan yang menelan korban jiwa serta merusak sarana dan prasarana perkeretaapian.

Haris menegaskan, pemerintah tidak perlu lagi berlarut-larut dalam diskusi tanpa tindakan nyata. Seluruh pihak, kata dia, perlu bersinergi untuk mewujudkan sistem transportasi yang lebih aman.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah aksi konkret penghapusan perlintasan sebidang, sebagaimana mandat dalam peraturan perkeretaapian,” ujarnya, Jumat, 1 Mei 2026.

Kecelakaan ini mengingatkan pada tragedi besar sebelumnya, seperti Tragedi Bintaro 1987 yang menewaskan lebih dari 100 orang akibat miskomunikasi sistem. Peristiwa serupa juga terjadi di Cicalengka pada awal 2026, yang menewaskan petugas kereta dan melukai puluhan penumpang.

Rentetan kejadian ini menunjukkan bahwa persoalan keselamatan perkeretaapian masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia.

Hingga sore menjelang malam, Stasiun Bekasi Timur masih dipenuhi warga yang datang berdoa. Bunga-bunga terus berdatangan, menjadi simbol duka sekaligus pengingat bahwa tragedi ini belum sepenuhnya usai.

*Kawan-kawan dapat membaca tulisan-tulisan lain Muhammad Akmal Firmansyah, atau membaca artikel-artikel tentang Kereta Api

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//