• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Ketika Merasa Paling Pintar dan yang Lain Bodoh

MAHASISWA BERSUARA: Ketika Merasa Paling Pintar dan yang Lain Bodoh

Dunning Kruger Effect adalah bias kognitif ketika seseorang yang tidak memiliki pengetahuan atau kemampuan mengalami superioritas ilusif.

Deardo Amigo Purba

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung

Ilustrasi. Kesehatan mental memerlukan perhatian serius dari individu maupun negara. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

3 Mei 2026


BandungBergerak – Fenomena “aku lah yang paling pintar, yang lain bodoh” itu bukan bukti kecerdasan, tapi produk psikologi sosial dan bias kognitif. Ini yang disebut dengan efek David Dunning Justin Kruger (Dunning-Kruger Effect). Orang dengan pemahaman terbatas sering terlalu yakin, sementara yang benar-benar paham justru lebih ragu karena sadar kompleksitas.  Bahkan mungkin kita juga sering melihat orang-orang yang jelas-jelas salah tetapi ketika diberikan koreksi atas kesalahannya ia tetap bahwa dirinyalah yang benar. Jadi, merasa paling pintar sering muncul justru saat pemahaman masih dangkal. Meskipun begitu, sebenarnya bagaimana cara kerja dan penyebab dari Dunning-Kruger Effect?

Pada tahun 1995, seorang perampok bernama McArthur Wheeler ditangkap polisi setelah merampok 2 Bank di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Wheeler terkejut dengan penangkapan dirinya. Dalam pengakuannya, dia mempertanyakan mengapa polisi bisa mengenali wajahnya yang tertangkap kamera pengawas. Pada saat melakukan perampokan, Wheeler ternyata tidak menutup wajahnya dengan topeng, tapi justru dengan melumuri wajahnya dengan perasan lemon. Menurut Wheeler, cairan lemon memiliki kandungan yang dapat membuat wajahnya tidak dapat terlihat dalam kamera karena dia tahu, perasan lemon bisa digunakan sebagai tinta yang tidak terlihat untuk menulis di sebuah kertas. Menurutnya, tindakannya adalah tindakan yang sangat masuk akal dan tidak mungkin kamera bisa melihat mukanya sehingga para polisi juga tidak akan berhasil menemukannya. Tertarik dengan kasus ini, David Dunning dan Justin Kruger melakukan penelitian: apa yang menyebabkan orang yang tidak berpengetahuan dan tidak berkemampuan tapi tidak sadar akan hal itu?

Pada tahun 1999, mereka melakukan penelitian berjudul “Unskilled and Unaware of it” di mana mereka menguji sekelompok orang tentang tata bahasa, humor dan logika. Pada percobaan pertama, 65 peserta diminta untuk menilai lelucon yang menurut mereka lucu. Mereka yang merasa bahwa diri mereka adalah orang yang pandai dalam menilai humor adalah orang-orang yang mendapatkan nilai terburuk dalam ujian yang diberikan. Dunning dan Kruger kemudian melakukan tes bahasa dan logika pada peserta yang sama dan hasilnya tetap sama. Sebagian besar orang yang mendapat nilai terendah adalah yang paling percaya diri dalam melaksanakan ujian itu, sementara mereka yang mendapat skor tertinggi merasa orang-orang lebih baik melakukan penilaian daripada dirinya. Hasil penelitian mereka dinamakan dengan istilah “Dunning Kruger Effect”, yakni bias kognitif ketika seseorang yang tidak memiliki pengetahuan atau kemampuan mengalami superioritas ilusif, artinya ia merasa kemampuannya lebih hebat daripada orang lain pada umumnya. Orang yang hanya tahu sedikit tentang suatu subjek cenderung melebih-lebihkan seberapa banyak yang dia ketahui dan seberapa sedikit yang orang lain tahu.

Ilustrasi: Grafik Dunning-Kruger Effect (Sumber: https://laurence-paquette.medium.com/the-dunning-kruger-effect-or-the-cycle-of-taking-on-a-new-role-db85e77003d2)
Ilustrasi: Grafik Dunning-Kruger Effect (Sumber: https://laurence-paquette.medium.com/the-dunning-kruger-effect-or-the-cycle-of-taking-on-a-new-role-db85e77003d2)

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Di Dapur yang Semakin Sepi, Ada Kebijakan yang Perlu Dipertanyakan lagi
MAHASISWA BERSUARA: Dari Ketahanan Menuju Kedaulatan, Melihat Nasib Petani Hanjeli Jawa Barat Melalui Ekonomi Sirkular
MAHASISWA BERSUARA: Transisi Teknologi dan Prekariat Kerja Proyeksionis Bioskop Garut

Refleksi Diri

Dunning dan Kruger menjelaskan fenomena ini dalam grafik.  Dalam grafik tersebut, terdapat beberapa tahapan penting. Pada awalnya, seseorang berada pada titik “Peak of Mount Stupid”, yaitu kondisi di mana kepercayaan diri menjulang sangat tinggi ketika seseorang belajar hal baru meskipun pengetahuan masih sangat rendah. Setelah itu, seseorang akan mengalami penurunan drastis menuju titik terendah bernama “Valley of Despair”, yaitu fase ketika seseorang mulai belajar lebih lanjut, ia mulai menyadari bahwa dirinya tidak tahu banyak karena suatu hal itu tidak segampang dan tidak sesederhana yang ia nilai sebelumnya sehingga kepercayaan dirinya menurun. Biasanya, kebanyakan orang akan berakhir di Valley of Despair karena merasa gagal dan jatuh. Namun, bagi mereka yang tidak menyerah dan ingin terus mencari jalan, mereka akan mulai mendaki “Slope of Enlightenment”, di mana seseorang mulai belajar dan memahami lebih dalam, sehingga kepercayaan dirinya perlahan meningkat kembali. Di fase ini, seseorang akan terus meningkatkan kemampuannya untuk mencapai “Plateau of Sustainability”, yaitu kondisi di mana kepercayaan diri dan kompetensi sudah lebih seimbang.

Jadi Apa Itu Dunning-Kruger Effect?

Secara sederhana, efek ini menggambarkan kondisi ketika orang yang kurang kompeten justru terlalu percaya diri, karena tidak menyadari betapa minimnya pengetahuan mereka. Sementara itu, orang yang benar-benar kompeten sering malah ragu-ragu karena sadar kalau pengetahuan akan sesuatu sangat luas.

Fenomena Dunning-Kruger Effect pada akhirnya bukan hanya tentang orang lain, tetapi juga tentang diri kita sendiri. Setiap orang memiliki potensi untuk terjebak dalam bias ini, terutama ketika baru memahami suatu hal. Rasa percaya diri yang muncul di tahap awal sering kali memberi ilusi bahwa kita sepertinya sudah cukup menguasai suatu bidang, padahal sebenarnya masih banyak yang belum kita pahami.

Refleksi diri menjadi hal yang penting untuk menghindari jebakan Dunning-Kruger Effect. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan kesadaran metakognitif, yaitu kemampuan untuk mengevaluasi sejauh mana kita benar-benar memahami suatu hal. Selain itu, keterbukaan terhadap kritik, kebiasaan untuk memverifikasi informasi, serta kemauan untuk terus belajar menjadi kunci dalam membangun pemahaman yang lebih akurat.

Di sisi lain, fenomena ini juga memiliki nilai positif. Kepercayaan diri pada tahap awal dapat menjadi dorongan untuk mencoba hal baru tanpa rasa takut yang berlebihan. Namun, kepercayaan diri tersebut perlu diimbangi dengan kerendahan hati intelektual agar tidak berubah menjadi kesombongan yang menutup peluang belajar.

Teruslah belajar, terbuka terhadap masukan, dan berani mengakui bahwa kita belum tahu segalanya. Dengan demikian, perlu kita yakini bahwa pada akhirnya, bukan siapa yang paling merasa pintar yang akan berkembang, tetapi siapa yang terus mau belajar dan memperbaiki diri.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//