MAHASISWA BERSUARA: Dua Akun Dua Kepribadian Gen Z di Instagram
Di tengah dunia yang penuh citra dan representasi, apakah kita masih benar-benar hidup sebagai diri kita sendiri atau hanya sebagai versi yang kita tampilkan?

Azza Athia Hummairoh
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Telkom University
3 Mei 2026
BandungBergerak – Media sosial Instagram biasanya digunakan untuk membangun interaksi, berkomunikasi dan sebagai tempat untuk menyebarkan informasi dari pengguna lainnya. Instagram merupakan media sosial yang masuk dalam kategori jejaring sosial yang dapat diakses dengan mudah, dan dapat memberikan informasi (Prihatiningsih, 2017). Di kalangan Gen Z, memiliki dua akun Instagram bukan lagi hal aneh. Bahkan, bagi sebagian orang, itu sudah menjadi “standar baru” dalam bermedia sosial.
First account atau akun pertama biasanya digunakan untuk menampilkan “keestetikan” dan biasanya lebih rapi. Di first account, pengguna berusaha menampilkan versi terbaik dari dirinya. Feed disusun dengan rapi dan warna yang senada, caption dipikirkan dengan matang, dan momen yang diunggah pun dipilih secara selektif. First account menjadi tempat untuk seseorang menunjukkan siapa dirinya ingin terlihat oleh orang lain.
Sebaliknya, second account sering menjadi ruang pelarian. Di akun ini, seseorang bisa lebih santai, seperti mengunggah foto tanpa filter, berbagi keluh kesah, hingga mengekspresikan sisi fandom seperti fangirl atau fanboy. Selain itu pengguna tidak dituntut untuk menjadi sempurna dan sebagian besar pengguna merasa lebih nyaman mengakses akun kedua. Biasanya akun kedua diikuti oleh pengguna yang merupakan orang-orang tertentu atau terdekat dari pemilik akun (Permana, 2021).
Jika first account adalah panggung depan, maka second account adalah ruang belakang tempat identitas yang lebih “apa adanya” muncul.
Fenomena ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya menyimpan pertanyaan menarik. Apakah kita benar-benar menjadi diri sendiri di media sosial, atau justru sedang memainkan peran tertentu? Apakah second account benar-benar lebih “nyata”?
Dalam fenomena ini pemikiran Jean Baudrillard tentang Postmodernisme menjadi relevan. Pada Instagram, First account bisa dilihat sebagai bentuk simulasi. Identitas yang ditampilkan bukanlah diri yang utuh, melainkan versi yang sudah dikurasi. Konsep Postmodernisme menurut Jean Baudrillard terbagi menjadi 3: Simulacra, Simulation dan Hyperreality
Simulacra adalah kondisi ketika yang beredar hanyalah citra atau tanda, tanpa lagi merujuk pada realitas asli. Simulacra menurut pandangan Jean Baudrillard menjadi sebuah duplikasi, yang aslinya tidak pernah ada atau bisa dikatakan merupakan sebuah realitas tiruan yang tidak lagi mengacu pada realitas sesungguhnya, sehingga perbedaan antara duplikasi dan asli menjadi kabur. Simulacra bisa juga dikatakan sebagai representasi, misalnya dilakukan oleh pencitraan (Jauhari, 2017).
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Mengapa Kesehatan Mental Mahasiswa Tidak Boleh Diabaikan?
MAHASISWA BERSUARA: Tidak Ada Istilah FOMO Buat Para Mahasiswa yang Baru Mulai Membaca
MAHASISWA BERSUARA: Menyoal Ketergantungan AI untuk Debugging pada Mahasiswa Informatika
Realitas Diri
Dalam konteks Instagram, first ataupun second account adalah representasi diri, bukan diri itu sendiri. Foto, caption, hingga story hanyalah tanda yang kita produksi untuk menggambarkan siapa kita. Lama-kelamaan, perbedaan antara “diri asli” dan “diri di Instagram” menjadi tidak lagi penting. Yang ada hanyalah versi yang terlihat.
Selanjutnya simulation, Baudrillard menjelaskan bahwa realitas hari ini tidak sekadar ditampilkan, tetapi dibentuk oleh media dan sistem representasi. Instagram bukan hanya tempat kita membagikan hidup, tetapi juga tempat kita mendesain hidup. First account, sering menjadi ruang di mana seseorang membangun citra agar terlihat produktif, bahagia, atau estetik. Sedangkan, second account yang dianggap lebih jujur, tetap merupakan hasil pilihan apa yang ingin ditampilkan, kepada siapa, dan dalam bentuk apa. Dengan kata lain, kita tidak hanya hidup, tapi juga terus-menerus “menstimulasikan” kehidupan.
Simulasi ini merujuk pada penciptaan model atau citra yang menggantikan realitas itu sendiri. Instagram memungkinkan pengguna untuk menghasilkan, mengedit, dan membagikan gambar-gambar yang tidak hanya mendokumentasikan kehidupan mereka, tetapi juga memproduksi versi realitas yang telah difilter, dipoles, dan dipilih dengan hati-hati (Idris et al., n.d.).
Hyperreality adalah puncaknya, ketika batas antara yang nyata dan yang tidak nyata menjadi kabur. Versi diri di Instagram bisa terasa lebih nyata dan lebih dipercaya daripada kehidupan sehari-hari. Orang lain mengenal kita dari feed, bukan dari interaksi langsung. Bahkan, kita sendiri kadang merasa bahwa versi yang kita tampilkan di media sosial adalah versi yang “seharusnya” kita jalani. Yang buatan menjadi lebih meyakinkan daripada yang nyata. Baudrillard memandang era simulasi dan hiperrealitas sebagai bagian dari rangkaian fase citraan yang berturut-turut (Jauhari, 2017).
Fenomena dua akun ini akhirnya menunjukkan bahwa identitas di era digital tidak lagi tunggal. Kita hidup dalam berbagai versi diri, tergantung ruang dan audiens. First account untuk publik dan second account untuk lingkaran dekat, keduanya sama-sama nyata sekaligus tidak sepenuhnya nyata.
Di sisi lain, ini juga mencerminkan tekanan sosial. Ada standar tidak tertulis tentang bagaimana seseorang “seharusnya” tampil di media sosial. Ketika standar itu terasa terlalu sempit, second account hadir sebagai ruang alternatif. Namun, bahkan di ruang alternatif itu, kita tetap berada dalam sistem yang sama yaitu memilih, mengatur, dan menampilkan diri.
Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan lagi soal mana akun yang paling asli. Tapi lebih jauh: di tengah dunia yang penuh citra dan representasi, apakah kita masih benar-benar hidup sebagai diri kita sendiri atau hanya sebagai versi yang kita tampilkan?
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


