• Berita
  • Di antara AI dan Viralitas, Masihkah Jurnalisme Dibutuhkan?

Di antara AI dan Viralitas, Masihkah Jurnalisme Dibutuhkan?

Di era AI dan ledakan konten, jurnalisme ditantang untuk tak sekadar cepat, tetapi tetap akurat, bernilai, dan berpihak pada publik.

Memperingati World Press Freedom Day, AJI Bandung bersama Pasar Minggu menggelar diskusi di Kedai Jante, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah4 Mei 2026


BandungBergerak — Jurnalis menghadapi beban kerja yang kian meningkat di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), perubahan cepat industri media, serta kesejahteraan yang tak kunjung membaik. Di saat yang sama, mereka menegaskan bahwa jurnalis tetap berperan krusial sebagai pengawas kekuasaan, meski ruang geraknya kian terbatas.

Vidaa Fatimah Alatas, jurnalis Kompas TV, menyebut kondisi industri media saat ini diliputi ketidakpastian. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) serta kekhawatiran akan masa depan profesi jurnalis kerap muncul seiring perubahan lanskap media.

Meski demikian, ia tetap melihat jurnalisme sebagai profesi yang relevan dan bernilai. Menurut Vidaa, memilih menjadi jurnalis bukan semata keputusan rasional, melainkan juga berangkat dari keyakinan personal.

“Jurnalis dan jurnalisme itu mungkin untuk orang-orang yang memang ‘menganut agama’ tersebut,” ujarnya, Vidaa, di diskusi bertajuk “Masihkah Jurnalisme Relevan? Fungsi dan Profesi Jurnalis di Era Content Creator dan Banjir Informasi AI” yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung di Kedai Jante, Minggu, 3 Mei 2026.

Dalam diskusi yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Pers Sedunia (World Press Freedom Day) 2026 tersebut, jurnalis, praktisi, dan akademisi media menyoroti relevansi jurnalisme saat ini.

Fenomena banjir informasi yang serba cepat dan viral, kata Vidaa, merupakan fase yang belum tentu bertahan lama. Wartawan Kompas TV itu optimistis publik, terutama generasi muda, akan mencapai titik jenuh terhadap konsumsi informasi instan.

“Informasi cepat dan viral masih digandrungi. Tapi mungkin nanti ada titik di mana mereka capek dan mulai cari kualitas,” jelasnya.

Ia menilai tantangan serius jurnalisme ke depan adalah kecenderungan publik yang mulai menghindari berita. Karena itu, jurnalisme perlu beradaptasi dengan menghadirkan informasi yang lebih bermakna, bukan sekadar menambah kebisingan.

“Mungkin sudah saatnya jurnalisme kita enggak cuma ‘menuhin tempat yang sudah penuh’, tapi benar-benar memberi nilai,” terangnya.

AI, Viral, dan Jurnalisme

Diskusi juga mengerucut pada tantangan jurnalisme di era kecerdasan buatan. Kepala Laboratorium AI dan Big Data Fikom Unpad Abie Besman menilai, jurnalisme akan tetap relevan, meski peran dan bentuknya berubah.

Menurut Abie, jurnalisme tidak lagi bisa dipandang sebagai monopoli profesi jurnalis semata. Fungsi fourth estate atau pilar keempat demokrasi perlu diperdebatkan ulang dalam konteks ekosistem media digital saat ini.

“Dalam struktur komunikasi, kita memang dipermudah oleh sistem. Tapi sistem tidak akan pernah menggantikan manusia. Karena yang dicari itu story humannya,” jelasnya.

Ia menekankan, kekuatan jurnalisme terletak pada pengalaman langsung di lapangan, melihat, merasakan, dan menyampaikan kisah dari manusia kepada manusia. Namun, ia mengakui kerja jurnalistik kerap kalah oleh sistem distribusi berbasis algoritma.

“Kita bisa menghabiskan energi ke lapangan, tapi kalah oleh sistem. Makanya mungkin kita tidak butuh besar, tapi small but impactful,” jelasnya.

Abie juga menyoroti perubahan model bisnis media. Menurutnya, hanya ada dua “mata uang” utama dalam industri media saat ini: data dan audiens.

“Kalau dua-duanya tidak dikomodifikasi, selesai. Trust adalah kunci,” ungkapnya.

Ia mengkritik orientasi media yang hanya mengejar viralitas. Menurutnya, viralitas hanyalah angka yang bisa direkayasa dan tidak selalu mencerminkan kualitas.

Dosen Fakultas Komunikasi Unpad ini menilai pendidikan jurnalistik tidak lagi cukup berfokus pada aspek teknis. Kemampuan berpikir kritis dan memahami manusia justru menjadi hal yang lebih penting.

“Alat akan tertinggal oleh teknologi. Yang penting adalah cara berpikir, cara menyampaikan, dan cara memahami manusia. Jurnalisme itu memanusiakan manusia,” katanya.

Ia menambahkan, pendekatan yang dibutuhkan adalah street smart, bukan sekadar kecerdasan akademik. Masa depan jurnalisme, menurutnya, akan sangat ditentukan oleh kemampuan media mengelola data dan membangun hubungan dengan audiens.

Abie juga mengingatkan bahaya ketergantungan pada platform besar, termasuk AI, yang bekerja layaknya “kotak hitam”.

“AI itu seperti black box. Kita tidak tahu data dari mana dan ke mana. Kalau sesuatu gratis, kemungkinan kita adalah produknya,” ujarnya.

Ia lalu menegaskan tidak semua kerja jurnalistik otomatis menjadi jurnalisme karena profesi ini memiliki standar etika yang jelas. Jurnalisme memiliki disiplin verifikasi, cover both sides, dan keberpihakan kepada kelompok yang tak bersuara. Ini berbeda dengan kreator konten, misalnya. 

Di sisi lain, fungsi jurnalisme sebagai pengawas kekuasaan justru semakin relevan di tengah banjir informasi.

Baca Juga: UU Pers Dinilai Sudah Kuat, yang Lemah Justru Penegakan Hukumnya
Kolaborasi Teras.id (IMA 2.0) dengan Media Daerah, Upaya Memperkuat Independensi Jurnalisme Lokal

Memperingati World Press Freedom Day, AJI Bandung bersama Pasar Minggu menggelar diskusi di Kedai Jante, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Memperingati World Press Freedom Day, AJI Bandung bersama Pasar Minggu menggelar diskusi di Kedai Jante, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Tumbuh Bersama Komunitas

Di era teknologi AI jurnalisme justru menemukan relevansinya, meski bentuk dan cara distribusinya terus berubah. Pemimpin Redaksi BandungBergerak Tri Joko menjelaskan, kerja jurnalistik pada dasarnya panjang dan terstruktur, berbeda dengan tuntutan produksi konten cepat saat ini.

Joko mengisahkan pengalamannya sebagai reporter harian di Pikiran Rakyat pada 2007–2020. Proses peliputan dilakukan sejak pagi, dilanjutkan konfirmasi sore hari, pembaruan data pada malam hari, dan baru diterbitkan keesokan harinya.

“Dalam sehari paling satu sampai dua tulisan. Bahkan saya biasa bikin satu setengah tulisan, satu sendiri, setengah kolaborasi. Fokusnya benar-benar di peliputan dan pendalaman,” ujarnya.

Dengan ritme tersebut, jurnalis memiliki ruang untuk mengasah kemampuan dasar seperti wawancara, riset, dan investigasi. Meski zaman berubah, ia menegaskan esensi jurnalisme tetap sama.

“Jurnalisme adalah ketekunan dalam memverifikasi data, riset, wawancara, dan turun ke lapangan. Disiplin itu akan tetap relevan di mana pun,” katanya.

Ia memprediksi dalam 5–10 tahun ke depan, pola konsumsi informasi masyarakat akan berubah dari satu arah menjadi dialog yang lebih interaktif.

“Di situ jurnalisme tetap dibutuhkan sebagai pemasok informasi yang bisa dipercaya. Trust itu kunci,” jelasnya.

Dalam situasi itu, Joko mencontohkan, BandungBergerak tumbuh. Media alternative ini tidak memposisikan pembaca sebagai konsumen semata, melainkan bagian dari proses produksi pengetahuan. Media ini juga membuka ruang kontribusi publik serta melengkapi kerja jurnalistik melalui diskusi, pertemuan, dan kegiatan komunitas.

Joko meyakini pendekatan tersebut menjadi salah satu cara menjaga relevansi jurnalisme di tengah ekosistem media yang semakin terfragmentasi. 

“Kami tidak melihat pembaca sebagai audiens semata, tetapi sebagai komunitas. Kami tumbuh bersama,” kata Joko.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//