• Kolom
  • CERITA GURU: Ketika Tempat Penitipan Anak Berubah Menjadi Ruang Ketakutan

CERITA GURU: Ketika Tempat Penitipan Anak Berubah Menjadi Ruang Ketakutan

Profesi yang berhubungan dengan anak membutuhkan kesabaran, kestabilan emosi, kemampuan memahami tumbuh kembang anak, serta komitmen melindungi mereka.

Insan Faisal Ibrahim

Guru di salah satu Madrasah Swasta di Kabupaten Garut Jawa Barat

Bapak dan anak menyeberang hendak naik bus yang akan membawanya ke kantor ATR/BPN di Jalan Sisingamangaraja Nomor 2, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Januari 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

6 Mei 2026


BandungBergerak – Viralnya dugaan kasus kekerasan di sebuah tempat penitipan anak atau daycare di Yogyakarta membuat publik geram. Tempat yang semestinya menjadi ruang aman bagi anak justru diduga berubah menjadi lokasi perlakuan kasar, intimidasi, bahkan tindakan tidak pantas dalam pengasuhan. Informasi yang beredar menyebut adanya dugaan anak diikat, diseret, hingga dipukul. Kepolisian pun turun tangan melakukan penyelidikan atas kasus tersebut.

Kemarahan masyarakat muncul karena anak-anak merupakan kelompok paling rentan. Mereka belum mampu membela diri, belum bisa menjelaskan pengalaman traumatis secara utuh, bahkan sering belum memahami bahwa perlakuan yang diterimanya adalah tindakan salah. Saat orang tua menitipkan anak ke daycare, yang diserahkan bukan hanya tubuh anak, tetapi juga rasa percaya yang sangat besar. Kepercayaan itu runtuh ketika tempat pengasuhan justru menjadi sumber ketakutan. Orang tua bekerja keras demi masa depan keluarga, namun di saat yang sama harus dihantui kecemasan bahwa anak mungkin mengalami kekerasan di tempat yang dianggap aman. Situasi ini melukai banyak pihak, terutama anak yang menjadi korban.

Kekecewaan publik semakin besar karena dugaan pelaku memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Gelar akademik, sertifikat, dan citra profesional ternyata tidak otomatis melahirkan empati, kasih sayang, maupun integritas moral. Pendidikan formal dapat menghasilkan orang cerdas, tetapi belum tentu menghadirkan hati nurani jika karakter tidak dibangun dengan benar. Ukuran kualitas seseorang selama ini terlalu sering dilihat dari ijazah, jabatan, atau kemampuan berbicara. Padahal profesi yang berhubungan dengan anak membutuhkan syarat jauh lebih mendasar, yaitu kesabaran, kestabilan emosi, kemampuan memahami tumbuh kembang anak, serta komitmen melindungi mereka. Seseorang bisa berpendidikan tinggi, tetapi belum tentu layak mendampingi anak jika tidak memiliki kedewasaan emosional.

Baca Juga: CERITA GURU: Ketika Sekolah Dituntut Mempertahankan Praktik Membaca di Bawah Rezim Citra
CERITA GURU: Invisible Labor MBG
CERITA GURU: Darurat Perundungan Dunia Pendidikan

Perlindungan pada Anak

Budaya masyarakat yang mudah percaya pada label pendidikan juga patut dikoreksi. Ketika melihat pengasuh berpenampilan rapi, bergelar sarjana, dan memiliki tempat usaha yang terlihat baik, banyak orang langsung menganggap semuanya aman. Padahal kekerasan sering bersembunyi di balik citra profesional. Karena itu, pengawasan orang tua tidak boleh berhenti hanya pada penampilan luar.

Pilihan menggunakan daycare sesungguhnya bukan kesalahan orang tua. Banyak keluarga harus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehingga tempat penitipan anak menjadi solusi yang realistis. Persoalannya, kebutuhan ekonomi keluarga tidak boleh dibayar dengan keselamatan anak. Negara dan masyarakat wajib memastikan setiap lembaga pengasuhan memenuhi standar perlindungan yang jelas. Standar itu seharusnya mencakup seleksi tenaga pengasuh, pelatihan perlindungan anak, pengawasan rutin, sistem pengaduan yang mudah diakses, serta sanksi tegas jika terjadi pelanggaran. Tanpa pengawasan yang serius, tempat penitipan anak berisiko hanya menjadi bisnis jasa tanpa fondasi kemanusiaan.

Pemahaman tentang perlindungan anak juga masih perlu diperkuat. Sebagian orang masih menganggap bentakan, cubitan, ancaman, atau menyeret anak sebagai cara mendisiplinkan. Pandangan seperti ini sangat keliru. Tindakan tersebut merupakan kekerasan yang dapat meninggalkan luka psikologis jangka panjang. Anak mungkin diam hari ini, tetapi trauma dapat muncul bertahun-tahun kemudian dalam bentuk kecemasan, ketakutan, sulit percaya kepada orang lain, atau gangguan perilaku.

Alarm Bersama

Keberanian orang tua yang melapor patut diapresiasi. Banyak kasus kekerasan terhadap anak selama ini tertutup karena korban tidak bisa bicara dan keluarga takut dipersulit. Saat ada keberanian menyampaikan laporan, masyarakat memiliki kesempatan mendorong perubahan yang lebih besar agar anak-anak lain tidak mengalami nasib serupa.

Penegakan hukum harus berjalan tegas, transparan, dan berpihak pada kepentingan terbaik anak. Jika terbukti terjadi kekerasan, hukuman perlu memberi efek jera. Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh daycare juga penting dilakukan, bukan hanya tempat yang viral. Pemerintah daerah perlu memastikan semua lembaga pengasuhan mematuhi aturan yang berlaku.

Peran orang tua tetap sangat penting dalam mencegah kejadian serupa. Perubahan perilaku anak, ketakutan berlebihan, enggan pergi ke daycare, atau munculnya luka fisik tanpa penjelasan harus menjadi sinyal yang diperhatikan serius. Komunikasi terbuka dengan anak dan pengasuh menjadi langkah sederhana namun penting untuk perlindungan.

Anak-anak tidak membutuhkan pengasuh yang paling bergelar atau terlihat meyakinkan. Mereka membutuhkan orang dewasa yang sabar, lembut, dan aman. Dunia anak dibangun dari sentuhan hangat, kata-kata baik, serta rasa nyaman. Ketika orang dewasa justru menghadirkan kekerasan, maka yang rusak bukan hanya satu hari mereka, tetapi fondasi kepercayaan mereka terhadap dunia.

Kasus di Yogyakarta semestinya menjadi alarm bersama. Jangan sampai tempat penitipan anak berkembang pesat sebagai kebutuhan zaman, tetapi miskin pengawasan dan nilai kemanusiaan. Ukuran kemajuan masyarakat bukan hanya banyaknya lembaga pendidikan atau tingginya gelar warganya, melainkan bagaimana anak-anak diperlakukan dengan kasih sayang dan perlindungan yang layak.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//