Gejayan.id: Media Alternatif Baru Yogyakarta untuk Suara Masyarakat Sipil
Diluncurkan pada 5 Mei 2026, media ini hadir sebagai kanal bagi kelompok marginal, arsip data kritis, dan pengawas kekuasaan di tengah tekanan rezim otoriter.
Penulis Virliya Putricantika7 Mei 2026
BandungBergerak - Yogyakarta kini memiliki media alternatif baru, Gejayan.id, yang resmi diluncurkan pada Selasa, 5 Mei 2026, di Auditorium Universitas Islam Indonesia (UII). Media ini hadir bukan untuk menyaingi media mainstream, melainkan menawarkan perspektif berbeda dan mengisi kekosongan informasi yang selama ini jarang tersorot.
Gejayan.id berkembang dari akun Instagram @gejayanmemanggil, yang sebelumnya sudah dikenal di ruang digital masyarakat sipil. Media ini berupaya menjadi kanal bagi kelompok marginal, menyuarakan isu-isu yang jarang mendapat perhatian, dan sekaligus merawat memori kolektif masyarakat. Selain itu, gejayan juga simbol sejarah yang terinspirasi dari gerakan publik dan semangat reformasi yang pernah bergema di Yogyakarta.
“Gejayan.id adalah sebuah kanal data untuk merawat memori kolektif,” ujar Masduki, pemimpin umum Gejayan.id.
Dalam sebulan, Gejayan.id mentargetkan memuat dua konten dengan kajian mendalam dan jurnalisme kritis. Kehadiran media ini juga didorong oleh kekhawatiran terhadap pembungkaman suara masyarakat sipil dan keterbatasan ruang di industri media saat ini.
Ia menyebut banyak karya jurnalistik kritis yang dipantau atau diturunkan oleh pihak berwenang, termasuk laporan mengenai tahanan politik terkait demonstrasi Agustus pascakematian pengemudi ojek online Affan Kurniawan. Di Yogyakarta, Magelang, Solo, dan Sleman para tahanan politik tersebut mendapat pendampingan dari kolektif Orang Tua Bergerak.
“Tahanan politik (Tapol) ini dituliskan oleh media untuk menjadikan para tapol ini kriminal. Karena dalam rubrikasinya masuk ke rubrik kriminalisasi. Jadi semoga dengan adanya media ini (Gejayan.id) akan lebih mudah dan meletakkan kasus-kasus yang kita advokasi menjadi narasi utama yang perlu mendapat perhatian dunia,” ungkap salah satu perwakilan Orang Tua Bergerak yang hadir Selasa sore.
Baca Juga: Mengeja Semangat Zaman dan Upaya Membangun Gerakan Politik Alternatif
Memperkuat Persekutuan Media Alternatif Independen dalam Gamang Demokrasi yang Menggerus Kebebasan Pers

Selain menyuarakan isu marginal, Gejayan.id juga ingin menjadi arsip data dan rujukan untuk produksi pengetahuan serta gerakan kritis. Jurnalisme alternatif ini penting karena saat ini banyak pekerja media terdampak pemutusan hak kerja (PHK); data dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat sekitar 922 jurnalis kehilangan pekerjaan dalam dua tahun terakhir.
Jurnalis Rimbawana menekankan pentingnya semangat pers sebagai watchdog demokrasi, yang dimulai sejak era Tirto Adhi Soerjo dengan Medan Prijaji dan Marco Kartodikromo.
Ia menegaskan, jurnalisme masih layak hidup sebagai pengawas (watchdog) kekuasaan. Dan menjadi media alternatif berarti tidak tunduk pada kekuasaan otoriter yang semakin nyata kehadirannya di Indonesia, sekaligus tetap relevan bagi masyarakat sipil, aktivis, dan kelompok minoritas.
Sementara itu, Shinta Maharani, jurnalis yang turut menggawangi Gejayan.id bersama 10 rekannya, menambahkan, peran media alternatif penting untuk menyebarkan informasi secara independen dan memberi ruang bagi masyarakat sipil untuk bersuara.
“Saya kira peran-peran dari media pro-tik ini yang penting. Nah, menyebarkan informasi secara independen dan memberi ruang kepada masyarakat sipil untuk bisa bersuara. Hal itu bisa menjadi cara yang bisa dipakai oleh media alternatif,” pantik Shinta Maharani.
Meski menghadapi tekanan rezim yang otoriter, masyarakat sipil diyakini akan terus berkolaborasi melalui gerakan kecil, aktivasi komunitas, dan pembangunan media alternatif. Kehadiran Gejayan.id diharapkan menjadi salah satu alat utama bagi masyarakat sipil untuk mendapatkan informasi yang bebas dari pengaruh kekuasaan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


