Membaca Buku Hutan Musik, Belajar Tanpa Takut Salah
Buku Hutan Musik karya Carolina S. Yana menyoroti pentingnya ruang aman agar anak berani mencoba, mengakui kesalahan, dan tumbuh tanpa dihantui rasa gagal.
Penulis Yoan Aditya7 Mei 2026
BandungBergerak - Ketakutan berbuat salah masih menjadi persoalan yang dekat dengan banyak anak. Di sekolah maupun di rumah, kesalahan kerap dipandang sebagai kegagalan yang harus dihindari, bukan bagian dari proses belajar. Situasi ini membuat anak tumbuh dengan kecemasan untuk mencoba hal baru, takut dinilai, dan enggan mengambil risiko.
Isu tersebut mengemuka dalam diskusi bedah buku Hutan Musik karya Carolina S. Yana yang digelar Perpustakaan Bunga di Tembok pada Sabtu, 25 April 2026. Carolina, yang telah menjadi musik edukator selama tiga dekade, menyoroti pentingnya menghadirkan ruang aman agar anak berani melakukan kesalahan tanpa takut dihakimi.
Menurut Carolina, kesalahan justru menjadi bagian penting dalam proses tumbuh seseorang. Ketakutan terhadap kesalahan hanya akan membuat anak kehilangan keberanian untuk belajar.
Buku Hutan Musik ditujukan untuk anak-anak, tetapi pesannya juga relevan bagi orang dewasa, terutama orang tua dan pendidik. Dalam diskusi tersebut, Carolina membahas dua tokoh utama: Do si kodok dan Sol si bebek. Keduanya merepresentasikan sikap yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Do digambarkan sangat percaya diri hingga sulit menyadari kesalahannya. Sementara Sol cenderung menyangkal dan membela diri ketika melakukan kekeliruan.
“Sol (Bebek) itu justru dia ngeyel itu saya bilang, jadi dia salah nih nih dia ngeyel, terus apa namanya, dia membela diri” ungkap Carolina
Melalui pendekatan fabel, Carolina menggunakan tokoh hewan agar pembaca tidak merasa dihakimi. Personifikasi membuat pembaca lebih mudah mengenali diri sendiri tanpa merasa disudutkan.
Alih-alih memberi hukuman, tokoh guru dalam cerita, Ibu Trenggiling, merespons kesalahan muridnya dengan pendampingan. Kesalahan dianggap wajar selama anak mampu memahami letak kekeliruannya dan berusaha memperbaikinya.
Gagasan ini menjadi kritik terhadap pola pendidikan yang masih menitikberatkan hasil akhir dibanding proses belajar. Anak dipuji ketika mendapat nilai sempurna, tetapi cepat disalahkan ketika gagal. Akibatnya, anak belajar bahwa kesalahan identik dengan kegagalan.
“Tapi ketika sudah mulai ke komunitas yang lebih besar disitu peer review atau peer judgement itu lebih terasa, karena sistem kita menghargai jawaban yang benar bukan prosesnya, kalau nilai sempurna dipuji, kesalahan dihukum, jadi anak belajar lagi kalau salah sama dengan gagal,” ungkap Carolina.
Padahal, menurut Carolina, rasa takut salah bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir. Ketakutan itu tumbuh dari respons lingkungan ketika anak melakukan kesalahan.
Saat memasuki usia balita, anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mulai mencoba banyak hal baru. Pada tahap ini, kesalahan sebenarnya merupakan bagian alami dari eksplorasi. Namun, tekanan sosial dan penilaian dari lingkungan sering membuat anak kehilangan keberanian tersebut.
Anak perlu belajar bahwa mereka boleh salah, tetapi tetap bertanggung jawab atas kesalahan itu. Dari proses tersebut, anak belajar memahami keterbatasan dirinya sekaligus mengembangkan sikap yang lebih lembut terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Baca Juga: Api di Ruang Publik, Diskusi Buku Karya Ucok Homicide
Menolak Lupa Pemberangusan Buku di Bandung Melalui ...
Peran Orang Tua
Diskusi ini juga menghadirkan editor buku, Anna Farida. Anna menilai banyak orang tua tanpa sadar justru membuat anak takut mencoba karena terlalu cepat menghakimi atau mengatur.
“Karena saya dari sudut pandang orang tua, menurut saya buku ini sangat membantu. Di satu sisi tidak paham musik jadi mau belajar, orang tua yang sok tahu, sok ngatur, kadang-kadang itu yang membuat anak takut mencoba, takut gagal, berhenti, (karena) disalah-salahin, anak tidak diberi ruang aman buat salah, ruang aman buat mencoba,” ungkap Anna.
Menurutnya, orang tua semestinya menjadi tempat aman pertama bagi anak ketika gagal, bukan sumber ketakutan baru. Dukungan dan pendampingan jauh lebih dibutuhkan anak dibanding hukuman atau penilaian berlebihan.
Peserta diskusi, Aziz dari Bandung Timur, juga melihat pentingnya melatih keberanian anak sejak dini.
“Pesan menarik dari yang saya ambil itu terkait dengan bagaimana menumbuhkan keberanian, bahwa keberanian dapat dilatih, dan ruang aman untuk melakukan kesalahan bagi anak-anak,” kata Aziz.
Melalui cerita sederhana tentang musik dan hewan-hewan di dalamnya, Hutan Musik tidak hanya mengenalkan dasar-dasar musik kepada anak. Buku ini juga mengingatkan bahwa proses belajar membutuhkan ruang yang aman, tempat anak dapat mencoba, gagal, lalu tumbuh tanpa rasa takut.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami


