Aneka Ragam Ikan Asli Citarum yang Terancam Punah
Punahnya aneka ragam ikan di sungai dapat menyebabkan hilangnya sumber protein hewani yang murah bagi penduduk miskin pedesaan.

Johan Iskandar
Dosen, peneliti lingkungan, serta pegiat Birdwatching di Universitas Padjadjaran (Unpad). Penulis bukuKisah Birdwatching, ITB Press (2025)
7 Mei 2026
BandungBergerak – Sejatinya di masa lalu beberapa sungai di Jawa Barat dikenal memiliki keanekaan jenis ikan sangat tinggi. Misalnya, di Sungai Ciliwung telah dapat dicatat 37 jenis dari 16 famili (Mujadid et al, 2025). Sementara di sungai lainnya, di Citarum telah dapat didokumentasikan, sekurangnya 44 jenis ikan, dari 18 famili. Dari total 44 jenis ikan tersebut, 23 jenis (52 persen) termasuk kategori ikan asli yang biasa hidup liar di Citarum, bukan ikan budaya. Misalnya, arengan, balidra, hampal. Jambal. kancra, kebogerang, lalawak, lika, tagih, sengal, berod, dan balidra (Iskandar, 1981).
Sebelum ada Danau Cirata dan Saguling, berbagai jenis ikan tersebut sangat umum ditemukan di Citarum. Berbagai jenis ikan liar tersebut biasa dimanfaatkan oleh penduduk yang bermukim di sekitar kawasan DAS Citarum. Aneka ragam ikan liar sungai tersebut sangat berperan penting bagi sumber pangan protein hewani sehari-hari penduduk perdesaan.
Penduduk perdesaan memanfaatkan aneka ragam ikan liar sungai dengan dilandasi pengetahuan lokal (Local Knowledge-LK) atau pengetahuan ekologi tradisional (Traditional Ecological Knowledge-TEK), berkelindan dengan tradisi, seperti kepercayaan. Ditilik dari pengetahuan lokal, masyarakat pedesaan mengenal aneka ragam ikan sungai berdasarkan warna ikan, bentuk tubuh ikan, sifat hidup, dan cita rasa kuliner ikan.
Misalnya, berdasarkan warna ikan, penduduk mengenal jenis ikan arengan (Labeo crysophaekadion) yang memiliki warna hitam seperti arang (areng). Penduduk perdesaan juga mengklasifikasikan jenis ikan berdasarkan ukuran, yaitu ikan-ikan kecil dan ikan-ikan besar. Contohnya seperti beunteur (Puntius binotatus, nama barunya Barbonymus balleroides), paray (Rasbora argyrotaenia), dan julung-julung (Dermogenys pussila), dikategorikan sebagai ikan-ikan kecil dengan ukuran biasa disebut saramo (seukuran jari) atau dua ramo (dua jari). Selain itu, jenis-jenis ikan, dapat dibedakan berdasarkan sifat hidup di habitatnya. Misalnya, seperti ikan kékél (Akysis variagatus), sengal (Glyptostermum platypogon), dan lika (Wallago attu) dikenal penduduk sebagai ikan yang suka hidup di air deras sungai. Sementara itu, ikan nilem (Osteochillus hasselti) dikenal penduduk dengan sebutan nilem gereyem. Pasalnya, ikan tersebut sering teramati penduduk dengan mulut yang senantiasa bergerak sangat aktif bagaikan sedang bersungut-sungut (gegereyeman). Tidak hanya itu, beberapa jenis ikan, seperti lika dikategorikan penduduk sebagai ikan dengan cita rasa enak dan harga tinggi.
Lain lagi di kawasan Kabupaten Kuningan, ikan kancra bodas atau ikan dewa (Toro soro) secara tradisi dikategorikan oleh penduduk sebagai ikan sakral yang tidak boleh ditangkap, dibunuh, dan dimasak. Kepercayaan penduduk tersebut dapat dianggap sebagai adaptasi budaya penduduk, guna mengkonservasi sumber daya hayati ikan dewa di ekosistem. Dengan adanya kepercayaan pantang bagi penduduk menangkap ikan dewa, menyebabkan ikan dewa dapat dikonservasi, termasuk kolam-kolamnya yang biasa menampung air tanah dari gunung yang bersih dan tidak pernah kering sepanjang masa. Dengan kata lain bahwa dengan mengkonservasi ikan dewa, juga sekaligus dapat mengkonservasi mata air di ekosistem perdesaan.
Baca Juga: Hilangnya Burung Jalak Suren di Ekosistem Perdesaan
Bertani di Lahan Surutan Waduk Jatigede dan Risiko Perubahan Iklim
Dulu Luwak Dibenci, Kini Banyak Dicari
Risiko Kepunahan
Penduduk perdesaan di tatar Sunda pada masa lalu dalam memanfaatkan sumber daya hayati aneka ragam jenis ikan sungai sejatinya dengan menggunakan teknik dan berbagai peralatan yang sederhana dengan berlandaskan pengetahuan lokal. Misalnya, cara atau teknik yang sangat umum di lakukan penduduk dalam menangkap ikan di sungai dengan cara memancing (nguseup). Pada umumnya, berbagai macam umpan nguseup, seperti cacing tanah, ulat bambu (cangkilung), laron (siraru), lukut, serta umpan colek, biasa digunakan penduduk untuk nguseup di sungai. Teknik lain biasa pula dilakukan penduduk untuk menangkap anekaragam ikan sungai, di antaranya dengan cara menjala (ngecrik dan ngaheurap), menjaring, serta memasang bubu dan bubu besar (badodon).
Sementara ketika musim kemarau, sewaktu air sungai agak surut, penduduk biasa pula menangkap ikan sungai dengan cara seperti nyair. Nyair ikan biasanya menggunakan sair bambu (ayakan) ataupun nyirib dengan menggunakan alat sirib. Di samping itu, ada pula beberapa orang penduduk desa yang mempunyai keahlian menangkap ikan tanpa alat, tetapi secara langsung menangkap ikan dengan jari tangannya, yang biasa disebut kokodok. Cara menangkap ikan dengan merogoh dengan jari tangan (kokodok), di balik-balik batu ataupun di lubang-lubang pinggiran sungai. Bahkan, dikenal pula orang desa yang khusus punya keahlian atau keterampilan menangkap ikan dengan menyelam. Penyelam ulung biasanya menangkap ikan dengan menyelam, dengan tahan berada di air dalam beberapa jam di lubuk-lubuk sungai dalam atau leuwi. Jenis ikan yang biasa ditangkap oleh penyelam leuwi, utamanya jenis ikan lika. Oleh karena itu, para penyelam ulung memilii sebutan sebagai palika karena ikan yang biasa ditangkap utamanya ikan lika (Wallago attu).
Selain itu, kebisaan lainnya penduduk dalam mengakap ikan di musim kemarau, dengan cara tradisional yang disebut marak lauk. Marak lauk caranya yaitu dengan membendung air sungai. Caranya dengan memindahkan aliran sehingga air di hilirnya kering karena dibendung. Ketika air sungainya kering, penduduk tinggal memungut aneka ragam ikan dengan mudah. Tidak hanya itu, di masa kemarau kadang kala penduduk juga menangkap ikan dengan cara nuba. Nuba ikan yakni menangkap ikan dengan menaburkan racun biopestisida dari akar tumbuhan tuba (Derris elliptica), Famili Fabaceae yang ditumbuk.
Secara tradisi, anekaragam hasil tangkapan ikan sungai biasa dimanfaatkan penduduk perdesaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pangan protein hewani dalam keluarga. Sementara hasil lebihnya atau surplusnya biasa dijual ke penduduk lain, ke warung-warung, ataupun ke pasar desa.
Dewasa ini, keanekaragaman dan populasi jenis-jenis ikan di Citarum dan beberapa sungai lainnya di tatar Sunda cenderung merosot dengan tajam. Penyebabnya berbagai faktor. Misalnya, penangkapan ikan sungai oleh penduduk tidak lagi dilakukan dengan cara ramah lingkungan, termasuk menangkap ikan dengan menggunakan racun insektisida sintesis hasil pabrikan seperti Potassium, Thiodan, dan Takodan. Cara lainnya, menangkap ikan dengan menyetrum ikan menggunakan listrik. Faktor gangguan lainnya berupa maraknya pencemaran lingkungan. Misalnya, maraknya pembuangan berbagai limbah seperti limbah rumah tangga, pabrik-pabrik, serta limbah lahan pertanian dan perkebunan ke badan air sungai. Selain itu, faktor lainnya adalah kerusakan hutan atau hilangnya kawasan hutan, serta maraknya penggalian pasir yang menyebabkan erosi tanah serta sedimentasi yang sangat tinggi masuk ke badan air sungai.
Bukan hanya itu, dampak pembangunan waduk dapat pula menyebabkan gangguan terhadap kehidupan jenis-jenis ikan liar di sungai. Misalnya, maraknya budidaya ikan di jaring terapung (japung), selain menghasilkan produksi ikan budidaya, seperti ikan mas, nila, mujair, dan patin yang menguntungkan. Namun, karena padatnya jaring terapung, pakan ikan buatan (pelet) yang tidak habis dimakan oleh ikan, menjadi sumber pencemaran ikan di waduk dan sungai. Selain itu, adanya waduk dan perubahan arus sungai, berbagai jenis ikan yang gemar di air deras, dan ikan yang biasanya sebelum mijah di hilir sungai atau di laut menjadi terhalang keberadaan bendungan waduk.
Sementara itu, sistem kepercayaan penduduk yang sifatnya adaptasi budaya dalam upaya konservasi aneka ragam ikan di ekosistem sungai perlahan hilang. Misalnya, kepercayaan tentang adanya kawasan leuwi-leuwi sungai yang dianggap keramat untuk menangkap ikan. Kini, sistem kepercayaan tersebut telah punah, maka penduduk tidak ada merasa takut untuk menangkap ikan di berbagai kawasan sungai. Konsekuensinya, ikan dieksploitasi secara intensif, tanpa ada upaya untuk konservasinya. Berbagai jenis ikan asli Citarum, seperti arengan, kebogerang, lalawak, hinur, dan lika yang dulu sangat umum ditangkap penduduk lokal dan juga biasa diperdagangkan, kini tinggal dikenal hanya namanya terutama oleh para orang tua Jenis-jenis ikan tersebut sudah langka bahkan mungkin punah secara lokal di Citarum.
Tabel Anekaragam jenis ikan di Sungai Citarum wilayah Cirata &Jatiluhur, dan S.Ciliwung
|
Nama lokal/ Indonesia |
Namai Ilmiah |
Famili |
Status |
S.Citarum1) |
S.Ciliwung2) |
|
Arengan |
Labeo crysophaekadion |
Cyprinidae |
Asli* |
■ |
|
|
Balidra |
Chitala chitala |
Notopteridae |
Asli* |
■ |
|
|
Bandeng |
Chanos chanos |
Mugillidae |
Eksotik |
■ |
|
|
Baung |
Hemibagrus nemurus |
Bagridae |
Asli |
|
■ |
|
Belut |
Monopterus albus |
Synbranchidae |
Asli |
■ |
■ |
|
Berod |
Mastocembelus sp |
Mastacelimbidae |
Asli* |
■ |
|
|
Betutu |
Oxyeleotris marmorata |
Gobiidae |
Eksotik |
■ |
|
|
Beunteur |
Barbonymus balleroides |
Cyprinidae |
Asli |
■ |
■ |
|
Bobosok |
Stigmatogobius bimaculatus |
Gobiidae |
Asli * |
■ |
|
|
Bogo |
Channa limbata |
Channidae |
|
|
■ |
|
Brushmouth Pleco |
Ancistrus sp |
Loricariidae |
Eksotis |
|
■ |
|
Cere |
Gambusia affinis |
Pocilidae |
Eksotis |
|
■ |
|
Cupang sawah |
Trichopsis vittata |
Osphronemidae |
Asli |
|
■ |
|
Gabus |
Channa striata |
Channidae |
Asli |
■ |
■ |
|
Genggehek, Regis |
Mystacoleucus marginatus |
Cyprinidae |
Asli * |
■ |
■ |
|
Glossom |
Amphilophus citrinellus |
Cichlidae |
Eksotik |
|
■ |
|
Glossom |
Andinoacara rivulatus |
Cichlidae |
Eksotis |
|
■ |
|
Guppy |
Poecillia reticulata |
Pocillidae |
Asli |
|
■ |
|
Gurame |
Osphronemus goramy |
Anabantidae |
Eksotik* |
■ |
|
|
Hampal |
Hampala macrolepidota |
Cyprinidae |
Asli * |
■ |
■ |
|
Hinur |
Hemibagrus wycki |
Bagridae |
Asli* |
■ |
|
|
Ikan kaca |
Channa punctata |
Chandidae |
Eksotik * |
■ |
|
|
Jambal |
Pangasius djambal |
Schilbeidae |
Asli * |
■ |
|
|
Jeler |
Nemachelius sp |
Balitoridae |
Asli |
|
■ |
|
Julung-julung |
Dermogenys pusilla |
Hemiramphidae |
Asli * |
■ |
■ |
|
Kaca-kaca |
Prambassis siamensis |
Ambassidae |
Eksotis |
|
■ |
|
Kancra |
Tor douronensis |
Cyprinidae |
Asli * |
■ |
|
|
Kebogerang |
Mystus nigriceps |
Bagridae |
Asli * |
■ |
|
|
Kékél, Kéhkél |
Glyptothorax platypogon |
Sisoridae |
Asli* |
■ |
■ |
|
Keting |
Mystus micracanthus |
Bagridae |
Asli * |
■ |
■ |
|
Kongo |
Parachromis managuensis |
Cichlidae |
Eksotik |
■ |
|
|
Lais |
Laides hexanema |
Schlibeidae |
Asli * |
■ |
|
|
Lalawak |
Barbodes bramoides |
Cyprinidae |
Asli * |
■ |
■ |
|
Léat |
Lethrinus ornatus |
Letrinidae |
Asli* |
■ |
|
|
Lélé |
Clarias-batrachus |
Claridae |
Asli |
■ |
■ |
|
Lempuk |
Callichrous bimacu!atus |
Siluridae |
Asli * |
■ |
|
|
Lendi |
Claris nieuhofli |
Claridae |
Asli |
|
■ |
|
Lika |
Wallago attu |
Siluridae |
Asli * |
|
|
|
Mas |
Cyrpinus carpio |
Cyprinidae |
Eksotik |
■ |
■ |
|
Melang |
Tyglonatus sp/Osteochilus sp |
Cyprinidae |
Asli* |
■ |
|
|
Mola |
Hypopthalmichthys molitrix |
Cyprinidae |
Eksotik * |
■ |
|
|
Mujair |
Oreochromis mosambicus |
Cichlidae |
Eksotik * |
■ |
|
|
Nila |
Oreochromis niloticus |
Cichlidae |
Eksotik |
■ |
■ |
|
Nilem |
Osteochillus hasselti |
Cyprinidae |
Asli * |
■ |
■ |
|
Oskar |
Heterotilapia buttikoferi |
Cichlidae |
Eksotik |
■ |
|
|
Paray |
Rasbora argyrotaenia |
Cyrinidae |
Eksotik * |
■ |
■ |
|
Paray gunung |
Rasbora aproteinia |
Cyrinidae |
Eksotik* |
|
■ |
|
Patin Siam |
Pangasianodon hypophthalmus |
Schlibeidae |
Eksotik |
■ |
|
|
Platys |
Xiphophorus hellerii |
Poccilidae |
Eksotis |
|
■ |
|
Ramokasang |
Pangio oblonga |
Cobitidae |
Asli |
|
■ |
|
Ramokasang emas |
Pangio doriae |
Cobitidae |
Asli |
|
■ |
|
Red Devil |
Amphilopus labiatus |
Cichlidae |
Eksotis |
|
■ |
|
Sapu-sapu |
Pterygoplichthys pardalis |
Loricariidae |
Eksotis |
|
■ |
|
Séngal |
Hemibagrus planiceps |
Bagridae |
Asli* |
■ |
■ |
|
Sepat jawa |
Trichopodus trichopterus |
Anabantidae |
Eksotik * |
■ |
■ |
|
Sepat siam |
Trichopodus pectoralis |
Anabantidae |
Eksotik * |
■ |
|
|
Sidat |
Anguilla sp |
Angullidae |
Asli * |
■ |
|
|
Sili |
Macrognathus sp |
Mastacelimbidae |
Asli |
|
■ |
|
Soro |
Neolissochillus soro |
Cyprinidae |
Asli |
|
■ |
|
Tagih |
Hemibagrus nemurus |
Bagridae |
Asli* |
■ |
|
|
Tambakan |
Helostoma temmenckii |
Anabantidae |
Asli * |
■ |
■ |
|
Tarpoon |
Megalops cyprinoides |
Megalopidae |
Asli |
|
■ |
|
Tawés |
Barbonymus gonionotus |
Cyprinidae |
Asli * |
■ |
|
|
Tilan |
Macroganatus aculeatus |
Mastacembelidae |
Asli * |
■ |
|
|
Wader |
Parachela oxygastroides. |
Cyprinidae |
Eksotik * |
■ |
|
*Jarang bahkan telah punah secara lokal
Sumber: 1) Kartamihardja (2008); Iskandar (2021) Dalam Laporan Amdal Cirata; 2) Mujadid et. al. (2025).

Hilangnya Sumber Protein Hewani
Kondisi merosotnya aneka ragam jenis dan populasi ikan sungai sungguh memprihatinkan. Punahnya aneka ragam ikan di sungai tersebut dapat menyebabkan hilangnya sumber protein hewani yang murah bagi penduduk miskin pedesaan. Padahal, dengan banyak tersedianya aneka ragam ikan di perdesaan dapat membantu ketahanan pangan, khususnya sumber pangan protein hewani, bagi masyarakat perdesaan. Ketersediaan sumber pangan tersebut dapat mendukung tujuan program pembangunan (Sustainable Development Goals-SDGS). Misalnya, menghilangkan kelaparan kemiskinan (SDGs No.1), menghilangkan kelaparan dan meningkatkan gizi (SDGs No2), serta menjamin kehidupan sehat dan menyejahterakan setiap orang (SDGs No. 3).
Bukan itu saja, kepunahan lokal jenis-jenis ikan sungai dapat pula menyebabkan hilangnya kekayaan hayati sebagai sumber ilmu pengetahuan dan sosial budaya masyarakat di masa depan. Pasalnya, ada kaitan era antara praktik budaya, linguistik, dan aneka ragam jenis ikan, membentuk biocultual system. Misalnya, punahnya jenis-jenis ikan dapat menyebabkan hilangnya praktik budaya dan linguistik terhadap jenis-jenis ikan. Penduduk yang tidak punya pengalaman menemukan atau melihat jenis-jenis ikan tersebut di ekosistem sungai dapat menyebabkan praktik budaya dan nama-nama lokal (linguistik) jenis ikan tersebut ikut menjadi punah pula. Oleh karena itu, untuk melestarikan aneka ragam jenis ikan khas sungai di tatar Sunda memerlukan konservasi lingkungan secara seksama melalui program pembangunan berkelanjutan dan melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


