Dua Wajah Dunia Medis: Ketegasan dan Empati
Ketegasan dan empati saling mempengaruhi dalam dunia medis. Ketegasan dan empati selalu berjalan berdampingan tanpa memilih salah satu.

Kevin Septian
Dokter Gigi dan Penggemar Literasi.
8 Mei 2026
BandungBergerak – "Rumah sakit tidak jelas. Pelayanan buruk." Atau, "Pelayanannya ketus dan dingin, pasien dibentak-bentak". Saya sering mendengar keluhan pasien seperti demikian. Dalam praktik kesehatan, pasien kerap kali diperhadapkan oleh dua wajah praktisi medis. Ketegasan dan empati. Keduanya cukup membingungkan dan tampak berseberangan. Di satu sisi, pasien menginginkan ketegasan dan kepastian dalam perawatan yang diterima. Di sisi lain, pasien cemas apakah praktisi medis yang menanganinya dapat memahami rasa sakitnya atau tidak.
Mengapa ini penting? Sebab ini bagian integral dari Hak dan Kewajiban Pasien (pasal 276 dalam Undang-undang Republik Indonesia no. 17 tahun 2023) salah duanya yaitu mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai pelayanan kesehatan yang diterimanya; mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis, standar profesi, dan pelayanan yang bermutu. Ketegasan dan empati tersirat melalui dua poin tersebut. Namun, apakah itu berarti kita membuang salah satu dan mendukung yang lain?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "ketegasan" berasal dari “tegas" berarti jelas, terang, dan pasti. Untuk kata "empati" berarti kemampuan untuk ikut merasakan kondisi atau pengalaman orang lain, ada rasa sepenanggungan. Jika dikaitkan dengan praktik medis, istilah tegas berarti praktisi dapat memberikan arahan, nasehat dan keterangan dengan benar baik itu intonasi, nada, artikulasi dan pemilihan diksi yang benar dan tepat. Empati lebih berkaitan dalam mendengarkan keluhan, turut memberikan penjelasan edukasi pasca pengobatan sesuai keadaan pasien.
Maka, antara dua wajah yang tegas dan empati saya melihat seolah-olah seorang praktisi medis sedang berjalan di atas tali menggunakan sebuah tongkat. Jika terjatuh di satu sisi, ketegasan yang berlebihan mengakibatkan pasien merasa pelayanan begitu tajam, ketus dan dingin. Di sisi lain, empati berlebihan cenderung membuat pasien terlalu nyaman dan meremehkan nasehat praktisi. Maka, untuk menjalankan tugasnya, seorang praktisi sudah sebaiknya menyeimbangkannya, jangan sampai jatuh pada satu sisi.
Baca Juga: Layanan Kesehatan Ramah Lingkungan Semakin Mendesak Diterapkan
Bias Penanganan Gangguan Kesehatan Mental di Jawa Barat, Terkendala Stigma dan Masalah Struktural
WFH dan Ketimpangan Perhatian terhadap Sektor Kesehatan dan Pendidikan
Berjalan Berdampingan
Izinkan saya memberikan satu contoh dalam praktik keseharian saya pada bidang Kedokteran Gigi. Pasien anak, misalnya, yang selalu datang didampingi orang tua. Sebut saja, Ilham, anak laki-laki berusia 4 tahun yang mengeluhkan sakit dan bengkak hingga ke gusi gigi atas kiri dan kanan. Orang tua pasien yang menemani meminta agar saya membereskan keluhan (menghilangkan penyakit Ilham) tersebut. Bagaimana kita dapat menerapkan ketegasan dan empati pada kasus ini?
Pertama, saya menunjukkan empati kepada Ilham karena ia masih berusia 4 tahun. Keluhannya serta merta karena mengonsumsi susu formula tanpa adanya kegiatan menyikat gigi. Alhasil gigi keropos, rusak dan infeksi. Saya berhati-hati dalam memeriksa, menggunakan nada rendah saat berbicara, mendorong pasien untuk mengurangi makanan manis. Kedua, ketegasan akan saya tujukan saat mengedukasi kepada orang tua. Pasien berusia 4 tahun sangat bergantung kepada orang tuanya. Ia masih kesulitan membedakan makanan mana yang ia boleh konsumsi dan tidak. Ketegasan dipergunakan saat meminta orang tua mengubah perilaku. Karena perilaku anak mencontohi orang tuanya, sebagai "sekolah kesehatan" pertamanya. Akhirnya, ketegasan dan empati pada orang tua dan anak dapat diseimbangkan.
Ketegasan dan empati juga diperkuat oleh Penelitian oleh Rahmah Alifah dan kawan-kawan (2021) bertajuk Faktor-faktor yang Mempengaruhi Empati Mahasiswa Kedokteran. Penelitian itu menyebutkan dokter yang berempati cenderung memiliki pasien yang lebih puas dan patuh pada pengobatan. Sikap tegas juga masuk ke dalam deretan Bioetika Kedokteran Gigi (2021) yaitu berbuat baik (Beneficence) dan tidak merugikan (non maleficence). Maka, sangat baik mengikuti kaidah Etika Medis yang ada untuk merawat pasien. Akibatnya pasien merespons dengan positif saat dijelaskan langkah-langkah terapi dan tindak lanjutnya.
Jadi, ketegasan dan empati saling mempengaruhi dalam dunia medis. Ketegasan dan empati selalu berjalan berdampingan tanpa memilih salah satu. Sebab terlalu menekankan ketegasan tanpa empati akan jatuh kepada tirani atau kekakuan dalam pelayanan. Sebaliknya empati tanpa ketegasan berujung kepada hilangnya arah dalam memberikan edukasi. Pun tanpa keduanya, pengobatan dan perubahan paradigma kesehatan akan pincang bahkan akan sia-sia. Satu-satunya cara ialah menyeimbangkannya.
Praktisi medis berlatih untuk bicara, menyampaikan, memberikan keterangan yang tegas disertai empati. Pasien pun berlapang dada dalam menyampaikan, mendengarkan dan menaati pengobatan yang diberikan (Pasal 267). Sekali lagi, kita tidak memilih salah satu dari keduanya, tetapi mengharmonisasikannya dalam pengobatan. Dua wajah yang selalu terpancar melalui para praktisi medis, ketegasan dan empati, untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


