• Berita
  • Pascahumana: Ketika Orkestra Bicara soal Kapitalisme, AI, dan Krisis Kemanusiaan

Pascahumana: Ketika Orkestra Bicara soal Kapitalisme, AI, dan Krisis Kemanusiaan

Lewat musik, Parahyangan Orchestra menghadirkan refleksi tentang HAM, kerusakan lingkungan, perang, hingga masa depan manusia di tengah dominasi teknologi.

Konser Pascahumana Parahyangan Orchestra (Parchestra) di Auditorium PPPG Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung, Minggu, 3 Mei 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam9 Mei 2026


BandungBergerak - Pelanggaran terhadap HAM, krisis lingkungan, kapitalisme, hingga kecerdasan buatan (AI) menjadi tema yang diangkat dalam konser "Pascahumana: Concert About Human Now" yang digelar Parahyangan Orchestra (Parchestra) di Auditorium PPPG Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Minggu, 3 Mei 2026.

Sebanyak 10 penampil membawakan karya para komponis lokal dengan pendekatan musikal dan teatrikal. Tema besar yang diusung berangkat dari kondisi dunia yang dipenuhi krisis ekologis, ketegangan geopolitik, dan perkembangan teknologi khususnya kecerdasan buatan (AI).

Penampilan pembuka dibawakan Maria Jessa Tiffany, alumnus Integrated Arts UNPAR, melalui karya Human Disarray ciptaan Nathan Budiman. Pertunjukan ini melibatkan enam penari dari Mataya Project.

Karya tersebut menggambarkan kehidupan manusia modern yang repetitif dan terasing dalam sistem kapitalisme. Musik orkestra dipadukan dengan gerak tubuh para penari yang berlari, melompat, dan bergerak di antara panggung dan penonton.

Mereka embawakan tarian sebagai simbolisasi dari wujud keterasingan, sekaligus melakukan perlawanan terhadap sistem kapitalisme itu sendiri.

Secara musikal, Human Disarray menampilkan ritme mekanistis dan pengulangan bunyi yang merepresentasikan rutinitas, kelelahan kolektif, burnout, serta hilangnya makna hidup.

Penampilan berikutnya, The Subjugation of the Subhumans of Dili karya Ranggalih Hadi yang dipimpin Gregorius Gerald Pratomo, mengangkat kekerasan pada masa pendudukan Indonesia di Timor Timur pada 1975–1999.

Komposisi ini terinspirasi dari kesaksian korban dalam berbagai dokumenter. Nuansa mencekam dibangun lewat dentuman snare menyerupai parade militer dan integrasi motif musik Dies Irae, Indonesia Raya, serta lagu kebangsaan Timor Leste, Pátria.

Visual perang ditampilkan di layar besar, termasuk gambar Presiden Prabowo Subianto yang pernah bertugas dalam operasi militer di Timor Timur.

Selain dua karya tersebut, konser juga menampilkan sejumlah komposisi lain seperti Closer Than Ever, Blinded War, TAHAP, The Music of Living, Concerto Delle Piante, Forest of the Forsaken, Nibiru I. Akkadian Myth, dan Code 2. Tema yang diangkat berkisar pada isu sosial, politik, lingkungan, hingga masa depan manusia.

Baca Juga: Konser Musik Orkestra Unpar untuk Masyarakat 3T Indonesia
Spirit Parchestra Membawa Kemeriahan Musik Orkestra di Ranah Pendidikan

Kolaborasi dengan Tumbuhan

Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah kolaborasi Parchestra dengan duo elektronik Bottlesmoker dalam karya Concerto Delle Piante. Pemain Anggung Suherman dan Ryan Adzani membawa tujuh tanaman dari area kampus untuk dijadikan bagian dari pertunjukan. Tanaman-tanaman tersebut dihubungkan dengan perangkat plant wave yang menerjemahkan aktivitas biologis tumbuhan menjadi sinyal musik.

Komposisi yang dipimpin Katarina Ningrum itu menempatkan tumbuhan bukan sekadar latar kehidupan, melainkan bagian dari interaksi.

“Tanaman ketika dia diam seperti ini banyak sekali pergerakan di dalam tubuhnya yang memang tidak terlihat,” ujarnya menjelaskan.

Menurutnya, perangkat tersebut memungkinkan tanaman “memilih” nada, skala, dan ritme melalui sinyal listrik yang diterjemahkan menjadi suara.

“Jadi tanaman ikut bermain bersama teman-teman orkestra di sini memilih kunci nadanya tersendiri juga yang tergantung dengan dia mau bermain di nada apa dan lain sebagainya,” lanjutnya.

Pertunjukan ini sekaligus menjadi ajakan untuk melihat relasi manusia dan alam secara lebih setara.

Karya lain yang menonjol ialah TAHAP karya Faturrachman Rizal yang dibawakan Kasih Karunia Indah, alumnus Integrated Arts UNPAR angkatan 2020.

Judul TAHAP merupakan singkatan dari Transhuman Algorithmic Human Assimilation Protocol. Karya ini membahas proses hilangnya individualitas manusia akibat industrialisasi dan sistem teknologi.

Penampilan ini dibagi dalam tiga fase: Eden, saat manusia dan alam hidup harmonis; Industrial Revolution, ketika industrialisasi merusak keseimbangan dan menyeret manusia ke siklus hidup repetitif; serta Protocol Completed, fase kehampaan ketika kekacauan berhenti dan manusia perlahan menghilang dari sistem.

Pada bagian akhir, satu per satu pemain meninggalkan panggung hingga menyisakan ruang kosong.

Kasih mengatakan dirinya terus belajar menjadi pengaba sejak 2023. Ia mengaku sempat mengalami kegagalan dalam sejumlah penampilan awal.

“Dan sampai saat ini saya terus belajar,” terangnya.

Menurutnya, karya tersebut berbicara tentang manusia yang makin kehilangan individualitas dan akhirnya terjebak dalam sistem.

Refleksi atas Kondisi Manusia

Direktur musik Parchestra, Gregorius Gerald Pratomo, mengatakan tema Pascahumana berangkat dari pertanyaan mengenai posisi manusia di tengah perkembangan zaman. Dia mengungkapkan bahwa tema ini berangkat dari pertanyaan mendasar: apakah manusia masih menjadi pusat dari semesta?

Ia menyebut konser ini mencoba mempertemukan isu kerusakan lingkungan, trauma sejarah, dan perkembangan teknologi dalam satu panggung pertunjukan.

AI juga digunakan sebagai orator dalam konser. Menurut Gerry, penggunaan teknologi itu dimaksudkan untuk mempertemukan unsur manusiawi dalam musik dengan perkembangan teknologi digital.

“Setelah menyaksikan ini justru malah bisa semakin merefleksikan… sendiri bagaimana kita sebagai manusia harus bersikap,” tutupnya.

Melalui pertunjukan ini, Parchestra ingin mengajak penonton merefleksikan cara manusia menghadapi persoalan sosial, lingkungan, dan teknologi di masa kini.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//