• Opini
  • Merayakan Puisi Setiap Hari

Merayakan Puisi Setiap Hari

Puisi kehilangan ruang untuk tumbuh secara konsisten. Padahal yang dibutuhkan justru kebalikannya: ritme yang sederhana, tetapi terus berjalan.

Beni Anwar Z

Pegiat Bandung Berpuisi

Puisi di dinding Jalan Tamblong, Bandung, 28 Oktober 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

11 Mei 2026


BandungBergerak – Hari puisi yang diperingati setahun sekali tidak menghidupi puisi yang hidup setiap hari.

 Kalender kebudayaan mencatat satu tanggal untuk memperingati hari puisi sebagai dedikasi untuk penyair sekaligus punya harapan untuk meningkatkan literasi masyarakat. Saya faham maksudnya, tapi setiap kali melihat perayaannya masih ada yang mengganjal.

Banyak pihak-pihak yang menginisiasi perayaan ini dan banyak juga yang berhenti di hari itu. panggung digelar. penyair datang. puisi dibacakan. tepuk tangan riuh mengantar pulang penyair kembali pada kesepian dan kemiskinannya masing-masing. puisi yang tadi terlihat megah kini hanya remah-remah.

Di situ saya melihat jarak antara perayaan tahunan dan praktik kepenulisan yang berlangsung setiap hari. proses kreatif berjalan lebih panjang bahkan lebih jauh dari sorotan panggung seremoni dan belum tentu semua kebagian naik panggung. terlebih yang isinya hanya reuni penyair-penyair yang sudah lebih dulu dan punya nama besar di sana. 

Menurut saya, masalahnya tidak terletak pada perayaannya. Yang terasa kurang justru ekosistemnya. Terlalu banyak hal bertumpu pada satu momen. Terlalu besar harapan digantungkan pada dana hibah kebudayaan untuk menjalankan kegiatan semacam ini.

Akibatnya, pergerakan jadi tidak stabil. Kegiatan muncul saat ada dukungan, lalu menghilang ketika sumber daya berhenti. Puisi kehilangan ruang untuk tumbuh secara konsisten. Padahal yang dibutuhkan justru kebalikannya: ritme yang sederhana, tetapi terus berjalan.

Ketergantungan ini membuat ekosistem rapuh. Ia tidak berdiri dari kebiasaan, melainkan dari dukungan yang sifatnya sementara. Ketika dukungan itu berhenti, kegiatan ikut berhenti. Yang tersisa hanya dokumentasi acara, bukan kesinambungan praktik. 

Di tengah kondisi seperti itu, saya menemukan sesuatu yang terasa lebih hidup lewat kolektif atau komunitas-komunitas yang fokus di wilayah puisi. Salah satunya Bandung Berpuisi.

Bandung Berpuisi punya gerakan yang tidak menunggu momentum kalender puisi. mereka rutin menggelar panggung openmic tiap bulan dan program-program mingguan lainnya seperti diskusi dan pembekalan berkarya. 

Siklus ini juga melahirkan bacaan alternatif dalam bentuk zine kolektif. Setiap teks yang masuk telah melalui proses yang panjang: ditulis, dibaca, didiskusikan, diperbaiki, lalu dikurasi. Zine menjadi jejak yang bisa dilihat kembali. Ia menunjukkan bahwa proses yang berlangsung sepanjang tahun tidak hilang begitu saja. 

Pertanyaan kemudian: apakah kita masih membutuhkan Hari Puisi?

Baca Juga: Joko Pinurbo Pergi Meninggalkan Puisi
Mari Kita Melawan dengan Puisi
Puisi dan Pop Culture

Ekosistem yang Sehat

Tentu. Hari Puisi tetap penting sebagai ruang simbolik. Ia mengingatkan publik bahwa puisi ada. Ia mengundang orang yang biasanya tidak dekat dengan dunia sastra untuk lebih mengakrabi puisi.

Puisi sebagai praktik, lahir dari hal-hal kecil: mencatat kalimat di gawai, membaca ulang, menghapus, mengedit, membagikan atau memposting di sosmed lalu melihat atau mendengarkan respons pembaca. Semuanya sederhana dan berulang. Di situlah puisi tetap hidup.

Gerakan seperti Bandung Berpuisi menunjukkan bahwa ekosistem puisi yang sehat tidak memerlukan kemewahan. Yang diperlukan adalah ruang yang bisa diakses, ritme yang bisa diikuti, dan komunitas yang tidak bergantung pada satu sumber daya. Dari situ, puisi berjalan tanpa perlu menunggu satu tanggal tertentu.

Bandung, 28 April 2026

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//