Di antara Tuhan dan Revolusi
Dalam banyak kisah, revolusi lahir dari rasa ketidakadilan yang akut. Di sisi lain, Tuhan atau agama sering hadir sebagai penawar luka.

Ibram Ibrahim
Penulis Tinggal di Bandung
12 Mei 2026
BandungBergerak – Ada satu kegelisahan yang sering datang tanpa undangan, biasanya ini terjadi setelah membaca sejarah atau mendengar orasi yang terlalu berapi-api: benarkah manusia harus memilih antara Tuhan dan revolusi? Seolah-olah keduanya berdiri di dua kutub yang saling meniadakan. Yang satu bicara tentang langit, yang lain tentang bumi. Yang satu menjanjikan keselamatan abadi, yang lain menuntut perubahan segera.
Dan kita, yang hidup di tengah segala ketimpangan ini, sering dipaksa memilih: berdoa atau bergerak. Dewasa ini, kita terlalu sering berpikir: “Kalau enggak hitam, ya putih.” Seakan-akan manusia hidup hanya di antara dua pilihan, jauh daripada itu, seharusnya manusia mampu berkembang dan adaptif terhadap pilihannya.
Kemudian, ada yang aneh juga dengan cara kita membaca sejarah. Kita sering sekali mengkotak-kotakkan: Islam di sini, komunisme di sana. Seolah keduanya dua kubu yang sejak lahir sudah ditakdirkan saling menegasikan. Seolah sejarah berjalan rapi seperti buku pelajaran, padahal menurutku, kenyataannya jauh lebih berantakan, lebih cair, dan kadang justru penuh kompromi yang tidak nyaman.
Cara membaca sejarah dan memotret fenomena semacam ini bukan cuma menyederhanakan masa lalu, tapi juga membatasi cara kita memahami hari ini. Pada akhirnya, kita hanya mewarisi kategori, bukan konteksnya, kita cuman ingat konflik tanpa tahu prosesnya.
Baca Juga: Menjawab Pertanyaan Anak tentang Tuhan
Embun-embun Kemanusiaan di antara Huru-hara Revolusi Indonesia
Memamah Revolusi Kemerdekaan dari Kisah Orang Biasa
Islam dan Komunisme
Mari kita mundur sejenak ke awal abad ke-20, kita akan menemukan satu fase yang agak “membingungkan” bagi cara berpikir kita hari ini. Sebuah fase di mana batas antara Islam, komunisme, dan nasionalisme belum mengeras. Di titik inilah tokoh seperti Haji Misbach muncul, bukan sebagai anomali, tapi sebagai produk zamannya yang berani bersuara di antara keheningan lantunan “ninabobo” dogma agama.
Misbach tidak melihat Islam dan komunisme sebagai dua kutub yang harus dipertentangkan. Baginya, Islam adalah sumber etika, tentunya di dalamnya ada keadilan, kesetaraan, dan pembelaan terhadap kaum tertindas. Sementara komunisme, khususnya gagasan Karl Marx, adalah alat analisis, pisau untuk membedah bagaimana kapitalisme kolonial bekerja menindas rakyat. Misbach bukan sedang berusaha “mengawinkan” dua ideologi secara sakral, melainkan menggunakan keduanya secara fungsional: Islam memberi arah moral, komunisme memberi cara membaca realitas.
Cara berpikir semacam ini ternyata bukan milik Misbach seorang. Dalam penelitiannya, Li Hongxuan menemukan bahwa pada periode 1915–1927 terdapat lanskap sosial-politik yang memungkinkan apa yang ia sebut sebagai “kesalingcocokan” antara Islam dan komunisme. Tapi kata “cocok” di sini perlu diberi garis bawah tebal: bukan cocok secara teologis, melainkan cocok secara situasional.
Di masa itu, perjuangan belum dibingkai sebagai pertarungan ideologi yang kaku. Yang ada adalah satu musuh bersama: kolonialisme. Dalam konteks ini, berbagai spektrum gerakan Islam, nasionalisme, hingga komunisme tidak selalu berdiri berhadap-hadapan, melainkan sering kali beririsan. Bahkan Sarekat Islam bisa bergerak dalam spektrum yang luas: kadang kooperatif secara taktis, kadang konfrontatif, tergantung situasi.
Pada titik inilah kita mulai melihat sesuatu yang sering hilang dalam pembacaan kita hari ini: bahwa ideologi, pada titik tertentu, bisa menjadi alat, bukan sekadar identitas. Yang perlu kita pahami dan ketahui bersama adalah ketika ideologi tersebut digunakan menjadi alat (yang mana ini mungkin akan menghilangkan dimensi normatifnya), maka kita harus bisa melihat, siapa yang sedang memegang alat tersebut? Dan akan digunakan untuk apa alat tersebut? Karena bila kita merujuk pada Habermas, ketika ideologi dipergunakan untuk menjadi alat, maka ia akan sangat bisa digunakan menjadi medium komunikasi di ruang publik walaupun berisiko mengalami distorsi. Sebab, ideologi yang awalnya digunakan sebagai alat pembebasan bisa berubah menjadi alat dominasi jika digunakan secara strategis dan tanpa dialog yang sehat.
Pandangan ini menemukan artikulasinya yang paling terang dalam pidato Tan Malaka di Kongres Komunis Internasional ke-4. Di hadapan para elite Komintern yang cenderung melihat Islam sebagai hambatan, Tan Malaka justru mengajukan keberatan yang sederhana, tapi strategis: bagaimana mungkin revolusi di Timur bisa berhasil jika ia memusuhi keyakinan rakyatnya sendiri?
Tan Malaka bukan sedang membela agama dalam koridor teologis. Ia hanya membaca realitas sosial. Baginya, Islam bukan sekadar doktrin, tetapi juga identitas kolektif, bahkan pada saat itu Islam juga adalah bahasa politik rakyat. Karena itu, alih-alih memerangi Pan-Islamisme seperti yang dianjurkan garis Vladimir Lenin, Tan Malaka memilih untuk menafsirkan ulang maknanya.
Pan-Islamisme, dalam bacaannya, bukan lagi proyek kekhalifahan global, tetapi solidaritas anti-imperialisme. Bukan soal menaklukkan dunia atas nama agama, tetapi tentang melawan penindasan yang nyata. Di titik ini, batas antara agama dan politik menjadi kabur dan malah di situlah ruang koalisi dan konsolidasi terbuka.
Relasi yang Pragmatis
Penting untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa semua ini adalah bukti bahwa Islam dan komunisme “serasi”. Penelitian Michael C. Williams justru menunjukkan bahwa relasi keduanya sering kali bersifat pragmatis. Ketika tokoh-tokoh komunis membutuhkan basis massa, mereka merangkul kiai. Ketika umat membutuhkan alat untuk melawan penindasan, mereka tidak segan menggunakan analisis kelas.
Dengan kata lain, yang terjadi bukanlah penyatuan ideologi, melainkan negosiasi kepentingan. Di titik ini, kita mulai melihat bahwa ketegangan antara Tuhan dan revolusi bukanlah sesuatu yang mutlak. Ia lebih sering merupakan hasil dari cara kita membingkai keduanya, bukan sifat dasarnya yang berseberangan.
Dalam banyak kisah, revolusi lahir dari rasa ketidakadilan yang akut. Ketika perut lapar terlalu lama, ketika suara dibungkam terlalu sering, dan ketika kekuasaan terlalu nyaman untuk peduli, revolusi menjadi bahasa terakhir yang tersisa. Ia bukan sekadar pilihan ideologis, tapi reaksi eksistensial.
Di sisi lain, Tuhan atau agama sering hadir sebagai penawar luka. Agama menawarkan makna di tengah absurditas yang membuat kalut, memberi harapan ketika dunia terasa terlalu sempit untuk ditinggali. Namun di titik tertentu, agama juga bisa berubah menjadi alat legitimasi (seperti yang dikatakan Habermas di atas): ketimpangan dibungkus dalil, ketidakadilan dipoles dengan kesabaran, dan penderitaan dipuji sebagai ujian.
Maka pada periode inilah konflik akan terasa nyata: ketika agama mengajarkan penerimaan, sementara realitas menuntut perubahan. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman sejarah tadi, pertanyaan besarnya bukanlah “memilih Tuhan atau revolusi”, melainkan bagaimana keduanya pernah dan mungkin masih bisa saling menyapa.
Ada tradisi panjang di mana iman justru menjadi bahan bakar perlawanan. Bukan iman yang pasif, tapi iman yang gelisah. Iman yang tidak tahan melihat ketidakadilan dibiarkan begitu saja. Dalam bentuk ini, Tuhan bukan pelarian, melainkan alasan untuk bertindak. Bahwa mencintai Tuhan berarti juga mencintai keadilan, dan mencintai keadilan berarti tidak bisa diam ketika manusia diperlakukan tidak manusiawi. Maka menurutku, menjadi Islam adalah tentang melawan, menjadi beragama (tidak hanya Islam) juga adalah tentang perlawanan. Melawan yang salah dan membantu yang tertindas.
Pada akhirnya kita hanya mewarisi hasil akhir dari konflik, ketika Islam dan komunisme sudah diposisikan sebagai musuh bebuyutan, tanpa benar-benar memahami fase awal ketika keduanya pernah berdialog, beririsan, bahkan bekerja sama. Kita membaca sejarah secara hitam-putih, padahal pelakunya dulu hidup dalam spektrum abu-abu. Maka mungkin pertanyaannya bukan lagi: apakah Islam dan komunisme kompatibel? Pertanyaan yang lebih jujur adalah: dalam kondisi apa keduanya pernah saling mendekat, dan mengapa jarak itu kemudian menjadi jurang? Menurutku, masalahnya bukan pada ideologinya. Tapi pada orang yang memegang alat tersebut yang kadang terlalu cepat mengkotak-kotakkan, sebelum sempat memahami konteksnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


