• Opini
  • Refleksi Teologi Kristen dan Aksi Kamisan di Indonesia

Refleksi Teologi Kristen dan Aksi Kamisan di Indonesia

Dalam kegigihan Aksi Kamisan, Tuhan tidak absen tetapi hadir secara mendalam. Tuhan tidak bekerja melalui dominasi, tetapi melalui solidaritas dan harapan.

Eliezer Mei Kriswanto

Mahasiswa Program Pasca Sarjana Fakultas Filsafat Keilahian (Teologi) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta

Maria Catarina Sumarsih, kehilangan anaknya dalam peristiwa reformasi, mengikuti Aksi Kamisan di seberang Istana Negara, Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

13 Mei 2026


BandungBergerak – Ketidakadilan merupakan suatu realitas yang telah mengakar dalam kehidupan manusia, utamanya dalam keadaan yang ditandai oleh distribusi kekuasaan yang tidak merata, eksploitasi ekonomi, dan represi politik. Di negara-negara Asia, penderitaan masyarakat yang dialami secara struktural umumnya dihasilkan melalui sistem yang melanggengkan kemiskinan, marginalisasi, dan pembungkaman suara komunitas. Refleksi teologis yang muncul dari Asia telah lama menekankan bahwa penderitaan bukanlah kebetulan, tetapi merupakan suatu hal yang berkaitan dengan dinamika sosial-politik yang lebih luas seperti tirani kekuasaan, dominasi ideologis, dan represi budaya (Darmaputera, 1977). Kondisi struktural ini membentuk bagaimana masyarakat mengalami dan menafsirkan penderitaan, serta menjadikannya realitas sosial dan eksistensial.

Dalam konteks negara-negara Asia yang lebih luas, Indonesia memiliki sejarah kasus ketidakadilan yang sangat kompleks. Terlepas dari transisi demokrasinya, Indonesia terus bergulat dengan kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat yang belum terselesaikan, termasuk penghilangan paksa, pembunuhan secara misterius, dan impunitas sistemik. Ketidakadilan ini bukan hanya sisa-sisa sejarah, tetapi merupakan realitas berkelanjutan yang memengaruhi korban dan keluarga mereka lintas generasi. Sebagaimana dicatat oleh para ahli HAM Indonesia, berlanjutnya impunitas mencerminkan kegagalan lembaga negara untuk mengakui dan mengatasi pelanggaran HAM di masa lalu, sehingga melanggengkan siklus ketidakadilan dan kebisuan.

Baca Juga: Mengingat 18 Tahun Aksi Kamisan, Sampai Kapan Negara Mengabaikan Penyintas Pelanggaran HAM?
“Fenomena Lupa” Paul Ricoeur, Aksi Kamisan, dan Memori Kolektif Bangsa tentang Pelanggaran HAM
Menegakkan Aksi Kamisan di Istana Negara Bersama Sumarsih dan Orang-orang Muda

Aksi Kamisan

Salah satu respons terhadap ketidakadilan yang masih berlanjut hingga saat ini adalah gerakan Aksi Kamisan. Dimulai pada tahun 2007, aksi protes ini berlangsung setiap Kamis di depan Istana Kepresidenan di Jakarta. Para peserta umumnya terdiri dari para anggota keluarga korban dan aktivis. Mereka akan berdiri atau duduk dalam diam, mengenakan pakaian hitam, memegang payung dan spanduk/foto-foto orang yang hilang. Keheningan itu sendiri menjadi bentuk protes yang kuat, yang mengekspresikan duka cita dan perlawanan. Aksi Kamisan bukan sekadar demonstrasi politik. Hal ini adalah tindakan untuk mengenang para korban secara berkelanjutan serentak menantang kecenderungan negara untuk melupakan dan menyangkal adanya pelanggaran HAM yang terjadi. Para ahli, salah satunya Fridman (2020) telah menafsirkan gerakan-gerakan tersebut sebagai bentuk “aktivisme ingatan”, di mana ingatan kolektif menjadi sarana untuk menuntut keadilan dan pengakuan.

Dalam memahami keterlibatan yang terus-menerus dengan penderitaan ini, Eka Darmaputera menawarkan wawasan teologis yang penting. Ia menulis: “Asian people on the other hand, tend to perceive suffering more as an integral part of being human. Of course, nobody likes to suffer. But we never regard it as an strange experience external to life. We have to fight against it, yes, but in the first instance we have to accept it as a part of ourselves. The struggle against suffering, is after all, an inner struggle against our own self.” (Darmaputera, 1977). Perspektif ini menjelaskan mengapa gerakan sosial seperti Aksi Kamisan bertahan dari waktu ke waktu, di mana gerakan tersebut bukan hanya perjuangan eksternal melawan ketidakadilan tetapi juga komitmen internal terhadap ingatan, identitas, dan martabat.

Setelah menetapkan konteks ketidakadilan dan penderitaan yang lebih luas ini, kita sampai pada pertanyaan teologis yang krusial: bagaimana teologi Kristen harus memahami Tuhan di tengah realitas seperti ini? Interpretasi tradisional tentang “Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa” seringkali membuat umatnya kesulitan untuk menjelaskan keberlangsungan penderitaan. Jika “Tuhan memang Yang Maha Kuasa”, mengapa ketidakadilan terus terjadi?

Choan-Seng Song menawarkan pandangan yang menarik terhadap pertanyaan ini. Dalam The Compassionate God, Song menekankan bahwa citra utama Allah dalam Kekristenan bukanlah kekuasaan yang terpisah, melainkan penderitaan yang penuh belas kasihan. Mesiah bukanlah penguasa yang berjaya, melainkan sosok yang menderita dan sepenuhnya memasuki kondisi manusia (Song, 1982). Hal ini menantang kerangka teologis dominan yang memprioritaskan kemahakuasaan ilahi di atas solidaritas ilahi. Song kemudian mengembangkan gagasan ini lebih lanjut dalam Jesus, the Crucified People, di mana ia berpendapat bahwa Yesus tidak hanya mewakili individu yang menderita, tetapi juga pengalaman kolektif dari orang-orang yang tertindas. Yesus menjadi bagian dari “orang-orang yang disalibkan”, serta menyimbolkan penderitaan mereka yang terpinggirkan, dieksploitasi, dan dibungkam (Song, 1996). Oleh karena itu, inkarnasi bukanlah doktrin abstrak, melainkan penegasan radikal bahwa Allah hadir dalam realitas konkret penderitaan dan perjuangan manusia. Kehadiran Allah terletak tepat pada kerapuhan keberadaan manusia.

Perspektif teologis ini membuka jalan untuk memahami Tuhan sebagai suatu entitas yang rapuh. Hal ini bukan berarti bahwa Tuhan lemah, melainkan Tuhan memiliki penolakan untuk menggunakan kekuasaan yang bersifat memaksa atau mendominasi. Kerapuhan Tuhan diungkapkan dalam solidaritas dengan mereka yang menderita, bukan dalam dominasi di atas penderitaan mereka. Dalam konteks Indonesia, teologi pembebasan oleh J.B. Banawiratma memperkuat pemahaman ini. Ia berpendapat bahwa teologi harus terlibat secara konkret dengan realitas sosial dan menyelaraskan diri dengan perjuangan kaum tertindas. Iman tidak dapat dipahami secara abstrak, melainkan harus diwujudkan untuk mencari keadilan (Banawiratma, 2017). Perspektif ini menempatkan Tuhan bukan di atas sejarah, tetapi di dalamnya, dan berperan secara aktif memperjuangkan pembebasan umat manusia.

Refleksi Teologis

Ketika wawasan teologis ini dibawa ke dalam dialog dengan Aksi Kamisan, muncul hubungan yang mendalam. Gerakan ini dapat dilihat sebagai tempat kehadiran ilahi, di mana penderitaan, ingatan, dan perlawanan bertemu. Dalam keheningan Aksi Kamisan, kita menemukan bukan ketidakhadiran Tuhan, tetapi kehadiran Tuhan yang berbagi kerapuhan manusia. Seperti yang dianjurkan Song, pertanyaan “di manakah Yesus?” harus dijawab bukan dalam wacana teologis abstrak, tetapi dalam dan bersama pengalaman hidup mereka yang menderita. Hal ini membawa kita pada pertanyaan sentral dari refleksi ini: apa yang dapat dilakukan Tuhan yang rapuh?

Pertama, Tuhan yang rapuh senantiasa menyertai. Kehadiran ilahi tidak terwujud melalui intervensi langsung, tetapi melalui solidaritas. Di Aksi Kamisan, hal ini terlihat jelas dalam ketekunan para partisipan yang terus bertahan minggu demi minggu. Ketahanan mereka mencerminkan bentuk harapan yang didukung oleh keyakinan yang lebih dalam bahwa perjuangan mereka penting. Tuhan yang rapuh hadir dalam ketahanan ini, menyertai mereka yang menolak untuk menyerah. Kedua, Tuhan yang rapuh memberdayakan perlawanan. Berlawanan dengan anggapan bahwa kerapuhan menyiratkan kepasifan, kerapuhan teologis memungkinkan jenis kekuatan yang berakar pada keberanian moral dan ketekunan. Aksi Kamisan menunjukkan bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan struktural tidak selalu berbentuk konfrontasi yang keras, tetapi juga dapat berbentuk kehadiran yang tenang dan konsisten.

Ketiga, Tuhan yang rapuh memelihara ingatan. Dalam konteks ketidakadilan, melupakan sering kali berujung menguntungkan penguasa. Aksi Kamisan menentang negara untuk melupakan korban dengan menjaga ingatan tetap hidup. Secara teologis, ini selaras dengan tradisi tentang peringatan, di mana ingatan menjadi tempat tindakan ilahi. Tuhan yang rapuh bekerja melalui ingatan, memastikan bahwa penderitaan tidak dinormalisasi. Keempat, Tuhan yang rapuh mendefinisikan kembali kekuasaan. Alih-alih kontrol yang memaksa, kekuasaan dipahami sebagai kemampuan untuk mencintai, menderita bersama orang lain, dan tetap setia. Konsep ini menantang sistem politik dan sosial yang menyamakan kekuasaan dengan dominasi. Dalam pengertian ini, kerapuhan Tuhan menjadi kritik terhadap struktur yang tidak adil dan undangan untuk membayangkan bentuk-bentuk komunitas alternatif.

Terakhir, Tuhan yang rapuh membuka kemungkinan transformasi. Meskipun Aksi Kamisan belum mencapai keadilan penuh, keberadaannya yang berkelanjutan menandakan bahwa transformasi masih mungkin terjadi. Secara teologis, ini mencerminkan paradoks salib, bahwa dari penderitaan dapat muncul kehidupan baru. Tuhan yang rapuh tidak menghilangkan penderitaan secara instan, tetapi bekerja untuk menciptakan kondisi bagi perubahan.

Sebagai penutup, konsep Tuhan yang rapuh menawarkan kerangka kerja yang ampuh untuk menafsirkan realitas ketidakadilan di Indonesia, khususnya sebagaimana diwujudkan dalam Aksi Kamisan. Berawal dari konteks yang lebih luas tentang penderitaan dan berlanjut ke refleksi teologis yang spesifik, kita melihat bahwa kerapuhan Tuhan bukanlah suatu batasan, melainkan suatu cara untuk terlibat. Tuhan yang rapuh menyertai, memberdayakan, menopang, mendefinisikan ulang, dan mengubah. Dalam kegigihan Aksi Kamisan, Tuhan tidak absen tetapi hadir secara mendalam. Tuhan tidak bekerja melalui dominasi, tetapi melalui solidaritas dan harapan.

Hidup korban!

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//