• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Dari Banjir ke Macet, Rantai Masalah yang Tak Pernah Putus di Bandung Selatan

MAHASISWA BERSUARA: Dari Banjir ke Macet, Rantai Masalah yang Tak Pernah Putus di Bandung Selatan

Apa gunanya jalan bagus kalau saat hujan besar tetap sulit dilalui? Apa gunanya jalur alternatif kalau akhirnya hanya memindahkan kemacetan dari satu titik ke titik

Farhan Dwi Fadillah

Mahasiswa Universitas Pasundan Bandung

Situasi jalan yang macet di Bandung Selatan. (Foto: Farhan Dwi Fadillah)

13 Mei 2026


BandungBergerak – Pagi di Bandung Selatan sering kali tidak dimulai dengan kopi, melainkan dengan rasa cemas. Langit yang mendung saja sudah cukup membuat banyak orang berpikir ulang: lewat mana hari ini? Apakah Dayeuhkolot masih bisa dilewati? Apakah Cikarees sudah tergenang? Atau harus memutar lebih jauh lewat Rancamanyar dan bersiap menghadapi antrean kendaraan yang panjangnya seperti tak berujung?

Bagi warga Bandung Selatan, banjir bukan sekadar air yang menggenang. Banjir adalah tanda bahwa hari akan berjalan lebih berat dari biasanya. Ketika kawasan Dayeuhkolot mulai terendam, akses menuju Kota Bandung langsung terganggu. Para pekerja dari Ciparay, Majalaya, Baleendah, dan sekitarnya harus berpikir cepat mencari jalan lain agar tetap bisa sampai ke tempat kerja. Namun masalahnya, semua orang berpikir hal yang sama. Akhirnya, jalur alternatif yang seharusnya menjadi penyelamat justru berubah menjadi jebakan kemacetan baru.

Saya melihat persoalan ini bukan hanya sebagai berita musiman, tetapi sebagai realitas yang benar-benar dirasakan di lapangan. Ketika banjir datang, jalan utama tidak lagi bisa diandalkan. Kendaraan yang biasanya tersebar ke beberapa jalur tiba-tiba berkumpul di titik yang sama. Rancamanyar misalnya, sering menjadi pilihan banyak orang untuk menghindari genangan. Tetapi ketika terlalu banyak kendaraan masuk ke sana, jalan itu ikut lumpuh. Motor, mobil pribadi, angkutan umum, hingga kendaraan barang berjalan perlahan, bahkan kadang hampir tidak bergerak sama sekali.

Di titik inilah banjir berubah menjadi masalah yang lebih luas. Air mungkin menggenang di satu wilayah, tetapi dampaknya menjalar ke banyak tempat. Dayeuhkolot banjir, Bojongsoang ikut padat. Cikarees tergenang, jalur menuju Kota Bandung tersendat. Rancamanyar menjadi alternatif, tetapi akhirnya ikut macet panjang. Masalahnya seperti berpindah dari air ke aspal: dari genangan menjadi antrean kendaraan, dari banjir menjadi keterlambatan, dari hujan menjadi stres di jalan.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Sampah Bandung Mau Dibawa ke Mana?
MAHASISWA BERSUARA: Dari Ketahanan Menuju Kedaulatan, Melihat Nasib Petani Hanjeli Jawa Barat Melalui Ekonomi Sirkular
MAHASISWA BERSUARA: Transisi Teknologi dan Prekariat Kerja Proyeksionis Bioskop Garut

Rantai Masalah yang Berulang

Kawasan Cikarees di Bojongsoang juga menjadi contoh nyata betapa rapuhnya akses dari Bandung Selatan menuju kota. Saat wilayah ini ikut tergenang, pilihan jalan semakin sedikit. Pengendara dari arah Ciparay dan Majalaya harus berebut ruang di jalur yang sama dengan kendaraan dari wilayah lain. Suasana jalan berubah menjadi penuh tekanan. Klakson terdengar dari berbagai arah, pengendara saling mencari celah, sementara waktu terus berjalan tanpa peduli siapa yang sedang terlambat bekerja.

Jembatan Cijeruk, yang dulu dikenal sebagai Jembatan Dua Ribu, pernah menjadi salah satu jalur harapan. Dulu, jembatan ini sempat ambruk karena konstruksi kayunya tidak kuat menopang kendaraan. Setelah direvitalisasi oleh pemerintah Kabupaten Bandung, kondisinya memang jauh lebih baik. Namun ketika banjir terjadi dan arus kendaraan berpindah ke jalur tersebut, masalah lama muncul dalam bentuk baru: kemacetan. Jembatan sudah diperbaiki, jalan sudah lebih layak, tetapi kapasitasnya tetap terbatas ketika harus menampung limpahan kendaraan dari banyak arah.

Di sinilah ironi itu terasa. Kita sering bangga ketika jalan diperbaiki, jembatan dibangun, atau akses alternatif dibuka. Secara fisik, semua itu memang terlihat seperti kemajuan. Tetapi di lapangan, warga tetap bertanya hal yang sama: apa gunanya jalan bagus kalau saat hujan besar tetap sulit dilalui? Apa gunanya jalur alternatif kalau akhirnya hanya memindahkan kemacetan dari satu titik ke titik lain? Infrastruktur jalan memang penting, tetapi ia tidak akan cukup jika akar masalah banjir terus dibiarkan.

Masalah Bandung Selatan bukan hanya soal kurangnya jalan, melainkan soal sistem yang belum bekerja secara utuh. Banjir, drainase, sungai, tata ruang, dan transportasi saling berkaitan. Ketika satu bagian gagal, bagian lain ikut terganggu. Jika air tidak punya ruang untuk mengalir, jalan akan tergenang. Jika jalan tergenang, kendaraan akan berpindah. Jika kendaraan berpindah ke jalur sempit, kemacetan akan terjadi. Rantai ini terus berulang, seolah semua orang sudah tahu polanya, tetapi belum ada yang benar-benar mampu memutusnya.

Dampaknya terasa langsung bagi masyarakat. Waktu perjalanan menjadi tidak pasti. Berangkat lebih pagi tidak selalu menjamin tiba tepat waktu. Pulang kerja pun belum tentu lebih ringan, karena kemacetan bisa bertahan hingga sore. Tenaga habis di jalan sebelum pekerjaan dimulai, dan rasa lelah sering kali dibawa pulang sebelum sempat beristirahat. Bagi orang luar, ini mungkin hanya terdengar seperti keluhan lalu lintas. Namun bagi warga Bandung Selatan, ini adalah kenyataan yang terus diulang setiap musim hujan.

Karena itu, pertanyaan “bagaimana mengatasi kemacetan?” tidak bisa dijawab hanya dengan memperbaiki jalan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bagaimana banjirnya bisa dikurangi secara serius? Selama Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan titik-titik lain masih menjadi langganan genangan, maka kemacetan akan terus mengikuti. Solusi jangka pendek seperti membuka jalur alternatif memang membantu sesaat, tetapi tidak menyelesaikan akar persoalan. Yang dibutuhkan adalah penanganan banjir yang lebih menyeluruh, mulai dari perbaikan drainase, pengelolaan sungai, hingga pengawasan tata ruang.

Akses yang Layak

Pemerintah tidak bisa hanya hadir setelah air naik. Penanganan banjir harus dilakukan sebelum hujan datang, bukan ketika warga sudah terjebak di jalan. Informasi kondisi jalan juga perlu disampaikan dengan cepat dan jelas agar masyarakat bisa memilih rute dengan lebih bijak. Selain itu, jalur-jalur alternatif yang sering digunakan saat banjir harus dipersiapkan dengan rekayasa lalu lintas yang lebih baik. Jika tidak, warga akan terus dipaksa mencari jalan sendiri di tengah sistem yang belum siap.

Pada akhirnya, banjir di Bandung Selatan bukan hanya persoalan air, dan kemacetan bukan hanya persoalan kendaraan. Keduanya adalah tanda bahwa ada masalah besar dalam cara wilayah ini dikelola. Selama banjir terus dianggap sebagai kejadian musiman biasa, maka kemacetan juga akan terus dianggap sebagai nasib yang harus diterima. Padahal warga Bandung Selatan tidak sedang meminta kemewahan. Mereka hanya ingin akses yang layak, perjalanan yang manusiawi, dan kepastian bahwa setiap hujan turun tidak selalu berarti satu hari penuh harus dikorbankan di jalan.

Mungkin bagi sebagian orang, Bandung Selatan hanya terlihat sebagai wilayah pinggiran yang jauh dari pusat kota. Tetapi bagi kami yang hidup dan bergerak dari sana, setiap genangan punya akibat, setiap jalur tertutup punya harga, dan setiap kemacetan punya cerita kelelahan. Maka rantai dari banjir ke macet ini tidak boleh terus dibiarkan. Sebab selama air masih menutup jalan dan kendaraan masih dipaksa berebut ruang, Bandung Selatan akan terus berjalan lambat–bukan karena warganya tidak ingin maju, tetapi karena jalannya sendiri belum benar-benar dibebaskan dari masalah yang berulang.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//