• Kolom
  • CERITA GURU: Euforia Kelulusan Sekolah

CERITA GURU: Euforia Kelulusan Sekolah

Kebahagiaan kelulusan sekolah boleh dirayakan, tetapi jangan sampai menghilangkan nilai pendidikan itu sendiri.

Insan Faisal Ibrahim

Guru di salah satu Madrasah Swasta di Kabupaten Garut Jawa Barat

Bersekolah di kompleks di tengah hamparan kebun dan ladang membuat para murid SDN 5 Cikidang memiliki keistimewaan bisa bermain secara leluasa di lingkungan yang masih alami dan segar selama jam istirahat. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

13 Mei 2026


BandungBergerak – Setiap tahun, momen kelulusan sekolah selalu menjadi salah satu peristiwa yang paling dinanti oleh para pelajar. Setelah melewati berbagai proses panjang, mulai dari belajar, ujian, tugas, hingga tekanan akademik yang melelahkan, kelulusan dianggap sebagai garis akhir dari sebuah perjuangan. Tidak heran jika suasana bahagia, haru, bahkan tangis kebanggaan selalu menyertai pengumuman kelulusan di berbagai sekolah.

Namun di balik kebahagiaan tersebut, ada satu fenomena yang hampir selalu terulang dari tahun ke tahun dan terus menuai pro dan kontra di tengah masyarakat, yaitu euforia kelulusan yang dilakukan secara berlebihan. Tradisi konvoi kendaraan di jalan raya, aksi ugal-ugalan tanpa helm, corat-coret seragam, hingga perilaku yang mengganggu ketertiban umum seakan menjadi “ritual tahunan” yang sulit dihilangkan. Sebagian siswa menganggap hal tersebut sebagai bentuk kebebasan dan ekspresi kebahagiaan setelah dinyatakan lulus. Akan tetapi, di sisi lain masyarakat melihat bahwa perilaku tersebut justru mencerminkan hilangnya nilai-nilai pendidikan yang selama ini diajarkan di sekolah.

Fenomena ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Pendidikan bukan hanya soal nilai rapor, angka kelulusan, atau keberhasilan menyelesaikan ujian semata. Lebih dari itu, pendidikan merupakan proses pembentukan karakter, etika, dan kepribadian seseorang agar mampu menjadi manusia yang dewasa dan bertanggung jawab di tengah kehidupan sosial. Ironisnya, dalam momen yang seharusnya menjadi simbol keberhasilan pendidikan, justru muncul tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai pendidikan itu sendiri. Konvoi kendaraan tanpa mematuhi aturan lalu lintas misalnya, bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga membahayakan pengguna jalan lainnya. Banyak pelajar yang berkendara tanpa helm, berboncengan lebih dari dua orang, bahkan melakukan aksi kebut-kebutan di jalan raya hanya demi dianggap seru oleh teman-temannya.

Lebih memprihatinkan lagi, beberapa aksi corat-coret seragam tidak lagi sekadar menuliskan tanda tangan atau ucapan perpisahan, melainkan sudah mengarah pada gambar-gambar dan tulisan yang tidak pantas. Seragam sekolah yang seharusnya menjadi simbol perjuangan dan identitas pendidikan justru berubah menjadi media pelampiasan tanpa makna. Hal-hal seperti ini tentu tidak seharusnya terjadi di dunia pendidikan. Sekolah telah mengajarkan disiplin, etika, tanggung jawab, hingga nilai moral selama bertahun-tahun. Akan tetapi, semua itu seakan hilang hanya karena euforia sesaat.

Baca Juga: CERITA GURU: Ketika Sekolah Dituntut Mempertahankan Praktik Membaca di Bawah Rezim Citra
CERITA GURU: Invisible Labor MBG
CERITA GURU: Ketika Tempat Penitipan Anak Berubah Menjadi Ruang Ketakutan

Refleksi Euforia Kelulusan Sekolah

Fenomena euforia kelulusan sebenarnya bukan tentang salah atau benar dalam merayakan kebahagiaan. Semua orang tentu berhak merasa bahagia atas pencapaian yang telah diraih. Namun yang perlu dipahami adalah bagaimana cara mengekspresikan kebahagiaan tersebut dengan cara yang lebih bermakna, positif, dan tetap mencerminkan karakter pelajar yang terdidik. Kelulusan seharusnya menjadi momentum untuk menanamkan rasa syukur, bukan sekadar pelampiasan kebebasan. Ada begitu banyak cara yang lebih baik dan lebih bermanfaat untuk merayakan kelulusan tanpa harus merugikan diri sendiri maupun orang lain. Misalnya dengan melakukan kegiatan sosial seperti berbagi makanan kepada anak yatim piatu, mengunjungi panti asuhan, memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, atau melakukan aksi sosial sederhana di lingkungan sekitar. Kegiatan seperti ini tidak hanya memberikan kebahagiaan bagi orang lain, tetapi juga mengajarkan empati dan kepedulian sosial kepada para siswa.

Selain itu, momen kelulusan juga seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat nilai penghormatan kepada orang tua. Tidak sedikit orang tua yang berjuang siang dan malam demi pendidikan anak-anaknya. Mereka bekerja keras, menahan lelah, bahkan mengorbankan banyak hal agar anaknya bisa bersekolah dengan baik. Karena itu, akan jauh lebih indah apabila kebahagiaan kelulusan dirayakan dengan cara sederhana namun penuh makna, seperti sujud syukur, meminta doa restu, dan mencium tangan kedua orang tua. Sebab sejatinya, keberhasilan seorang anak tidak pernah lepas dari doa dan pengorbanan orang tua di belakangnya.

Di sisi lain, sekolah juga memiliki peran penting dalam mengarahkan cara pandang siswa terhadap makna kelulusan. Selama ini, banyak sekolah hanya fokus pada pengumuman hasil akhir tanpa menyiapkan edukasi tentang bagaimana merayakan kelulusan secara positif. Padahal, jika diberikan arahan dan ruang yang tepat, para siswa sebenarnya mampu menciptakan bentuk perayaan yang lebih kreatif, edukatif, dan berkesan. Sekolah dapat membuat kegiatan kelulusan yang lebih inspiratif, seperti doa bersama, pentas seni, kegiatan bakti sosial, penanaman pohon, seminar motivasi, atau penghargaan bagi siswa berprestasi dan berkarakter. Dengan begitu, momen kelulusan tidak hanya menjadi ajang hura-hura sesaat, tetapi juga menjadi pengalaman yang membangun nilai kehidupan. Selain sekolah, peran keluarga dan lingkungan masyarakat juga sangat penting dalam membentuk pola pikir siswa. Orang tua harus mampu memberikan pemahaman bahwa kebebasan bukan berarti melakukan apa saja tanpa batas. Sementara masyarakat juga perlu memberikan contoh serta pengawasan agar tradisi negatif saat kelulusan tidak terus dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Sudah saatnya euforia kelulusan diarahkan menjadi budaya yang lebih positif dan bermartabat. Generasi muda adalah wajah masa depan bangsa. Jika sejak muda mereka terbiasa mengekspresikan kebahagiaan dengan cara yang merugikan, maka nilai tanggung jawab sosial akan semakin memudar. Kelulusan bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal menuju kehidupan yang lebih luas dan penuh tantangan. Karena itu, momen kelulusan seharusnya menjadi simbol kedewasaan dalam berpikir dan bersikap. Kebahagiaan boleh dirayakan, tetapi jangan sampai menghilangkan nilai pendidikan itu sendiri. Sebab sejatinya, pelajar yang benar-benar lulus bukan hanya mereka yang berhasil menyelesaikan ujian akademik, tetapi juga mereka yang mampu menunjukkan karakter, etika, dan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//